Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Terkuaknya identitas Ferdi


__ADS_3

Melisa bergabung di meja teman-teman arisannya. Melihat Melisa yang kini bergabung, Fisha lantas mendekati ibu paruh baya itu.


"Maaf Bu Melisa, mau apa Mily ke sini?" Fisha benar-benar penasaran dengan kedekatan Ferdi dan Mily.


"Mereka kan mantan teman se kantor, mungkin hanya sekedar ingin bertemu," elak Melisa yang tak ingin memperpanjang keingintahuan Fisha pada calon bawahannya.


Fisha merasa jika Melisa sengaja menghindari berbincang dengannya, terlihat dari wanita itu yang menyela gurauan rekan lainnya.


***


Melisa kembali mengajak Ferdi berbicara saat berada di rumah mereka, ia ingin tahu seperti apa hubungan Mily dan Fisha, Melisa merasa jika sang putra sepertinya lebih banyak tau tentang kehidupan keduanya.


"Fer, seperti apa kejadian sebenarnya? Benarkah Mily itu perusak rumah tangga Fisha?"


Ferdi yang di tanya seperti itu sebenarnya enggan membahas kehidupan pribadi Mily, tapi sepertinya ia harus bercerita karena bagaimana pun ia tak ingin sang ibu menganggap buruk temannya itu.


"Ridho suaminya Fisha itu memperkosa Mily karena jebakan,” jelasnya.


"Di perkosa? Astaga. Kenapa ngga lapor pihak berwajib aja?”


Ferdi menghela napas, "aku ngga tau, mungkin rasa segan atau apa, tapi Ridho memilih jalan pintas yaitu bertanggung jawab pada Mily, yang malah membuat Fisha tak terima, begitulah kurang lebih."


"Jadi mereka menikah tanpa sepengetahuan Fisha apa gimana?” tanya Melisa semakin tertarik dengan cerita kehidupan Mily.


"Iya, tapi hanya sementara, soalnya Ridho hanya ingin bertanggung jawab memberikan status bukan untuk merajut rumah tangga yang sebenarnya."


"Ya ampun, rumit sekali hubungan mereka. Mamah ngga bisa membela salah satu, kalau Fisha sakit hati ya wajar, siapa yang terima kalau ternyata suaminya menikah lagi."


"Tapi mamah juga ngga bisa menyalahkan Mily yang jadi korban suami Fisha, aduh pusing mamah," Melisa sampai memegang kepalanya dengan kedua tangan.


"Ngga usah di pikirin Mah, itu bukan urusan kita, cuma Ferdi harap mamah memperlakukan Mily biasa saja, bagaimana pun dia juga korban, tak ada yang sanggup menjadi dirinya, bahkan dulu dia sempat depresi dan berusaha mencelakai diri sendiri," jelas Ridho.


Melisa semakin terkejut mendengar cerita tentang Mily yang menurutnya sangat tragis.


"Kasihan ya, apa si Ridho itu ngga menafkahi Mily, sampai-sampai tengah hamil muda seperti itu dia harus tetap bekerja?"


"Mily itu pekerja keras Mah, dia enggak mungkin bergantung pada Ridho."


Melisa yang awalnya skeptis dengan Mily, sekarang semakin yakin memperkerjakan perempuan itu. Dalam hati semoga pilihannya tidak salah.


“Kamu cukup tau banyak kehidupan Mily ya Fer?” Sindir Melisa.


“Mamah ngga tau aja kalau aku sempat di tuduh jadi orang yang menjebak mereka. Padahal apa untungnya coba,” dengus Ferdi.


“Kenapa kamu di tuduh?”


“Karena aku juga ada di hotel yang sama dengan mereka!”

__ADS_1


Melisa jadi berpikir jangan-jangan putranya menawarkan pekerjaan untuk Mily karena rasa bersalah atau apa.


“Kamu yakin mereka di jebak? Bukan karena Ridho menyukai Mily? Mereka dulu dekat loh.”


***


Mily sudah berisap bekerja, dia berpakaian sedikit longgar karena mulai tak nyaman dengan pakaian kantornya dulu yang cukup ketat.


Untungnya Ferdi tak mempermasalahkan pakaian yang boleh di gunakan olehnya asal sopan.


Hanya pelayan dan pegawai bagian dapur yang di berikan seragam, untuk staf Ferdi membebaskan cara berpakaian mereka.


Mily menggunakan celana bahan khaki di padu padankan dengan kemeja putih bunga-bunga yang sangat cocok dengan kulitnya.


Saidah menatap penuh bahagia melihat sang putri yang sudah seperti dulu, ceria dan penuh semangat.


"Ibu doakan semoga pekerjaan kamu lancar ya," Saidah mengusap bahu sang putri penuh haru.


Di tengah keterpurukannya Mily sudah mampu bangkit dan kembali menata hidupnya.


"Ibu sama Bian beneran mau pulang?"


