Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Permohonan Gunawan


__ADS_3

Mily bekerja dengan perasaan linglung. Ayah dari suaminya tau jika dirinya juga menantu. Bukannya senang, hal itu malah membuat gadis itu teringat akan ancaman ibu dari suaminya.


Apa jangan-jangan Tante Elya tau pernikahan kami? Makanya dia selalu menyindir dan berkata ketus padaku.


Mily menatap kotak perhiasan mahal yang di kirimkan sang mertua padanya kemarin.


"Wih beli emas nih!" sapa Sofie yang memang duduk di sebelah kubikelnya.


Mily buru-buru memasukkan barang mahal itu ke dalam tasnya. Enggan membuatnya jadi pusat perhatian rekan yang lainnya.


"Di lihat dari tasnya, itu dari toko mas terkenal, yang harganya ngga kaleng-kaleng," ucap Sofie takjub.


"Udahlah Sof, itu bukan punyaku, punya temanku yang akan melamar kekasihnya, dia memintaku memesannya di toko itu," dusta Mily.


Benarkan sekarang dirinya bahkan pandai berbohong. Sungguh Mily merasa muak jika harus seperti ini setiap saat.


"Oh, kirain, lagi pula karyawan biasa kaya kita butuh berbulan-bulan nabung, itu juga paling cuma bisa beli anting-anting," dengus Sofie kesal.


Mily terkekeh mendengar gerutuan Sofie. Namun dari ucapan Sofie membuatnya yakin jika satu set perhiasan mewah ini pasti bernilai mahal, yang tak mungkin orang biasa sepertinya sanggup membeli.


Ponselnya bergetar, ada pesan masuk di sana. Mily segera membukanya, ternyata dari Gunawan sang mertua.


Mily menelan kasar salivanya, mengapa sang mertua bisa mengetahui nomor pribadinya? Apa sang suami yang memberikannya? Apa suaminya itu mengatakan perihal dirinya yang menolak perhiasan darinya? Pikir Mily.


"Kenapa? Kok kamu kaya tegang gitu?" tanya Sofie yang melihat perubahan wajah Mily yang berubah seketika.


"Engga, temanku tanya kapan di antarkan perhiasannya. Perlunya mendadak," jelas Mily yang lagi-lagi berdusta.


Sofie hanya menjawab dengan ber oh saja dan kembali mengerjakan pekerjaannya.


Mily sedang berpikir akan membalas apa pada mertua laki-lakinya yang mengajaknya makan siang bersama.


Dalam benak gadis itu, dia berpikir apa sebaiknya mengajak sang suami saja. Jujur Mily masih merasa cemas jika harus bertemu dengan Gunawan dalam status yang berbeda.


Setelah merenung beberapa saat Mily keluar ruangan untuk mendatangi ruangan Ridho.


Lagi-lagi dia enggan mengirim pesan, sebab ia takut jika Ridho kelupaan menghapus, bisa-bisa hubungan mereka ketahuan oleh Fisha.


Setelah di perbolehkan oleh sekretaris suaminya, Mily bergegas masuk dan menutup pintu ruangan sang suami.


"Ada apa lagi Mil?"


Kali ini Ridho memilih menunggu sang istri duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Maaf bang, om Gunawan mengirim pesan, dia ngajak aku ketemuan. Abang ngomong kalau aku nolak pemberiannya ya?" tukas Mily.


Dia tetap memanggil sang mertua dengan panggilan 'Om' sebab merasa belum pantas memanggilnya sebagai ayah mertua.


"Aku belum ngomong apa-apa sama papah. Memangnya dia ngajak kamu ketemuan di mana?"


"Di restoran deket kantor kok bang."


"Hemm apa sebaiknya kita datang bersama?" tawar Ridho yang di balas anggukan semangat Mily.


Memang itu tujuannya datang menemui sang suami, untuk mengajaknya bertemu ayah laki-laki itu.


"Abang mau kan?"


"Iya. Apa kamu ada perlu lain?" secara tidak langsung Mily menganggap sang suami mengusirnya secara halus.


Ridho yang tau mata Mily berubah sendu akibat ucapannya segera melanjutkan kembali perkataannya.


"Maaf bukannya mau ngusir kamu, tapi kamu belum lama bekerja sama Bu Kikan, takut nanti bermasalah," jelasnya.


"Ah, ngga papa bang, aku juga mau pamit undur diri kok. Ya udah bang, terima kasih ya."


