Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Lamaran Ferdi


__ADS_3

Ika terpaksa menyetujui permintaan Ferdi, karena suaminya juga memaksanya.


Dalam perjalanan pulang, wanita paruh baya itu masih saja menggerutu.


"Bapak harusnya membela ibu, kenapa malah mengalah seperti itu!" ketusnya.


"Bu-Ibu orang kecil seperti kita ini memang selalu jadi sasaran orang besar seperti mereka. Ibu mau di penjara?"


Ika mendengus, masih tak mau kalah, "alah pak ngga mungkin aku di penjara, aku malah penasaran sebenarnya ada apa sama Mily ma keluarganya Pak Tirta ya pak?"


"Sudah ngga usah di teruskan lagi Bu, nanti malah kita yang makin tersudut," ujar suami Ika.


"Nanti kalau Bu Marlina tanya gimana pak?" keluhnya.


Dia yakin Marlina pasti menanyakan kabar mengenai Saidah dan keluarganya.


Lalu harus jawab apa dia seandainya istri bos suaminya itu bertanya.


"Bilang aja apa adanya."


"Loh, nanti aku di marahi Pak! Kalau bapak di pecat gimana?" dengus Ika kesal dengan sikap suaminya yang terlihat biasa saja.


"Bapak kenal pak Tirta Bu, ngga mungkin bapak di pecat oleh Pak Tirta, yang ada kemungkinan Bu Marlina lah yang akan di marahi suaminya itu," jelas suami Ika.


Ika malah semakin takut jika itu yang terjadi, lalu bagaimana jika Marlina meminta kembali uangnya, pikirnya.


"Aduh pak, kalau kaya gitu, bisa-bisa Bu Marlina meminta kembali uangnya! Rugi dong Ibu. Udah ibu yang di suruh minta maaf, ngga dapat uang pula!" keluhnya.


"Ya nasib Bu, tinggal kembalikan saja uangnya," saran sang suami malah semakin membuat Ika kesal.


"Apaan sih pak, bapak ngga lihat, uangnya tinggal segini, masa mau di pulangin?" ketusnya.


"Ya sudah terserah ibu, pusing bapak!" suami Ika lantas berlalu meninggalkannya seorang diri.


Tirta tak tau kalau istrinya membuat ulah, meski tadi seseorang yang datang menjemput karyawannya yang tak lain adalah suami Ika karena istrinya itu sedang terkena masalah.


Tirta juga tak bertanya lebih jauh mengapa karyawannya itu meminta izin pulang tiba-tiba dan masalah apa yang sedang di hadapi keluarga karyawannya itu.


.


.


Selepas pertemuan itu tinggal Ferdi dan keluarga Mily. Mily menyuguhkan minuman dan aneka makanan ke meja ruang tamu yang kini telah sepi.


"Kenapa nak Ferdi tiba-tiba berkata seperti tadi?" cecar Saidah menanyakan maksud ucapan laki-laki di hadapannya ini.

__ADS_1


Ferdi menatap Mily yang malah mengernyit heran. "Bolehkah saya menikahi putri ibu?" tanyanya.


Mily tersentak dengan ucapan Ferdi yang terdengar tak masuk akal.


"Fer, jangan hanya karena rasa iba lalu kamu berkata seperti itu! Sungguh ini ngga lucu!" pekik Mily kesal.


"Sungguh aku juga ngga tau Mil, kenapa tiba-tiba tadi ingin berbicara seperti itu, awalnya kupikir mungkin hanya sekedar untuk membela kamu, tapi aku tau sebenarnya keinginan itu sudah lama terpendam," jelasnya mantap.


Mily menelan kasar salivanya. Ia bingung dengan lamaran tiba-tiba Ferdi.


"Kamu tau aku masih istri Bang Ridho kan Fer? Ngga mungkin aku menikah dengan kamu."


"Kalian belum resmi tercatat di negara, aku juga tau Ridho tak pernah memperlakukanmu seperti seorang istri, jadi aku akan menerima kamu dan anak kamu, tanpa menutupi identitas ayah kandungnya," ujar Ferdi yakin.


Mily menangis tergugu, dia tak tau apa yang akan di lakukannya, bingung tentu saja.


Ia memang mengagumi sosok Ferdi setelah semakin mengenalnya. Sosoknya tak terlalu dingin dan kaku semenjak jadi atasannya.


Namun ia takut, keinginan Ferdi menikahinya hanya sekedar rasa kasihan.


Dia juga berpikir apa keluarga Ferdi mau menerima dirinya yang seperti ini?


Mily mengusap air matanya, dia menatap Ferdi dengan seulas senyum di bibirnya.


"Bagaimana dengan keluargamu Fer? Apa kamu yakin mereka mau menerimaku? Kamu tahu aku sedang hamil anak orang lain."


"Aku yakin mereka akan menerima keputusanku," jawab Ferdi mantap.


