
Mily merasa dilema, saat dia mengetahui orang yang sengaja mencelakainya adalah salah satu keluarga Ferdi.
"Maafkan aku, aku ngga minta kamu mencabut laporanmu, itu hak kamu Mil. Aku cuma mau kasih tau kamu, kalau dia bukan siapa-siapa bagiku," jelas Ferdi.
Kini Mily sudah berada di rumah, sedangkan bayinya belum bisa di bawa pulang karena kondisinya yang belum stabil.
"Dia bener-bener psycho bang!" dengus Bian.
Sekarang Bian tau siapa Suseno dan Louisa, hanya Ridho yang belum mengetahui rahasia itu.
"Aku bingung, pak Suseno orang baik," lirih Mily mengingat kebaikan mantan atasannya.
"Kakak mau melepas mereka begitu aja?" sergah Bian kesal.
Ingin sekali Ferdi berkata jika Louisa bisa saja keluar tanpa bisa mereka cegah. Kekuatan keluarga besar Louisa dan ayahnya mampu melakukan hal-hal di luar pikiran seseorang seperti Bian dan keluarganya.
"Satu yang harus kalian tahu tentang keluarga besarku ..."
Ferdi menatap serius wajah Mily dan Bian, agar mereka tak salah paham dengan penjelasannya nanti.
"Meskipun Louis bersalah, dia bisa saja bebas dengan mudah," jelasnya.
Bian terperangah tak percaya, begitukah orang kaya berkuasa? Bahkan hukum mampu di beli oleh mereka? Batin pemuda itu.
"Sebaiknya biarkan saja Yan, kakak ngga mau masalah ini berlarut-larut malah membuat semuanya semakin buruk ke depannya," saran Mily lemah.
Dia memang takut berurusan dengan orang-orang besar seperti keluarga Ferdi. Dia yakin ucapan Ferdi hanya secuil dari kekuasaan yang mampu mereka lakukan untuk membungkamnya dan keluarganya.
Mily tak ingin celaka lagi, dia lebih baik mengalah saat ini dan menjalankan hidup dengan damai di kemudian hari.
"Kakak nyerah? Kalau kemarin perempuan itu mampu membuat kakak celaka, apa kakak pikir suatu saat nanti dia ngga ulangi lagi? Mungkin lain kali ngga akal gagal dalam menghabisi kakak!" ucap Bian kesal lalu meninggalkan mereka berdua.
"Pulanglah dulu Fer, ada hal yang harus aku bicarakan sama Bian," pinta Mily.
Ferdi mengangguk lantas pulang dari kediaman Mily dengan batin yang gusar.
Mily lantas mendatangi sang adik di teras belakang rumah mereka.
Dia yakin sang adik kecewa pada keputusannya. Namun ia memiliki alasan sendiri mengapa melakukan hal itu.
"Maafkan kakak Bian, kakak tau keputusan kakak membautmu kecewa. Tapi bisakah kamu mendengar penjelasan kakak?" ucapnya lembut.
Bian menghela napas dan menoleh ke arah sang kakak dengan tatapan datar.
__ADS_1
"Biaya perawatan kakak dan ibu sudah di tanggung oleh Ferdi. Bahkan biaya pengacara juga di keluarkan olehnya, kakak malu jika selalu mengandalkannya Yan," jelas Mily.
Bian mengerti kekhawatiran sang kakak, tapi dia tetap merasa waswas kalau suatu saat saudari tiri Ferdi akan menyakiti kakaknya lagi.
"Lalu kakak akan membebaskan dia begitu aja?"
Mily tersenyum, tentu saja dia khawatir dan takut jika keadaan ini akan terulang lagi, makanya dia butuh dukungan adiknya.
"Kamu pikir kakak akan melepaskan dia begitu aja?" cibir Mily mencairkan suasana.
"Apa ada yang akan kakak lakukan?" Mily hanya mengangguk menjawab pertanyaan sang adik.
.
.
Siang ini Mily di temani oleh Ferdi, Bian dan pengacara mereka untuk bertemu dengan Louisa, Suseno dan ibunya.
Sengaja Mily tidak memberitahukan rencananya pada Ridho sebab dia yakin Ferdi akan bisa membelanya di depan Suseno yang statusnya masih di sembunyikan olehnya.
Louisa masih bersikap tenang, dia yakin pertemuan ini akan menguntungkan pihaknya meski ia yakin orang tuanya akan menggelontorkan uang yang tidak sedikit untuk berdamai.
"Terima kasih Mily mau bertemu dengan kami," sapa Suseno tenang.
