
Di rumahku, Mily di sambut hangat oleh Fisha, hanya mamah yang memang dari dulu tak pernah menyukainya, semakin memojokkannya.
Ucapan mamah sangat sinis, aku juga tak tau mengapa Mamah bersikap demikian padanya. Seingatku mamah agak berubah saat tau Mily bekerja di kantorku.
Papah menyambut menantu keduanya dengan hangat. Papah memang mengetahui masalahku, sepertinya dia bersimpati pada keadaan Mily.
"Mily terlihat sangat kacau ya Do. Untung kamu tetap bertanggung jawab. Papah kasihan padanya," ujar papah.
Setelah menerima serangan bertubi-tubi dari mamah, gadis itu mengasingkan diri di taman belakang.
Aku mengawasinya diam-diam. Bagaimana pun aku tetap mengkhawatirkan keadaannya, apalagi setelah berbincang dengan mamah, kulihat tatapan matanya berubah sendu, bahkan wajahnya tampak semakin pucat.
"Kamu kenapa sih Mas!" ucap Fisha mengikuti arah pandangku. Dia tersenyum saat melihat Mily dan Ferdi tengah berbincang.
"Mereka serasi ya Mas, kenapa kamu ngga jodohkan mereka Mas?" pinta Fisha sambil mengusap dadaku.
Aku tahu maksud Fisha mengundang Ferdi ke acara ini, selain ibunya Ferdi adalah langganan di butik miliknya, dia juga ingin menjodohkan Mily dengan Ferdi.
Fisha akan terkejut jika tau kalau Mily sudah menikah denganku.
"Sudahlah, kalau mau, mereka pasti sudah bersama dari dulu. Mereka hanya bersahabat," ujarku.
Sebenarnya aku tak begitu yakin jika Ferdi menaruh hati pada Mily, laki-laki itu bersikap pada Mily dan Selomita sama saja, tak ada perbedaan. Jadi aku menyimpulkan jika Ferdi memang tak tertarik dengan Mily.
"Mily tampak berbeda ya Mas, dia sakit apa mas?"
Aku hanya mengedikkan bahu, tak lama aku di kejutkan dengan Mily yang kambuh.
Aku bergegas menghampiri keduanya. Untungnya Fisha sedang di ajak berbincang oleh teman-temannya, jadi kurasa ia tak akan curiga kala aku mendatangi Mily tiba-tiba.
"Biar aku saja Fer," aku mengambil alih Mily, dan memapahnya.
Fisha menghampiri kami tampak khawatir, dia menyarankanku agar membawa Mily ke kamar tamu.
__ADS_1
Kuikuti keinginannya, setelah mengantar Mily, aku kembali keluar.
Meski perasaanku cemas, sebisa mungkin aku menutupinya. Banyak tamu Fisha yang berkasak-kusuk tentang kejadian tadi. Membuatku harus mengalihkan perhatian mereka.
"Mamah kamu ke mana Do?" tanya papah bingung sambil menyisir pandangan ke arah para tamu.
"Ngga tau, bukannya tadi sama papah?"
"Tadi papah ke kamar mandi, aduh jangan sampai mamah kamu buat masalah," ucap papah waswas.
"Masalah apa emangnya pah?"
"Perasaan papah ngga enak Do, sepertinya mamah kamu tau masalah kamu sama Mily, tapi papah ngga yakin sih."
Aku terkejut, dadaku berdebar sangat kencang, bisa gawat jika mamah sampai tau masalahku dengan Mily.
Fisha mendekatiku dan mengenalkanku pada sepasang suami istri yang merupakan teman masa SMA nya.
Dia beralasan harus mengerjakan pekerjaan kantor, membuat istriku kesal karena menganggap aku atasan yang buruk. Karena alasannya itu aku makin kesal dengannya.
Terlebih lagi, Fisha memintaku untuk mengantarnya pulang. Sungguh saat ini aku sedang muak menatap wajah Mily.
Untungnya Ferdi kembali menyela dan bersedia mengantar gadis itu pulang.
Seharusnya aku berterima kasih pada Ferdi karena menyelamatkanku, tapi itu tak mungkin aku lakukan.
"Kalian itu jangan terlalu baik sama Mily!" ucap mamah ketus saat kami sedang bersantai setelah makan malam.
"Kenapa sih Mah, Mily itu udah Fisha anggap adik, dulu dia yang bantu usaha Fisha sampai bisa berkembang loh," balas Fisha lembut.
Lihatlah istriku ini, betapa baiknya dia, bahkan aku sangat malu karena kelakuanku yang sudah menyakitinya, meski bukan kemauanku.
"Kadang orang yang kita baiki itu bisa menusuk kita dari belakang Fisha! Kamu tetap harus waspada," ketus mamah.
__ADS_1
"Iya Mah, udah ya, mamah ngga perlu khawatir berlebihan seperti ini, nanti darah tinggi mamah kumat," Fisha memeluk mamah untuk menenangkannya.
"Kamu ini, kalau lagi di kasih tau mamah bisanya iya-iya aja, nanti kalau udah kecolongan baru nangis bombai," cibir mamah.
"Makanya mamah harus selalu mendoakan rumah tangga anak kita, supaya mereka bisa selalu bersama sampai maut memisahkan," sela papah.
"Tau nih mamah ngomongnya malah nakut-nakutin," ujarku sambil terkekeh.
"Kamu juga jangan terlalu deket sama Mily Do, ingat loh sekarang banyak perempuan ingin hidup enak dengan cara instan. Mereka rela melakukan segalanya, bahkan menjadi simpanan."
Ucapan-ucapan Mamah seakan menjadi cambuk bagiku. Apa Mily gadis seperti itu? Dia seorang pekerja keras, dekat dengan keluarga kami karena dia merasa sangat berterima kasih karena dulu Fisha mau memberinya pekerjaan.
Malam ini aku begitu memikirkan keadaan Mily, gadis itu tampak marah dan tak terima dengan segala kecurigaanku padanya.
"Mas, kamu ngga terlalu akrab sama Mily kan?" tanya Fisha sambil memelukku.
Saat ini kami sedang berbaring di ranjang, dia sendiri tadi masih sibuk dengan ponselnya. Kulihat dia sedang berkirim pesan dengan teman-temannya yang tak bisa hadir.
"Kamu kenapa? Mas sama Mily biasa aja sayang."
"Entah kenapa ucapan mamah membuatku takut. Tapi ngga sama Mily aja, sama yang lain juga."
"Mas bener ngga kata temenku dia pernah lihat kamu sama Mily di rumah sakit?"
Jedar, jantungku berpacu semakin keras, siapa orang yang sudah melihatku di rumah sakit? Dan kapan waktunya?
.
.
.
Tbc
__ADS_1