
Hari ini Mily di buat risau oleh pesan yang dikirim oleh Selomita, mantan teman satu divisinya.
Tak ada yang aneh dengan pesan itu, tapi ia belum siap bertemu dengan teman-temannya atau bahkan bisa di bilang, ia tak akan pernah siap bertemu mereka.
Ridho juga sudah memintanya untuk ke kantor untuk menemui atasan mereka dan membicarakan langsung masalah pengunduran dirinya.
Bagaimana pun Mily tetap harus menghadap atasan mereka itu, meski Ridho sendiri sudah memberikan surat pengunduran dirinya.
Mau tak mau karena masalah yang terjadi, Ridho mengakui kepada Suseno bahwa Mily adalah istri keduanya. Ia tak perlu menceritakan aib keluarganya.
Lagi pula Ridho hanya di minta keterangan mengenai video tersebut.
Benar saja, Suseno memberikan pilihan sulit, bukan untuk mencampuri kehidupan karyawannya, tapi aturan perusahaan memang melarang hubungan satu kantor, salah satunya harus mengalah.
Suseno memberi masukan lebih baik jika Mily yang mengundurkan diri dari pada dirinya, sebab posisi yang sudah di dapatkannya penuh perjuangan dan Suseno tau itu.
Meski sang atasan sedikit kecewa dengan skandal rumah tangganya, tapi beliau tidak tutup mata akan kinerja Ridho sebagai karyawan teladan.
***
Mily ragu membalas pesan Selomita, dari tadi ibu hamil itu berulang kali mengetik pesan lalu menghapusnya.
Ingin menolak tapi ia tak tau alasan apa yang bisa dia berikan. Sungguh ia tak ingin dirinya di anggap tak menghargai Selomita.
Akhirnya Mily bersedia menemuinya. Dia sudah menyiapkan mental dengan apa akan terjadi nanti jika Selomita akan menghujatnya.
Mily mengatakan jika mereka bisa bertemu saat jam makan siang, sebab dirinya hari ini akan ke kantor untuk menemui atasan mereka.
Mily sudah berada di depan gedung kantornya. Beberapa kali ia menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan
Di luar saja banyak para karyawan yang sudah memperhatikannya dan berbisik sesuatu.
Bohong jika ia tak merasa takut akan tatapan itu, tapi ia sudah bertekad akan sembuh dari rasa traumanya. Ia akan menjadi seorang ibu yang masa depannya sangat suram.
Kelak anaknya akan membutuhkan dukungannya, oleh sebab itu ia berusaha tegar mulai sekarang.
Dengan tubuh yang masih di liputi kecemasan, Mily melangkahkan kaki memasuki kantornya.
Di dalam sana lebih mengerikan lagi, para karyawan bahkan berbisik-bisik membicarakannya. Ia tak memedulikan mereka, tujuannya adalah lift di sudut kantor.
Entah kenapa Mily merasa lift itu terasa jauh, sebab sedari tadi ia melangkah, tapi tak kunjung sampai.
Dia mengabaikan segala bisikan di belakangnya yang masih bisa dia dengar. Kebanyakan mereka mengatakan dirinya berani muncul di kantor setelah videonya tersebar.
"Wah-wah siapa ini, aktris kita rupanya. Apa kabar Mily?" sapa Husain yang berupa ejekan bagi Mily.
Mily sedikit terkejut karena ia merasa Husain sangat berubah. Laki-laki itu seperti membencinya.
Nahas Husain ikut masuk ke dalam Lift bersama dengan beberapa karyawan lain, salah satunya di divisi barunya Sofie.
"Mily? Kamu baik-baik aja?" tanya Sofie cemas.
Dia memang tak begitu mengenal pribadi Mily yang ia anggap terlalu tertutup. Namun karena Sofie bersifat dewasa, ia tak ikut menghujat Mily seperti karyawan lainnya.
__ADS_1
"Aku baik Sof, terima kasih. Maaf sudah merepotkan kalian," ucap Mily.
Tak ada lirihan dalam ucapannya, Mily berusaha bersikap santai meski terintimidasi oleh Husain dan beberapa karyawan yang masih membicarakan dirinya di belakang.
"Semoga kamu bisa menyelesaikan masalahmu ya," hanya itu yang bisa Sofie ucapkan.
Beberapa karyawan turun di lantai yang mereka tuju, tinggal Husain dan Mily yang memang menuju lantai yang lebih tinggi lagi.
"Enak ya jadi istri kedua manajer. Aku ngga nyangka diam-diam kamu liar juga ternyata."
Geram dengan ucapan Husain yang merendahkannya. Mily berbalik dan menatap tajam Husain.
"Mulutmu ngga berubah ya, kenapa ngga pakai rok aja? Pantas sampai sekarang ngga laku-laku, mulutmu sama kaya emak-emak kompleks tukang hibah!" balas Mily tajam.
Husain terkejut dengan perubahan sikap Mily yang mampu melawannya. Merasa harga dirinya di injak-injak, Husain pun melawan balik.
