
Tanpa sengaja, Ferdi juga berada di sana, dia melihat kejadian itu. Namun Ridho dan Fisha yang tengah sibuk dengan urusan mereka tak menyadarinya.
Setelah kepergian pasangan suami istri itu, Ferdi mendekati Mily.
Dia memberikan sapu tangan untuk mantan rekan satu divisinya. Ferdi tak menyangka jika kedekatan keduanya bahkan lebih dari sekedar atasan dan bawahan.
Mereka ternyata adalah pasangan suami istri, dan Mily adalah istri kedua atasannya itu.
Ferdi sendiri tak tau mengapa dia malah berkata ketus pada Mily. Itu bukan urusannya, tapi hatinya merasa kesal, melihat kenyataan bahwa gadis yang ia anggap baik tak ubahnya seperti siluman rubah.
Setelah Mily pergi, Ferdi pun mengikutinya dari belakang. Ada rasa khawatir mengingat gadis itu pasti tidak membawa kendaraan.
Saat akan menawarinya tumpangan, ternyata Mily sudah masuk ke sebuah Taxi, jadi Ferdi hanya bisa mengikutinya saja.
Perasaannya mendadak lega saat Taxi yang di tumpangi Mily menuju ke perumahan mereka.
Ferdi merasa aneh, mengapa dia harus melakukan ini. Ada dorongan ingin bertemu dengan Mily, dan meminta maaf atas sikapnya tadi.
"Lagian kenapa aku harus marah sih!" monolognya.
"Ah sudahlah, nanti kalau situasi mereka sudah mereda, aku baru minta maaf."
Saat akan meninggalkan kediaman Mily, tiba-tiba terdengar suara pekikan seseorang dari dalam rumah Mily, membuatnya tanpa pikir panjang segera masuk ke dalam rumah.
Untungnya rumah Mily, tidak terkunci. Ferdi mencari sumber suara seseorang yang ternyata berada di lantai atas.
"Bi ada apa?"
Imah merasa sedikit lega karena melihat ada seseorang yang bisa ia mintai tolong, meski ia tak mengenalnya.
"Mas tolong, saya takut terjadi sesuatu sama mbak Mily," Imah hanya bisa terisak dan ketakutan kalau-kalau terjadi sesuatu pada majikannya.
"Tenang, bibi ada kunci cadangan kamar ini?"
Imah segera menuju ke sebuah bufet panjang. Di sana Ridho menyimpan semua kunci cadangan rumah ini termasuk kamar utama.
Meski terasa aneh, itu karena Ridho dan Imah tau bagaimana kondisi Mily, jadi Ridho sengaja memberikan akses kunci cadangan kamar Mily pada asisten rumah tangganya.
Setelah berhasil membuka pintu, Imah berteriak histeris karena melihat sang majikan sudah terkapar bersimbah darah.
Ferdi tanpa pikir panjang segera berlari ke arah Mily, dan mengangkat tubuh gadis itu.
"Ayo Bi, kita harus cepat!" pintanya dengan suara keras.
Bukan untuk memarahi Imah, tapi Ferdi juga sedang sama paniknya.
Mereka menuju mobil Ferdi di seberang rumah Mily. Ada beberapa pasang mata melihat ke arah mereka tapi di abaikan oleh keduanya.
Sampai di rumah sakit, Ferdi segera mengantarkan Mily ke ruang UGD.
Saat Dokter akan melakukan tindakan, Ferdi dan Imah hanya bisa menunggu di depan ruang UGD.
Ferdi tengah menimang apa harus menghubungi Ridho selaku suaminya.
"Makasih ya mas, untung aja ada mas nya."
__ADS_1
Imah merasa canggung dengan Ferdi, di benaknya jika Ferdi adalah orang asing dia pasti akan segera pergi setelah mengantar majikannya.
Namun Ferdi masih mau menunggu Mily di sana, jadi Imah memberanikan diri bertanya kembali pada Ferdi.
"Maaf Masnya kenal sama Mbak Mily?"
"Iya Bi, saya teman kantornya."
Sebenarnya Ferdi bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain, tapi melihat hubungan rumit keduanya dan perubahan Mily yang terkesan aneh membuat Ferdi penasaran ingin mengetahui ada apa sebenarnya dengan mereka berdua.
"Maaf Bi, apa benar Mily dan Pak Ridho sudah menikah?"
Pertanyaan Ferdi membuat Imah sedikit terkejut. Dia tidak berani bercerita mengenai masalah majikannya.
Ferdi melihat ada keraguan pada wanita paruh baya di sampingnya itu lantas merasa tak enak hati.
"Maaf kalau saya terkesan mau tau, sebab tadi saya melihat Mily dan Pak Ridho di labrak oleh Bu Fisha," jelasnya.
Imah kembali terkejut, tapi segera bisa menguasai diri. Sudah pasti suatu saat hubungan mereka akan di ketahui oleh istri pertama majikannya.
Waktunya saja yang kurang tepat, karena harusnya Fisha tau dari mulut Ridho sendiri bukan malah melihat langsung seperti ini.
