
Kutatap wajah Husain dengan saksama, aku ingin lihat bagaimana reaksinya.
Husain hanya mengerutkan alisnya, dan memintaku untuk duduk di sofa terlebih dahulu.
"Ada apa? kenapa kamu begitu tegang?" tanya Husain bingung.
"Bagaimana kamu bisa pulang ke hotel Sain?"
"Entah, bukan kamu yang mengantar?" aku menggeleng memberi jawaban, seketika dia kembali berpikir.
"Mungkin pelayan klub yang mengantar seperti biasa. Tega banget kamu ngga anterin aku!" dengusnya, meski terlihat dia tak mempermasalahkannya.
"Aku juga ngga tau Sain, aku juga hangover semalam," jelasku.
"Lalu apa masalahnya?"
Kuceritakan bagaimana bisa aku berakhir di kamar hotel yang bukan kamarku. Meski aku tak menceritakan kejadian nahas yang aku dan Mily alami.
"Kok bisa kamu di antar ke kamar yang bukan kamarmu? Sebaiknya kamu tanya pihak keamanan hotel, siapa tau mereka tau sesuatu," sarannya.
Aku setuju dengan saran Husain, sebaiknya aku menanyakan kepada pihak hotel mengapa aku bisa berakhir di kamar yang bukan milikku.
"Serius, ngga terjadi sesuatu kan Do? Kamu terlihat kalut," sergahnya menatapku intens.
Kuhela napas, Husain memang cukup mengenalku, dia yakin ada yang terjadi padaku, meski hanya sekedar tebakan.
"Memangnya kamu berharap kejadian apa menimpaku? Aku cuma heran aja kenapa bisa bangun di kamar lain," tukasku kesal.
"Ya siapa tau, ternyata kamu malah asyik-asyikan dengan wanita penghibur. Awas ingat anak istri di rumah," ucapnya sambil terkekeh.
Kulempar bantal sofa tepat ke arah wajahnya. Kesal karena tebakannya hampir mendekati benar.
"Sembarangan kamu!"
"Ya udahlah ngga usah di pikirin, ngga ada barang-barang yang hilang kan?"
__ADS_1
Aku hanya menggeleng, pikiranku menerawang jauh, mungkin bagi Husain masalahku terdengar sepele, karena aku tak menceritakan semuanya.
Namun aku tetap harus menyelidikinya, siapa orang yang mengantarku malam tadi, lalu mengapa ada Mily juga di sana.
Sebaiknya aku mengecek ponsel Mily, siapa tau aku mendapatkan petunjuk mengapa gadis itu bisa berada di sana bersamaku.
"Ya udah Sain, cepetan rapi-rapinya, kasihan Selomita kerja sendirian. Mau makan gaji buta kamu!" sindiriku.
Dia hanya terkekeh menanggapi sindiranku, tapi tetap beranjak untuk mengambil pakaiannya.
"Kamu mau di sini liat aku ganti baju Do?" balasnya menyindir.
"Amit-amit dah Sain-Sain. Aku balik dulu lah, ada kerjaan juga," dustaku yang mau tak mau mengakhiri pembicaraan kami.
Tak ada petunjuk apa pun dari keterangan Husain. Namun otakku tengah menyusun apa saja yang harus aku selidiki.
Pertama ponsel Mily, kedua pihak hotel, ketiga pihak klub malam, siapa tau mereka orang yang sengaja mengantarku ke kamar itu.
Aku kembali ke kamar itu lagi untuk mengecek ponsel milik Mily yang masih tertinggal. Tak ada pesan mencurigakan di ponsel gadis itu.
Kugelengkan kepala demi menghapus pikiran negatif tentang Mily. Tak mungkin gadis baik itu sengaja melalukannya. Tapi pertanyaan mengapa gadis itu bisa berakhir di sini bersamaku tak bisa hilang.
Terpaksa kulakukan rencana kedua, mendatangi pihak hotel untuk menanyakan kondisiku malam tadi.
"Siang Mbak, bisa saya ketemu dengan manajer di sini?" pintaku pada seorang resepsionis di bawah.
"Maaf, bapaknya ada keperluan apa ya?"
"Saya ingin melihat CCTV mengapa saya bisa berada di kamar yang tidak saya sewa sebelumnya," tanyaku.
"Saya juga ingin tau Mbak, kamar nomor 2300 di pesan atas nama siapa ya?"
"Maaf pak saya tidak bisa memberitahukan privasi pengunjung," tolak sang resepsionis.
"Tapi semalam saya menginap di kamar itu, ini kartunya," kuberikan kartu akses kamar itu.
__ADS_1
"Sebaiknya bapak ketemu pihak manajer kami dulu, nanti kita tunggu apa yang akan di sampaikan beliau."
Terpaksa aku mengikuti ucapan resepsionis itu karena pada umumnya itu memang aturan dasar setiap hotel.
Aku di antarkan ke ruangan manajer hotel, beliau orang yang membantuku membuka kamar inap milik Mily tadi pagi.
"siang Pak ada yang mau bertemu dengan Bapak," sapa sang resepsionis.
Manajer itu bangkit berdiri dan mendekat ke arah kami. Dia menyalamiku.
"Siang Pak, ada keperluan apa bapak menemui saya lagi?" sapanya ramah.
Setelah mempersilakanku duduk, segera kukatakan maksud tujuanku datang ke sana.
"Begini pak, semalam saya menginap di kamar dengan nomor 2300, padahal itu bukan kamar saya."
"Lalu apa yang bisa kami bantu pak?" manajer itu sedikit bingung dengan pernyataanku.
"Semalam saya mabuk pak, sepertinya ada yang mengantar saya pulang, yang buat saya bingung mengapa harus di kamar itu? Sedangkan saya punya kamar sendiri," jelasku.
"Apa maksud pak—"
"Ridho," potongku menyebutkan nama.
"Maaf. Maksud pak Ridho ingin melihat CCTV atau bertemu karyawan kami yang bertugas malam tadi?" tawarnya.
"Semuanya pak kalau bisa. Bahkan saya ingin tau kamar itu pesanan siapa," pintaku tegas.
"Baik, untuk pegawai kami, bapak tak bisa bertemu mereka sekarang, karena memang belum waktunya mereka bekerja. Jadi apa bapak mau lihat rekaman CCTV terlebih dahulu?" tawarnya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc