
Pagi hari setelah bersiap, ia memutuskan untuk keluar. Dirinya tau harus menjelaskan banyak hal pada keluarganya.
"Ayo sarapan dulu Sha, ibu udah buatkan makanan ke sukaan kamu," ajak sang ibu.
"Kamu sendirian aja Sha? Mana suamimu?" tanya Sakti yang juga baru duduk di meja makan.
Orang tuanya memang tinggal bersama sang kakak. Kehidupan perekonomian mereka juga cukup mapan. Sakti dan Tirta memiliki usaha furnitur untuk menopang kehidupan mereka.
"Sudah makan saja dulu, baru bicara," titah Marlina.
Meski penasaran dengan kedatangan sang adik yang hanya dengan anak-anaknya, Sakti memilih mengikuti permintaan sang ibu.
Setelah selesai semuanya. Dian, istri Sakti yang tau kalau keluarganya ingin berbicara serius dengan Fisha mengajak anak-anak mereka bermain di belakang.
"Katakan Nak, kamu kenapa?" pinta Tirta.
Marlina yang duduk di samping putrinya mengusap punggung sang putri. Ia merasa akan ada berita buruk yang akan di sampaikan oleh putrinya.
"Aku akan menceraikan Mas Ridho, Pak" ucapnya sambil menatap satu persatu anggota keluarganya.
Mereka kompak terkejut dengan berita yang di bawa oleh anak dan adik mereka itu.
Tak ada yang menyangka jika rumah tangga Fisha dan Ridho yang mereka pikir adem ayem ternyata tengah menghadapi badai serius, yaitu sebuah perceraian.
"Ada apa? Kami pikir kalian baik-baik saja, kenapa tiba-tiba memutuskan bercerai?"
Fisha terisak mengingat semua yang dia alami kemarin. Bingung harus memulai dari mana.
"Mas Ridho sudah menikah lagi Pak. Dengan Mily," lirihnya di akhir kalimat.
"Mily ... Mily anaknya Saidah?" pekik Malina tak percaya.
Fisha hanya mengangguk sambil mengusap air matanya. Ia lantas menceritakan versi suaminya yang harus bertanggung jawab karena telah memperkosa Mily.
"Astaga, maksud kamu, Mily di perkosa sama Ridho!" ujar Sakti.
Lagi-lagi Fisha hanya bisa mengangguk memberi jawaban.
"Berarti suami kamu emang bre*ng*sek," ketus Saka.
Fisha menoleh dan menceritakan kejadian dari sudut pandang suaminya yang merasa di jebak.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Mily yang sengaja melakukan itu Sha?" tanya Marlina.
"Entah Bu, Fisha sendiri bingung, kalau memang itu rencana Mily, mengapa gadis itu tampak depresi," jelasnya.
"Depresi? Maksudnya si Mily itu hampir gila Sha?" tanya Marlina bingung.
"Iya Bu, makanya Fisha ngga sepenuhnya yakin kalau itu ulah Mily. Tapi tetap aja Bu, Fisha ngga bisa menerima pernikahan mereka. Terlebih lagi Mily minta di nikahi secara sah," tangisan Fisha kembali pecah.
"Ngga tau diri, meskipun dia di perkosa apa pantas meminta seperti itu sama kamu. Awalnya korban kayaknya dia jadi keenakan," sinis Marlina masih sambil mengusap punggung sang putri.
Hanya Sakti dan Tirta yang diam dengan pikiran mereka masing-masing.
Sakti berkata jika dari cerita sang adik memang bukan sepenuhnya kesalahan Mily. Karena bagaimana pun dia korban, tapi apa benar seperti itu? Pikirnya.
"Kenapa Mily minta di nikahi secara sah? Jangan-jangan benar kata ibu semua ulah Mily?" ucap Sakti mengemukakan pikirannya.
"Mily ngga minta, tapi Mas Ridho yang menjanjikan status buat dia, mereka akan bercerai setelah itu. Mas Ridho hanya mau memberi Mily status sebagai bukti tanggung jawabnya," jelas Fisha lagi.
"Ibu ngga paham maksud kamu Sha?"
Fisha menghela napas perlahan lalu menjelaskan lagi ucapan dan janji suaminya. Mereka semua berusaha mencerna ucapan Fisha dan sedikit mengerti.
Memang benar, kalau suatu saat Mily ingin menikah, dia pasti bingung dengan statusnya yang gadis tapi tak perawan.
