Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Bertemu cinta pertama


__ADS_3

Setelah perbincangan yang menyesakkan dada itu selesai, Marlina tanpa pikir panjang mengajak Fisha dan yang lainnya bertandang ke kediaman Saidah, ibu kandung Mily.


Sakti yang menyetir di temani oleh Tirta, sedangkan Fisha bersama Marlina duduk di bangku belakang.


Rumah yang dulunya terlihat kumuh, saat ini tampak lumayan bagus dengan beberapa bagian yang terlihat sudah di renovasi.


Bahkan di garasi rumah Saidah ada etalase kecil dan meja untuk ia berdagang sembako dan jajanan anak-anak.


Saidah paham betul mobil yang berhenti di depan rumahnya. Dengan semringah wanita paruh baya itu mendekati mobil saudara jauhnya.


"Ya ampun Mbak Lina Mas Tirta, sudah lama ngga mampir ke sini, ayo masuk!" ajaknya.


"Eh ada Fisha juga sama mas Sakti. Suamimu mana nak?" tanya Saidah ramah.


Meski terpaksa Fisha tetap berusaha membalas Saidah dengan tersenyum dan menyambut uluran tangan bibinya itu.


Marlina sendiri tak menutupi raut wajah kesalnya. Wanita itu tak mau merasa iba pada keluarga yang sudah menghancurkan rumah tangga anaknya.


Saidah menuju ke belakang dan menutup warungnya demi menghormati tamu-tamunya.


Jarak rumah Saidah dan Tirta memang cukup jauh membuat keduanya jarang bertemu, selain ke tidak sengajaan jika ke pasar di mana Toko Tirta memang berada di sana.


Saidah menyuguhkan tamunya minuman dan camilan sederhana yang ada di rumahnya.


"Kalau pulang kenapa ngga ngajak Mily juga Sha? Udah dua bulan lebih Mily ngga pernah pulang," lirih Saidah.


Sebenarnya Saidah ingin menjenguk Mily di kota, sebab dia merasa ada yang berubah dengan putrinya. Dulu Mily pasti pulang sebulan sekali untuk menjenguknya, tapi kini tidak.


Sudah begitu, Mily tidak pernah meneleponnya menggunakan video call, dia menelepon menggunakan telepon biasa saja. Saidah tentu merasa ada yang tidak beres dengan putrinya.


"Putri kamu lagi sibuk ngurus suaminya!" celetuk Marlina menjawab Saidah.


Sontak saja Saidah membulatkan matanya mendengar ucapan sepupu iparnya itu.


"Su-suami? Maksud mbak Lina apa?"


Jantung Saidah sudah berdegup kencang, telapak tangannya bahkan sudah berkeringat dingin. Sebenarnya ada apa dengan putrinya? Batin Saidah.


"Bu, tenang dulu, kita harus menjelaskan keadaannya secara urut jangan langsung ke intinya. Itu bisa membuat Saidah salah paham," tegur Tirta membuat Marlina membuang muka kesal.


"Ada apa Mas? Apa ada yang saya ngga tau?"

__ADS_1


Tirta menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan, sebelum itu dia melihat putrinya yang sudah kembali terisak di apit oleh putra dan istrinya.


Saidah semakin bingung saat melihat Fisha malah menangis tergugu. Belum sempat bicara‐ Bian, adik Mily baru pulang dari sekolahnya.


Pemuda yang berjarak enam tahun dari Mily itu segera menyalami tamu ibunya yang ia tau masih saudara jauh sang ibu.


"Yan, baru pulang?" sapa Tirta basa-basi.


"Iya Pakde, sudah selesai ujian, jadi pulang cepat," jawab Bian.


"Kamu ganti baju dulu, lalu duduk di sini temani ibumu," pinta Tirta yang di balas anggukan oleh Bian.


Meski pemuda itu bingung dengan atmosfer ruang tamunya yang tampak tegang, ia berusaha berpikir positif.


Tak ingin sang tamu menunggu lama, Bian bergegas berganti pakaian dan menemui mereka lagi.


"Kalian dengarkan cerita Fisha baik-baik, aku harap jangan ada yang menyela, semua harus berpikir dengan kepala dingin ok?" pinta Tirta setelah Bian duduk di sisi ibunya.


