Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Ingin Berpisah?


__ADS_3

"Apa kalian mau bicara dulu?" tawar Kikan yang sengaja memberi waktu keduanya.


"Sebentar ya Bu," pinta Mily agar atasannya yang sekarang mau menunggu. Kikan mengangguk


"Mita kita bicara lagi pas jam makan siang ok? Aku mohon, aku baru aja pindah ke bagian HRD, jangan sampai mereka mencap buruk diriku," pinta Mily memelas.


Mily yakin obrolannya dengan Selomita tak mungkin hanya sebentar, lagi pula ini baru jam masuk kantor, tidak enak pada karyawan lain yang sudah sibuk bekerja.


"Tapi Mil, ini terlalu mendadak," ujar Selomita lalu terisak.


Mily adalah teman perempuan yang cukup dekat dengannya di kantor. Kemarin mereka baru saja menuntaskan kesalahpahaman, lalu sekarang tiba-tiba dirinya di tinggalkan, Selomita jelas saja terkejut dengan kejadian ini.


Mily mengusap air mata Selomita. "Aku masih satu kantor sama kamu, ingat itu."


Selomita tersenyum setelahnya keduanya berpelukan, "semoga tempat yang baru buat kamu nyaman ya. Maafkan aku dan kawan-kawan yang mungkin tanpa sengaja membuatmu tak nyaman," lirih Selomita.


"Aku senang kenal dengan kalian. Nanti aku akan ke sana buat pamitan."


***


Kikan mengenalkan Mily pada rekan kerja barunya, meski satu kantor, Mily tak begitu familiar dengan mereka, sebab, kantor tempatnya bekerja memang besar dan banyak karyawannya.


Dengan senyum canggung, Mily kembali mengenalkan dirinya. Dia berharap semoga di tempat baru ini dia bisa memulihkan kembali rasa percaya dirinya.


Setelah perkenalan singkat, Mily izin untuk ke ruangannya yang dulu untuk memindahkan barang-barangnya ke tempat baru.


Sofie, rekan barunya bahkan menawarinya untuk membantu membawa barang-barang miliknya. Karena Sofie tau jika barang-barang Mily pasti banyak.


"Mau aku bantu?" tawarnya.


Mily sangat senang karena divisinya sekarang kebanyakan perempuan, di ruangan itu terdiri dari enam orang, termasuk dirinya dan hanya ada satu laki-laki di sana.


"Terima kasih Sof, tapi aku sedikit lama di sana, soalnya harus pamitan juga," tolaknya secara halus.


Sofie tidak memaksa, karena menang semua pegawai pasti akan berpamitan jika di pindah bagian.

__ADS_1


Di ruangan lamanya, Selomita masih sesenggukan akan perpisahan mendadaknya dengan Mily.


Ferdi bahkan mendengus kesal karena pekerjaannya sedikit terganggu.


"Udahlah, pak Ridho kan udah bilang, Mily ngga boleh terlalu cape, nanti kondisinya menurun lagi, aku yakin penyakitnya cukup serius. Jangan sampai dia kena Gerd, kamu tau sendiri kan bahayanya penyakit itu," jelas Ferdi.


"Kamu itu emang temen kita yang paling cuek! Temen pindah bagian kamu malah biasa aja," ketus Selomita sewot.


Ferdi akhirnya menghentikan ketikannya di layar komputer, memutar kursinya menghadap Selomita.


"Lalu harus bagaimana? Protes ke Pak Ridho sama Pak Suseno kenapa menyetujui perpindahan Mily gitu? Itu hak Mily, Mita, kenapa jadi kamu yang nge gas?" balas Ferdi tak kalah sengit.


Ferdi adalah teman mereka yang jarang sekali berbincang, tapi Selomita sendiri tau jika di bandingkan Husain, Ferdi yang lebih perhatian padanya dan juga Mily.


Meski tau jika yang di katakan Ferdi itu benar, tapi batin Selomita ingin agar mereka sama-sama membuat Mily mengurungkan niatnya pindah. Bukan malah membiarkan satu-satunya teman perempuannya pindah begitu saja.


Selomita menelungkupkan kepalanya di atas meja. Dirinya terus merasa sedih dan bersalah. Kemarin mereka sudah berbaikan, tapi kenapa tiba-tiba Mily memilih pergi meninggalkan mereka.


