
Mily meringkuk di kamarnya, ia tidak tau apa yang sedang di bicarakan suami dan istri tua suaminya.
"Aku harus gimana Bi? Kalau sampai mbak fisha ngomong ke ibu dan Bian, aku akan malu sekali," isaknya.
Imah merasa iba dengan keadaan Mily, tapi ia juga bingung, ia juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan Fisha yang marah karena pernikahan mereka.
Namun ia berharap, alangkah baiknya istri tua majikannya itu bersikap lebih tenang. Ia juga bingung bagaimana harus membela Mily.
"Yang sabar ya Mbak, semoga aja Mbak Fisha ngga melakukan ancamannya. Kalau pun iya, sebaiknya mbak menjelaskan terlebih dahulu, sepertinya itu lebih baik mbak," saran Imah.
Mily menggeleng, ia tak sanggup jika harus menceritakan nasib buruknya pada sang ibu. Hidupnya benar-benar berantakan, bahkan Ridho sudah memberitahunya jika perusahaan tengah panas dengan pemberitaan mereka.
Dia merengek ingin segera keluar dari kantor. Ia tak akan sanggup menghadapi hujatan yang akan ditujukan padanya meski mereka tidak tau apa-apa tentang kejadian yang sebenarnya.
"Abang sudah memberikan surat pengunduran dirimu pada Pak Suseno. Beliau menerima dengan baik, dia akan memberikan pesangon setelah semuanya beres," jelas Ridho setelah Fisha pergi dari rumahnya.
"Mbak Fisha sudah pulang Bang?"
"Sudah," jawab Ridho lirih.
"Maafkan aku Bang, bukan maksud aku membuat semuanya jadi seperti ini. Lebih baik Abang ceraikan saja aku, aku ngga papa Bang, sungguh aku udah ikhlas dengan hidupku. Aku ingin tenang tanpa takut terintimidasi lagi," pinta Mily.
"Dulu mungkin mudah Mily, tapi tidak sekarang saat ada anakku tumbuh di perutmu, dia perlu kejelasan dari ayahnya. Aku memikirkan nasibnya, biarlah kita yang berdosa tapi bukan anak itu," lirih Ridho.
Mily memejamkan mata mendengar ucapan Ridho yang ia tau itu sangat terpaksa.
"Apa mbak Fisha setuju dengan pernikahan kita Bang?"
Ridho menarik napas dan membuangnya secara perlahan, "kami akan bercerai, setelah itu Abang akan menikahimu secara resmi. Kamu harus bersabar lagi, karena proses perceraian tidak sebentar."
Mily kembali menangis, dia tak menyangka bahwa Fisha memilih berpisah dengan suaminya.
Namun apa yang bisa dia janjikan, meski dia berkata hanya untuk sebuah status, ia yakin Fisha tak akan menerima begitu saja.
"Aku harus bertemu mbak Fisha Bang, sudah cukup ia terluka karena kita, biarkan aku dan anak ini, yang penting dia tau siapa ayah biologisnya, aku tak butuh status apa pun bang," ujarnya yakin.
"Meski kamu bilang seperti itu, Fisha tak akan menarik kembali ucapannya. Dia tidak akan mudah memaafkan kita. Kamu tidak perlu repot memikirkan dia, abang harap kamu segera sehat dan menjaga anak kita dengan baik,"
"Abang pulang dulu, kamu jaga diri, ngga usah memikirkan apa pun."
Ridho lantas meninggalkan kediaman istri keduanya. Ia sendiri bingung harus kembali ke mana. Saat ini ia memang sedang izin dari kantor. Ridho memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke rumah. Bagaimana pun mereka masih suami istri.
Sesampainya di rumah, dia melihat beberapa koper sudah berjejer di ruang tamu.
__ADS_1
"Ayah, kami mau liburan ke kampung," ucap Alvian putra sulungnya terlihat antusias.
"Kalian mau pulang kampung?"
Alvian mengangguk, hanya Alma yang masih sibuk dengan mainannya. Karena memang ia masih balita.
"Ibu di mana Fir?" tanya Ridho pada pengasuh putrinya.
"Ada di kamar pak."
Ridho bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Di sana, terlihat Fisha tengah berias di depan meja riasnya.
Saat memasuki kamar, Fisha bahkan tak menyapanya, sikapnya benar-benar berubah.
"Bun kita mau ke kampung?"
Fisha menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan sang suami.
"Kita? Ralat mas, hanya aku dan anak-anak, tanpa kamu," balas Fisha sambil mencibir.
