
Kini Fisha dan kedua mertuanya berangkat menuju rumah sakit setelah perbincangan yang menegangkan.
Gunawan sempat menyela mengapa sang istri tega memisahkan Mily dan anaknya kelak, itu terlalu berlebihan menurutnya.
"Kalau dia minta sesuatu, kita juga harusnya meminta kompensasi," balas sang istri sengit.
Hanya Fisha yang menahan marah terhadap mertua laki-lakinya yang seperti membela Mily.
Meski ia sendiri belum memutuskan mengenai rencana sang mertua, tapi gelagat tak setuju ayah mertuanya membuat ia merasa di khianati.
Ridho sendiri memikirkan nasib anaknya dari Mily dan cenderung setuju dengan sang ibu meski tidak di ungkapkannya.
Bukan tanpa sebab dia berpikir seperti itu, karena awalnya Mily tak menginginkan anak mereka. Kedua, kondisi kejiwaan Mily yang tak stabil membuatnya takut akan tumbuh kembang anak mereka kelak jika di asuh olehnya.
Ridho tidak bisa ikut bersama mereka karena harus ke kantor terlebih dahulu.
Ketika sampai di kantor, semua pasang mata menatapnya. Ridho mengernyit heran. Namun tak menghentikan langkahnya.
Saat melewati ruangan bawahannya, Selomita bahkan tak semangat seperti biasa saat menyapanya.
"Pagi pak Ridho," ucapnya datar.
"Pagi," setelah menjawab sapaan Selomita ia memilih berlalu, sebab Ferdi dan Husain pun seperti tengah sibuk dengan pekerjaan mereka hingga enggan menoleh ke arahnya.
"Ra, kamu bisa bantu saya? Tolong nanti datang ke pertemuan—" belum selesai Ridho berkata pada sekretarisnya tiba-tiba Kikan datang menghampiri mereka.
"Maaf Pak Ridho, bisa kita bicara sebentar?" pinta Kikan sedikit memaksa.
Sebenarnya Ridho ingin segera mendatangi rumah sakit tempat putri dan istri keduanya di rawat. Jika Mily masih harus di rawat di rumah sakit, dia ingin memindahkannya agar tak ada kejadian ketahuan lagi oleh istri pertamanya.
Hidup Ridho terasa lebih berat saat ini, meski Fisha sudah mengetahui hubungan pernikahan mereka, justru kini malah membuatnya sulit bertemu istri keduanya, sebab ia takut Fisha melakukan ancaman yang akan meninggalkannya.
"Boleh Bu Kikan, silakan masuk," ajaknya.
Setelah keduanya duduk, Ridho langsung menanyakan maksud kedatangan pimpinan HRD itu.
"Apa ada sesuatu Bu Kikan?"
"Bapak belum melihat berita yang sedang tranding di kantor kita?" tanya Kikan datar.
"Memangnya ada apa?"
Ridho memang memiliki beberapa grup di perusahaan, tapi hanya grup divisi dan departemennya saja. Jadi tidak ada berita apa pun di sana sebab berita itu hanya di sebar di grup karyawan biasa.
Tanpa banyak kata, Kikan menyodorkan ponselnya dan memutarkan sebuah video yang berisi Fisha tengah memarahi Mily dan dirinya.
__ADS_1
Judul dalam berita itu 'Istri sah melabrak pelakor'
Ridho terbelalak melihat ada sebuah video yang menayangkan dirinya yang kemarin tengah di labrak sang istri.
Dia menghela napas, merasa masalah yang datang sangat bertubi-tubi. Belum usai masalah yang satu, muncul lagi masalah baru.
"Apa benar bapak Ridho dan Mily memiliki hubungan terlarang?" tanya Kikan dengan pandangan tajam.
Kikan juga terkejut kala Sofie memberitahunya berita itu pagi tadi, ia bukan orang yang suka ikut campur urusan pribadi seseorang.
Namun nama divisinya bisa tercoreng akibat ulah bawahannya itu, jadi terpaksa ia mendatangi Ridho dan meminta penjelasan dari video yang beredar panas saat ini.
Nama baik Ridho dan juga Mily tengah di pertaruhkan, ia yakin akan ada konsekuensinya. Mungkin ia akan kehilangan pekerjaan atau di minta mengundurkan diri secara terhormat.
"Saya mohon maaf jika divisi Bu Kikan menjadi bahan pergunjingan. Saya akan berusaha menyelesaikan masalah ini secepatnya," janji Ridho.
Ia tak bisa mengatakan hal privasinya kepada Kikan karena dia harus mengurutkan masalahnya terlebih dahulu. Yang pertama tentu urusan dengan istri pertamanya.
