
Ferdi yang melihat kemarahan Fisha tak bisa banyak membantu, itu sudah bukan ranahnya.
Entah Ridho sudah menceritakan masalah mereka atau belum, dia tak bisa tiba-tiba datang dan membela kelakuan Ridho dan Mily yang menurutnya tak salah sepenuhnya.
Ferdi memilih berbalik dan meninggalkan keduanya. Dia sendiri yang akan mencari tahu dalang di balik semua ini.
Tentu saja meminta data tamu dari hotel tempat ia menginap sangat mudah, hotel itu adalah milik adik tirinya.
Tak banyak yang tau siapa Ferdi sebenarnya, dia bukanlah orang biasa. Namun Ferdi tak ingin di kenal hanya karena apa yang ia miliki, ia ingin berusaha sendiri karena kemampuannya.
"Halo Fer, sungguh langka kamu menghubungiku. Sepertinya ada masalah yang menarik yang membuat kamu menurunkan harga dirimu untuk meneleponku," sindir Louisa.
Ferdi mengepalkan tangannya, jika bukan karena Mily, enggan sekali dia berurusan dengan saudara tirinya yang dulu sangat tergila-gila padanya.
"Aku ingin bertemu, kamu ada di mana sekarang?" ucapnya datar.
Louisa di seberang sana bahkan tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan saudara tirinya.
"Kamu salah minum obat? Ingin bertemu denganku? Kamu bahkan lebih memilih tak menghadiri acara ulang tahun ayah karena enggan bertemu denganku."
"Aku serius Loui, bisakah kita bertemu?" pintanya.
"Baiklah, besok temui aku di kantor, dengan syarat kamu akan mengajakku makan siang bersama," Louisa tersenyum licik.
Hatinya sangat senang karena lelaki yang menjadi obsesinya yang dulu selalu menghindarinya kini malah ingin bertemu dengannya.
Tentu saja Louisa tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menarik perhatiannya lagi, meski kini ia telah memiliki tunangan.
***
Di rumah sakit, setelah Dokter menangani Alma dan memindahkan anak mereka ke ruangan anak, keduanya kembali terlibat pertengkaran di taman rumah sakit.
"Bun maafkan ayah Bun, sungguh bukan maksud ayah meninggalkan bunda dan anak-anak, tapi Mily saat ini butuh perhatian ayah bun," ucap Ridho memohon pengertian sang istri.
"Belum juga aku mengiyakan permintaanmu, kamu bahkan sudah berani meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun," ucap Fisha dingin.
Ridho menyesal karena panik ia bahkan tak sempat berpamitan pada sang istri. Sungguh saat ini perasannya sedang di liputi oleh kecemasan karena takut sang istri akhirnya memilih meninggalkannya seperti ancaman tadi.
Fisha juga tidak tau mengapa sang suami berada di rumah sakit. Di benaknya ia bertanya-tanya apa mungkin Mily saat ini tengah di rawat di rumah sakit ini juga.
"Aku udah menghubungi papah dan mamah. Mereka mau ke sini sekarang juga tapi aku larang karena ini sudah malam. Besok kamu harus menjelaskan semuanya pada mereka."
Fisha memaksa Ridho untuk pulang, karena Fisha berterus terang sedang tak ingin berdekatan dengan dirinya.
Ridho hanya bisa pasrah. Untunglah, Fisha tidak menanyakan mengapa dirinya berada di rumah sakit.
__ADS_1
Dia berpikir sebaiknya keberadaan Mily di sana tidak di ketahui oleh Fisha, kalau tidak semuanya bisa semakin berantakan.
Ya Tuhan mengapa engkau menguji hamba sedahsyat ini, apa sebenarnya yang sudah hamba perbuat hingga kau memberikan cobaan ini pada hamba.
Baru sampai di rumah, ternyata di sana sudah ada sang ayah yang menunggunya. Gunawan memang memaksa bertemu dengan putranya, dan Ridho meminta sang ayah untuk datang menemuinya di rumah.
Gunawan di beritahu oleh istrinya jika cucu mereka tengah di rawat di rumah sakit. Berhubung waktu sudah malam, Fisha meminta mereka datang esok hari.
Karena hatinya tidak tenang, Gunawan memilih untuk tetap bertemu dengan putranya, meski harus menunggu sang istri tertidur terlebih dahulu.
"Pah, udah lama nunggu?" sapa Ridho lemah.
Gunawan yang tau ada yang tidak beres dengan putranya lantas memeluk tubuh putranya yang saat ini lebih tinggi darinya.
"Kamu sudah makan?"