"Mereka memang suami istri, tapi hanya sebatas status saja mas."
"Bibi bisa menceritakan sama saya, mungkin saya bisa membantu masalah Mily."
Entah ada dorongan dari mana, Ferdi merasa hubungan mereka memang tidak biasa. Mily selalu tampak segan berdekatan dengan Ridho tak seperti dulu.
Di benak Ferdi, jika Mily memang wanita yang menggoda Ridho, ia yakin Mily tak segan mengungkapkan perasaannya lewat gestur tubuh atau sorot mata penuh cinta pada Ridho.
Imah memang orang kampung yang sudah tua, tapi ia tau jika Ferdi adalah orang luar yang tak akan bisa membantu Mily.
Akan tetapi saat mendengar jika Mily di serang oleh Fisha, Imah tak tau lagi apa ke depannya hidup sang majikan akan penuh dengan tekanan istri pertama majikannya atau tidak.
Jika ia punya banyak uang, ingin sekali Imah membawa Mily pergi dari sana, tapi apa lah daya ia hanya orang tua biasa.
Imah melihat sorot mata Ferdi yang penuh dengan keyakinan, dalam benak Imah tengah menimang apa dia harus meminta tolong pada orang luar seperti Ferdi ini. Imah takut jika masalah rumah tangga majikannya akan semakin pelik nantinya.
"Maaf mas saya ngga punya kuasa buat cerita masalah pribadi majikan saya. Tunggu saja Mbak Mily sadar ya, semoga beliau baik-baik saja."
Ferdi tak bisa lagi memaksa Imah untuk menceritakan permasalahan keluarga majikannya, dia tau betul batasan itu, jadi mereka kini hanya bisa diam, menunggu kabar dari Dokter.
Dokter memberi kabar yang sangat mengejutkan bagi keduanya.
“Bagaimana keadaan Mbak Mily Dok?”
“Ibu siapanya?”
“Saya asisten rumah tangganya Dok”
“Apa Anda suami pasien?” Tunjuk sang dokter pada Ferdi.
Imah dan Ferdi saling menatap, karena takut terjadi sesuatu yang buruk, Ferdi tanpa ragu mengangguk mengiyakan.
“Bu Mily kehilangan banyak darah, untung saja kandungannya tidak apa-apa, sebaiknya jaga kesehatan mental istri Anda ya pak.”
__ADS_1
Ferdi dan Imah sama-sama terkejut mengetahui kabar kehamilan Mily.
“Sebaiknya saya hubungi pak Ridho.”
Ferdi hanya bisa diam membisu, tak menyangka jika saat ini Mily tengah mengandung. Dadanya terasa sakit, sampai ia harus memegang dadanya.
“Kenapa aku merasa sakit? Apa aku kecewa?”
***
Di kamar, Fisha mengamuk histeris saat mendengar ucapan suaminya kalau dia sudah menikah lagi.
"Kalian memang keterlaluan! Apa salah aku mas sampai kamu khianati aku sebesar ini?"
Fisha menangis tergugu, bahkan dia tak mau di tenangkan oleh sang suami.
"Bun, tenang dulu, ayah akan ceritakan semuanya. Tapi tolong Bunda tenang dulu, ayo duduk!" pinta Ridho lembut.
"Ngga perlu ngatur aku Do! Kamu cukup jelaskan saja!"
Tak ada lagi panggilan hormat dari istrinya. Fisha yang sudah terlanjur sakit hati bahkan memanggil langsung namanya.
Ridho mendesah, sakit rasanya melihat sikap istrinya. Namun ia bisa memaklumi itu.
Mereka bicara saling berdiri dan Ridho menjaga jarak seperti yang di minta istrinya.
"Aku ngga yakin Bun, waktu itu aku dalam keadaan mabuk saat tanpa sadar ternyata telah memperkosa Mily," lirihnya.
Fisha tersenyum sinis, "apa Mily sengaja melakukan itu? Melempar tubuhnya ke ranjangmu?" tanya Fisha penuh intimidasi.
"Maksudmu apa Bun?"
Ridho belum menceritakan semua kisahnya pada sang istri, mengapa Fisha langsung menebak jika Mily yang sengaja menjebaknya.
Fisha membuka ponselnya, mencari gambar yang di kirim oleh nomor asing.
Di sana banyak foto-foto Mily dan Ridho, meski tidak terlalu memperlihatkan kemesraan, tapi ada beberapa foto yang di ambil dari sudut seolah mereka tengah bermesraan.
"Kamu dapat ini dari siapa Bun?"
"Aku ngga tau, mungkin orang yang dikirim Tuhan untuk membuka mataku betapa biadabnya kalian!" ketusnya.
Bukan ucapan Fisha yang membuat Ridho menjadi bungkam, tapi gambar-gambar yang sengaja di kirimkan oleh orang asing ke nomor ponsel istrinya.
Ridho semakin yakin, ada orang yang cukup dekat dan mengenal baik dirinya dan keluarganya.
"Ini pasti ulah orang ini!"
.
.
.
Tbc
__ADS_1