
Sesuai kesepakatan mereka, akhirnya Tirta mengajak seluruh keluarganya menemui besan mereka.
Gunawan sudah memberitahu sang istri jika malam ini akan kedatangan besan mereka.
Sorenya Elya sudah kepanikan sendiri. "Aduh! pasti mereka mau marah-marah ya kan Pah! Fisha itu bukannya membela suami dengan menutupi aibnya malah ngadu ke orang tuanya!" sungut Elya.
"Kita tunggu saja kedatangan mereka. Lagi pula wajar saja jika orang tua ingin tau kabar putra putrinya," ujar Gunawan tenang.
Suara mobil berhenti di halaman mereka membuat Elya meremas tangannya, dia tidak siap sebenarnya bertemu dengan besannya. Selain malu, ia tak tau apa nanti mereka akan perang kata-kata.
"Kamu kenapa mah? Tarik napas hembuskan secara perlahan, santai aja," pinta Gunawan.
"Gimana bisa tenang pah, mamah takut di hina sama mereka!" ketusnya.
"Makanya nanti mamah jangan terpancing emosinya."
Suara ketukan di pintu membuat keduanya beranjak. Gunawan memilih menyambut besannya dari pada meminta asisten rumah tangganya yang membukakan pintu untuk mereka.
Gunawan tetap menyambut besannya dengan ramah. Tirta pun menyambut sapaan sahabatnya tak kalah ramah. Hanya Marlina saja yang menunjukkan sikap tak bersahabat.
"Bu Lina apa kabar?" sapa Elya mencoba ramah.
Marlina memandang sinis besannya itu, "saya sedang tidak baik-baik saja besan!" ketusnya.
Melihat aura Marlina yang sepertinya sudah siap mengajak mereka berperang, membuat Gunawan mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
"Mana istrinya Nak Sakti?" sapa Gunawan pada anak tertua besannya.
"Radit sakit pak makanya ngga saya ajak mereka," balas Sakti ramah.
Suasana di ruang tamu tampak mencekam. Gunawan menunggu sang putra yang belum kembali dari kantornya.
"Fisha mana?" tanya Gunawan saat tak melihat menantu dan cucunya tak bersama rombongan sang besan.
"Anda masih ingat kalau masih punya menantu?!" ketus Marlina emosi.
"Maafkan kami Bu Lina. Ini semua di luar kuasa kami. Kami juga tidak tau kalau akan terkena musibah seperti ini," ujar Gunawan.
"Kedatangan kami juga ingin berbicara mengenai rumah tangga putra putri kita. Bukan maksud kami ikut campur Gun, tapi, bagaimana pun Fisha putri kami, jadi kami ingin mencoba meluruskan masalah yang terjadi," balas Tirta.
Sebenarnya Tirta sangat geram dengan sikap arogan sang istri yang tak mau sabar dalam berbicara, membuat dirinya harus segera mengatakan tujuan mereka ke sini.
"Sebaiknya kita tunggu anak-anak kita menjelaskan saja ya Mas Tirta," pinta Gunawan.
Elya hanya bisa memilin tangannya, sebenarnya dia juga hampir tersulut emosinya saat mendengar nada bicara besannya.
Tak lama Fisha tiba bersama dengan Ridho. Mereka tak datang bersama, hanya kebetulan waktunya saja yang pas bersamaan.
__ADS_1
"Kalian janjian datang bersama?" tanya Elya semringah, sedangkan Marlina menatap sebal ke arah menantunya.
"Engga kami bertemu di luar," jawab Fisha.
"Sebaiknya kamu membersihkan diri dulu Do, baru berbicara," pinta Gunawan.
"Aku udah mandi pah, maaf ya pak Bu, mas Sakti saya terlambat," ucap Ridho tak enak hati.
"Habis dari rumah istri mudamu harusnya sekalian ajak dia saja!" ketus Marlina.
"Saya bukan dari rumah Mily Bu, saya dari kantor, memang sengaja saya bebersih di sana sebelum pulang," jelas Ridho.
Marlina hanya mendengus mendengar alibi Ridho. Elya yang melihat anaknya di perlakukan seperti itu sebenarnya tak terima, tapi masih ia tahan.
"Bapak langsung saja ya Do," sela Tirta.
Ridho mengangguk mempersilakan sang mertua untuk mengungkapkan tujuan kedatangan mereka.
"Apa benar nak Ridho sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan Fisha?"
Ridho mengatur napasnya sebelum menjawab pertanyaan sang mertua.
"Benar pak, dan saya minta maaf untuk hal itu," ucap Ridho yakin.
Tirta menghela napas sebelum kembali melanjutkan pertanyaannya, "boleh kami tau alasan di balik pernikahan itu?"
"Benar, tapi kami ingin dengar sendiri dari nak Ridho, supaya adil," pinta Tirta.
