Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Perdebatan sengit


__ADS_3

Elya datang dengan wajah merah padam, dari kemarin ia ingin segera membuktikan ucapan menantunya yang mengatakan jika Mily memiliki rumah dari putranya.


"Setelah meminta rumah, kini kalian merongrong putraku untuk membiayai pendidikan adik kalian Hah!" pekiknya


"Mamah!" sergah Ridho segera bangkit menyusul sang ibu yang masih diam di pintu depan.


Mily memeluk ibunya yang tengah terisak, sedangkan Bian tengah menahan amarah akibat hinaan ibunda kakak iparnya.


"Mamah tau dari siapa alamat ini?" tanya Ridho bodoh.


Elya menengok ke arah putranya sengit. Dirinya sangat kecewa karena sang putra tidak meminta pendapatnya terlebih dahulu tentang masalah yang sebesar ini.


"Kamu memberikan rumah ini ngga bilang-bilang mamah! Sampai mamah harus tau dari Fisha! Apa maksud kamu? Kamu udah ngga anggap mamah ini mamahmu!" makinya kepada sang putra.


Di belakang, Gunawan segera menepikan mobilnya secara sembarangan.


"Ya ampun mamah!" pekiknya.


"Papah bilang biar papah yang jelasin kenapa mamah malah ke sini duluan?” Gunawan mencoba menahan geram atas ulah sang istri yang tak mau mendengarkan penjelasannya.


"Percuma! Papah sama anak sama aja, sekongkol menyembunyikan masalah besar ini dari mamah kan!" seru Elya masih meluapkan amarahnya.


"Pah, mah ayo duduk dulu, kita bicarakan masalah ini dengan tenang. Ada ibu dan adik Mily di sini, Ridho mohon hormati mereka," pinta Ridho.


Elya mengeratkan rahangnya kesal, tapi mengikuti sang putra untuk duduk berhadapan dengan besan yang enggan dia akui statusnya.


"Belum puas kamu menghancurkan rumah tangga anakku, kini kamu mau menghabiskan semua miliknya?" geram Elya menatap Mily sengit.


"Maaf Tante, bukankah Bang Ridho sendiri yang menjanjikan menikahi kakak saya? Mengapa sekarang seolah tante menyalahkan kakak saya?"


Bian tak tahan dengan makian Elya yang terus menyudutkan sang kakak yang merupakan korban kebejatan anaknya sendiri.


"Tetap aja dia merusak rumah tangga anak saya, harusnya dia menolak dong! Ini malah ngelunjak!"


Ya Tuhan, semua orang di sana hanya bisa menggeleng mendengar ucapan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


"Ngga ada perempuan di dunia ini mau di madu! Harusnya kamu tau itu! Ini malah menuntut yang enggak-enggak!" serunya.

__ADS_1


"Lalu mamah maunya gimana? Memilih Ridho mendekam di penjara atas kasus pemerkosaan? Kamu yakin Fisha ngga akan meninggalkan dia? Karier Ridho bakal hancur, ngga akan ada perusahaan yang mau menerima dia, mau usaha juga apa mamah yakin dia bisa? Kalau orang tau dia mantan narapidana dulunya!" bentak Gunawan.


Gunawan sudah benar-benar habis kesabarannya menghadapi sang istri yang tidak pernah paham akan situasi sulit putranya.


Istrinya selalu saja menyalahkan Mily sebagai biang masalah.


Elya teridam mendengar bentakan sang suami. Sejenak dia merenungi ucapan suaminya dan menggeleng mengenyahkan pikiran itu.


Tetap saja, batinnya berperang ada yang setuju dengan ucapan sang suami ada yang tak ia setujui.


Jika harus menikah harusnya Ridho dan Mily tetap menyembunyikan pernikahan mereka, pikirnya.


"Mamah hanya merasa kasihan sama Fisha pah. Mamah tau bagaimana terlukanya menantu kita. Terlebih lagi, Mily yang baru di nikahi beberapa bulan sudah di berikan rumah."


"Kamu ingat Do, kalian bahkan harus tinggal sementara waktu dengan mamah, sampai Fisha membantu kamu usaha baru kalian memiliki rumah. Tentu saja Fisha merasa kamu tak adil dan semena-mena padanya," ucap Elya pada sang putra.


Ridho menunduk, mengingat semua perjuangannya dengan sang istri. Dia mengakui jika ia memang menggunakan sebagian tabungannya untuk biaya kesehatan Mily yang tidak sedikit.


