Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Di labrak Marlina


__ADS_3

Fisha memberi kabar pada Ridho jika mereka akan bertemu di kediaman orang tua Ridho malam nanti.


Ridho yang membaca pesan itu hanya bisa pasrah. Ia lantas memberitahukan masalahnya kepada sang ayah.


Gunawan membalas jika mereka harus siap menghadapi keluarga Fisha. Dia bahkan menenangkan sang putra agar tenang menghadapi mereka, sebab Gunawan yakin jika sang putra tak sepenuhnya bersalah.


"Tapi pah, Ridho punya perasaan kalau Fisha tetap akan menggugat rumah Mily," lirihnya.


"Menggugat bagaimana? Kan itu bukan harta kalian," tukas Gunawan.


"Ridho sudah bilang begitu pah, tapi Entahlah, sepertinya Fisha akan berusaha tetap meminta rumah itu. Sepertinya sakit hati Fisha sangat dalam, jadi nuraninya sudah tertutup oleh dendam," jelas Ridho.


"Sudahlah tenang saja Do. Apa pun yang akan istrimu itu sampaikan, papah ngga akan menarik rumah itu dari Mily. Itu adalah hak Mily dan anaknya kelak," ujar Gunawan.


Setelah itu Ridho memilih menutup teleponnya. Ia tetap harus bekerja, sebab ini adalah kesempatan terakhirnya untuk membuktikan pada atasan dan karyawan kantor, bahwa ia tetap orang yang sama, seorang Ridho yang pekerja keras.


***


Setelah cukup istirahat, Marlina lantas bangun dan berniat menemui sang putri.


"Bu udah bangun? Mau makan apa?" tanya Fisha.


"Kamu ngga kerja Sha?"


"Ada bapak dan ibu, lagi pula sudah ada Vio yang menghandle semuanya, ibu tenang aja," jelas Fisha sambil meletakan teh di hadapan sang ibu.


"Bapak dan Sakti belum bangun. Ibu mau Fisha masakin apa?" tawar Fisha.


"Gampanglah. Mumpung bapak dan masmu tidur, ayo kita ke rumah pe*la*kor itu!" ajak Marlina.


"Maksud ibu Mily?"


"Ck siapa lagi kalau bukan dia? Jangan sebut namanya, bikin ibu muak saja!" dengus Marlina.


"Mau apa ibu ke rumah Mily? Ngga usahlah Bu, malas sekali aku menemui mereka. Nanti kalau aku sudah mendapatkan rumah itu baru aku akan usir mereka," elak Fisha.


"Kamu ini gimana sih! Dia harus di beri pelajaran terlebih dahulu. Sudah kamu ikut saja sama ibu," paksa Marlina.


"Ya udah ibu bersiap dulu, nanti Fisha antar ke rumah Mily." Akhirnya Fisha menyerah dan memilih mengikuti keinginan sang ibu.


Keduanya sampai di depan rumah Mily. Tampak pintu rumah Mily terbuka, dan terlihat Saidah tengah menata pot bunga di teras rumah Minimalis itu.


"Sepertinya kamu senang sekali ya Dah! Bukannya menasihati anakmu, justru kamu seperti senang dengan kehidupan anakmu yang berhasil merebut milik Fisha!" pekik Marlina setelah dia turun dari mobil.


"Mbak Lina?" lirih Saidah.


"Masuk dulu Mbak," tawarnya.


Saidah cukup ketakutan melihat tatapan nyalang sepupu iparnya itu. Apa lagi terlihat sekali sorot kebencian dari tatapan matanya.

__ADS_1


"Panggil anakmu, ingin sekali aku menghajarnya!" ancam Marlina.


Tak lama, Mily keluar bersamaan dengan Bian yang baru sampai dari membeli pesanan kakaknya.


"Bude Lina," sapa Mily yang mendekat sambil mengulurkan tangan.


Namun sayang, Marlina menampik kasar tangan keponakannya itu sama seperti Ridho.


"Ngga usah bersikap manis kamu, pe*la*kor! Dasar perempuan ngga tau diri!" bentak Marlina dengan suara keras.


"Ada apa ini Bude? Apa ngga bisa kita bicarakan baik-baik?" sela Bian yang tengah berusaha menahan emosinya.


"Kamu anak kecil diam aja!" bentaknya.


"Kita bisa ngomong baik-baik Mbak, Fisha, tolong ajak ibumu masuk ke dalam," pinta Saidah pada Fisha.


Fisha hanya melengos membuang muka dan tak mau mendengarkan permintaan Saidah.


"Apa kalian ingin mempermalukan diri sendiri? Tidak lihat dari tadi banyak orang yang menatap ke arah sini?" cibir Bian.


"Biarkan saja mereka tau, siapa orang yang menjadi tetangga mereka ini!" sergah Marlina semakin menantang.


"Bude mau bicara baik-baik atau sebaiknya pergi saja dari sini?" ancam Mily.


Fisha terkejut melihat perubahan Mily yang kini bahkan berani menjawab ucapan ibunya.


"Lancang sekali kamu berkata seperti itu pada ibuku pe*la*kor! Kamu lupa jika rumah ini adalah milikku?" tantang Fisha yang kini mendekat ke arah Mily.