Saidah dan Bian hanya bertukar pandang, dua lelaki yang ada di kehidupan Mily membuat mereka bingung harus memilih siapa.


Mereka kompak memilih Ferdi dalam pikirannya karena lelaki itu seperti sangat serius dengan sang kakak, meski tak di ketahui tujuannya.


"Apa alasan kamu ingin menikahiku Fer?" tanya Mily serius.


Ferdi menghela napas, "Sebenarnya dari dulu aku sudah menaruh hati padamu, awalnya ku pikir itu hanya sebuah rasa kagum, butuh waktu lama aku menyadari perasaanku ini."


"Maaf, aku tak bisa berkata romantis seperti kebanyakan laki-laki di luaran sana, tapi percayalah aku menyayangimu," ucapan Ferdi menyentuh hati Mily dan keluarganya.


Terdengar tulus dan tidak lebay, Ferdi mengungkapkan perasaannya yang paling sanggup lelaki dingin itu katakan.


"Tapi aku wanita hina Fer, aku tak yakin keluargamu mau menerimaku. Aku mohon tak perlu memberiku harapan, aku sudah ikhlas dengan kehidupanku yang mungkin akan sendiri selamanya," lirih Mily.


"Jika aku bisa membuktikan ucapanku, apa kamu mau menerimaku?" tantang Ferdi.


Hatinya sudah memilih untuk melindungi wanita rapuh ini, dia menyayangi Mily, meski dia bingung ini rasa cinta atau sekedar rasa ingin melindungi, tapi ia tak peduli, asal Mily bisa bahagia.

__ADS_1


Mungkin juga itu bisa mengembalikan rumah tangga Ridho dan Fisha pikirnya, jadi tak akan ada lagi yang akan menyakiti gadis itu.


Meski Ferdi berpikir jika hubungan Ridho dan Fisha bukanlah urusannya.


"Tapi aku masih istri bang Ridho Fer dan kami akan mencatatkan pernikahan kami, demi anak ini.”


"Aku akan bicara padanya untuk melepasmu," ucap Ferdi yakin.


Saidah dan Bian tak banyak bertanya, mereka juga bingung, langkah apa yang harus di ambil.


Dia takut sang putri justru akan mengalami nasib buruk jika menerima pinangan laki-laki di hadapannya ini.


Dari pembicaraan keduanya, dia juga memikirkan apa keluarga Ferdi mau menerima kondisi putrinya yang hamil anak orang lain.


Namun mengingat kondisi keluarganya yang seolah jadi pusat balas dendam keluarga sepupunya, membuat Saidah ingin pergi sejauh mungkin.


Ferdi pun mengajak Mily untuk kembali ke kota bersama. Saidah pun setuju, lebih baik sang putri segera kembali ke kota.


Meski semua warga tak akan berani membuat kerusuhan lagi seperti kemarin, tapi Saidah tetap tau keluarganya akan tetap menjadi bahan gunjingan walau telah membela diri.


Saidah mengajak anak-anaknya ke kamar, meninggalkan Ferdi seorang diri di ruang tamu.


Ferdi tak mempermasalahkannya sebab dia mengerti akan ada pembahasan serius di keluarga Mily dan dia hannyalah orang asing yang tiba-tiba muncul.


"Ibu akan menjual rumah ini," lirihnya.


Tak ada jawaban dari Mily dan Bian, mereka kompak menunggu penjelasan sang ibu selanjutnya.


Meski ada rasa segan, tapi menilik kondisi mereka saat ini, tak mungkin juga mempertahankan rumah mereka.


"Kalau pun nanti tak ada yang akan menikah denganmu Nak, ingat, masih ada ibu yang akan selalu menerimamu. Kita akan memulai hidup baru jauh dari orang-orang yang mengenal kita."


Saidah menggenggam kedua tangan anaknya. Lamaran Ferdi tak terlalu menggugah hatinya. Sudah cukup orang menghina anaknya yang tak bersalah baginya.


Dia akan melindungi Mily apa pun yang terjadi. Saidah tak ingin putrinya kembali terluka karena janji yang entah bisa di tunaikan oleh Ferdi atau tidak.


"Kita mau ke mana Bu?" tanya Bian.


"Ibu belum tau, nanti kalau rumah sudah terjual, kita pikirkan lagi. Jadi sementara kita akan di kota terlebih dahulu."


Mily hanya bisa pasrah mengikuti keinginan sang ibu tanpa membantah, dia pun sudah lelah dengan semua yang terjadi di kehidupannya.


Percuma meminta orang lain mengerti, bagaimana pun dia akan selalu di cap sebagai perusak rumah tangga orang.


Siang teman-teman, aku mau bawain novel lain karya teman author keren lainnya.

__ADS_1


Kali ini ada Novelnya dari Author MOMOY DANDELION yang judulnya MENIKAHI MAFIA AROGAN, mampir ya🥰🙏



__ADS_2