
Fisha sangat terkejut melihat mantan kekasihnya itu berada di sana tepat saat dia sedang mengenang kebersamaan mereka dulu.
"Dika?" tanya Fisha tak percaya.
"Ya Fisha, ada apa? Kamu pikir ini mimpi?" Dika lantas mencubit pipi Fisha membuat ibu dua anak itu menepis kasar tangan Dika.
"Sakit tau!" keluhnya sambil mengusap pipinya.
Dika terkekeh, keduanya seperti sepasang remaja yang sedang menghabiskan waktu bersama.
"Kamu apa kabar?" tanya Fisha canggung.
"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja, dan masih setia sendiri," bisiknya di akhir kalimat.
Fisha merasa tersindir dengan ucapan terakhir Dika. Dia lantas menunduk.
"Maafkan aku Dika. Aku yakin sekarang kamu sudah tau statusku," lirihnya.
Dika menghentikan langkahnya, membuat Fisha ikut berhenti beberapa langkah di depannya. Dia berbalik menatap Dika heran.
Apa dia marah?
"Selamat ya Fisha, maaf aku tidak bisa hadir di hari bahagiamu dulu," ucap Dika sambil tersenyum hangat.
Bukannya merasa bahagia, Fisha justru merasa sedih karena ia tau ada luka di ucapan selamat itu.
"Maafkan aku Dika, bukan maksud aku khianati kamu," jelas Fisha.
Hubungan mereka berakhir karena memang hilangnya komunikasi di antara mereka. Fisha pikir Dika memilih pergi mengikuti kedua orang tuanya dan memutuskannya secara sepihak.
"Sudahlah, itu sudah lama berlalu, kamu berhak bahagia. Kamu memiliki berapa anak Sha?"
"Aku sudah memiliki dua anak, satu orang putra dan satu orang putri," balas Fisha semangat.
Mereka sudah duduk di tepi pantai, di sebuah bangku yang tepat menghadap pantai.
"Kelapa?" tawar Dika. Fisha mengangguk mengiyakan.
"Mana suamimu?" tanya Dika sambil menengok ke segala arah.
Fisha mendesah, membicarakan sang suami di hadapan mantan kekasihnya membuat rasa sesaknya kembali.
Ia takut Dika akan menertawakan kebodohannya karena telah meninggalkannya dahulu.
"Kenapa? Apa ada yang salah?"
Fisha bingung haruskah ia menceritakan masalah rumah tangganya dengan Dika? Dia tak ingin Dika malah menertawakan kegagalannya.
"Aku ... Rumah tanggaku sepertinya akan hancur," lirih Fisha.
"Kenapa? Kalau kamu ngga keberatan ceritalah, tapi kalau enggan juga ngga papa," ujar Dika.
__ADS_1
Fisha menatap sendu mata yang dulu sangat ia kagumi, sepasang mata berwarna cokelat terang itu selalu mampu menghipnotisnya.
Mengalirlah cerita versi Fisha, Dika yang mendengarkan beberapa kali terlihat menghela napasnya.
Fisha bahkan terisak, ibu dua anak itu selalu saja menangis jika bercerita, bahkan matanya semakin sembab.
"Aku turut prihatin mendengar kisahmu, semoga kamu dapat menyelesaikan masalah kalian."
"Kamu akan lama di sini?" tanya Dika penuh harap.
"Entah, mungkin sekitar satu minggu, aku harus mengurus perceraianku," jelas Fisha.
"Jangan terburu-buru mengambil keputusan, kalian sudah lama menikah, apa kamu ngga memikirkan perasaan anak-anakmu?"
"Bicara memang gampang Dik, tapi saat mengalaminya sendiri tetap terasa menyakitkan. Aku yakin kalau pun harus di pertahankan, rumah tanggaku tak akan sehat, karena anak dari Mily akan terus membayangi kehidupan kami," ucap Fisha yakin.
"Ya sudah, boleh aku menemani hari-harimu di sini? Kamu wanita tangguh aku yakin kamu bisa bangkit lagi."
Sebuah awal yang akan menjauhkan Fisha dari Ridho. Cinta pertama yang kembali di tengah kisruh rumah tangganya.
.
.
Di kediaman Mily, ibu hamil itu tengah menunggu sang ibu dengan gelisah.
Dia sudah memberitahu Ridho jika adik dan ibunya akan menemuinya. Mereka sudah tau permasalahan yang menimpanya.
Saat itu Ridho bingung dari mana keluarga istri keduanya itu tau, Mily sebenarnya takut mengungkapkan kecurigaannya kepada Fisha.
Mily menggeleng, dia memilin tangannya, ada rasa khawatir takut sang suami malah marah padanya.