"Maafkan saya tante, saya benar-benar ngga pernah meminta rumah ini sama bang Ridho. Saya tau keberadaan saya pasti sudah melukai banyak orang termasuk Mbak Fisha. Mas ... Sebaiknya saya kembalikan rumah ini sama kamu, tante Elya benar, ini semua milik mbak Fisha dan anak-anaknya," lirih Mily.


"Papah apa-apaan sih! Jadi kenapa papah belain dia!" ketus Elya tak terima.


"Ini milik Mily mah, rumah ini bukan dari Ridho tapi dari papah! Ini juga buat cucu papah kelak!"


Elya merengut kesal, mengapa harus Mily yang mendapatkan semua itu, sungguh hatinya tak ikhlas.


"Itu uang aku pah! Harusnya papah bicara dulu sama mamah! Jangan main ambil keputusan sesuka hati papah dong" gerutu Elya.


"Papah ngga pakai uang tabungan kita, harusnya kamu yang lebih tau, kamu yang pegang semua aset papah. Apa ada yang kurang?"


Elya kelabakan menjawab pertanyaan sang suami. Dia memang yang mengatur segala keuangan keluarganya dan Gunawan sang suami tak pernah meminta uang yang jumlahnya cukup besar untuk membeli rumah seperti ini.


Elya tetaplah Elya wanita itu tetap bisa menjawab semua ucapan orang yang menyudutkannya.


"Berarti papah punya penghasilan lain yang tidak di beritahukan sama mamah! Nyatanya papah bisa membeli rumah ini!" ketusnya.


Gunawan menghela napas, "Ini uang warisan papah mah, sengaja baru papah ambil dari notaris dan meminta Ridho memberikan rumah untuk Mily," jelasnya yang sontak membuat mata Elya membulat sempurna.

__ADS_1


"Warisan? Kenapa papah ngga pernah bilang kalau akhirnya papah mengklaim warisan itu!"


Penjelasan Gunawan malah menyulut kemarahan Elya. Membuat keduanya menjadi tontonan Ridho dan keluarga Mily.


"Mah sudahlah, kita datang ke sini bermaksud membicarakan masalah rencana pernikahan Ridho bukan membahas yang lainnya," sergah Gunawan yang mulai jengah.


"Ngga bisa! Kenapa warisan papah malah di berikan untuk Mily? Itu hak aku dan Ridho nantinya pah!" sentak Elya murka.


"Warisan itu tidak akan jatuh ke pasangan! Warisan itu akan jatuh pada turunan, itu memang hak Ridho nantinya, tapi papah sudah bicara pada Ridho dan dia rela haknya di berikan kepada calon anaknya kelak!"


"Anak itu belum lahir, lagi pula rasanya ngga adil buat cucuku dari Fisha!" cibirnya.


"Pah, sebaiknya memang aku kembalikan rumah ini. Benar kata tante Elya, seharusnya ini di bagi sama anak-anaknya mbak Fisha juga," sela Mily yang mulai jengah melihat perdebatan mertuanya.


"Ngga Mily, untuk mereka papah sudah menyiapkannya sendiri, ini mutlak milik kamu dan cucu papah nantinya," ucap Gunawan yakin.


"Pah ngga bisa gitu dong—"


"Cukup mah, mamah tau kan yang di kandung Mily itu anak Ridho yang sudah pasti cucu kita juga! Mily berhak mendapatkan apa yang harusnya dia dapatkan dari suaminya. Saat ini Mily istri Ridho, suka ngga suka mamah harus terima itu!" bentak Gunawan menghentikan ucapan sang istri.


"Maaf Bu Saidah, sebaiknya lain kali saja kita bahas masalah pernikahan anak-anak kita. Kalian baru sampai, luangkanlah waktu untuk Mily. Saya juga minta maaf atas kelakuan putra dan istri saya," ucap Gunawan penuh dengan penyesalan.


Melihat sang istri yang ingin menyela kembali ucapannya, Gunawan menyentuh punggung tangannya agar berhenti.


Aku ngga akan biarin kalian menikmati hak anak dan cucuku yang sah. Tak sudi aku memiliki besan orang miskin seperti kalian.


Awas saja kalian!


Gunawan pamit undur diri dan menarik paksa Elya untuk meninggalkan kediaman menantunya.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2