Ridho menggeleng, dia belum makan bahkan sejak siang, sebab saat di restoran, pesanannya belum datang dan dirinya sudah di kejutkan oleh kedatangan istrinya.
"Mau Papah buatkan sesuatu?" tawar Gunawan demi menenangkan putranya.
Ridho menggeleng, tapi Gunawan tidak peduli tetap menggandeng sang putra menuju dapur.
"Kamu harus makan, banyak yang harus kamu pikirkan. Jangan cerita apa pun sebelum perutmu terisi," pinta Gunawan.
Gunawan memasak dengan riang, membuat asisten rumah tangga Ridho bangun dan merasa tidak enak hati.
"Tuan, biar saya saja yang buatkan," tawar Asih.
"Ini sudah larut malam, Bibi sebaiknya tidur aja, urusan perut Ridho biar saya yang urus," ucap Gunawan jumawa.
Gunawan memang sosok lelaki yang bisa mengayomi keluarganya. Ia sangat menyayangi putranya, bahkan Ridho cenderung lebih dekat dengannya dari pada sang ibu.
"Papah masih bisa masak ini?" ucap Ridho dengan mata berbinar.
Perhatian seperti inilah yang ingin ia turuni dari sang ayah. Namun peliknya kehidupan yang saat ini tengah menderanya, seolah membuatnya tak yakin bisa memberikan hal yang sama kepada putra putrinya.
Tanpa terasa Ridho meneteskan air mata, Gunawan yang duduk di sebelahnya lantas mengusap punggung sang putra simpati.
Di perlakukan seperti itu membuat Ridho menangis di pelukan sang ayah.
"Tak apa, menangislah, jika itu membuatmu lega. Tapi berjanjilah kamu harus kembali kuat setelah ini," pinta Gunawan lembut.
Setelah berhasil meluapkan sesak di dada, Ridho melanjutkan makannya. Enak, dia sangat merindukan masakan sang ayah yang sudah lama tak dia rasakan.
"Masakan papah masih enak kaya dulu," pujinya.
__ADS_1
"Itu karena kamu lapar! Tapi kalau kamu suka, papah senang."
Setelah selesai makan, mereka kembali ke ruang keluarga. Gunawan dan Ridho duduk di temani kopi, untuk menghilangkan sedikit kantuk.
"Apa Fisha sudah mengetahui hubungan kalian?" tebak Gunawan yang selalu tepat sasaran.
"Kalau nanti papah pensiun, sebaiknya papah buka usaha aja ahli pembaca pikiran," cibir Ridho membuat suasana obrolan mereka sedikit mencair.
Gunawan kembali pada topiknya, "Fisha tidak menerima Mily?"
Ridho menghela napas dan menggeleng, "Dia sangat murka, yang aku heran ada seseorang yang memberitahunya," jelas Ridho.
"Kamu belum mengatakannya pada Fisha? Tapi Fisha tau karena seseorang mengirim pesan padanya?"
"Pesan dan semua gambar saat kejadian nahas itu terjadi Pah."
Gunawan tampak berpikir, dia sudah yakin jika memang ada seseorang yang ingin merusak keharmonisan rumah tangga putranya tapi siapa.
"Ini benar-benar di sengaja. Kamu tau siapa dia?" Meski tidak yakin Gunawan tetap bertanya.
"Nomornya tidak di kenal. Fisha menolak menyetujui pernikahan kami Pah, meski aku berjanji akan menceraikan Mily setelahnya."
Gunawan tak mungkin bisa memaksa sang menantu untuk menerima Mily menjadi madunya semudah itu.
Harusnya sebelum Fisha mengetahuinya sendiri, akan lebih baik jika sang putra yang berkata terlebih dahulu.
Namun apa boleh di kata, semua sudah terlanjur, tak mungkin bisa di sesali.
"Saat ini bahkan Mily sedang berada di rumah sakit yang sama dengan Alma, dia ... Mencoba bunuh diri—"
"Bunuh diri? Kenapa?" sela Gunawan, dia tak menyangka masalah yang sedang di hadapi putranya sangat pelik.
"Mungkin dia depresi karena di labrak Fisha di depan umum, entahlah, aku pusing memikirkannya."
"Aku harus bagaimana Pah, bahkan Fisha mengancam akan meninggalkanku dan membawa anak-anak. Apa yang harus aku lakukan? karena saat ini Mily juga dalam keadaan hamil," jelasnya.
Gunawan terlalu shock mendengar kabar yang bertubi-tubi seperti ini, dia tengah berpikir apa sang putra mampu menghadapi semuanya seorang diri?
.
.
.
Tbc
__ADS_1