
"Mbak Fisha?" lirih Mily yang terkejut dengan kedatangan Fisha bersama beberapa perempuan paruh baya di belakangnya.
"Mbak Fisha kenal?" tanya salah satu wanita yang Mily taksir seusia ibunya.
"Ini pe*la*kor yang merebut suami saya Bu Ibu," ujar Fisha pongah.
Setelah mengatakan hal menyakitkan itu, ibu-ibu yang datang bersamanya menatap sinis ke arah Mily, membuat ibu hamil itu tak nyaman.
"Saya harap Bu Fisha jangan membuat orang lain beropini buruk, saya yakin Bu Fisha lebih tau keadaannya. Apa perlu saya jelaskan di sini?" bela Ferdi yang membuat Mily melihat ke arahnya.
"Kamu kenal dia Fer?" tanya salah satu wanita paruh baya, yang mendekat ke arah mereka.
"Ini Mily mah, dia yang mau Ferdi kenalin," jelas Ferdi pada ibunya.
Melisa yang merasa suasana mendadak tidak nyaman bagi para tamunya, terpaksa meminta sang putra untuk mengalah dan membawa Mily pergi dari sana.
"Kamu bicara di kantor dulu ya, nanti mamah susul?" saran Melisa.
Mily menunduk, ternyata ibunda Ferdi satu kelompok arisan dengan Fisha. Ia tak yakin setelah kejadian ini ibunda Ferdi akan menerimanya bekerja.
Bagaimana pun cap perusak rumah tangga orang pasti akan menjadi acuan untuk dirinya di terima kerja.
"Ayo Mil, kita kembali ke ruanganku," ajak Ferdi lalu di ikuti Mily tanpa berpamitan pada Fisha.
"Maaf ya Mbak Fisha, saya tinggal dulu. Silakan di pilih menunya ya Bu ibu," tawar Melisa lantas berlalu meninggalkan rombongan arisannya.
.
.
Di ruangan Ferdi Mily masih menunduk sambil memilin jemarinya, membuat Ferdi mendesah.
"Kamu ngga papa?" pertanyaan bodoh, tidak mungkin perasaan Mily baik-baik saja setelah di rendahkan di depan umum seperti itu.
Namun Ferdi sendiri bingung mengawali pembicaraan. Setidaknya menanyakan keadaan wanita itu membuat Mily mau kembali menatapnya.
"Sebaiknya aku pulang saja," lirihnya "Aku tak yakin ibumu mau menerimaku," jujur Mily mengutarakan perasaannya.
"Kamu tenang aja, mamahku bukan orang seperti itu, kita tunggu sebentar ya."
Ferdi sendiri sebenarnya agak waswas setelah kejadian tadi. Takut sang ibu terpengaruh oleh ucapan Fisha. Bagaimana pun mereka sangat akrab.
Suara ketukan di pintu membuat Ferdi meminta orang di balik pintu itu segera masuk.
"Mamah," sapanya kepada Melisa, tapi sang ibu berjalan mendekati sofa yang ada Mily di sana.
"Siapa namamu?" tanya Melisa datar membuat Mily gugup.
"Sa-saya—"
__ADS_1
"Saya butuh pegawai yang tegas, angkat kepalamu, sebagai seorang manajer tentu kamu akan di tuntut bisa menyelesaikan masalah!" ujar Melisa dingin.
Mily menengadah menatap Melisa, dia mengakui jika yang di katakan wanita paruh baya itu benar adanya. Namun ia tetaplah Mily yang pengecut. Pikirnya.
"Perkenalkan saya Mily Bu," jawab Mily yakin.
Meski nanti dia di tolak setidaknya dia harus bisa membedakan urusan pribadi dan urusan pekerjaan, meski pekerjaan itu di tawari oleh rekannya sendiri, dia tetap harus profesional.
Melisa tersenyum, "Saya ngga akan ikut campur urusanmu dan Mbak Fisha, hanya saja saya perlu pegawai yang teliti dan bisa bersikap tegas, sebab jika ada apa-apa di restoran, pegawai pasti akan membutuhkan bantuan manajer."
"Dan satu lagi, bersikap tenang dalam menghadapi kesulitan," tambah Melisa.
Mendadak pekerjaan yang Mily bayangkan terasa sulit, mungkin benar untuk seorang manajer setidaknya harus bisa menyelesaikan masalah, apakah dia mampu? batin Mily risau.
"Kamu seperti ngga yakin?" cibir Melisa.
"Saya akan bekerja semampu saya Bu," jawab Mily berusaha tenang.
Ia membutuhkan pekerjaan untuk menopang hidunya di masa depan, setidaknya dia harus bisa menghasilkan uang sendiri mulai saat ini.
"Kamu benar sedang hamil?" tanya Melisa sambil menatap perut rata Mily.
"Iya Bu jalan tiga bulan.”
“Maaf bukannya saya tidak mau tahu, apa kehamilan kamu lancar? Saya tidak ingin kamu sering absen dengan alasan kehamilanmu ini," cecar Melisa.
"Mah ..." tegur Ferdi frustrasi.