"Apa kamu akan memberitahukan masalah kita pada keluargamu?"
"Tentu saja mereka perlu tau kabar putri mereka. Aku lelah mas, aku ingin menenangkan diri, setelah itu aku pasti kembali," jelasnya.
"Ayah titip salam untuk mereka ya Bun," lirih Ridho yang tak mungkin menghalangi keinginan sang istri.
Ridho menghela napas dan mengangguk.
***
Sepuluh jam perjalanan telah di lalui Fisha untuk sampai di kediaman orang tuanya. Hari sudah larut malam saat ia sampai.
Ia membayangkan bagaimana reaksi keluarganya saat tau kandasnya rumah tangganya nanti.
Orang tua Fisha terkejut bercampur senang saat melihat putrinya pulang bersama para cucu mereka.
"Ya ampun, kenapa pulang ngga ngabarin kami Sha? Kamu pulang naik apa nak?"
"Naik kereta Bu, Alvian ingin naik kereta," jelas Fisha setelah selesai berpelukan dengan sang ibu.
Ayah dan ibunya lantas melihat ke belakang rombongan anak dan cucunya.
"Loh mana suamimu? Kamu pulang sendiri?" tanya Tirta ayah Fisha.
__ADS_1
"Boleh Fisha istirahat dulu kan Pak, Fisha lelah, nanti baru Fisha ceritakan," lirihnya.
Merasa ada yang tak beres dengan sang putri, Marlina sang ibu tak memaksanya lantas meminta putri dan cucunya segera beristirahat.
Baru saja membersihkan diri dan berniat istirahat, ponselnya berdering, tertera nama sang suami yang menghubungi.
"Iya mas ada apa?" tanyanya datar.
"Kalian sudah sampai Bun?" meski dijawab dingin oleh sang istri Ridho tetap membalas dengan lembut.
"Sudah! Kami mau istirahat mas, sudah ya," ujarnya. Tanpa menunggu jawaban Ridho Fisha segera mematikan panggilannya.
Dia menyisir kamarnya. Kamar yang tidak berubah, sang ibu masih menjaga kamarnya dengan baik, terlihat bagaimana kamar itu masih sangat bersih dan rapi.
Fisha merindukan masa-masa mudanya. Ia lantas meraih kotak di atas lemarinya.
Bahkan kotak di atas lemari itu tak berdebu sama sekali. Kotak kayu kuno dengan ukiran yang indah itu adalah buatan kakeknya, Fisha bisa meletakan harta karun di sana, ucap sang kakek kala itu.
Dia lantas mencari kunci kotak itu, kotak yang sudah lama tak pernah ia sentuh. Bahkan jika ia dan Ridho mengunjungi kampung halamannya, Ridho tak pernah penasaran dengan isinya.
Setelah membukanya, memang kotak itu berisi harta karun menurutnya, banyak surat cinta yang dulu sering ia buat dengan mantan kekasihnya.
Sebelum menikah dengan Ridho sebenarnya ia memang sudah memiliki kekasih, bahkan sudah bertunangan.
Namun karena keadaan ekonomi mantan tunangannya itu yang tiba-tiba runtuh karena perusahaan keluarganya ambruk, kekasihnya itu pergi membuat Fisha akhirnya menerima perjodohan yang di lakukan orang tuanya.
Bukan salah tunangannya, saat itu sang tunangan yang bernama Dika memang memintanya untuk menunggu, tapi karena hilangnya komunikasi mereka, terpaksa ia menyetujui perjodohan yang di rencanakan oleh orang tuanya dengan anak teman mereka.
"Kamu di mana Dik? Apa ini karmaku karena dulu pernah menyerah dan meninggalkanmu, maafkan aku Dik, sebenarnya aku selalu berharap bisa bertemu denganmu dan meminta maaf."
"Aku selalu berdoa semoga kamu baik-baik saja, dan menemukan pengganti yang lebih baik dariku," monolognya.
Tak di ungkiri oleh hatinya, di sudut hatinya yang paling dalam masih ada setitik cinta untuk cinta pertamanya itu.
Ia mengusap foto dirinya dan juga Dika dahulu, bahkan semua barang yang pernah Dika berikan padanya masih tersimpan rapi di sana.
Fisha lantas berjalan ke arah jendela kamarnya dan membukanya lebar, gelap tentu saja, bahkan angin malam berembus sangat kencang.
"Besok aku akan menemui Uwa Idah, mereka harus tau apa yang di lakukan anaknya padaku!"
.
.
__ADS_1
.
Tbc