****


Gunawan sudah sampai terlebih dahulu di restoran yang sudah di janjikannya kepada Mily.


"Kamu bilang sama dia kalau papah ingin bertemu?" tanya Gunawan pada menantu barunya.


Mily sempat merasa canggung sebab Gunawan menyebutkan diri dengan panggilan yang sama dengan sang suami.


"Iya Om, Maafin Mily ya," ucap Mily.


"Kok Om? Papah ini juga papahmu, panggil saja papah," pinta Gunawan lembut.


Mily bertukar pandang dengan Ridho lalu sang suami mengangguk pasrah mengikuti keinginan ayahnya.


Mereka memesan makanan masing-masing. Di sela obrolannya Gunawan meminta maaf pada Mily karena tak bisa hadir di pernikahan mereka.


Mily yang tau hal itu bukannya merasa bahagia, justru membuatnya semakin sedih.


Ia tahu pernikahan ini bukanlah pernikahan impian bagi siapa pun, akan banyak orang yang terluka jika pernikahan ini sampai terbongkar.


Namun apa boleh di kata, suatu saat pernikahan itu pasti akan terbongkar karena janji Ridho untuk memberikan status sah di mata hukum untuknya.

__ADS_1


"Apa kata-kata papah ada yang menyakitimu? Kenapa kamu terlihat sedih?"


Gunawan memegang tangan menantu keduanya itu, meminta maaf lewat sikapnya.


Mily yang sangat merindukan perhatian seorang ayah malah semakin terisak.


"Om ngga salah, aku yang merasa bersalah karena sudah masuk ke kehidupan kalian, maafkan Mily Om."


Mily memang merasa bersalah karena sudah menjadi duri dalam kehidupan damai keluarga Ridho dan keluarga besar suaminya itu.


Gunawan ingin protes saat Mily masih memanggilnya dengan panggilan Om, tapi laki-laki paruh baya itu sadar jika ada rasa segan pada menantunya itu untuk merubah panggilannya secepat ini.


"Papah juga bingung siapa yang harus di salahkan? Tapi bisakah kita percayakan semuanya pada takdir? Mungkin ada hal baik yang akan terjadi di kemudian hari."


"Papah juga minta maaf atas nama Ridho. Papah mohon biarkan Ridho bertanggung jawab pada statusmu. Bahkan papah berharap, jika seandainya Fisha mau menerimamu, papah ingin kalian tetap melanjutkan pernikahan ini, dan hidup dalam damai."


Permintaan Gunawan tentu membuat anak dan menantunya terkejut bukan main. Meminta mereka tetap melanjutkan pernikahan poligami jika Fisha mau menerima Mily rasanya sangat mustahil.


"Itu ngga mungkin pah!" sela Ridho yang tanpa di sadari membuat hati Mily terluka.


Bukan berharap akan pernikahannya dengan Ridho akan bertahan selamanya seperti permintaan sang mertua. Namun entah kenapa ucapan Ridho membuatnya sadar bahwa dirinya memang duri dalam daging di rumah tangga pertama sang suami.


"Apa yang ngga mungkin Do? Papah liat Fisha begitu menyayangi Mily, kalau kamu menceritakan kejadian itu baik-baik papah yakin Fisha mau mengerti," ujar Gunawan.


"Pah, Fisha memang menyayangi Mily, tapi hanya sebatas adik sama sepertiku. Ngga ada perempuan di dunia ini mau di madu Pah, termasuk Fisha, Ridho yakin Fisha ngga akan mungkin mau di poligami," ucap Ridho menggebu-gebu.


"Lalu apa kamu akan tetap meminta restu pada Fisha nantinya?"


"Iya, aku bakal ceritain masalahku, janji yang bisa kuberikan pada Fisha adalah, pernikahanku dengan Mily hanya sementara dan menunggu perpisahan saja agar statusnya jelas."


Ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Ridho seakan mengoyak harga dirinya. Betapa dia hanya di anggap sebagai seorang korban yang hanya butuh pertolongan akan statusnya kelak.


Namun apa yang bisa dia lakukan? Memang keadaannya seperti itu.


"Papah tetap berdoa semoga rumah tangga kalian akan baik-baik saja. Tak ada perceraian dan saling memaafkan serta saling mencintai ke depannya," harap Gunawan pada keduanya.


Mily hanya mampu menunduk, lagi-lagi tanpa sadar ada seseorang yang mengabadikan gambar Mily dan Ridho.


Orang bertopi hitam itu tersenyum akan hasil jepretannya hari ini.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2