
"Kamu ngga pa?" tanya Kikan khawatir.
Mily mencoba bangkit, tapi karena tubuhnya yang lemah, dia memilih kembali merebahkan diri.
Dia tau saat ini tengah berada di klinik pribadi milik perusahaan.
"Kamu mau minum?" tawar Kikan.
"Maafkan saya Bu Kikan, jadi merepotkan Anda," ucap Mily malu.
"Kamu membuat saya khawatir, untung Sofie mencari kamu ke kamar mandi. Perawat menyarankan kamu untuk memeriksakan diri ke Dokter. Saya takut penyakit lambung kamu kambuh lagi," pinta Kikan.
Kikan sudah tau penyakit yang di derita Mily karena Ridho memberitahunya saat lelaki itu mengatakan alasan Mily di pindahkan ke divisinya.
"Terima kasih Bu, tapi aku baik-baik aja," ujar Mily lemah.
Ridho datang dengan napas terengah-engah karena habis berlari menuju klinik tempat Mily di rawat sementara.
"Kamu baik-baik aja Mil?" ucap Ridho dengan refleks memeluk tubuh istri mudanya.
Mily terkejut karena di sana ada Kikan dan juga bawahan Ridho lainnya.
"Bang!" pekik Mily.
Ridho yang tau bahwa dia tidak sendiri lantas tersenyum canggung pada yang lainnya.
Meski merasa aneh, tapi mereka hanya diam saja tak memberi tanggapan pada ulah Ridho yang di nilai berlebihan.
"Abang takut kamu kenapa-kenapa. Tau sendiri Abang harus menjaga kamu, kalau enggak nanti mbakmu marah-marah," Ridho berusaha menjelaskan pada Mily juga pada yang lainnya.
"Tapi ngga usah sampai peluk-peluk juga kali Pak!" sindir Husain sambil terkekeh.
Sedangkan Selomita hanya bisa tersenyum miris, tentu saja dia iri pada Mily yang bisa begitu dekat dengan lelaki pujaannya.
"Maaf ya Mil," ujar Ridho.
"Ngga papa pak," jawab Mily canggung.
Ridho lantas menoleh kepada Kikan, "sebaiknya Mily di izinkan pulang saja Bu Kikan, sebab kelihatannya kondisinya sedang tidak sehat," pinta Ridho.
"Tentu saja Pak Ridho. Mily kamu akan di antar pulang—"
"Biar sama saya Bu," sela Ridho yang membuat semua orang tercengang.
Memang sebagian dari mereka tau betapa akrabnya Mily dengan Ridho dan keluarganya.
__ADS_1
Namun melihat cara Ridho yang sangat mencemaskan Mily saat ini, di rasa terlalu berlebihan bagi beberapa orang.
"Maaf Pak, Bapak akan ada rapat sama pak Suseno dan para pemegang saham, sebaiknya saya aja yang antar Mily pulang," gantian Selomita yang menyela keinginan Ridho.
Sebenarnya Ridho ingin membawa Mily memeriksakan diri ke rumah sakit sekalian, tapi saat ingat jika dia ada rapat penting hari ini akhirnya dia hanya bisa pasrah.
"Bapak jangan khawatir saya akan antar Mily sampai dengan selamat," ujar Selomita menghibur Ridho yang seakan keberatan.
"Memangnya kamu ngga ada kerjaan Mit? Aku bisa minta antar sopir kantor buat antar aku pulang."
Mily tidak ingin merepotkan siapa pun, terlebih lagi tidak ada yang tau tempat tinggalnya saat ini. Ridho menoleh, dan seketika ia tau apa yang di cemaskan istri keduanya.
"Iya, bukannya kamu juga akan bertemu dengan klien hari ini?" tanya Ridho sambil memeriksa jam tangannya.
"Iya pak saya kan ketemunya di luar, abis antar Mily saya masih bisa ketemu beliau."
Bingung bagaimana menolak permintaan Mita, akhirnya Mily menyetujui keinginan temannya itu.
Di dalam mobil, Mily masih bingung harus berhenti di mana, jujur saja saat ini tubuhnya terasa lemas. Tidak mungkin ia meminta di turunkan di kosan, bisa terbongkar jika ia sedang berbohong.
"Kamu kenapa diam aja Mil? Kamu ngga suka aku antar?"