"Kalian, ada yang tau ngga sih, terutama kamu Fer, waktu aku datang ke Bogor malamnya emang terjadi apa sih sama Mily?"


"Iya kan besoknya aku ke hotel kamu Fer, rencana mau nemuin Mily, tapi kata pak Ridho Mily sakit. Kamu tau kejadiannya?" tanya Selomita penasaran.


"Malamnya aku pergi sama Pak Ridho sama Husain ke klub, tapi cuma bentar, abis itu aku pergi ada urusan. Besoknya aku juga tanya Mily dan jawaban Pak Ridho sama kaya kamu, dia ijin pulang awal, sakit katanya," jelas Ferdi.


Selomita kembali merasa bersalah, apa karena Mily merasa kalau teman-temannya tidak memedulikannya? Tapi dia sudah berusaha menghubungi bahkan mendatangi kosan Mily, tapi gadis itu memang tidak ada.


"Hai selamat pagi menjelang siang," sapa Mily riang.


Mily berusaha mati-matian agar terlihat seperti dulu, ceria dan bersemangat.


Saat berkonsultasi dengan Psikiaternya, Mily di minta harus berusaha bersikap tenang, jangan sampai terpancing dan merasa terintimidasi, itu bisa membuat orang yang memang berniat jahat padanya semakin gencar menekan batinnya.


Tiga orang di ruangan itu terperangah melihat perubahan Mily yang tiba-tiba kembali ceria.


Hanya Selomita yang merasa tidak senang, karena berarti Mily merasa senang bisa meninggalkan divisi mereka.

__ADS_1


"Kamu seneng banget kayaknya Mil, jahat banget sih! Di sini kita sedih, malah kamu keliatan seneng," omel Selomita dengan mata berkaca-kaca.


Mily menghela napas, "maaf, bukannya aku seneng, aku juga sedih, tapi gimana, penyakit lambungku semakin akut, doain aku cepet sehat ya Mit," pinta Mily.


Selomita dan yang lainnya memang tau keadaan Mily yang sedang tidak baik-baik aja. Gadis itu terlalu tertutup dengan kehidupannya, membuat yang lainnya hanya mampu menerka-nerka.


Setelah berpamitan, Mily pun memberanikan diri mendatangi ruangan Ridho untuk berpamitan.


"Bang," sapanya sambil mengetuk pintu.


Ridho menengadah saat mendengar suara familier yang memanggilnya.


"Mily, masuk," pintanya lantas bangkit menyambut istri keduanya.


Dia menutup pintu dan berdiri di hadapan Mily. "Bagaimana? Ngga papa kamu pindah di sana?"


"Ngga papa bang, makasih abang mau repot-repot bantu Mily. Mily ke sini cuma mau pamitan."


Tanpa sadar mungkin juga refleks, Ridho mendekat dan memeluk istri mudanya itu. Mily yang kaget hanya bisa diam mematung tak membalas pelukan itu.


"Maaf, abang tidak bisa melakukan banyak hal buatmu, abang hanya berharap semuanya bisa berjalan lancar, abang ingin mengembalikan kehidupanmu seperti dulu," lirih Ridho.


Mily hanya bisa menitikkan air mata, ia tau pelukan itu hanya karena rasa bersalah laki-laki yang sekarang menyandang gelar sebagai suaminya.


"Terima kasih bang, aku cuma berharap, semoga ini cepat berakhir, aku ngga bisa hidup dalam kebohongan seperti ini. Tapi semakin di pikirkan kayaknya itu semakin sulit bang."


Mily memang lelah berbohong, sudah sebulan lebih dirinya memikirkan status yang di janjikan Ridho semakin sulit di realisasikan.


Pernikahan kedua perlu persetujuan istri pertama, kalau tidak itu namanya menyalahi peraturan, dan Mily merasa itu tidak akan mungkin terjadi.


Bahkan Mily pernah berpikir untuk mengakhiri pernikahan sirinya setelah pertemuannya dengan Fisha di kafe. Dia berpikir lebih baik tidak menikah seumur hidup, kalau memang tidak ada laki-laki yang mau menerima dirinya apa adanya.


"Bang, apa sebaiknya kita bercerai saja?"


Ridho terperangah dengan ucapan Mily, yang memilih berpisah dengannya.

__ADS_1


Apa itu jalan terbaik?


__ADS_2