
Aku membelikan Mily sebuah rumah di kawasan perumahan yang cukup lumayan.
Bangunan tingkat dua, dengan desain Minimalis. Berbeda dengan rumahku dan Fisha yang termasuk dalam kategori mewah.
Rumah Mily pun sebenarnya di berikan oleh papah. Kata papah lebih baik Mily di pindahkan karena takut malah nanti jadi bahan gunjingan jika kami sering terlihat bersama.
Terlebih lagi, ada beberapa karyawan satu kantor yang nge kos di sana juga. Meski berbeda departemen, tapi aku yakin mereka mengenalku.
Awalnya Mily menolak saat kuminta pindah sementara waktu, karena rumah yang kujanjikan untuknya sedang di lakukan sedikit renovasi.
Setelahnya aku juga akan memberikan sertifikat itu atas namanya. Menurut papah itu sebagai bentuk tanggung jawabku, meski aku sendiri merasa itu berlebihan.
Kehidupan berjalan seperti biasa, aku juga tetap perhatian kepada keluarga. Untuk Mily, tanggung jawabku hanya sebatas menemaninya berobat dan memberi nafkah secara materi.
Kami tak pernah melakukan hubungan selayaknya pasangan suami istri. Meski Mily termasuk wanita yang cukup menarik, tapi aku sudah terlanjur menganggapnya seperti seorang adik.
Mily juga tampak berubah, kini wanita itu lebih banyak diam dan tatapannya terkadang masih kosong.
Aku bahkan harus banyak berbohong kepada Selomita yang selalu merajuk ingin menemui Mily di kampung saat aku berbohong mengenai keadaannya.
Kala itu Selomita merasa cemas, karena Mily tak pernah sekalipun membalas pesannya.
Untungnya baik Ferdi dan Husain memberi pengertian pada gadis itu agar memberi waktu sendiri untuk Mily.
****
Setelah di rasa cukup mampu untuk kembali bersosialisasi, Mily meminta untuk kembali bekerja.
Aku sempat khawatir karena takut itu hanya akan menghambat kinerja karyawan lain jika dia tiba-tiba kambuh.
Mily memang tidak pernah mengamuk atau apa, tapi wanita itu sering tiba-tiba diam seperti orang linglung.
__ADS_1
Aku sempat menawarinya untuk berhenti bekerja. Namun di tolaknya mentah-mentah, ia berkata jika akan berusaha kembali seperti dulu.
Hari ini Mily terlihat aneh, bahkan membuatku sedikit jengkel karena sikapnya membuat Selomita tampak curiga.
Ingin sekali aku mengatakan jika perubahan sikapnya padaku justru akan membuat orang lain curiga, tapi aku bisa apa, di depan rekan-rekan aku tak mungkin memarahi gadis itu.
Hatiku sedikit mencelos saat Selomita menanyakan apa Mily sedang sakit. Kulihat Mily menggeleng, wajahnya memang sayu tak sesegar dulu.
Di restoran tatapannya lagi-lagi kosong, dia lagi-lagi melamun saat kami malah asyik bercanda.
Bahkan Ferdi juga tampak mengkhawatirkannya. Pintar sekali dia mencari perhatian. Ah ada apa denganku, apa mungkin aku cemburu dengan Ferdi? Aku menolak keras pikiran itu.
Untuk apa aku cemburu pada Ferdi, jika memang lelaki itu menyukai Mily aku malah bersyukur. Namun aku tak yakin jika Ferdi mau menerima Mily yang seorang janda nantinya.
Jika di lihat dari wajah tentu saja Ferdi sangat tampan, tapi dia terlalu kaku dan datar, membuat para wanita susah untuk mendekatinya.
Ferdi juga hanya dekat dengan Selomita dan Mily. Menurutku dia lebih cocok dengan Selomita.
Aku tentu saja bangga dengan segala pencapaiannya. Aku selalu mendukung apa pun yang ia inginkan jika berdampak baik baginya.
Dia sudah jauh-jauh hari akan mengadakan syukuran di rumah. Tak lupa ia juga mengundang Mily.
Fisha menuntut agar aku bisa memaksa Mily untuk hadir di sana. Sudah beberapa kali Mily mengabaikan pesannya, membuat istriku khawatir.
Dulu memang Mily sering berkunjung ke rumahku setiap akhir pekan, membawakan anak-anak makanan ringan dan bermain bersama mereka.
Mily selalu menganggap keluargaku adalah keluarga barunya, tak menyangka jika ucapan itu malah jadi kenyataan, tapi dengan rasa yang berbeda.
Mily benar-benar masuk dalam keluarga kami sebagai istri keduaku meski tanpa sepengetahuan Fisha.
Aku ingin menolak keinginan Fisha, tapi istriku mengancam tidak akan melayaniku jika aku tak bisa membawa Mily.
__ADS_1
Terpaksa kuturuti keinginannya. Kudatangi Mily di rumah yang sengaja kusewa untuknya.
Penampilannya berantakan, bahkan dia masih mengenakan pakaian kerja.
Mily terlihat enggan memenuhi undangan Fisha. Ada rasa marah dan juga lega. Marah karena dia tak menghargai istriku yang sengaja mengundangnya.
Lega karena memang sebaiknya dia tidak perlu menemui Fisha dan keluargaku saat ini.
Aku sendiri bingung dengan perasaanku, mengapa jadinya apa pun yang di lakukan Mily selalu salah di mataku.
Akhirnya dia setuju dengan permintaanku meski terlihat sangat terpaksa.
Di dalam mobil, aku yang entah kenapa kesal dengan sikapnya, akhirnya bicara jika kejadian yang menimpa kami sepertinya perbuatan orang yang sengaja menjebak kami.
Dia tampak terkejut, aku sengaja mengatakan kecurigaanku padanya. Dan dia malah membalasku dengan sangat tajam.
Mengingatkanku bagaimana dia berakhir setelah kejadian nahas itu, bahkan dia mengingatkanku bahwa saat ini dirinya juga mengalami depresi.
Meski benar, entah kenapa ucapannya membuatku tersinggung dan kesal. Seolah dia mengatakan jika aku bodoh karena mencurigainya.
Kini kutanyakan lagi pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatiku. Mengapa dia juga bisa berada di kamar itu.
Dia mengambil ponsel dan mencari sesuatu di sana. Bukannya takut, kini malah dia yang balik mencurigaiku yang telah menghapus pesan misterius itu.
Apa semua hanya akal-akalannya saja, atau dia memang berkata benar?
.
.
.
__ADS_1
Tbc