
Ridho merasa Selomita salah paham padanya, dia mengapit dagu sang kekasih yang sejak tadi menunduk sambil terisak.
"Hari ini aku akan datang menemui keluargamu. Mungkin ini kesempatan terakhir kita, kalau orang tuamu tetap pada keputusannya menolakku, maka mungkin ini akhir kisah kita Mit," ucapnya tegas.
Semakin deras air mata Selomita, hatinya benar-benar patah, iya tau orang tuanya belum merestui hubungannya dengan Ridho sampai saat ini.
Meski dia masih di perbolehkan bertemu dengan Ridho tapi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius orang tuanya menolak dengan tegas.
"Tanpa kamu ke sana pun kamu tau kalau mereka belum merestui Mas, lalu apa gunanya, kalau akhirnya aku harus kalah juga?" lirihnya.
"Tetap aku harus mencoba, aku ngga mau hanya menebak aja Mit, aku butuh kepastian. Satu yang mas minta, apa pun keputusan orang tuamu, jangan benci mereka, mereka ingin yang terbaik buat kamu."
Ridho tersenyum kaku, hatinya tentu saja sakit, tapi ia bisa apa? Tak mungkin ia memaksa menikahi Selomita.
Mereka sampai di kediaman Selomita. Penampilan gadis itu sungguh menyedihkan, mata sembab, hidung merah, orang yang melihatnya tentu tau gadis itu pasti sedang mengalami masalah.
"Ada apa? Kenapa wajah kamu begini Selomita?" tanya sang ibu lalu beralih menatap sinis pada Ridho.
Ridho tau tatapan itu adalah tatapan tuduhan padanya.
"Kamu apa kan lagi anakku!" bentak ibunda Selomita.
"Mah, mamah salah paham. Papah mana mah?"
Selomita menyadari ulahnya justru memperburuk penilaian orang tuanya pada Ridho.
"Jawab dulu kenapa kamu menangis? Apa yang dia lakukan sama kamu?" cecar ibunda Selomita.
"Nanti akan kami kasih tau tante, bolehkah saya bertemu dengan Om Pram?" pinta Ridho.
"Kalian duduk dulu, mamah mau panggil papah," ujarnya lantas meninggalkan merek berdua.
Tak lama orang yang mereka tunggu datang, Pram sama seperti sang istri menatap penuh heran wajah sang putri yang sembab.
"Ada apa? Kenapa dengan kamu Mita?" cecar Pram.
Ridho berusaha mengatur detak jantungnya, dia tak pernah seperti ini dalam menghadapi calon mertua.
Dulu saat menikah dengan Fisha, ia menikah karena perjodohan, jadi tak ada acara meminta restu pada calon mertua.
Saat menikah dengan Mily pun karena hanya rasa tanggung jawab, jadi dia tak gugup sama sekali.
Ini adalah pengalaman pertamanya, benar-benar mencari restu calon mertua yang sangat susah ia dapatkan.
"Saya meminta restu pada Om dan Tante untuk meminang Selomita, bisakah kalian memberi restu?" pintanya dengan tegas.
Telapak tangan Ridho sudah berkeringat, Selomita di sampingnya tambah terisak, karena sudah berpikiran orang tuanya pasti akan kembali menolak Ridho.
Pram menghela napas, dia menatap sang putri yang terlihat menyedihkan
"Kamu tau di keluarga kami tak ada satu pun perceraian, rekam jejakmu sangat tak sebanding dengan keluarga kami. Entah masalah apa yang dulu kamu hadapi dengan mantan istrimu, tapi yang perlu kamu tau ..."
__ADS_1
"Sampai kapan pun rumah tangga kalian akan di recoki oleh mantan istri dan anak-anakmu."
Ridho tersentak, bagaimana pun ia adalah duda beranak, kalau pun nanti mereka menikah, tak mungkin ia lepas tangan begitu saja pada anak-anaknya dengan Fisha.
Dia juga tak mengelak, jika sampai kapan pun dia akan berhubungan dengan Fisha dan Mily terkait anak-anak mereka.
Selomita sendiri sudah tau penyebab orang tuanya bersikeras menolak Ridho. Mereka berpikir rumah tangga dengan seseorang yang berstatus lajang saja sering ada masalah, apa lagi Ridho yang duda.
"Saya ngga bisa menyangkal om, memang seperti itu keadaannya," jawab Ridho lemah.
"Om tau kamu mengerti, kamu sudah berpikiran matang. Tapi Selomita, apa dia sanggup menanggung itu hanya karena rasa cinta? Om takut kalau nanti dia hanya akan mengeluh padamu, padahal dia tau kondisimu," tekan Pram.
Bukan maksud melarang hubungan mereka, orang tua Selomita hanya takut, kalau suatu saat anak mereka tak siap dengan kondisi rumah tangganya yang memang sudah memiliki masalah pada pasangannya.
Orang tua Selomita tak ingin sang putri hanya memikirkan perasaannya saja, sebagai orang tua mereka menilai ke siapan sang putri dalam menjalani rumah tangga yang tak mudah.
Selomita hanya menunduk, dalam hati dia juga memikirkan hal itu, apa dia bisa menahan perasaannya saat sang suami berjumpa dengan mantan istrinya kelak.
"Bagaimana Mita, toh kamu yang akan menjalaninya, sudah matang belum apa yang selama ini papah dan mamah tekankan sama kamu?" desak Pram.
"Jangan sampai kelak kamu mengadu pada kami tentang permasalahan yang sudah kami jabarkan," sambung Pram.
Selomita mendongak menatap manik mata kedua orang tuanya dengan yakin.
"Mita yakin pah, mah, asalkan kalian merestui dan mendoakan kebahagiaan kami, Mita yakin kami bisa melalui segalanya," jawab Selomita yakin.
"Baiklah Nak Ridho, melihat kesungguhan Mita dan Nak Ridho, kami mengizinkan kalian menikah," jawab Pram akhirnya.
Senyum mengembang terlihat di wajah merah Selomita, jelas saja ia bahagia, karena akhirnya orang tuanya merestui hubungan mereka.
Namun senyumnya memudar kala melihat sang kekasih tak seantusias dirinya.
"Kenapa Mas? Kamu tidak bahagia?" lirihnya.
Ridho tersenyum kaku lalu menggenggam kedua tangan Selomita.
"Mas bahagia, akhirnya keinginan kita terwujud, terima kasih sudah mau menerima mas apa adanya," ucap Ridho penuh haru.
"Sudahlah, kalian segera saja persiapkan pernikahan, jangan lupa nak Ridho bawa orang tuanya untuk melamar Mita secara resmi," pinta ibunda Selomita.
.
.
Ridho pulang dalam keadaan bahagia tentu saja. Perjuangannya membuahkan hasil. Ia sedang memikirkan cara berbicara dengan mantan istrinya agar mengerti keadaannya dan tak memisahkannya dengan anak-anak mereka.
Setelah membersihkan diri, Ridho bersiap mendatangi kediaman mantan istrinya.
Dalam hati dia berharap semoga Fisha mau mengerti dan tak membawa anak-anaknya pergi menjauh seperti ancamannya.
Fisha terkejut dengan kedatangan Ridho yang tiba-tiba. Dia memang sudah tak melarang Ridho datang menemuinya.
__ADS_1
Dalam hati Fisha sudah sangat berharap bahwa Ridho akan kembali padanya.
"Kamu sudah makan mas? Aku akan masakan makanan favoritmu," tanya Fisha penuh semangat.
"Engga perlu Sha, aku ke sini cuma mau bicara sama kamu, tapi sebelum itu aku akan main dengan anak-anak terlebih dahulu
Fisha merasakan firasat yang kurang enak dengan melihat Ridho bermain dengan anak-anak mereka.
Ah ngga mungkin, pasti mas Ridho mau kembali sama aku.
Setelah anak-anaknya tidur tibalah waktunya dia berbincang serius dengan mantan istrinya.
"Maaf kalau ini sudah terlalu larut, apa tidak apa kita bicara? Aku takut kamu sakit," tanya Ridho penuh perhatian.
"Enggak papa mas, ngomong aja, aku yakin itu penting," balas Fisha gugup.
Ridho menarik napas sebelum berbicara dengan mantan istrinya.
"Maafkan aku Sha, bukan aku tak memikirkan anak-anak, hanya saja memulai kembali denganmu aku rasa tak mungkin ..." ujarnya lemah.
Fisha tersenyum sinis, dia sudah menebak, tapi ia selalu mengelak pikiran itu di dalam benaknya sejak tadi.
"Kamu tau kan apa konsekuensinya?" ancamnya.
"Aku mohon jangan lakukan ini Sha. Kita sudah tak saling mencintai, aku tau sudah tak ada lagi aku di hatimu. Jangan bohongi dirimu sendiri dengan ingin bersamaku hanya demi anak-anak."
Ucapan Ridho membuatnya tersentak, Fisha memang menyadari dia tak lagi mencintai mantan suaminya.
Ia ingin bersama karena merasa masa depannya dan akan-anak terasa suram tapa penghasilannya yang jelas.
Dengan egois ia tak ingin kehidupannya kembali susah, sebab itu dia memutuskan kembali bersama Ridho dapat membuat kehidupannya kembali seperti dulu.
"Aku tau kamu sedang kesulitan keuangan Sha. Aku janji akan tetap bertanggung jawab pada kebutuhan anak-anak tanpa perlu kita kembali bersama," sambung Ridho.
Bukan itu yang Fisha inginkan, jika hanya sekedar nafkah anak-anaknya dia tau Ridho pasti sanggup memenuhinya.
Namun yang ia inginkan adalah kehidupan makmurnya seperti dulu. Saat ini saja sudah banyak teman-teman arisannya yang menjauhinya, karena ia tak sesukses dulu.
"Terserah kamu saja mas, lebih baik kamu pulang, sepertinya percakapan kita sudah berakhir," ujar Fisha datar.
Penolakan Ridho membuatnya sakit hati dan dia tau cara membalas penolakan mantan suaminya.
"Kamu janji ngga akan membawa anak-anak pergi jauh dariku kan Sha?"
.
.
.
Tbc
__ADS_1