"Bapak tau kalau perusahaan kita ini tidak boleh terlibat skandal. Kalau nanti saya di panggil Pak Suseno, maka saya akan melimpahkannya pada kalian."
Ridho hanya bisa mengangguk, cepat atau lambat dia pasti akan di panggil oleh atasannya juga.
Kikan pergi setelah mengatakan maksudnya, bukan ia ingin bertanya tentang kebenaran itu, ia tau itu bukan urusannya, tapi jika skandal bawahannya mencoreng divisinya maka dirinya tak segan memecat Mily, atau bahkan mengembalikan Mily pada divisi Ridho.
Tiba-tiba Ridho teringat sesuatu, ia lantas bangkit berdiri menuju ruangan para bawahannya.
"Fer, bisa bicara sebentar?” pinta Ridho tajam.
Ferdi yang sedari tadi sibuk di depan layar komputernya tak menyadari kedatangan sang atasan yang tiba-tiba sudah berada di depannya dengan tatapan yang sangat tajam.
Ferdi lantas bangkit berdiri mengikuti Ridho, membuat Selomita dan Husain saling melempar pandangan.
"Ada apa ya Sain, pak Ridho kelihatan kesal sama Ferdi," ujarnya.
Husain hanya mengedikan bahu dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
Hanya Selomita yang tampak gusar. Ingin mengikuti keduanya, tapi ia ada pekerjaan penting yang harus segera di laporkan.
***
Ridho mengajak Ferdi ke rooftop, belum sempat Ferdi bertanya, Ridho sudah melayangkan pukulan ke wajahnya, membuat Ferdi jatuh tersungkur.
"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan Fer?"
"Apa maksud bapak? Kenapa tanpa bertanya bapak langsung memukul saya?"
__ADS_1
Ferdi bangkit berdiri, dia tetap berkata sopan meski hatinya ingin sekali membalas perlakuan Ridho.
"Jangan pura-pura bodoh Fer, kamu kan yang sudah menyebarkan kejadian di restoran kemarin?" ucap Ridho tajam
Sekarang Ferdi tau mengapa Ridho tiba-tiba marah padanya.
"Bapak menuduh saya?"
"Tentu, siapa lagi dalangnya kalau bukan kamu! Kamu sendiri yang bilang kalau kamu ada di sana kemarin! Jadi aku yakin kamu yang sudah memvideokan kejadian itu dan menyebarkannya di kantor!"
"Sungguh licik sekali kamu Fer, aku kira kamu benar-benar ingin membantuku, ternyata kamu adalah dalang di balik semua ini," tuduh Ridho.
Setelah mengatakan itu, Ridho berlalu meninggalkan Ferdi tanpa mau menunggu bawahannya itu memberikan jawaban.
Ferdi hanya bisa menyugar kasar rambutnya karena kesal. Kini dirinya semakin di sudutkan menjadi biang permasalahan Ridho dan Mily.
"Sialan! Sebenarnya siapa yang sedang bermain-main di belakang mereka! Kenapa jadi aku yang kena sasarannya!" monolognya.
Baru saja keluar dari rooftop, Husain berdiri menghadangnya, "Aku ngga sangka kamu seperti ini Fer. Apa karena kamu menyukai Mily jadi kamu melakukan hal seperti ini?" tuduh Husain.
"Jaga ucapan kamu Sain! Aku ngga tau apa-apa tentang video itu!" balasnya sengit setelah itu dia berlalu meninggalkan Husain dengan perasaan jengkel.
Ridho bergegas mendatangi rumah sakit, tujuannya adalah satu, memindahkan Mily ke rumah sakit lain.
Sesampainya di rumah sakit ia memilih mendatangi kamar Mily terlebih dahulu, setelah itu baru menemui Dokter agar bisa membantunya memindahkan Mily ke rumah sakit lain
Tanpa melihat sekitar, ternyata Fisha mengetahui sang suami datang ke rumah sakit tapi tidak menemui putri mereka, melainkan ke kamar inap lain.
Karena penasaran, Fisha mendatangi kamar itu, dan ternyata kecurigaannya benar ada Mily di sana, bahkan ia di rawat di kelas vip.
Hati Fisha sangat terluka karena sang suami ternyata lebih mementingkan Mily dari pada putri mereka.
Karena sudah tak tahan dengan kelakuan Mily yang di anggap selalu mencari perhatian suaminya, ia pun kembali melabrak Mily.
Gadis itu hanya diam mendengar makian Fisha. Ridho yang baru saja kembali dari ruangan Dokter berjalan dengan terburu-buru saat mendengar suara pekikan istrinya pertamanya.
Semuanya semakin rumit kala Ridho malah membentak istrinya membuat Fisha menatap sengit dirinya.
.
.
.
Tbc
__ADS_1