Di tengah kebahagiaannya akan pekerjaan barunya ada juga rasa sedih karena sang ibu dan adiknya terpaksa harus pulang karena urusan sekolah adiknya.


Sebenarnya Bian meminta Saidah untuk menunggu di sini saja, karena merasa dirinya bisa menjaga diri di kampung.


***


Di kediaman Gunawan, tempat di mana kini Ridho tinggal, mereka di kejutkan dengan kedatangan surat panggilan dari pengadilan agama.


"Sepertinya Fisha benar-benar melakukan keinginannya kemarin Do," terang Gunawan.


"Kamu ngga berencana menyewa pengacara Do?" tawar Gunawan.


Ridho hanya menggeleng lalu tersenyum, "Buat apa pah, Ridho akan menuruti semua keinginan Fisha, lalu gunanya pengacara untuk apa?"


Gunawan menghela napas, melihat sang putra sepertinya tak mengerti bagaimana rencana istrinya sendiri.


"Kamu ini kok ya tenang sekali. Ingatkan kalau Fisha itu akan menggugat rumah milik Mily? Belum lagi uang nafkah untuk anak-anak kalian itu hampir separuh dari penghasilanmu?" tegur Gunawan mengingatkan poin penting yang sepertinya di abaikan oleh Ridho.


"Kita lihat nanti pah, kalau ternyata tuntutan Fisha di luar batas, baru kita pikirkan langkah selanjutnya," jelas Ridho.


.


.


Di restoran, Mily di kenalkan kembali oleh Melisa kepada para seluruh karyawannya. Tak lupa wanita paruh baya itu juga menjelaskan beberapa pekerjaan yang dulu di pegang olehnya.

__ADS_1


"Ibu ini sudah lelah, dan Ferdi meminta Ibu untuk istirahat saja di rumah, tapi ibu bingung siapa yang akan mengurus restoran ini, sedangkan Ferdi sudah mulai sibuk dengan kerjaannya untuk menggantikan posisi ayahnya kelak," keluh Melisa pada Mily.


Mily merasa senang, setidaknya Melisa mau berbicara santai dengannya tak seperti kemarin yang terasa kaku dan canggung.


"Apa Pak Ferdi juga akan keluar dari pekerjaannya sekarang Bu?" Mily tetap memanggil Ferdi dengan sebutan pak sebab bagaimana pun kini dia atasannya.


Mendengar cerita Melisa, dia berpikir jika Ferdi akan meneruskan usaha ayahnya, yang berarti Ferdi kemungkinan besar akan keluar dari kantor mereka.


Melisa terkekeh mendengar pertanyaan Mily, dia sudah menebak jika Mily pasti tak tahu siapa Ferdi sebenarnya.


"Kamu ngga tau siapa Ferdi ya?"


Mily menggeleng, dia hanya tau jika Ferdi seorang karyawan sepertinya, tapi dia juga terkejut karena laki-laki itu juga ternyata memiliki sebuah restoran keluarga.


Pantas saja penampilan lelaki itu selalu modis, bahkan bisa memiliki rumah di kawasan perumahan miliknya.


Mily mengakui di antara karyawan yang ada di divisinya dulu, hanya Ferdi yang tak pernah mengeluh soal keuangan, sekarang Mily sudah tau mengapa lelaki itu tak pernah pusing, sebab dia memiliki penghasilan lain yaitu dari restoran ini.


"Ferdi itu anaknya Suseno, sebentar lagi dia akan menggantikan ayahnya," jelas Melisa yang membuat mata Mily membola.


"Pak Ferdi anak pak Suseno?" gagapnya.


Sungguh fakta ini sangat mengejutkan bagi Mily, sebab tak pernah sekalipun atasannya itu memperkenalkan anak-anaknya di dalam perusahaan.


"Tapi Bu maaf, yang saya tau istri pak Suseno itu Ibu Laura?" lirih Mily tak enak hati.


Melisa tersenyum lantas menjawab pertanyaan Mily, "saya istri pertamanya, kami sudah lama bercerai, dan Laura itu istrinya sekarang," jelas Melisa.


Mily meminta maaf karena takut menyakiti hati atasannya itu.


"Maafkan saya Bu, saya ngga tau kalau—"


"Ngga papa, kalau karyawan lama, mungkin ada yang tau cerita kami, tapi sepertinya sudah ngga banyak karyawan lama di sana."


"Jadi Pak Ferdi akan menjadi pemimpin perusahaan menggantikan Pak Suseno?"


Menilik dari kharisma yang di miliki Ferdi, memang sangat wajar jika laki-laki itu bisa menjabat jadi pemimpin di perusahaan, tapi yang buat dia bingung mengapa Ferdi harus bekerja jadi karyawan biasa? Pikirnya,


Namun dia tepis setelahnya, karena ia tau itu bukan urusannya. Dia hanya membayangkan bagaimana gemparnya karyawan di sana kalau tau jika Ferdi adalah anak atasan mereka.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2