Tentu saja Marlina tau tak mungkin ada wanita yang rela di madu meski hanya sesaat, tapi ia tak ingin anaknya menyandang predikat janda. Terlebih lagi dia tau perekonomian menantunya yang stabil.
Bisa-bisa yang menikmati semua itu nanti adalah keponakan dari suaminya. Marlina tak menginginkan itu.
"Iya kalau di cerai Bu, kalau akhirnya mereka meminta tetap bertahan bagaimana? Aku ngga mau sakit buat ke dua kalinya."
"Ya kamu bikin surat perjanjian kalau nanti mereka harus bercerai!" ucap Marlina.
" Pernikahan bukan untuk permainan Bu, mengapa semudah itu menikah lalu bercerai?" Tirta yang sejak tadi lebih banyak diam kini mengutarakan pendapatnya.
"Cih bapak ngomong begitu maksudnya mau membela keponakan ngga tau dirimu itu apa!" cibir Marlina yang merasa geram dengan ucapan sang suami.
"Ya ampun Bu, hati bapak juga terluka, tapi apa kalian ngga sadar kalau rencana kalian itu mempermainkan sebuah pernikahan?"
Kini hanya ada suara orang tua Fisha yang terdengar sengit saling melempar pertanyaan.
"Kan mereka sendiri yang bilang begitu, jadi jangan salahkan anak kita kalau dia membuat surat perjanjian!" jawab Marlina tak mau kalah.
__ADS_1
Bagaimana pun dia ingin tetap sang putri mempertahankan pernikahannya.
"Terserah padamu saja Fisha, jika kamu mau menuruti permintaan ibumu. Tapi bicarakan ini baik-baik ya," pinta Tirta.
"Engga pak, Fisha ngga bisa menerima pernikahan mereka. Apalagi Mily saat ini sedang hamil, Fisha yakin Ridho pasti nanti meminta kami tetap bertahan."
Semua kembali terkejut mendengar kenyataan yang ada, jika tadi ada setitik rasa iba pada Mily yang menjadi korban pemerkosaan menantu mereka.
Kali ini mereka syok mendengar kabar kehamilan Mily. Marlina menjadi semakin yakin jika semua itu sudah di rencanakan.
Tirta hanya tak menyangka jika keponakan jauhnya itu akan tertimpa musibah seperti ini. Namun yang ia bingung kenapa Saidah, yang notabenenya adalah sepupu jauhnya tak pernah bercerita apa pun.
"Apa uwamu tau keadaan anaknya?" tanya Tirta.
"Engga pak, makanya Fisha akan memberitahukan Uwa idah. Bagaimana pun Wa idah harus tau kalau anaknya udah menghancurkan pernikahan Fisha!"
"Loh menghancurkan bagaimana? Tadi kamu bilang dia korban suamimu. Jangan menjadikan Mily kambing hitam Nak," pinta Tirta.
Laki-laki itu bingung dengan sikap putrinya yang justru menyalahkan keponakannya.
"Tadinya aku berpikir begitu pak, tapi Mily nyatanya udah mengambil alih perhatian mas Ridho. Mas Ridho bahkan lebih memilih menemaninya di rumah sakit, dari pada menemui Alma yang sama-sama tengah di rawat waktu itu pak!"
Fisha kembali menceritakan semua kepahitan yang ia rasakan hingga akhirnya ia memilih menyerah.
"Bahkan Mas Ridho membelikan Mily rumah yang cukup mewah. Aku ngga sanggup Pak, Fisha yakin itu semua hanya akal-akalan bang Ridho aja kalau nanti dia akan menceraikan Mily, dia pasti akan melupakan janjinya setelah semua keinginannya Fisha setujui!"
"Kurang ajar sekali mereka! Benar itu yang kamu katakan Sha?" tanya Marlina geram.
"Makanya Fisha mau ngomong sama uwa idah, biar uwa menegur anaknya itu!"
Padahal yang terjadi tidak seperti itu, tapi karena hatinya sudah di tutupi luka dan dendam, Fisha menutup kenyataan bahwa Mily bahkan rela memberikan rumah dan tidak memerlukan status lagi.
Namun ia yang sudah terlanjur kecewa dan sakit hati tak peduli. Yang ia pikirkan adalah membalas sakit hatinya.
"Ya udah nanti kita ke rumah Uwa mu itu, biar dia tau anaknya yang ia pikir baik dan lugu itu nyatanya udah jadi ular berbisa!" ujar Marlina sengit.
.
.
.
__ADS_1
Tbc