Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Penolong atau Perusuh?


__ADS_3

Flasback.


Saat di kantor, Ridho berpapasan dengan Ferdi yang kebetulan baru kembali dari ruangan atasan mereka.


Ferdi menghentikan langkah Ridho membuat atasannya itu bingung.


"Ada apa Fer?" tanya Ridho bingung.


"Maaf Pak, apa terjadi sesuatu dengan Mily? Sebab dia tadi buru-buru izin pada Ibu saya untuk kembali ke kampung. Saya di teror ibu saya terus untuk mencari tahu keadaannya," ungkap Ferdi.


Ridho jelas saja terkejut dengan ucapan Ferdi, sebab tak ada penjelasan apa pun dari istri keduanya.


Mereka memang suami istri, tapi karena tak pernah tinggal bersama keduanya tidak terlalu banyak tau kehidupan masing-masing.


"Maaf Pak, bukan maksud lancang, apa tak ada yang di lakukan Bu Fisha pada keluarga Mily kan?"


Meski tadi dia menyangkal kecurigaan sang ibu pada Fisha, nyatanya sekarang ia malah mengatakan itu pada atasannya.


"Maksud kamu apa? Fisha bukan wanita anarkis yang akan melukai seseorang!" bengis Ridho.


Merasa bahwa dia salah bicara, Ferdi meminta maaf atas kelancangannya.


"Maafkan saya pak, saya hanya khawatir, apa sebaiknya bapak mencari tahu tentang Mily?"


Entah kenapa setelah mengetahui kabar Mily dari ibunya Ferdi merasakan perasaan cemas.


Kebersamaan mereka selama beberapa waktu, membuat Ferdi mengenal Mily lebih dekat.


Ridho menghela napas, ada pekerjaan penting yang harus di selesaikannya segera, tak mungkin ia abaikan demi mengurusi masalah Mily yang tidak jelas menurutnya.


"Saya rasa dia hanya ingin menjenguk keluarganya. Tolong jangan terlalu ikut campur masalah kami, aku berterima kasih karena kamu mau menerima Mily bekerja di restoranmu dan satu lagi jangan berpikiran buruk tentang Fisha."


Setelah mengatakan hal itu, Ridho memilih meninggalkan Ferdi.


Ferdi yang tak puas dengan sikap Ridho yang seakan tak peduli dengan keadaan Mily memilih nekat menemui Mily di kampungnya.


Ferdi tentu tau alamat Mily, dari berkas Mily melamar kerja, ternyata Mily masih satu kartu keluarga dengan ibunya.


Alamat di kartu tanda penduduknya juga masih menggunakan alamat rumahnya di kampung, jelas saja Ferdi bisa langsung datang ke kediaman Mily tanpa harus bertanya pada wanita itu.


Flasback off


Ferdi datang dini hari dan menginap di hotel yang berada di kota. Kampung Mily sekitar satu jam dari tempatnya menginap.


Ferdi yang kelelahan karena setelah pulang kerja harus menempuh perjalanan jauh untuk sampai di kampung Mily, tertidur hingga bangun kesiangan.


"Ferdi!" pekik snag ibu saat Ferdi mengangkat telepon dari wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


Suara ponsel yang berdering itulah yang membangun Ferdi.


"Iya mah?" jawab Ferdi dengan suara serak khas bangun tidur.


"Benar kata papah kamu izin hari ini? Kamu ke mana hah?" omel Melisa.


Ferdi bangkit dan duduk di ujung ranjang, meminum air putih yang berada di nakas tempat tidurnya untuk melegakan tenggorokannya.


"Aku mau ilangin kecemasan mamah, katanya mamah khawatir sama Mily, jadilah aku ke kampung nyusul dia," ucap Ferdi tanpa rasa bersalah.


Melisa mendesah frustrasi, tak menyangka sang putra akan bersikap seperti ini saat mendengar kekhawatirannya.


"Tapi ngga harus nyusul dong Fer, kamu ini! Ishh ... Ishh ..." keluh Melisa membuat Ferdi tertawa.


Padahal hanya alibi Ferdi saja, dia sendiri yang sangat mengkhawatirkan keadaan Mily sebenarnya.


Melihat waktu yang sudah cukup siang, Ferdi bergegas membersihkan diri setelah perbincangannya dengan sang ibu selesai.


Dia memesan Taxi Online menuju kediaman Mily yang lebih mudah di akses lewat peta.


Ferdi terkejut melihat kediaman Mily yang telah ramai dengan orang. Di pikirannya terjadi hal buruk pada keluarga Mily, seperti kematian anggota keluarga Mily misalnya.


"Ini alamatnya Pak?" tanya Ferdi pada sang sopir.


"Iya pak sesuai alamat," jawab sang sopir.