"Nak Mily pasti sudah tau tentang tujuan pertemuan ini bukan? Jadi bagaimana keputusan Nak Mily?" tanya Suseno tanpa basa basi.
Mily menghela napas lalu menatap Ferdi. Ferdi mengangguk meyakinkan apa pun keputusan yang akan Mily ambil.
Bian dan pengacara mereka masih menyimak pembicaraan keduanya, tanpa berkomentar.
"Saya setuju dengan keinginan damai ini, asal ada syaratnya," jawab Mily tegas.
Louisa mendengus, dia yakin yang di minta oleh Mily tak jauh dari uang.
"Silakan," balas Suseno.
Di kubu Louisa, hanya Suseno yang selalu angkat bicara dan itu memang kesepakatan keluarganya, sebab Suseno takut jika istri atau anak tirinya yang berbicara malah akan merusak segalanya.
"Jangan ganggu saya lagi, saya akan pastikan polisi tetap akan membuat Mbak Louisa sebagai target utama jika sesuatu terjadi pada saya atau keluarga saya di kemudian hari," pinta Mily yang di balas senyuman menyebalkan Louisa.
Di benak gadis itu menganggap permintaan Mily terlalu bodoh dan gegabah, jelas dia bisa memikirkan rencana lain untuk menyakitinya kelak.
"Satu lagi," sela Ferdi membuat semua pasang mata menatap ke arah lelaki tampan berwajah datar itu.
__ADS_1
"Aku akan menikahi Mily segera! Papah tau aku ngga percaya dengan Louis, cara teraman agar Louis tak menyakiti Mily, adalah membuat dia selalu berada di dekatku," ucap Ferdi yakin.
"APA!!" sentak Louisa tak percaya.
Bahkan bukan hanya Louisa, Mily dan Bian pun terkejut dengan ucapan Ferdi.
"Papah jangan halangi permintaanku, kalau enggak, lebih baik lanjutkan saja kasus ini!" kecamnya.
"Ngga bisa! Kamu apa-apaan sih Fer!" sela Louisa tak terima.
"Apa urusannya denganmu? Apa kau tunanganku? Bersikaplah layaknya seorang keluarga!" sindir Ferdi.
Louisa benar-benar geram dengan ucapan Ferdi yang seolah mengoloknya.
"Pah!" rayu Louisa pada ayah tirinya.
"Bukankah kamu sudah memiliki tunangan? Biarkan Ferdi bahagia dengan pilihannya. Kamu seharusnya berterima kasih karena tidak harus di penjara!" sergah Suseno.
Meski tidak begitu menyukai pilihan putranya, tapi demi nama baik, dia terpaksa mengalah, karena ia tahu, proses untuk membebaskan Louisa jika kasusnya berlanjut akan membutuhkan waktu lama.
Laura masih belum bisa berkata, hatinya kecewa dengan permintaan anak tirinya.
Karena kesal, Louisa memilih meninggalkan mereka tanpa berpamitan, membuat Suseno malu pada mereka semua.
"Maafkan anak saya, mengenai permintaanmu, papah ngga bisa ngomong apa-apa lagi, karena semua tentang perasaanmu," pasrah Suseno.
"Mengenai biaya rumah sakit ibumu, saya akan tetap bertanggung jawab nak Mily," lanjutnya membuat sang istri menoleh.
"Loh, kita udah kabulin permintaan dia, kenapa masih harus membiayai pengobatannya?" sergah Laura ketus.
"Sudahlah mah, itu sebagai tanggung jawab kita, memang permintaan Mily ada yang merugikan kita? Harusnya kita sadar diri," jelas Suseno.
Jelas saja merugikan bagi Louisa karena dia akan kehilangan Ferdi, batin Laura kesal. Namun ia hanya bisa bungkam.
"Masalah pengobatan Bu Saidah, biar urusan Ferdi saja pah, persiapkan diri saja untuk acara lamaranku nanti," pinta Ferdi kemudian.
"Terserah kamu aja Fer, papah siap kalau kamu butuh kan."
Setelah mengatakan hal itu Suseno dan Laura memilih untuk segera pergi dari hadapan mereka semua.
"Besok baru kita urus pencabutan laporannya ya Mbak, mbak yakin? Karena ini termasuk kejahatan serius loh," ucap sang pengacara yang sangat menyayangkan keputusan Mily.
"Apa dengan bang Ferdi menikahi kak Mily, ngga malah bikin dia tambah ingin berbuat yang lebih gila?" sela Bian.
__ADS_1