Namun saat ini, sepertinya sang ibu malah bersikap dingin pada Mily, membuat Ferdi tak enak hati pada wanita yang ia tawari pekerjaan.
Dalam pikiran Ferdi, mungkin sang ibu terpengaruh dengan ucapan Fisha tadi.
"Loh kenapa? Mamah berhak tanya dong, dia masih hamil muda, nanti kalau kebanyakan cuti dengan alasan mual muntah mamah juga yang repot!" keluhnya menjawab teguran sang putra.
Mily menelan kasar salivanya, batinnya bimbang apa harus melanjutkan menerima tawaran Ferdi atau tidak.
Mily merasa ibunda Ferdi tak menyukainya, mungkin karena tau siapa dirinya.
"Saya ngga bisa menjanjikan apa-apa sama Ibu dan Pak Ferdi, kalau memang ibu ragu-ragu tidak masalah Bu," jawab Mily lemah.
"Baiklah, memang benar tidak ada yang tau masa depan, setidaknya kamu bisa usahkan kan? Jaga kondisimu, istirahat yang cukup dan penuhi asupan gizimu, saya pikir semua akan baik-baik saja," saran Melisa.
"Jadi ... Mamah akan menerima Mily apa enggak?" tanya Ferdi waswas.
Melisa menghela napas mendengar pertanyaan putranya yang terlihat memaksa, "baiklah saya akan menerima kamu, Senin kamu sudah bisa bekerja."
Mily sangat senang telah di terima oleh Melisa, ia berjanji akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih lalu berpamitan undur diri.
"Sekali lagi terima kasih Bu Melisa dan Pak Ferdi, saya pamit undur diri."
__ADS_1
Mily menyalami Ferdi dan Melisa lalu meninggalkan kantor mereka.
Di bawah, Mily berharap ia tak berjumpa lagi dengan Fisha, karena ia enggan di tekan lagi oleh kakak madunya itu.
Sayang tak seperti harapannya, Fisha memang sengaja menunggunya di bawah.
"Serahkan rumah itu Mil! Jangan sampai aku mengambilnya paksa!" ucap Fisha saat Mily melewatinya.
Mily yang tak tau jika Fisha menunggunya lantas menoleh. Dia berusaha menenangkan debaran jantungnya karena terkejut dan juga takut.
Setidaknya Fisha menghadapinya seorang diri, tak ada para wanita sosialita yang bersamanya seperti tadi.
"Kenapa Mbak masih bersikeras menuntut rumahku? Bukankah papah Gunawan sudah tegas menolak, itu adalah hakku!" jawab Mily berani.
"Kamu!" makinya sambil mengayunkan tangan ingin menampar Mily.
Namun Mily yang sudah muak selalu di sudutkan kini berani melawannya.
Dia menampik tangan Fisha dengan kasar. Ibu hamil itu kini berani membusungkan dada di hadapan kakak madunya.
"Itu rumahku! Bukan rumahmu atau suamimu! Saya ngga pernah mengemis apa pun sama Mbak! Satu lagi ..." ujar Mily berani.
"Jangan tindas saya lagi Mbak! Saya berterima kasih karena mbak dulu pernah menolong saya dan mbak juga tau saya terkena musibah ini, tapi kenapa selalu memojokkan saya. Sudah cukup selama ini aku diam atas semua hinaan mbak Fisha."
"Kalau mbak mau bersama bang Ridho silakan mbak, kalau pun mbak Fisha ngga setuju dengan rencana kami, saya ngga papa, ayo kita bicarakan kembali semuanya, tapi jangan hanya berani menyudutkan saya, seolah-olah saya adalah perusak rumah tangga mbak Fisha!" ucap Mily tajam.
Fisha terperangah mendapat perlawanan sengit dari Mily, bukannya mencerna ucapan Mily, Fisha malah semakin geram dengan pikiran buruknya.
Ia yakin Mily tengah memiliki target lain, dan pikiran tentang Mily yang sengaja menjebak suaminya dulu adalah benar.
"Wah-wah, sekarang kamu sudah bisa menunjukkan wajah aslimu ya?" cibir Fisha.
"Setelah tau kalau kamu ngga akan mendapatkan apa-apa dari suamiku kamu bisa menjawabku. Sekarang aku tau maksudmu, kamu saat ini tengah mengincar mangsa lain bukan?" hina Fisha.
"Terserah bagaimana penilaianmu Mbak, saya permisi dulu," jawab Mily lantas berbalik hendak meninggalkan Fisha.
Dia enggan meladeni Fisha yang ia yakin tak akan ada habisnya.
"Dasar pe*la*kor! Lihat saja Tuhan pasti akan membalas perbuatanmu!" sumpah serapah di lontarkan Fisha yang masih bisa di dengar oleh Mily.
Tak hanya Mily, di ujung tangga, Ferdi dan Melisa yang sejak tadi mendengar perdebatan sengit keduanya hanya bisa menghela napas.
"Sebaiknya mamah temui Fisha, perempuan itu berubah banyak akhir-akhir ini, mungkin ini penyebabnya," ujar Melisa lantas menuruni tangga hendak berkumpul kembali dengan teman sosialitanya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc