Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
End


__ADS_3

Setiap keputusan pasti memiliki konsekuensinya tersendiri.


Seperti yang di alami Ridho, dia harus merelakan kepergian mantan istri yang membawa serta anak-anaknya.


Dia sudah berusaha menemui mantan mertuanya di kampung, meminta mereka memberitahu keberadaan anak-anaknya.


Semua komunikasi di putus oleh Fisha, dia menghilang bak di telan bumi. Hanya keluarganya yang tau di mana dia berada.


"Saya mohon pa, bu, mas Sakti, beritahu aku di mana Alvian dan Alam," ibanya.


Marlina tersenyum meremehkan, sedangkan Tirta hanya bisa pasrah mengikuti keinginan putrinya.


"kamu emang egois, Fisha udah cerita kalau dia rela merendahkan dirinya agar mau kembali padamu, tapi kamu malah memilih membuang anak-anakmu," cibirnya.


"Bu, hati ngga bisa di paksakan, setidaknya Fisha mampu berpikir demi kebaikan anak-anak kami, kita bisa kembali kompak meski tak harus bersama, tapi enggak pergi membawa anak-anak seperti ini. Saya lelah mengikuti keinginan Fisha Bu," keluhnya.


"Kamu menyalahkan Fisha?!" pekik Marlina tak terima.


"Iya! Dulu dia meminta bercerai, aku menurutinya, sekarang dia minta aku kembali, apa aku harus juga menurutinya? Dia anggap aku apa? Barang yang bisa buang dan pungut sesuka hati?" ujarnya kesal.


Merasa posisi anaknya yang salah, Tirta memilih menyudahi pembicaraan mereka dari pada dia harus sakit hati mendengar Ridho memojokkan putrinya.


"Ini sudah menjadi keputusan Fisha— Do, sebaiknya kamu pulang, bapak yakin suatu saat kalau perasaannya sudah membaik dia pasti akan kembali," putus Tirta menghentikan obrolan mereka.


Ridho dengan lemah, meninggalkan kediaman mantan mertuanya.


Sesampainya di hotel, dia di hubungi oleh calon istrinya.


"Gimana Mas, ada Bu Fisha di sana?" tanya Selomita khawatir.


Dia tak menyangka keputusan yang dulu pernah di ucapkan calon suaminya akan berdampak seperti ini.


Ridho baru mengatakan pada dirinya konsekuensi yang harus di terima atas pilihannya.


Ridho tak menyalahinya, meski Selomita merasa ada sedikit rasa bersalah, tapi tak ada yang bisa ia lakukan.


Dia tak merebut Ridho dari siapa pun. Ridho mencintainya dan lebih memilihnya dari pada Fisha.


Dalam benaknya, Fisha lah yang egois tak mau menerima kenyataan jika hati Ridho sudah berpaling padanya.


"Maafin aku ya Mas," lirihnya.


"Hei ini bukan salah kamu, jangan menyalahkan diri sendiri, kita harus melanjutkan hidup, aku yakin suatu saat kita akan menemui anak-anak," ujar Ridho menenangkan.


Mereka mengakhiri perbincangan, karena Ridho sangat kelelahan.


.


.


Hari bahagia yang di tunggu Ridho dan Selomita akhirnya tiba, kini keduanya telah resmi menyandang status sebagai suami istri.


Senyum bahagia terpancar jelas di wajah Selomita yang menjadi ratu hari itu.


Meski kebahagiaan mereka kurang sempurna karena ke tidak hadiran buah hati dari pernikahan Ridho terdahulu bersama Fisha.


Namun ada Bintang, anaknya dari Mily yang meski memiliki kekurangan tapi hidup dengan gelimangan kasih sayang dari para orang tua sambungnya.


"Bintang anak ayah, kamu cantik sekali sayang," puji Ridho saat menggendong putrinya dari Mily.


Mereka sedang melakukan foto bersama di atas panggung, Bintang berada di antara ayah dan ibu sambungnya.

__ADS_1


Sebelah kanan ada ayah dan ibunya beserta Mily dan Ferdi.


Sebelah kiri mereka ada orang tua Selomita dan kerabat mereka.


Saat seseorang yang juga berteman dengan Fisha di sosial medianya mengupload gambar kebahagiaan mereka, ada hati yang terluka karena merasa hancur sendirian.


"Kamu memang telah tega membuang buah hatimu demi perempuan itu mas, sungguh aku tak menyesal telah menyembunyikan mereka darimu. Akan aku buat mereka melupakanmu," monolognya sambil meremas ponsel di tangannya.


.


.


Pagi ini di kediaman Mily yang baru tengah di sibukkan oleh persiapan pengangkatan Ferdi menjadi pemimpin perusahaan baru menggantikan ayahnya, Suseno.


"Gimana sayang, udah rapi kan?" tanya Ferdi gugup.


"Udah kok mas, udah ganteng. Kamu jangan tegang, rileks aja, tarik napas, hembuskan," pinta Mily lembut.


Ada yang berdesir di hati Ferdi, dia tidak mampu membawa serta Mily, sebab pernikahan mereka belum di ketahui oleh khalayak ramai.


"Andai aku bisa bawa kamu, aku yakin akan hilang rasa gugupnya," keluhnya.


"Mas, semua ada waktunya. Saat kamu menjadi pemimpin aku yakin semua orang di kantor pasti akan heboh, karena tak menyangka kamu anak pak Suseno," kekeh Mily.


"Astaga anak mamah ganteng sekali. Akhirnya kamu bisa memenuhi keinginan papah kamu sayang," sela Melisa yang menatap takjub putranya.


Proses pemindah tanganan perusahaan milik Suseno kepada Ferdi memang memerlukan waktu satu tahun lamanya.


Tepat di hari ulang tahun pernikahannya, Ferdi sudah siap menggantikan posisi ayahnya.


Ferdi berpamitan pada Mily dan keluarganya yang tidak bisa menghadiri pelantikannya di kantor.


Hari ini pasti menjadi hari tersibuk bagi laki-laki tampan yang sudah berhasil menyembuhkan luka hati Mily.


"Jaga diri baik-baik ya. Mamah di sini aja ya, lihat penampilan Ferdi di tv oke?" pinta Ferdi narsis.


"Dih! Sejak kapan suami kamu jadi narsis begini Mily?" ledek Melisa pada menantunya.


Hubungan keduanya semakin hangat, Melisa sudah bisa menerima Mily dan menjalin hubungan yang baik dengannya.


"Lah, dia kan anak mamah," gerutunya.


Semua keluarga tersenyum mendengar perdebatan ibu dan anak menantu itu.


.


.


Di kantor semua terkejut dengan kabar yang menyebutkan jika Ferdi adalah ahli waris Suseno yang sudah di pastikan akan menggantikan posisinya memimpin perusahaan.


"Vangke! Tuh anak ternyata konglomerat, pantas dia kelihatan beda!" gerutu orang-orang yang mengenal Ferdi.


Ada sebagian yang senang, tapi tak jarang juga yang waswas, sebab mereka takut jika Ferdi akan memberhentikan mereka yang sering menjelek-jelekkan perusahaan tempat mereka bekerja.


"Mampus, bisa di PHK gue," keluh karyawan lainnya.


Mereka yang ketakutan karena sering berlaku seenaknya di kantor merasa cemas, andai saja mereka tahu jika Ferdi adalah anak atasan mereka, tentu mereka akan menjilat kepada Ferdi.


"Kamu memang layak memimpin Pak Ferdi. Terima kasih karena sudah membohongiku," bisik Ridho di samping Ferdi.


"Bapak memberiku selamat apa menggerutu?" sindir Ferdi.

__ADS_1


Keduanya semakin akrab, Ridho mengakui jika kinerja Ferdi pasti akan lebih baik dari pada mantan atasannya Suseno.


Dengan usia yang masih muda iya yakin Ferdi mampu membuat perusahaan itu berkembang dengan ide-ide yang segar.


.


.


Di kediaman Mily, mereka yang tengah melihat acara di televisi merasa penasaran dengan pemberitaan media tentang pengangkatan Ferdi menjadi pemimpin perusahaan.


Tiba-tiba perut Mily, merasa mual, karena tak tahan dia bergegas lari menuju kamar mandi yang terletak tak jauh dari ruang keluarga.


Saidah dan Melisa yang panik mengikuti wanita itu ke kamar mandi.


"Ya ampun kamu kenapa Mily?" tanya Melisa khawatir.


Melihat rona merah di pipi menantunya membuat Saidah dan Melisa saling berpandangan.


"Jangan bilang kalau kamu hamil!" pekik Melisa senang.


Mily mengangguk menjawab pertanyaan mertuanya. Melisa yang senang lalu berpelukan dengan Saidah.


"Apa Ferdi tau?" tanya Melisa kemudian.


Mily menggeleng, "udah beberapa hari lalu mah, aku tespeck hasilnya positif, tapi baru kemarin aku ke Dokter untuk memastikan, ternyata aku memang hamil. Sengaja ingin memberikan kejutan sama mas Ferdi," jelasnya.


"Oke, kita harus buat pesta perayaan malam nanti!" ujar Melisa semangat.


Malam hari setelah menyelesaikan semua urusannya, Ferdi bergegas pulang, ia sangat merindukan istri dan keluarganya.


Sayangnya rumah mereka sudah dalam keadaan gelap, karena hari memang hampir larut malam.


Namun tiba-tiba ... Suara konfeti mengagetkannya.


Ferdi terkejut saat istri dan keluarganya ternyata berkumpul menunggunya.


Ridho bahkan turut hadir bersama Selomita. Karena Selomita yang memberi tahu suaminya. Mereka sudah bersekongkol demi memberi kejutan ini.


Mily mendekat dan memberikan sebuah kotak kecil padanya.


"Apa ini sayang?" tanya Ferdi penasaran.


"Ayo buka Bang! Aku laper ini mau makan!" kelakar Bian sambil memegang top les di tangannya.


Saidah menjewer telinga putranya karena mengganggu kejutan putri sulungnya.


Saat membuka kotak yang di bawa sang istri, senyum seketika merekah di bibir Ferdi.


Tanpa aba-aba dia mengangkat sang istri, membuat Mily menjerit terkejut.


Melisa memukul bahu sang putra, "ati-ati, istrimu hamil muda!" ketusnya.


Ferdi mencium seluruh wajah Mily di hadapan semua keluarga dan orang terdekatnya, hatinya sangat bahagia, dia benar-benar merasa Tuhan memberikan keberkahan yang berlimpah padanya.


Semua turut bahagia melihat kebahagiaan sepasang suami istri itu, akhirnya Mily bisa merasakan kebahagiaannya di akhir masalah pelik yang telah membuatnya semakin dewasa.


Ridho memeluk sang istri, sambil berdoa agar istrinya juga segera di beri kepercayaan untuk segera mengandung.


.


.

__ADS_1


Inilah akhir kisah Mily, TOLONG JANGAN SALAHKAN AKU. Terima kasih yang sudah membaca karya saya, semoga bisa menghibur, jangan lupa baca novel saya yang lainnya.


Love you all🥰🙏


__ADS_2