Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Permintaan Damai


__ADS_3

Suseno langsung menyidang anak tirinya selepas kepergian Ferdi.


"Tolong bilang sama papah, apa yang sebenarnya kamu lakukan? Jujurlah!" pinta Suseno tegas.


Louisa menunduk, dia benar-benar kesal pada anak buahnya. Mereka berkata kalau kerjaan mereka bersih dan rapi, nyatanya dia bisa terseret saat ini.


Dirinya benar-benar cemas, selain takut di penjara dia takut akan membuatnya semakin di jauhi oleh Ferdi.


"Jawab Louis!" bentak Suseno kesal.


"Pah, tolong sabar, mamah yakin kalau Louisa ngga salah," bela Laura.


"Kamu sendiri yang bahkan tadi menawarkan uang! Sudah pasti kamu tau kelakuan anakmu ini!" sindir Suseno yang membuat Laura bungkam.


"Aku ngga akan ikut campur, terserah bagaimana nanti hukum yang akan menjerat Louis kalau ia memang melanggar hukum!"


Karena kesal, Suseno meninggalkan istri dan anak tirinya begitu saja.


Laura lantas mengajak Louisa pergi ke ruang baca, dia ingin tahu apa yang sebenarnya sang putri lakukan.


"Bilang sama mamah, apa yang udah kamu lakuin sama Mily?" cecarnya.


Louisa menghempaskan tubuhnya ke sofa sebelum menjawab pertanyaan sang ibu.


"Aku meminta orang membuat dia celaka!" ucapnya tanpa rasa bersalah.


"Kamu gila?! Harusnya kamu bilang sama mamah dulu, kenapa kamu lakuin hal kaya gitu sih! Kalau kamu di penjara gimana?" sentak Laura kesal.


"Mereka aja yang ngga profesional mah! Aku udah bayar mereka, jangan sampai sebut nama aku, jadi kesel aku kan. Mamah tenang aja, aku bakal minta mereka tanggung jawab!" ucapnya santai.


"Astaga Louis kamu benar-benar!" geram Laura melihat sang putri yang tak panik sama sekali.


Louisa meninggalkan sang ibu untuk membersihkan diri, dia lalu menelepon seseorang yang menjadi penyebab kekacauan paginya.


"Halo BRAM! Kamu gimana sih! Kok bisa ke tangkap orang suruhan kamu!" bentaknya marah.


Louisa menunggu penjelasan orang suruhannya itu tanpa menyela.


"Aku ngga peduli ya, pokoknya jangan bawa-bawa aku!" kesalnya sambil membanting ponselnya.


Louisa sudah rapi hendak pergi ke hotel, saat pengurus rumah tangga mereka memberitahukan jika ada pihak kepolisian mencarinya.


Tentu saja dia terlihat panik, tak percaya kalau dia akan di ringkus secepat ini.


Suseno yang pertama menemui para petugas berwajib itu dengan ramah.


"Kami mencari saudari Louisa untuk di mintai keterangan mengenai kecelakaan saudari Mily dan ibu Saidah pak," ucap salah seorang polisi.

__ADS_1


Laura duduk menemani sang suami, tubuhnya sudah gemetar ketakutan.


"Pah gimana ini," lirihnya sambil memegang lengan sang suami.


"Saya jamin Louisa akan kooperatif pak, biar kami yang ke sana bersama pengacara kami," jawab Suseno yakin.


Setelah mendapatkan jawaban dari Suseno kedua polisi itu lantas pergi dari kediaman mereka.


Suseno mendekati putri tirinya dengan tatapan tajam, seumur-umur dia tak pernah berurusan dengan pihak kepolisian, tapi gara-gara kelakuan putri tirinya membuatnya jadi harus mau turun tangan.


"Kamu bersiaplah, kita ke kantor polisi sekarang," ucap Suseno datar.


"Tapi Louis ngga salah pah," bujuknya berusaha membuat iba ayah tirinya.


"Salah atau enggak kamu tetap harus kooperatif, jangan sampai mangkir kalau enggak, urusan ini bisa tambah panjang, mengerti?" kesal Suseno.


Louisa mencebikkan bibirnya, dalam hati dia memaki orang bayarannya yang sangat tidak becus bekerja.


"Sudahlah, jangan buat papahmu marah, mamah yakin dia akan membela kamu," Laura berusaha menenangkan putrinya itu.


.


.