"Ah, enggak bukan gitu Mit, aku lemas aja. Maka sih ya udah repot-repot mau antar aku."
Akhirnya Mily dengan terpaksa menunjukkan alamat rumahnya yang lama. Rumah yang sempat di sewakan oleh Ridho sebelum dirinya pindah.
Mily tau rumah itu masih kosong, lagi pula jarak rumah itu tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Setelah sampai di tempat tujuan, Selomita menatap bingung keadaan rumah Mily yang tampak sepi dan kotor.
"Kamu masih tinggal di sini sama temanmu Mil?" tanya Selomita heran.
Selomita lebih heran lagi saat Mily bahkan tak menawarinya untuk sekedar masuk ke dalam.
"Kamu bawa aja mobil aku Mit, tinggalin aja di kantor, besok biar aku naik taxi online,"
Selomita agak ragu ingin bertanya pada Mily apa dirinya boleh mampir sejenak, tapi melihat Mily yang masih berdiri di depan pagar rumahnya, sepertinya Mily tak ingin menawarinya mampir.
Mungkin karena ini rumah temannya, ya sudah lah, setidaknya aku sudah mengantarnya pulang.
Mily masih berdiri di sana sembari menunggu mobil miliknya tak lagi tampak. Setelah itu dia memesan taxi online untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Dia tidak kembali ke rumah, rasa pusing dan mual sangat mengganggu pekerjaannya, Mily hanya takut penyakitnya semakin parah, dan harus beristirahat di rumah.
Setelah mendapatkan antrian ke spesialis penyakit dalam, Dokter meletakan alat USG di perut Mily.
__ADS_1
"Lambung ibu memang mengalami peradangan, tapi baik-baik saja, yang saya lihat justru sepertinya ibu tengah mengandung," jelas sang Dokter yang masih menggerakkan alat di atas perut Mily.
Mendengar penjelasan Dokter, tentu saja Mily terkejut, mengapa tiba-tiba Dokter berkata jika dirinya justru tengah berbadan dua.
"Ma-maksud Dokter?"
"Saya bukan Dokter kandungan, tapi paling tidak saya sedikit tau, coba saja Ibu Mily periksa ke spesialis kandungan. Mual dan pusing yang ibu alami saya perkirakan itu karena Bu Mily tengah hamil muda."
Ucapan sang Dokter bahkan tak terdengar lagi di telinga Mily, gadis itu hanya mengingat kata 'hamil' saja yang membuat dunianya seakan runtuh seketika.
Mily menangis tersedu-sedu, membuat Dokter dan perawat di sana menatapnya bingung.
"Bu Mily Anda baik-baik saja?"
Mily tidak merespons, dirinya hanya bisa menangis. Karena masih ada pasien yang harus di tangani, perawat akhirnya mengajak Mily keluar dengan menuntunnya.
"Ibu tenangkan diri dulu di sini, apa ibu mau ke Dokter kandungan? Di sana ibu bisa mendapatkan obat yang sesuai seperti yang Dokter bilang. Sebab Dokter juga tidak berani memberikan obat."
Mily masih terisak, dia mengusap air matanya. Di pikirannya bagaimana dia akan menjalani hidup, apa lagi ada anak yang saat ini tengah bersemayam di perutnya.
Tanpa menjawab perkataan sang perawat, Mily memilih bangkit menuju parkiran rumah sakit, dia akan menghubungi Ridho.
Entah apa yang akan mereka hadapi di kemudian hari, Mily merasa masalahnya semakin bertambah rumit.
"Halo Mily?" setelah beberapa kali panggilan, Ridho baru bisa mengangkat telepon istri keduanya itu.
"Abang baru selesai rapat. Ada apa? Kamu udah sampai kan?"
Lidah Mily mendadak kelu, dia tak tau bagaimana mengatakan berita ini pada sang suami.
"Bang ... Bisa datang ke rumah sakit Berkah?" pinta Mily tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Biarlah Ridho datang menemuinya terlebih dahulu, dari pada harus memberitahunya lewat telepon.
"Kamu ngga papa Mil? Abang ke sana sekarang."
Ridho segera mematikan ponselnya demi bisa menemui Mily di rumah sakit, pikiran Ridho sudah sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada istri mudanya itu.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1