Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Mily kecelakaan


__ADS_3

Mily tengah berada di rumah sakit di temani oleh Saidah.


Dia tak ingin merepotkan Ridho maupun Ferdi, jadi dia memutuskan untuk memeriksakan kandungannya di temani oleh keluarganya saja.


Karena dia selalu merasa lapar, Mily memutuskan membeli makanan di depan rumah sakit.


"Kamu diam saja di sini biar ibu belikan untuk mu," tawar Saidah.


"Bu antreannya masih lama, mending kita ke sana dulu yuk!" ajaknya.


Saidah hanya bisa mengangguk pasrah, keduanya berjalan kaki hendak menyeberangi jalan.


Namun nahas, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menyerempet ibu dan anak itu.


Keduanya terpental, Saidah terkapar menabrak pembatas jalan, karena berusaha menyelamatkan Mily dengan mendorong tubuh putrinya.


Mily jatuh tersungkur membuat perutnya terbentur jalan. Keadaan yang tampak lengang membuat pengendara mobil itu kabur seketika.


Orang-orang yang panik segera menolong Mily dan Saidah tanpa memedulikan mobil yang melarikan diri itu.


"Ibu ..." lirih Mily yang penglihatannya semakin buram dan tak lama gelap gulita.


Di depan ruang operasi sudah ada Bian, Ridho dan juga Ferdi. Ridho dan Ferdi sendiri datang karena di kabari oleh Bian.


Mereka bertiga menunggu dengan sangat cemas. Mily harus menjalani operasi sesar untuk menyelamatkan bayi dan dirinya karena benturan yang sangat keras membuatnya pendarahan hebat.


Tak lama suara orang datang tergesa-gesa membuat ketiganya menoleh, Gunawan dan Elya datang dengan raut wajah yang sangat khawatir.


"Bagaimana Mily Do?" tanya Gunawan.


"Mereka masih di ruang operasi pah," jawab Ridho lemah.


Gunawan hanya bisa mengusap punggung putranya. Mereka tak menyangka jika keadaan Mily akan mengenaskan seperti ini.


Dokter keluar dari ruang operasi membuat semuanya menghampiri sang Dokter.


"Keluarga Nyonya Mily?" tanya sang Dokter memindai wajah satu persatu orang di hadapannya.


"Saya adiknya Dok," jawab Bian. Karena memang hanya Bian yang terikat tali kekeluargaan dengan Mily dan Saidah.


"Seperti yang di khawatirkan, bayi Nyonya Mily mengalami kelainan jantung, saat ini keduanya dalam keadaan yang kritis," jelas sang Dokter membuat mereka semua melemah.


Bian bahkan harus berpegangan pada Ferdi yang berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


"Nyonya Mily kehilangan banyak darah, masih ada stok di rumah sakit, tapi kami tidak yakin apa bisa mencukupinya. Jika kalian ada yang cocok dengannya bisa ke UGD untuk mendonorkan darah," jelasnya.


"Bayinya ada di mana Dok?" tanya Gunawan.


"Bayinya masih di ruang inkubator pak. Saya harus kembali ke ruang operasi, jadi tolong segera lakukan pendonoran atau cari pendonor ya."


Setelah mengatakan itu sang Dokter kembali ke ruang operasi. Tanpa banyak kata ketiga lelaki itu bergegas bangkit menuju ruang UGD meninggalkan sepasang suami istri Gunawan dan Elya.


Hanya Ferdi dan Bian yang cocok dengan darah Mily, sedangkan Ridho hanya berusaha mencari pendonor lewat arahan pihak rumah sakit.


"Bang aku titip ka Mily, aku mau ke ruang operasi Ibu dulu," jawab Bian lemah.


Keduanya mengangguk, mereka merasakan perasaan kalut pemuda itu, kedua orang yang sangat di sayanginya mengalami kecelakaan tentu mengguncang batin pemuda itu.


Keduanya sudah melewati masa kritis, tapi Saidah masih mengalami koma karena benturan di kepalanya yang cukup keras.


Wanita paruh baya itu akan di pindahkan ke ruang ICU, sedangkan Mily sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa, menunggu siuman.


Ferdi menemani wanita yang sangat ia cintai itu dengan sabar. Sungguh ia sangat takut kehilangan Mily, ia sangat menyesal, andaikan saat itu dia menemani sang kekasih mungkin tak akan seperti ini kejadiannya.


Ridho sendiri tengah sibuk mencari informasi mengenai penyebab kecelakaan Mily dan Saidah.


Setelah mengetahui mobil yang menabrak mereka lewat kamera CCTV dari sebuah toko, Ridho bergegas kembali menuju ruang rawat Mily untuk menemui Ferdi.


