Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Keputusan Berat


__ADS_3

Ridho


Mengapa semuanya makin serumit ini. Setelah bertanya pada bartender aku memilih segera pulang.


Di dalam hotel aku berpapasan dengan Ferdi yang lagi-lagi tengah sibuk menatap ponselnya.


"Pak Ridho dari mana?" sapanya terlebih dahulu.


"Aku habis menyelesaikan urusanku."


Dia menatap jam tangan lalu mengernyit heran ke arahku, "semalam ini pak? ada yang mau saya bahas mengenai proyek kita. Apa saya mengganggu?" ucapnya formal.


Ferdi menang terkesan sangat kaku jika berbicara denganku, membuat kami seperti ada batasan.


Berulang kali aku memintanya bersikap santai jika di luar jam kantor, tapi hanya di balas iya-iya saja.


"Apa kita mengobrol di kafe depan saja?" tawarku.


Segelas kopi sepertinya bisa menyegarkan pikiranku yang buntu.


"Ayo!" ajaknya.


Kami berkendara menggunakan mobil milik Ferdi. Aku sendiri datang bersama dengan Mily ke kota ini.


"Gimana kabar Mily Pak, apa dia sudah baik kan?"


Ingin sekali aku tak membahas gadis yang saat ini sepertinya tengah mengalami depresi.


"Baik, jadi ada apa sama proyek kita?" tanyaku sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Ada kendala masalah bahan pak, Pak Renaldi bertanya apa biayanya tidak bisa di kurangi?"


"Itu harus lewat persetujuan Pak Marko Fer, sepertinya pembicaraan ini belum Deal ya Fer," ujarku sambil menghela napas.


"Sepertinya begitu pak, saya juga sudah bilang seperti itu, sebab semua sudah di rancang hingga sampai ke pembiayaannya. Jadi apa kita sudahi dulu pembahasannya?"

__ADS_1


"Sepertinya begitu. Pak Renaldi tidak mempermasalahkannya jika pembahasan kita hentikan dahulu kan?" tanyaku waswas jika proyek ini batal di laksanakan.


"Entah pak, kita hanya bisa berdoa semoga Pt. Mulia Cahya tidak membatalkan kerja sama kita."


Kenapa semuanya bisa berantakan seperti ini, kerja sama, Mily. Ah sial semuanya benar-benar kacau.


"Ini sudah terlalu larut pak, sebaiknya kita pulang. Besok kita harus kembali ke kota," pinta Ferdi.


.


.


Keesokan harinya kuputuskan untuk kembali ke rumah sakit terlebih dahulu.


Pagi tadi saat Ferdi mengajak sarapan bersama ia mengatakan agar kami mampir ke kosan gadis itu.


Aku segera menolak dengan mengatakan jika saat ini Mily sedang pulang ke kampung halamannya.


Setelah itu Ferdi tak banyak bicara lagi. Sebelum pulang, kami pun bertemu dengan Husain dan Selomita yang rencananya akan pulang hari itu juga, setelah urusan mereka selesai.


Sayangnya rencana Selomita harus pupus karena kebohonganku juga.


Selomita bahkan bertanya mengapa ponsel Mily susah di hubungi. Sengaja memang aku menonaktifkan ponsel Mily agar tak ada yang bisa menghubungi gadis itu.


Aku melajukan kendaraan menuju rumah sakit tempat Mily di rawat setelah berpamitan pada semuanya.


Di sana gadis itu masih seperti kemarin, tatapan matanya masih kosong dan penampilan yang sangat sayu.


Tak ada lagi Mily yang ceria. Aku menanyakan kepada perawat Lili apa Mily selalu bersikap seperti itu. Aku hanya takut jika dia hanya berpura-pura.


Saat kembali ke kota, aku terpaksa membawa Mily kembali ke kosan, aku bertanya apa ada seseorang yang bisa menemaninya? Jika tidak, maka aku akan membawakan dia seorang asisten rumah tangga. Namun dia menolak.


Bencana terjadi, tiba-tiba Mily di larikan ke rumah sakit karena percobaan mengakhiri hidup.


Penjaga kos yang mengabariku, karena aku sengaja memintanya menghubungiku jika ada apa-apa dengan Mily.

__ADS_1


Aku benar-benar di buat terkejut dengan kenekatan Mily, apa sebegitu depresinya ia sampai ingin meninggalkan dunia ini.


Beruntung saat kejadian itu hanya ada penjaga kosan, aku meminta kepada penjaga kos dan pemilik kos untuk merahasiakan masalah Mily agar tak tercium ke penghuni lain.


Fakta baru terungkap, Mily menderita depresi berat, bahkan Dokter bisa menebak jika Mily mengalami kekerasan seksual. Bahkan Dokter tak segan memintaku melaporkan kejadian ini.


Sebuah keputusan berat akhirnya kuambil, aku tetap harus bertanggung jawab akan keadaan Mily, di tambah aku juga akan tetap menyelidikinya.


Jadi aku memutuskan untuk menikahinya, niatku hanya untuk memberinya status. Setidaknya lebih baik dia menjadi janda dari pada gadis tak perawan.


Kuutarakan niatku, dia menanggapinya dengan dingin, bahkan dia mengingatkanku bagaimana dengan perasaan Fisha istriku.


Aku melupakan bagian itu, karena kalut aku memang tak banyak berpikir tentang keputusan ini. Terus terang aku takut jika harus berurusan dengan pihak yang berwajib.


Lagi pula ini sepenuhnya bukan salahku, jadi selama aku menyelidiki masalah ini, aku harus tetap bertanggung jawab pada gadis itu.


Aku bahkan memohon agar dia mau menyembunyikan sementara status kami nanti. Akan kucari cara agar bisa memberi status yang jelas padanya.


Jujur kepada Fisha di rasa sangat mustahil, aku yakin istriku tak akan mau di madu, meski hanya untuk sebuah status untuk Mily.


Keadaan Mily kurasa lebih baik dari pada kemarin, meski tatapan matanya masih sering kosong, setidaknya dia sudah bisa menjawab pertanyaanku.


Aku berpikir untuk mengirim Mily sementara waktu ke kampung halamannya. Aku rasa ia akan cepat pulih jika dalam perawatan ibu dan adiknya.


Namun apa yang terjadi, Mily malah mengamuk, sama sepertiku, dia juga ingin supaya kejadian kelam dan keadaan dirinya saat ini tak di ketahui oleh ibu dan adiknya.


Aku hanya bisa menunggu keputusannya, dia berkata akan memikirkannya terlebih dahulu. Kutatap wajahnya tak ada perubahan, jika memang dia menyukaiku, tentu akan terlihat binar bahagia saat kuutarakan niatku tadi.


Akan tetapi tidak, dia malah memintaku untuk segera pulang meninggalkannya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2