
Ferdi dan Ridho mengikuti mobil Herman dan anak buahnya. Mereka pergi ke pelosok kota terpencil.
"Astaga Fer, mereka mau bawa ke mana tuh penjahat?" tanya Ridho heran.
Ferdi hanya mengedikan bahunya menjawab pertanyaan sang atasan.
Sebenarnya dia juga tak mengerti cara kerja Herman dan anak buahnya.
"Fer, ngga mungkin mereka menghabisi tuh orang kan?" Ridho benar-benar cemas dengan kinerja Herman.
"Astaga Pak, saya juga ngga akan biarkan mereka melawan hukum seperti itu, bapak tenang aja!" sungutnya kesal.
"Aku penasaran dari mana kamu mendapatkan orang-orang seperti Herman dan yang lainnya? Jangan bilang kalau kamu itu mafia seperti di film-film," tanya Ridho gusar.
Ferdi mendengus kesal, bagaimana bisa sang atasan berpikir jauh ke mana-mana.
"Yang benar saja bapak ini! Apa ada tampang aku ini seperti seorang mafia!"
"Ya siapa tau kan, kamu itu terlalu misterius tau!" kelakarnya.
Mobil Herman dan anak buahnya berhenti di sebuah rumah tua di pedalaman, mobil Ridho pun ikut berhenti di sana.
"Ya ampun, serem amat Fer! Serius mereka ngga akan menghabisi orang itu kan Fer!" ujar Ridho waswas.
"Pak Ridho tenang dulu, ayo kita cepat cari tahu!" ajaknya.
Keduanya melihat jika sang pelaku terus memberontak meski tangannya sudah terikat ke belakang dengan mulut di lakban.
Mereka berhenti di tengah ruangan yang sangat minim pencahayaan.
Lelaki itu di dudukan di kursi dan di ikat dengan kencang. Herman mendekat dan melepas lakban yang menutup mulutnya.
"Breng*sek! Lepaskan aku! Mau apa kalian!" bentaknya.
Tanpa perasaan Herman menampar keras wajah lelaki itu. Suaranya bahkan membuat Ridho berjengit ngeri.
"Astaga sadis sekali dia," bisiknya di telinga Ferdi.
Sedangkan Ferdi masih diam menunggu apa yang akan di lakukan Herman selanjutnya.
Herman mengeluarkan sebuah ponsel di tangan dan menunjukkannya pada si tersangka.
"Istrimu cantik ya, apa lagi anak-anakmu, mereka lucu-lucu,” cibir Herman membuat gemuruh di hati tawanannya.
"Mau apa kalian! Jangan macam-macam! Atau kalian tau akibatnya!" makinya lagi.
Herman tertawa terbahak-bahak, "jaga ucapanmu, memang apa yang bisa kamu lakukan? Bahkan saat ini aku bisa menghabisi anak dan istrimu lewat anak buahku," sinisnya.
Si pelaku lalu menangis, memohon ampun pada Herman agar tak menyakiti anak dan istrinya.
"Kamu tau apa kesalahan kamu kan? Kamu salah bermain-main dengan seseorang!" ketus Herman.
__ADS_1
"Ma-maafkan saya, saya hanya di suruh, tolong lepaskan anak dan istriku," ujarnya memelas.
"Buset sat set gercep banget bisa bikin dia ngomong Fer!" ucap Ridho takjub dengan cara kerja Herman.
Ferdi masih terus memperhatikan Herman dan si pelaku. Hatinya tengah menebak siapa dalang di balik kecelakaan Mily dan Saidah.
"Mengapa kamu melakukan tabrak lari pada Nyonya Mily dan Bu Saidah?" selidik Herman.
"Saya di tugaskan oleh Nona Louisa untuk mencelakai wanita itu," jelasnya.
Ferdi membeku, nama yang ia khawatirkan terbukti, dia memang sudah curiga bahwa ini semua adalah perbuatan saudari tirinya.
"Louisa siapa?" monolog Ridho, ia lalu menoleh menatap Ferdi yang sedang membuang kasar napasnya.
"Kamu kenal perempuan itu?" tanya Ridho yang bisa di dengar semua yang ada di sana.
"Bagaimana Pak, mau lanjut mencari seseorang yang bernama Louisa ini?" tawar Herman.
"Engga perlu, biar wanita itu menjadi urusanku. Bawa saja dia ke kantor polisi. Mintai semua bukti padanya dan kirim padaku," titah Ferdi, di balas anggukan Herman.
"Kalian berjanji akan melepaskan anak dan istriku kan?" ucap si pelaku iba.
"Kamu udah tau pengecut masih berani-beraninya ngelakuin kejahatan!" sergah Herman kesal.
Herman dan anak buahnya lantas pamit undur diri untuk menyerahkan si pelaku kepada pihak penyidik.
