Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Bukan penghakiman


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Suseno dan meminta maaf karena telah membuat kehebohan dengan videonya yang beredar, Mily bergegas menuju tempat pertemuannya dengan Selomita.


Sebenarnya Suseno tak menyalahkan keduanya, sebab, video itu juga sudah melanggar privasi seseorang. Hanya saja, jika mereka memiliki status hubungan tentu saja itu melanggar kontrak kerja mereka.


Ridho sebenarnya merasa kasihan pada Mily yang harus mengalah demi dirinya. Dia tau betapa gadis itu bekerja keras untuk bisa di terima di perusahaan ini.


Malam itu saat keduanya bertemu, Mily mengatakan jika ia pasti tak akan nyaman bekerja lagi di sana. Semua orang tetap akan menyudutkannya.


Dia juga tak mau membuka aibnya sendiri, jadi saat memutuskan bahwa ia yang akan mengundurkan diri Mily menerimanya dengan ikhlas.


Sebenarnya bisa saja Mily mampir ke ruangan Selomita, tapi ia malas jika nanti harus bertemu lagi dengan Husain. Terlebih lagi dia tak tau apa yang di inginkan selomita bertemu dengannya.


Saat perjalanan, mily masih memikirkan tawaran Ferdi yang mengajaknya bekerja.


Flasback.


"Memang kerja apa Fer? Kamu tau saat ini aku sedang hamil, jadi ngga mungkin aku kerja berat."


"Kerja di restoran mamahku. Beliau sedang cari manajer untuk membantunya, kalau kamu mau, aku akan membuat kalian bertemu," tawar Ferdi.


Mily tengah menimang, tak banyak yang bisa ia pilih saat ini untuk mengais rezeki. Harusnya ia terima begitu saja tawaran Ferdi. Namun saat ini ia berstatus sebagai seorang istri, dan ia enggan membuat masalah bagi suaminya itu.


"Aku bicarakan dulu dengan bang Ridho ya Fer, terima kasih loh tawarannya," ucap Mily yang kini tersenyum lebih lepas.


"Sama-sama, bilang sama aku kalau kamu butuh bantuan, selain rumah kita yang berdekatan aku juga merasa harus meyakinkanmu kalau aku bukan orang jahat itu," jelas Ferdi.


Mily menanggapinya sambil terkekeh, sampai keduanya berpisah karna Mily harus menemui atasan mereka.


Flasback off


Mily bersyukur Selomita belum datang, jadi dia bisa mempersiapkan diri dengan berbagai pertanyaan yang mungkin akan di tanyakan padanya.


Setelah meneguk habis minumannya, Selomita datang menghampirinya.


"Hei, kamu udah memesan tanpa menungguku?" cibir Selomita yang bersikap biasa saja.


Mily bernapas lega, apa yang ia takutkan ternyata tak terbukti.


"Maaf, aku haus, tapi aku akan memesan lagi," jawab Mily dengan senyum canggung.


Keduanya kembali memesan. Sambil menunggu pesanan mereka, Selomita menggenggam tangan Mily.


"Maafkan aku yang ngga bisa jenguk kamu. Aku ngga tau kamu di rawat di mana?" ucap Selomita penuh sesal.

__ADS_1


Mily terisak, ternyata Selomita masih mau bersikap baik padanya.


"Terima kasih karena tidak memusuhiku, Mita," balas Mily.


"Hei, kenapa nangis? Kamu membuat kita jadi bahan tontonan tau!" gerutu Selomita bermaksud bercanda.


Mily mengusap matanya dan balas tersenyum. Sebuah anugerah baginya saat orang yang ia kenal tak menjauhinya bahkan memusuhinya.


"Selamat ya, katanya sekarang kamu sudah hamil? Seharusnya kamu cerita masalahmu sama aku Mily, meski ngga bisa membantu setidaknya aku bisa jadi tempatmu bersandar."


"Kamu ngga marah sama aku Mita? Aku ini istri idolamu loh," cibir Mily.


"Cih! Aku memang mengidolakan dia, tapi bukan berarti mau merebutnya," jawab Selomita yang membuat Mily terdiam.


"Maaf Mil, bukan maksud aku—"


"Ngga papa Mita, aku tau," sela Mily saat melihat Selomita berkata canggung.


"Banyak sekali aku ingin mengucapkan kata maaf buatmu Mily, seandainya saja Ferdi tidak menceritakan masalahmu padaku, mungkin juga saat ini aku seperti yang lainnya," jujur Selomita.