"Silakan gugat rumah ini pada papah, beliau yang memberikannya padaku bukan Bang Ridho," jawab Mily tenang.


Kini Mily mampu menjawab semua cibiran yang di tujukan padanya. Dulu yang ia takutkan adalah kesehatan sang ibu, tapi sekarang melihat ibu dan adiknya mengerti kondisinya, Mily tak ingin mereka terluka oleh orang lain, meski itu adalah Fisha dan keluarganya.


Tanpa banyak bicara Fisha menampar Mily, perih dan panas Mily rasakan, tapi ibu hamil itu tak berniat melawan sama sekali.


Saidah bahkan mendekati sang putri dan memeluknya untuk melindunginya.


"Bisakah kita bicara baik-baik Nak Fisha? Uwa mohon," pinta Saidah dengan air mata yang sudah berderai.


"Itu memang pantas dia dapatkan Wa! Sekarang dia sudah merasa sombong! Dulu terlihat dia seperti orang yang tak akan meminta apa pun dari suamiku, tapi lihatlah kini belangnya sudah terlihat. Anakmu ini sudah menunjukkan taringnya!" geram Fisha.


"Jangan lakukan kekerasan di sini mbak, kalau kamu ngga mau berurusan sama pihak yang berwajib!" sela Bian sambil mengepalkan tangannya.


Pemuda itu berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya, dia tak mungkin membalas perlakukan Fisha pada sang kakak, sebab bagaimana pun Fisha seorang perempuan.


"Kamu mengancam kami bocah ingusan?" tanya Marlina pada Bian dengan tatapan menyalangnya.


"Iya! Jika kalian kesini hanya untuk berbuat onar, Saya pastikan kalian tak akan di izinkan masuk ke dalam perumahan ini!" jawab Bian.


Fisha bertepuk tangan menghadapi keluarga yang dulu hidunya sangat menyedihkan, tapi sekarang dengan angkuhnya berani mengancamnya.

__ADS_1


"Kamu ngga lupa kan, kalau bukan karena bantuanku, kamu mungkin tidak akan bisa bersekolah sampai sekarang?" cibir Fisha pada Bian.


Bian lantas tersenyum remeh, "memangnya mbak yang membiayai sekolahku? Aku di sekolahkan oleh kakakku yang bekerja padamu. Bukankah seorang pekerja memang berhak mendapatkan upah? Jangan berbicara seolah-olah mbak yang membiayai hidup kami!"


Fisha merasa geram dengan adik bungsu Mily yang sedari tadi selalu berani menjawabnya.


"Kamu —" Fisha menunjuk wajah Bian.


"Sudah mbak, sebaiknya mbak pulang saja, kalau mau, kita akan bertemu dengan papah Gunawan dan tante Elya untuk membahas rumah ini," sela Mily.


Dia tau saat ini Fisha masih di liputi oleh amarah. Bagaimana pun mereka masih memiliki hubungan kerabat meski jauh.


Dia tak ingin hubungan mereka renggang karena masalah ini, meski pada kenyataannya hubungan mereka tak mungkin seperti dulu.


"Sekarang bahkan kamu berani memanggil mertuaku dengan sebutan papah?" cibirnya.


Meladeni Fisha tak akan ada habisnya, membuat mereka lebih memilih diam saja.


"Apa tujuan Mbak dan Bude Lina ke sini? Hanya ingin menghina saya?" ucap Mily berani.


Kini ia berusaha tegar menghadapi orang-orang yang selalu menyudutkannya. Dalam hati dia berpikir, apa mereka tak ada yang bersimpati padanya? Meski sedikit saja?


"Aku akan menghancurkanmu! Membuatmu kembali seperti sampah, sebelum aku mengangkatmu!" ancaman Fisha membuat Saidah dan Bian terbelalak tak percaya.


"Lakukan apa pun maumu mbak. Apa sudah selesai? Jika sudah tolong tinggalkan rumahku," usir Mily tegas.


"Sekarang dengan sombongnya kamu berani mengusir kami?" cibir Fisha tak percaya.


"Saya ngga bermaksud mengusir Mbak Fisha, sedari tadi kami mengajak mbak Fisha dan Bude untuk masuk dan berbicara dengan tenang, tapi kalian yang menolak, jadi jangan salahkan kami jika akhirnya kami mengusir kalian," jelas Mily dengan tenang.


Fisha mengepalkan tangannya, ingin sekali saat ini dia menghajar Mily karena sudah berani melawannya.


"Ayo Bu kita pulang!" ajak Fisha, dia sudah merencanakan akan menghancurkan kesombongan Mily nanti.


"Ingat untuk datang ke rumah mertuaku sore nanti! Aku akan pastikan kamu akan kehilangan segalanya!" ucap Fisha mencemooh.


Mily diam tak merespons, Fisha lantas pergi bersama ibunya meninggalkan rumah Mily dengan perasaan geram.


"Apa yang akan mereka lakukan Mil?" tanya Saidah cemas.


Mily menatap sang ibu dan tersenyum. "Apa pun akan Mily hadapi, asal Ibu dan Bian selalu mendukung langkah Mily," jawab Mily meski dengan hati resah mendengar ucapan istri tua suaminya.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2