
Aku mengendarai mobil kembali menuju rumah. Tak sabar ingin segera bergelung di balik selimut.
Ini kebiasaanku setelah kejadian itu, aku merasa aman di balik selimut ini.
"Mbak," ketukan pintu di iringi panggilan Bi Imah membuatku sontak membuka mata kembali.
"Iya Bi?" aku memilih tak beranjak, hanya ingin menjawab saja, paling juga Bi Imah ingin menawariku makanan atau minuman.
"Ada Pak Ridho di depan," ucapnya membuatku bangkit segera.
Dalam benakku bertanya, untuk apa Bang Ridho mendatangiku. Ini bukan waktunya aku kontrol ke psikiater. Sebaiknya aku bergegas menemuinya.
"Bang," sapaku saat melihat lelaki berwajah tampan itu sedang fokus dengan ponselnya sambil tersenyum
"Mil, maaf, aku lupa kasih tau kamu. Fisha mengundang kamu makan malam di rumah. Mau merayakan syukuran kecil-kecilan, dia menambah galeri butiknya lagi," jelas Bang Ridho.
Aku begitu bersemangat mendengar kabar gembira itu, perasaan bersalahku pada Mbak Fisha tak menutupi kebahagiaanku saat wanita baik itu sedang bergembira.
"Aku akan ke sana nanti Bang," janjiku.
"Kita datang bersama saja Mil, Abang berjanji membawa kamu ke sana, Fisha ngga percaya sama ucapan Abang, sebab kamu akhir-akhir ini sering menolak ajakkannya."
Aku terenyak, akhir-akhir ini aku memang sering menolak ajakkannya untuk bertandang ke rumahnya. Dulu, rumah Mbak Fisha adalah tujuan utamaku di akhir pekan.
Bertemu dengan kedua anak mereka yang menggemaskan, membuatku seperti memiliki keluarga baru.
Namun itu dulu, saat ini, ada ketakutan dan kecemasan pada diri ini. Sekarang suaminya adalah suamiku juga meski hanya sebatas agama saja, tapi aku tetap takut ketahuan dan membuatnya membenciku.
"Kamu kenapa?" tanya Bang Ridho mendekat seraya menggenggam tanganku.
__ADS_1
Kulepaskan pegangan tangannya dan bergeser sedikit menjauh, tentu saja aku risi, meski dia suamiku sendiri. Bang Ridho mendesah, tau akan penolakanku.
"Aku ... Masih khawatir untuk bertemu Mbak Fisha Bang," cicitku.
Bang Ridho membungkukkan tubuhnya untuk melihat wajahku yang sedari tadi menunduk.
"Kamu harus bersikap biasa saja Mil, tolong, aku belum tau bagaimana cara memberitahukan pernikahan kita padanya. Aku harap kamu bisa bersabar ya," pintanya.
Aku menengadah menatap raut wajahnya yang frustrasi. Dia pasti bingung bagaimana cara merangkai kata untuk menjelaskan hubungan rumit kami pada istrinya tanpa harus melukainya.
"Ngga papa Bang, ngga perlu terburu-buru. Maksud aku, bukan aku berharap lama menjadi istri Abang, tapi aku tau, masalah kita ngga akan semudah itu di terima oleh Mbak Fisha."
Aku tentu tak ingin Bang Ridho salah paham dengan ucapanku. Sungguh aku juga tak ingin berada dalam ikatan pernikahan yang aneh ini terlalu lama.
Hanya saja, kenyataan tak mungkin semudah yang kami bayangkan.
Apa mbak Fisha bisa berlapang dada menerima pernikahan ini hanya karena untuk sebuah status?
Atau mungkin dia akan ... Tidak, aku menggeleng untuk menghilangkan pikiran burukku. Jangan sampai mereka berpisah.
Aku tak akan memaafkan diriku jika hal itu terjadi pada pernikahan mereka.
"Kamu kenapa Mil? Apa kamu akan menolak?" tanya Bang Ridho saat melihatku menggeleng, dia sepertinya salah mengartikan gerakanku.
"Enggak Bang, Abang bisa pulang. Sekarang aku janji akan datang ke sana," ucapku sambil tersenyum meyakinkan.
"Maaf Mil, Fisha mengancam akan mendiamkanku kalau aku tetap tak datang bersamamu," ujarnya sambil terkekeh.
Aku tau sekali sifat keras kepala Mbak Fisha saat menginginkan sesuatu. Aku ikut tersenyum membayangkan Mbak Fisha saat melakukan ancaman itu pada Bang Ridho.
__ADS_1
"Baiklah, Abang tunggu sebentar, aku akan bersiap."
Kutinggalkan Bang Ridho untuk bersiap, meski hati merasa gamang karena mendadak aku kembali enggan bertemu dengan Mbak Fisha dan keluarganya. Tentu saja, dalam acara itu aku yakin akan ada banyak keluarga dan teman dekat Mbak Fisha.
****
Di dalam mobil, aku kembali duduk di depan demi sebuah kesopanan. Tak mungkin aku duduk di belakang dan memperlakukan Bang Ridho seperti seorang sopir.
"Aku sedang menyelidiki kasus kita Mil. Entah kenapa aku memiliki firasat buruk, ada yang sengaja menjebak kita."
Aku terkesiap memandang tak percaya pada Bang Ridho. Apa benar kejadian nahas itu tengah di rancang oleh seseorang? Tapi siapa? Apa motifnya?
Mengapa orang itu begitu tega terhadap kami. Di tengah gejolak amarah yang tiba-tiba datang, aku memikirkan siapa gerangan yang melakukan hal keji itu, apa dia membenciku? Atau membenci Bang Ridho?
Aku tak banyak bergaul, tidak mungkin aku pernah menyinggung seseorang, sedangkan Bang Ridho? Aku tidak begitu tau kehidupan pribadinya.
Apa dia memiliki musuh? Pikirku.
"Kamu ... Apa kamu memang sengaja melakukan ini Mil?" tanya Bang Ridho sambil masih memandang lurus ke depan.
Tentu saja ucapannya membuatku menoleh tak percaya. Apa dia menuduhku yang sengaja menjebaknya? Apa dia sepicik itu memandangku?
.
.
.
Tbc
__ADS_1