"Mungkin dari Mbak Fisha bang, mereka ngga bilang apa-apa sama aku, cuma bilang kalau mereka udah tau," jelas Mily menunduk.
Ridho menghela napas, mungkin benar kecurigaan Mily, sebab sudah dua hari ini sang istri pulang ke kampung halamannya.
Fisha pernah mengancam dan ternyata istri sahnya itu benar-benar melakukan ancamannya.
"Ya sudah, sebaiknya keluarga kamu memang mengetahui kabar kita cepat atau lambat. Sekalian kita membahas pernikahan kita secara sah," ujar Ridho lemah.
Mily tau Ridho masih merasakan sesak karena keputusan istri sahnya yang lebih memilih bercerai darinya dari pada harus bertahan meski sejenak.
"Bang, aku yakin mbak Fisha masih mencintai Abang, setelah perceraian kita, kejarlah dia kembali Bang. Aku yakin dia akan percaya dengan apa yang sudah abang janjikan dulu."
Ridho tak percaya dengan ucapan istri keduanya yang bahkan berpikiran sama dengan ayahnya. Sekarang ada semangat yang membara di hati Ridho untuk kembali menaklukkan hati Fisha.
Tak lama sebuah mobil berhenti di depan rumah mereka. Ridho bangkit untuk melihatnya. Di depan mobil ada seorang satpam kompleks yang menggiring mereka menggunakan sepeda motor.
"Siang pak Ridho, ini ada tamu ibu Mily, katanya beliau keluarga Ibu Mily, benarkah?"
"Iya benar pak, terima kasih sudah mengantar mereka."
__ADS_1
Tak lupa Ridho menyalami satpam dan mendekati mertua juga adik iparnya.
"Bu," sapanya lantas mencium punggung tangan Saidah.
Saidah hanya mampu berkaca-kaca, dia belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ibu!" pekik Mily lantas berlari dan menghamburkan diri memeluk sang ibu.
Air matanya tumpah di pelukan ibunya. Rasa bersalah menyelimuti diri Mily. Bian hanya mampu membuang muka untuk menghindari pemandangan menyedihkan itu.
"Kamu harus hati-hati. Bukankah kamu lagi hamil?" ucap Saidah lembut sambil mengusap perut Mily yang masih rata.
"Maafkan Mily Bu," lirihnya.
"Mil, ajak ibu dan Bian masuk dulu, kasihan mereka pasti lelah," pinta Ridho.
Mily mengangguk dan menggandeng sang ibu memasuki rumahnya. Sedangkan Ridho jalan bersisian dengan Bian yang sedari tadi masih saja diam.
"Sekolahmu sudah libur Yan?" tanya Ridho memecah keheningan.
"Belum Bang, tapi udah ngga ada pelajaran," jawab Bian sopan.
Meski kecewa karena ternyata ucapan Fisha yang mengatakan jika sang kakak saat ini juga adalah istri pria yang sedang berjalan bersamanya ternyata benar.
"Setelah ini mau lanjut ke mana?" lanjut Ridho setelah mereka duduk di ruang tamu sederhana milik Mily.
"Saya akan bekerja Bang. Seharusnya saya yang menghidupi ibu dan kak Mily, maafkan Bian ya Ka, yang selalu merepotkan kakak," ujar Bian sambil menatap Mily.
"Enggak-enggak kamu harus kuliah! Kakak akan bekerja agar kamu bisa melanjutkan pendidikanmu, kamu tanggung jawab kakak Bian, kebanggaan keluarga kami," tolak Mily keras.
"Tapi ka ... Karena Bian kakak harus mengalami kejadian nahas ini. Bian mohon, lepaskan saja Bang Ridho ka. Bian akan menghidupi kalian. Kakak ngga usah khawatir tentang hidup anak kakak kelak," jelas Bian.
Ucapan pemuda itu membuat tiga pasang mata menatap ke arahnya bingung.
Mily tau sang adik mungkin kecewa dengan ucapan Fisha yang entah mengatakan apa tentang dirinya.
"Kakakmu ngga pernah minta pertanggung jawaban apa pun dariku Bian. Tapi abang ayah dari bayi itu, harus abang yang bertanggung jawab, bukan kamu. Tugas kamu hanya sekolah seperti keinginan kakakmu."
"Jangan khawatir, biaya sekolahmu akan abang tanggung. Kamu cukup belajar yang rajin saja," lanjut Ridho.
Bian gusar menerima tawaran lelaki yang saat ini bergelar sebagai kakak iparnya.
Dia tidak ingin keluarganya di injak harga dirinya karena akan di anggap memoroti Ridho.
"Apa!!"
Suara dari arah depan membuat semuanya terkejut.
.
.
__ADS_1
.
Tbc