Mily mendesah, ternyata semuanya karena Ferdi yang telah bercerita padanya. Ada rasa senang dan juga sedih, sedih karena Selomita saat ini bersikap baik karena sudah tau permasalahannya.


"Jangan marah pada Ferdi. Kamu tau, dia yang selalu membela kamu, bahkan dia menanyakan banyak hal sama aku dan Husain tentang malam kejadian nahas itu."


"Ngga papa Mita, aku sudah ikhlas menerima takdir ini."


"Lalu apa Bu Fisha sudah menerima kamu Mily?"


Mily bingung harus menjawab apa, sebab itu adalah urusan rumah tangga suami dan istri tuanya.


"Ngga ada perempuan mau di madu Mita. Kamu pasti mengerti maksud aku,"


"Lalu?" tanya Selomita penasaran. Dalam benak gadis itu berpikir dua kemungkinan, yang pertama Fisha menggugat cerai Ridho, dan yang ke dua, Mily yang berpisah dengan Ridho.


"Maaf Mita, aku ngga bisa menceritakan masalah rumah tangga kami, karena bukan hanya tentang diriku tapi tentang semuanya," tolak Mily halus.


Selomita yang sadar sudah terlalu ingin tau kehidupan pribadi Mily lantas kembali meminta maaf.


"Aku dengar katanya kamu mengundurkan diri? Apa kamu akan bekerja di tempat lain?"


"Aku belum tau Mit, sekarang kan aku sedang hamil. Kondisiku masih lemah, jadi aku akan memikirkannya dulu," jelas Mily.


Tak lama pesanan mereka datang dan keduanya menikmati makan siang yang sudah lama tak mereka lakukan. Sekarang obrolan mereka hanya membahas hal-hal ringan dan menyenangkan.

__ADS_1


Selomita mengerti jika Mily enggan membicarakan kehidupan pribadinya.


Setelah selesai makan, ponsel milik Mily bergetar, tertera nama sang adik yang meneleponnya.


Tanpa rasa curiga Mily lantas mengangkat teleponnya.


"Halo Ka?" sapa Bian berusaha tenang.


Saidah dan Bian sudah bertekad akan menemui Mily di kota. Mereka ingin tahu kebenaran dari mulut Mily. Jadi Bian menelepon hanya sekedar untuk mendengar reaksi Mily saja.


"Iya Yan, ada apa?" jawab Mily ceria. Meski setiap kali mendapatkan panggilan telepon dari sang adik membuatnya gugup, tapi Mily berusaha menutupinya sebaik mungkin.


"Aku dan Ibu akan ke kota ka. Kakak masih tinggal di tempat biasa kan?" tanya Bian yang membuat Mily gugup.


"Ka?" Bian mendesak Mily agar segera memberi jawaban.


Selomita sendiri merasa bingung melihat Mily yang terlihat gugup. Ingin bertanya tapi gadis itu sedang melakukan panggilan telepon.


"Kami udah tau keadaan kakak, ibu hanya ingin melihat kalau kakak baik-baik saja," akhirnya Bian memilih mengatakan yang sejujurnya pada sang kakak.


"Maaf, maafkan kakak Bian," Mily menangis karena merasa bersalah.


"Kami yang minta maaf ka, karena ngga bisa mendukung kakak di saat kakak sedang terpuruk. Bolehkan kami datang menemui kakak?" pinta Bian.


"Kakak akan kirimkan alamatnya. Ibu ... Baik-baik aja kan Yan?" tanya Mily khawatir.


Ia tak perlu tau dari mana mereka mengetahui keadaannya. Mily yakin Fisha melakukan ancamannya kemarin.


Tak ada yang harus dia takuti lagi, sebab kini keluarganya sudah mengetahui nasibnya. Dia akan mengahdapinya, bahkan jika ternyata sang ibu akan membencinya dia akan siap.


"Ada apa Mil?" tanya Selomita setelah Mily mengakhiri panggilannya.


"Ibuku mau datang ke sini Mita. Aku tau lambat laun semua orang akan tau akan kondisiku," lirih Mily.


"Mereka keluargamu, mereka pasti akan mengerti Mily, aku yang orang lain saja terenyuh akan nasibmu, ibumu pasti merasa bersalah padamu," ujar Selomita menenangkan.


"Semoga saja."


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2