"Lihat ini Fer, kita punya buktinya!" serunya senang.


"Iya, tapi ngga hanya mengandalkan pihak berwajib, kalau bisa kita juga turut turun tangan, gimana?" ajaknya.


"Aku setuju Bang!" sela Bian yang ikut bergabung dengan mereka.


"Tapi siapa yang akan menjaga Mily, kalau kita sibuk mencari pelakunya?" tanya Ferdi.


"Biar aku dan Bian, aku juga akan membayar orang untuk membantu kita," tawar Ridho.


Ferdi menghela napas, lelaki tampan itu menatap Mily iba. Ia tak ingin meninggalkan sang kekasih meski itu untuk mencari pelaku tabrak larinya.


"Sebelum keadaan Mily membaik, aku hanya bisa membantu kalian tapi hanya berupa uang dan lainnya," ujarnya lemah.


"Hei! Mily itu keluarga kita, kamu ngga perlu memikirkan hal itu Fer!" tolak Ridho.


"Engga Pak, saya akan membayar orang untuk membantu kalian, kalau kalian perlu apa-apa tolong bilang sama saya, senggaknya saya merasa berguna," tukasnya.


Ridho menghela napas, "kalau memang tak membebanimu, aku akan terima."

__ADS_1


Ridho yang tidak tau siapa sebenarnya Ferdi hanya takut bawahannya itu akan merasa terbebani.


Padahal dia sendiri bingung bagaimana ia harus membayar biaya rumah sakit Mily dan Saidah.


Sang ayah- Gunawan, sudah memintanya untuk membayar semua biaya perawatan mereka dan berjanji akan membantunya.


Beruntung ia memiliki bonus yang belum dia berikan pada Fisha dan anak-anaknya, dia berharap Fisha tak menuntut uang itu juga.


Seperti sebuah kesialan, hal yang di takutinya justru malah jadi kenyataan.


Baru juga dia keluar dari ruang rawat Mily, mantan istrinya tiba-tiba menghubunginya.


"Iya Sha?"


"Mas, bukannya kamu biasanya dapat bonus ya di bulan ini? Bisa tolong transfer? Aku mau ajak anak-anak jalan," tanpa basa basi Fisha meminta uang bonus milik Ridho.


Ridho menumpukan tangannya di tembok sebelum menjawab pertanyaan mantan istrinya.


"Maaf Sha, bonus kali ini ngga bisa aku berikan untuk kalian semua, tapi aku janji akan ..."


"Ngga bisa gitu dong! Kamu udah janji waktu itu akan memberikan semua bonus kamu yang sekarang, untuk tahun-tahun yang akan datang baru kamu akan memberi sebagian!" tolak Fisha murka.


Fisha sendiri membutuhkan uang itu, untuk bisa diberikan pada Dika setelah nanti ia melihat hotel mereka.


Meskipun jauh dari permintaan sang kekasih, setidaknya dia bisa memberi dari pada tidak sama sekali, pikirnya.


"Mily dan ibunya kecelakaan Sha, aku harus membiayai mereka. Aku minta maaf, aku janji kalau nanti dapat bonus, itu untuk ganti yang sekarang," tawar Ridho frustrasi.


"Ngga bisa! Pokoknya aku ngga peduli! Kamu harus tepati janji kamu!" setelah meluapkan amarahnya, Fisha mematikan sepihak panggilannya.


Ridho mendesah frustrasi. Dia tidak tau kalau semua perdebatan itu di dengar oleh Ferdi, sebab Ridho tak menutup rapat ruangan Mily.


Ferdi lantas keluar menemui Ridho yang ia yakin saat ini tengah dilema.


"Pak, biaya Mily dan Bu Saidah, biar menjadi tanggungan saya, penuhi janji bapak pada bu Mily," ujarnya hati-hati.


"Ka-kamu mendengar percakapan kami?"


"Maaf kalau saya lancang pak, saya hanya ngga mau kalau nanti Mily lagi yang terkena imbas kemarahan Bu Fisha," jelasnya.


"Biaya mereka cukup besar Fer, ngga mungkin saya lepas tangan begitu aja."


"Bapak boleh bantu, tapi ngga dengan uang bonus yang udah bapak janjikan untuk Bu Fisha pak, mari nanti kita pikirkan bersama lagi," tawar Ferdi yang belum di jawab oleh Ridho.

__ADS_1


Ridho sendiri masih bimbang apa akan menerima tawaran Ferdi atau tidak, dia harus berdiskusi dulu dengan orang tuanya.



__ADS_2