Saidah hanya bisa merenung, dia tengah memikirkan sang putri yang jauh berada di kota sana.


"Ayo Fisha jelaskan pada Uwa Idah!" pinta Tirta pada putrinya.


Fisha mengusap air matanya, seperti keinginan sang ayah Fisha pun menjelaskan semuanya. Sampai keinginannya untuk berpisah dengan sang suami yang juga kini suami anak Saidah.


Saidah bahkan menangis membayangkan Mily seorang diri menghadapi nasib nahasnya.


"Jadi sekarang Ka Mily jadi istri kedua Bang Ridho?" tanya Bian.


Saidah masih menangis, ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


"Iya, hanya siri, dan sekarang mereka menuntut Fisha agar mengizinkannya menikah resmi!" jawab Marlina.


"Bu biarkan bapak dan Fisha saja yang menjawab," tegur Tirta yang mulai kesal dengan istrinya.


Terlihat sekali semua keluarganya menyudutkan Mily, yang masih di percaya oleh Tirta keponakannya itu hanya korban.


"Ka Mily menjadi korban pemerkosaan oleh Bang Ridho, mengapa kalian menyudutkan kakakku seolah-olah semua itu salahnya?" tanya Bian yang tak terima mendengar Fisha dan Marlina menyudutkan sang kakak.


"Kamu anak kecil tau apa? Nyatanya kakak kamu sekarang hidup enak, di belikan rumah mewah dan menuntut di nikahi secara resmi! Apa namanya kalau bukan maruk?"


"Bu, bukankah tadi Fisha sudah cerita bukan Mily yang meminta tapi menantu kita sendiri yang menawarkan hal itu?" sergah Tirta.

__ADS_1


Marlina benar-benar jengkel dengan sang suami yang tidak mau membela putri mereka.


"Jika itu permintaan Bang Ridho mengapa kalian menyalahkan kakak saya? Kami tidak tau kejadian yang sebenarnya karena kak Mily belum bercerita, jadi kami ngga akan menerima tuduhan kalian begitu saja." jawab Bian.


Sedari tadi dia merasa jika Fisha selalu menyalahkan sang kakak, dan melupakan kejadian buruk yang menimpa kakaknya.


Saidah masih menangis di pelukan Bian, dia sudah tak sanggup mendengar semua ucapan menyakitkan dari keluarga sepupunya itu.


"Maafkan Mily Mbak, Mas, Nak Fisha. Biar nanti Uwa mendatanginya, kita harus tau semuanya dari kedua belah pihak. Bukan Uwa mau membela anak Uwa, tapi seperti yang Nak Fisha bilang, Mily itu korban dari suami Fisha kan?"


Fisha tak menjawab apa pun, terserah nanti mereka mau bagaimana yang pasti dirinya sudah memberi tahukan masalah yang coba di tutupi oleh Mily kepada keluarganya.


Tirta mengajak keluarganya untuk pulang, setelah memberitahukan masalah yang menyangkut dengan anak Saidah juga.


Fisha meminta di turunkan di sebuah pantai yang sering ia kunjungi saat berada di kampung halamannya.


Tak ada yang menghalangi, sebab mereka tau Fisha ingin menyendiri memikirkan masalahnya.


Fisha melihat berbagai tempat yang pernah ia singgahi bersama dengan Ridho sang suami. Ternyata tak banyak kenangan yang ia miliki di sana.


Berbanding terbalik dengan saat bersama Dika. Banyak tempat yang menjadi kenangan mereka.


"Ah aku merindukan tempat ini," ucap seseorang yang saat ini tengah berdiri di samping Fisha dan ikut menatap ke hamparan laut di depan.


Fisha menoleh, merasa tidak asing dengan suara laki-laki di sebelahnya.


Betapa terkejutnya Fisha saat orang yang baru saja ia pikirkan kini sudah berada di sebelahnya.


Penampilan laki-laki itu sungguh berbeda. Badannya tegap dan berisi, kulitnya putih bersih, bahkan penampilannya sangat menawan.


Lelaki yang dulu bertubuh kecil itu banyak berubah, dan membuat Fisha terpesona.


"Di ... Dika?"


Merasa namanya di panggil, laki-laki yang mengenakan kaus putih yang di tekuk hingga ke lengan lantas menoleh dan tersenyum.


"Halo Sha?"


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2