"Dasar perempuan murahan! Sudah di tolong malah menusuk dari belakang!"
"Ngga usah ikut campur urusanku. Lebih baik pikirkan nasibmu, udah gendut, jelek, botak lagi. Awas lama-lama kena penyakit kelamin kamu karena suka jajan di luar!"
"Kamu—" Husain mengangkat tangannya hendak menampar Mily.
Namun Mily tak gentar, dia bahkan mendekatkan wajahnya ke arah Husain.
"Tampar! Akan aku pastikan kamu membusuk di penjara!" ancamnya.
"Brengsek! Awas kamu ja*la*ng kupastikan kamu akan menderita nanti!" ancam Husain balik.
Jangan kira gadis itu kuat, bahkan dia terkejut karena berani berdebat dengan Husain.
Dia tak menyangka bahwa dia mampu melawan balik seseorang, meski ada sedikit penyesalan di hatinya.
Harusnya aku diam saja tak meladeni Husain. Tapi ucapannya sangat menyakitkan, dia tak tau apa-apa tapi seolah tau segalanya.
Mily tau sekuat apa pun ia membela diri, semua orang tetap akan menyalahkannya. Tak ada yang melihat dari sisinya sebagai korban pemerkosaan.
"Kamu baik-baik aja?"
Mily memang tidak menyadari bahwa lift sempat berhenti lagi dan ada seseorang masuk setelah Husain keluar, sebab sejak tadi gadis itu memejamkan mata demi menahan rasa sesaknya.
Dia membuka mata dan melihat Ferdi di sampingnya, menatapnya penuh iba.
"Aku baik-baik saja," jawab Mily lirih.
Dalam hati ia memohon semoga kali ini ia tak perlu berdebat dengan Ferdi karena tenaganya sudah cukup terkuras saat menghadapi Husain tadi.
"Kamu mau ke ruangan pak Suseno?" Mily mengangguk.
"Beliau belum datang, aku bisa menemanimu. Mau ke rooftop?" tawar Ferdi.
"Bukannya kamu harus bekerja?"
"Aku barusan ke ruangan beliau, tapi sekretarisnya bilang beliau belum datang, jadi kita sama-sama menunggunya, bagaimana? Aku ngga akan ikut campur urusan kamu, sungguh," janji Ferdi.
__ADS_1
Melihat tawaran Ferdi, Mily akhirnya menyetujui ajakan lelaki itu. Meski bayangan saat Ferdi juga berkata ketus padanya masih teringat jelas.
Sebelum Husain, bahkan Ferdi terlebih dahulu memojokkannya.
Meski begitu Mily sadar ia belum mengucapkan secara langsung rasa terima kasihnya karena bagaimana pun laki-laki itu pernah menolongnya.
Mily tau karena Ridho yang mengatakannya. Dulu memang dia mengutuk seseorang yang menolongnya, tapi ia tetap harus berterima kasih meski enggan.
Di rooftop juga ada beberapa stan makanan ringan, jadi para karyawan juga bisa bersantai dan memesan makanan.
Meski tak banyak pilihan, tapi lumayan untuk menemani mereka menghilangkan penat.
Ferdi membeli dua kaleng minuman kopi untuk menemani obrolan mereka.
"Kamu udah lebih baik?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja," jawab Mily dengan senyum terpaksa.
Ferdi tau kalau Mily terpaksa senyum padanya. Mungkin gadis itu masih marah atas penghakimannya tempo lalu.
"Aku minta maaf karena dulu pernah menyudutkanmu. Seharusnya aku tak boleh begitu saja menuduhmu yang tidak-tidak, aku ... Sungguh menyesal."
"Tidak apa, semua pasti akan mengatakan yang sama. Kamu sudah tau mengenai keadaanku karena bang Ridho yang bercerita bukan?"
"Ya, sungguh aku ngga tau kalau hari itu akan ada kejadian mengerikan seperti itu," lirih Ferdi.
"Aku ngga tau siapa dalang di balik ini semua. Aku hanya bingung, apa salahku hingga orang itu melakukan ini padaku," ucap Mily menerawang.
"Aku janji akan menyelidikinya. Semua aku lakukan untuk menebus rasa bersalahku, dan membuktikan kalau bukan aku dalang di balik semua itu," ucap Ferdi yakin.
"Terima kasih, kamu tidak perlu bersusah payah, aku sudah lelah memikirkan itu. Aku hanya ingin hidup tenang bersama anakku."
Ferdi tertawa getir dalam hati, tak menyangka gadis sebaik Mily akan mengalami nasib yang begitu buruk. Dia sendiri memikirkan bagaimana bisa menebus segala kesalahan.
"Aku harus menemui pak Suseno, aku permisi dulu ya Fer."
"Tunggu. Ada yang akan kamu lakukan setelah ini?"
"Maksudmu?"
"Setelah keluar dari kantor, kamu akan apa?"
"Aku ngga tau, saat ini yang penting adalah anakku,"
"Bekerjalah denganku," tawar Ferdi yang membuat Mily terdiam.
.
.
.
Tbc
__ADS_1