Di rumah sakit, Bian sendiri sudah bersiap datang ke kantor polisi di dampingi Ferdi, Ridho dan juga seorang pengacara.


"Kamu tenang, banyak istirahat aja, besok kamu kan udah bisa pulang, urusan ini serahkan aja sama kami," jawab Ferdi.


Dalam perjalanan, Ridho menatap Ferdi yang tampak tegang.


"Kamu baik-baik aja Fer?"


"Aku? Kenapa?" tanya Ferdi balik.


"Mukamu kaya di tagih hutang!" kelakar Ridho berusaha mencairkan suasana.


"Saya tidak pernah berhutang pak!" dengusnya.


"Astaga, kamu kenapa kaku sekali sih! Giliran sama Mily kamu bisa lembut!" sindirnya.


Ferdi membuang muka mendengar gerutuan Ridho, dalam benaknya dia sempat khawatir jika berada di kantor polisi dan bertemu dengan ayahnya.


Ia yakin adik tirinya itu akan meminta bantuan sang ayah dan dia enggan menjelaskan hubungan mereka di depan Ridho dan Bian.


Bukan ingin menutupinya tapi dia belum siap jika Ridho tau siapa dirinya, terlebih lagi, orang yang berusaha mencelakai Mily adalah bagian keluarganya.


Bagaimana jika nanti Bian mengatakannya pada Mily dan membuat gadis itu membencinya juga? Pikirnya.

__ADS_1


Benar saja, saat mereka sampai sudah ada mobil sang ayah di sana, dia yakin sang ayah akan membela anak tirinya itu.


"Kok kaya mobil pak Suseno ya Fer?" tanya Ridho heran.


"Masuk saja pak biar kita tau!" elak Ferdi.


Di dalam sana sudah ada Suseno dan Laura yang tengah menunggu Louisa di periksa.


"Pak Suseno," sapa Ridho sambil menyalami bosnya itu.


Ferdi dan yang lainnya juga melakukan yang sama pada Suseno dan Laura.


"Apa Anda salah satu keluarga Mily?" tanya Suseno pada Bian yang di balas anggukan oleh pemuda itu.


"Bisa kita bicara sebentar?" pinta Suseno ramah.


"Maaf pak kami semua perwakilan dari pihak terlapor, kalau mau bicara, kita bisa bicara bersama," sela Pengacara Mily.


"Tunggu, apa Louisa itu putri pak Suseno?" tanya Ridho penasaran.


"Iya pak Ridho dia putri saya," jawab Suseno enggan.


"Kenapa anak bapak ingin mencelakai Mily?"


"Bisa kita bicarakan nanti? Kita harus bertemu dengan petugas dulu," pengacara Mily menyela ajakan Suseno.


Suseno tau putranya masih ingin menyembunyikan identitasnya, jadi di sana dia bersikap profesional antara pelapor dan terlapor.


Setelah menemui penyidik beserta para pelaku, mereka akhirnya memilih untuk berbicara di sebuah restoran tak jauh dari kantor polisi.


"Apa tidak bisa masalah ini di selesaikan dengan kekeluargaan nak Bian? Semua biaya perawatan Mily dan ibu nak Bian akan kami tanggung," ucap Suseno.


Bukan ingin menyelamatkan putri tirinya, hanya saja ini semua dia lakukan demi sebuah nama baik keluarga besarnya.


Apa tanggapan mereka jika salah satu keluarganya menjadi narapidana. Dia juga takut berita ini akan berpengaruh pada bisnisnya.


Bian mencibir menjawab permintaan laki-laki tua di hadapannya, “nyawa keluarga saya tak sebanding dengan uang yang bapak miliki! Maaf, saya tak mau ada kata damai, masalah ini harus di selesaikan secara hukum!" jawab Bian tegas.


"Kalau boleh saya tau, ada masalah apa antara Nona Louisa dengan Mily pak? Apa mereka saling kenal?" sela Ridho penasaran.


Suseno menatap Ferdi, dia sedang berpikir apa harus menjawab pertanyaan Ridho atau tidak.


"Louisa itu kekasih Ferdi, dia tak senang dengan kedekatan Mily dengan Ferdi!" sergah Laura membuat semua yang ada di sana tercengang.


Ferdi tak menyangka ibu tirinya akan menyudutkannya seperti ini. Ia yakin ibu tirinya itu sengaja melakukan hal ini untuk membalasnya.


__ADS_1


__ADS_2