"Misi Bu, ini ada apa ya?"


"Oh ini mas pe*la*kor di kampung kita akhirnya pulang," jawab seorang ibu paruh baya sambil menelisik penampilan Ferdi yang sangat asing baginya.


"Mas nya siapa?"


"Saya? Tamunya Mily," jawab Ferdi tenang.


Ferdi tak menyangka jika Mily dan keluarganya tengah menghadapi masalah serius. Ia teringat akan kata ibu tadi yang menyebut pe*la*kor, pikirannya jelas tertuju pada Mily.


Setelah melewati warga Ferdi mendengar apa yang salah satu warga yang berada di dalam rumah mengucapkan kecaman pada keluarga Mily.


Wanita hamil itu masih terdiam dengan tenang, sedangkan ibunya sudah terisak, dan pemuda di samping ibunya Mily tampak mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Atas dasar apa Anda mengusir mereka? Jangan bertindak semena-mena kalau nanti akan merugikan diri Anda sendiri!" ucap Ferdi lantang dan berjalan mendekati keluarga Mily.


"Fer ... di?" lirih Mily.


"Maaf Anda siapa?" tanya ketua Rt.


Mediasi kali ini kepala desa tak bisa ikut turut serta, hanya ada ketua Rt. dan perwakilan dari kelurahan yang akan menjadi mediatornya.

__ADS_1


Entah pikiran dari mana, tanpa terduga, Ferdi mengulurkan tangannya memperkenalkan diri pada para warga yang datang di kediaman Mily.


"Saya calon suami Mily, Ferdi."


Ucapan Ferdi sontak membuat Mily terperangah tak percaya, bukannya senang, hati Mily justru di liputi kecemasan tentang pengakuan Ferdi itu.


"Hah! Setelah merebut suami orang, kini kamu juga punya simpanan laki-laki lain?" maki Ika yang semakin di atas awan mendengar ucapan Ferdi.


"Suami? Siapa suami Mily? Anda jangan mengada-ada, saya adalah calon suami Mily, jadi jangan menyebarkan fitnah yang tak ada buktinya," jelas Ferdi.


"Fer!" bentak Mily.


Ferdi lantas duduk di sebelah Bian, pemuda itu lantas bergeser memberi ruang pada Ferdi.


Saidah dan Bian masih diam karena tak tau apa tujuan lelaki tampan itu datang ke kediaman mereka.


Mereka tentu saja tak mengenal Ferdi secara langsung, hanya dari cerita Mily saja.


Sekarang setelah tau seperti apa wujud Ferdi, Saidah cukup terkesima, karena lelaki ini sangat tampan dan memiliki aura yang di segani menurutnya.


"Apa ibu punya bukti kalau Mily merebut suami orang? Hati-hati dengan ucapan ibu karena saya bisa menuntut ibu dengan pencemaran nama baik kepada calon istri saya," ancam Ferdi yang membuat Ika seketika ketakutan.


Jika ancaman yang di ucapkan Bian kemarin hanya di anggap angin lalu bagi Ika, berbeda dengan ancaman yang di ucapkan laki-laki di hadapannya ini.


Ika masih berani menghina Saidah sebab merasa jika Saidah dan anaknya tak akan memiliki kuasa untuk melaporkannya, dia sangat tau ancaman Saidah dan Bian padanya akan di anggap angin lalu oleh pihak yang berwajib.


Sedangkan laki-laki ini, Ika yakin laki-laki tampan yang mengaku sebagai calon suami Mily itu sangat mampu memenjarakannya.


Ika jelas sangat paham lelaki di hadapannya ini bukan orang sembarangan. Namun karena tak ingin malu, ia tetap melancarkan aksinya dengan bekal foto yang di kirimkan oleh Marlina padanya.


Ika memang orang suruhan Marlina yang di bayar agar bisa mengusir Saidah dari kampungnya.


Ika yang suaminya bekerja di toko Tirta itu merasa iba jika anak bosnya ternyata di khianati oleh anak tetangganya sendiri.


Dengan alasan itulah Ika membantu Marlina yang juga menjanjikan sejumlah uang padanya.


"Nih lihat, saya punya foto Mily sama Ridho, suaminya Fisha anaknya Pak Tirta dan Bu Marlina," ucap Ika pongah lantas mengeluarkan beberapa lembar foto yang sudah dia cetak.


Ferdi berusaha tenang, dia bahkan baru tau ada seseorang yang diam-diam menguntit Mily dan Ridho. Ia semakin yakin dengan pernyataan Ridho jika keduanya memang di jebak seseorang.


"Kamu kaget? Kalau benar Mily calon istrimu, kasihan sekali kamu, ternyata calon istrimu itu wanita tak bermoral," cibir Ika saat melihat raut wajah Ferdi yang tampak bingung.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2