Di tidak menyangka istri dan anak yang sudah dia sembunyikan bisa di lacak dengan mudah oleh Herman dan anak buahnya.
Namun saat ia berhadapan dengan seseorang seperti Herman, nyalinya menciut, meski kejam, dia tak mungkin membiarkan anak dan istrinya terluka akibat perbuatannya.
Ridho dan Ferdi kembali pulang, Ridho masih penasaran siapa wanita bernama Louisa yang mencelakai Mily.
Seingatnya Mily tak punya banyak teman, lalu dia mengingat raut wajah Ferdi yang tiba-tiba berubah tegang, membuatnya berpikir jika Ferdi yang lebih tau siapa wanita itu.
"Apa dia mantan kekasihmu?" tebak Ridho.
"Dia bukan siapa-siapa saya, hanya seorang parasit yang selalu mengganggu hidup saya," jelas Ferdi.
"Dia pasti wanita berbahaya Fer! Kalau sekarang dia sanggup mencelakai Mily, bagaimana di kemudian hari?" tanya Ridho waswas.
"Pak Ridho tenang aja, ngga akan saya biarkan wanita itu menyakiti Mily lagi!" balas Ferdi yakin.
.
.
Pagi hari, tanpa banyak kata Ferdi bergegas mendatangi kediaman ayahnya.
Suseno tentu saja terkejut dengan kedatangan putranya pagi itu.
"Ada apa tumben kamu ke sini pagi-pagi?" sapa Suseno.
__ADS_1
"Louisa ada pah?"
Suseno mengernyitkan dahi bingung, tak biasanya sang putra datang mencari anak tirinya.
Biasanya sang putra justru sangat menghindari pertemuan dengan anak tirinya itu.
"Ada apa?" tanya Suseno waswas.
"Nanti papah tau sendiri!" ketusnya.
Laura kemudian menghampiri suami dan anak tirinya, di susul kemudian Louisa yang juga turun dari kamarnya.
Baru saja mendarat di tangga paling akhir, Ferdi mendekatinya dan mencengkeram erat lengan gadis cantik itu.
"Apa yang kamu lakukan HAH! Apa kamu udah GILA!" bentaknya kesal.
Louisa ketakutan melihat kilatan amarah yang begitu besar dari diri Ferdi. Sekesal-kesalnya laki-laki itu padanya, tak pernah sekali pun ia berbuat kasar.
Laura yang melihat kejadian itu langsung mendekat dan mendorong tubuh Ferdi agar menjauh dari putrinya dan memeluk Louisa.
"Kamu kenapa Ferdi, kenapa datang-datang langsung memarahi Louis?" tanya Suseno.
Ferdi berbalik dan menatap sang ayah sambil menunjuk wajah Louisa yang masih ketakutan.
"Papah tanya sama anak tiri papah itu apa yang udah dia lakuin sama Mily dan ibunya!" sentaknya.
Suseno lantas menoleh ke arah istri dan anak tirinya meminta penjelasan.
Louisa yang sadar bahwa kelakuannya telah ketahuan meringkuk makin ketakutan.
"Jelaskan Louis apa maksud Ferdi?" tanya Suseno lembut.
"A-aku ngga tau apa maksud Ferdi Pah, sungguh," lirihnya.
Sedangkan Laura sudah menebak apa yang sebenarnya terjadi, di benak wanita paruh baya itu adalah bagaimana dia menyelamatkan anaknya.
"Baiklah kalau kamu enggak mau ngaku! Siap-siap di jemput paksa oleh polisi!" ujarnya tegas hendak meninggalkan keluarga baru ayahnya.
Suseno mencegah Ferdi dengan menyekal tangan putranya itu, "tolong jelaskan ada apa Fer, kita ini keluarga, ngga bisa kah kita selesaikan semua secara kekeluargaan?" pinta sang ayah.
Ferdi menghela napas, "apa menyuruh orang mencelakai seseorang bisa di selesaikan secara kekeluargaan pah?" sindirnya.
"Maksudnya?" tanya Suseno yang masih tak mengerti.
"Kami akan membiayai semuanya, tapi tolong hentikan kasus ini!" sela Laura berusaha menyelamatkan putrinya dari jerat hukum.
Ferdi menoleh ke arah ibu tirinya itu dengan pandangan sengit, "apa tante pikir semua bisa di selesaikan dengan uang? Bukan aku yang di buat celaka, jadi aku ngga punya hak untuk orang itu melaporkan Louisa!"
"Tapi ... Dia kekasihmu, tolong sekali ini selamatkan adik tirimu, tante janji setelah ini akan menjauhkan Louisa dari kalian semua," ucapnya memohon.
"Mah! Louis ngga salah!" sangkalnya.
__ADS_1