Lalu mengalirlah cerita Ridho dan Mily, mereka semua mendengarkan, tak ada yang menyela, membiarkan lelaki tampan itu menyelesaikan kalimatnya.
"Jadi begitu Pak, saya hanya merasa harus bertanggung jawab mengenai status Mily ke depannya," ucap Ridho mengakhiri ceritanya.
"Hanya sampai dia menyandang status janda? Lalu bagaimana dengan anak kalian? Katanya Mily saat ini tengah hamil?" tanya Tirta.
"Untuk anak kami, bagaimana pun saya akan bertanggung jawab padanya."
"Fisha, Ridho berjanji akan menceraikan Mily setelah Mily memiliki status yang jelas. Apa kamu tidak ingin mempertimbangkan hubungan kalian? Demi anak-anak paling tidak?" bujuk Tirta pada sang putri.
"Benar Sha, mamah sendiri yang akan memastikan mereka bercerai, tolong jangan bercerai dari Ridho," sela Elya yang merasa bahwa besannya ada di pihaknya.
Fisha menghela napas dan menatap satu-persatu orang yang kini menatapnya.
Mengingat pertengkaran kemarin, Fisha sudah merasa muak dengan suaminya.
Tekadnya sudah bulat, benar kata Dika, tak menutup kemungkinan kalau nanti Ridho akan kembali berselingkuh dengan Mily, mengingat hubungan mereka akan tetap terjalin karena ada anak di antara mereka.
"Tidak pak, Fisha sudah bertekad ingin berpisah dengan mas Ridho," jawabnya yakin.
__ADS_1
"Coba pikirkan lagi Sha, kamu harus mikirin nasib anak-anak," bujuk Elya tak menyerah.
Fisha menatap sinis sang suami, "seharusnya mamah tanya sama anak mamah itu, apa saat mengambil keputusan untuk menikahi Mily dia tak memikirkan perasaanku dan anak-anak?" ketus Fisha.
"Papah minta maaf sama kamu Sha, saat itu Ridho memang meminta pendapat papah, dan papah mendukungnya untuk bertanggung jawab pada Mily."
"Mereka tidak berselingkuh kamu tau itu, posisi Ridho yang memang terdesak," jelas Gunawan.
"Sepertinya pak Gunawan membela sekali kelakuan putranya ya," sindir Marlina.
"Saya tanya sama Mas Tirta dan Mbak Lina. Langkah apa yang sebaiknya anak saya ambil dengan kejadian kemarin kalau tidak bertanggung jawab dengan menikahi Mily?" kini balik Gunawan yang mempertanyakan besannya tentang langkah apa yang seharusnya dia ambil.
"Bertanggung jawab kan ngga harus menikahi!" balas Marlina.
"Betul, gantinya anak saya akan mendekam di penjara. Masa depan apa yang akan di milikinya? Coba kalian pikirkan? Kehilangan pekerjaan? Pasti. Kehilangan harga diri? Tentu saja. Lalu di masa depan, anak-anak akan tau jika ayahnya adalah seorang pemerkosa?" jawab Gunawan.
Tirta dan Marlina bungkam dengan kenyataan yang Gunawan jabarkan dengan sangat terperinci. Tentu saja Marlina tak ingin memiliki seorang memantu mantan narapidana, apalagi kasus pemerkosaan.
"Ya, buat Mily harusnya kalian memberi saja uang tutup mulut!" balas Marlina santai.
"Astaga ibu, apa ibu ngga memikirkan perasaan Mily? Ingat, kita punya cucu perempuan, coba ibu bayangkan!" ketus Tirta kesal dengan jawaban tanpa berpikir sang istri.
"Saya tetap ingin berpisah pah. Maafkan Fisha, sebab kenyataannya kita tak tau masa depan. Terlebih lagi papah berlaku tidak adil padaku dan cucu-cucu papah sendiri," sela Fisha jengah dengan pembelaan sang mertua.
"Kamu merasa papah tidak adil karena memberikan Mily rumah? Kamu harus tau Sha, itu bahkan bukan uang pribadi papah. Itu adalah warisan dari kakek Ridho," jelas Gunawan.
"Harusnya cucu-cucu papah yang berhak menerima itu, bukan Mily!" sergahnya.
"Untuk kamu dan anak-anak, tentu saja papah sudah persiapkan sendiri kelak."
Fisha tak menyerah, bagaimana pun bukan masalah harta atau rumah, ia tak ikhlas Mily mendapatkan apa pun dari keluarganya.
"Fisha tetap ingin rumah itu di berikan untuk cucu-cucu sah papah!"
"Astaga Fisha, itu hanya sebuah rumah, kenapa kamu serakah seperti ini? Itu bukan uangmu nak, kamu ngga berhak mengatur mertuamu," sela Tirta yang tak habis pikir dengan permintaan sang putri.
"Benar Sha, jangan kalah. Harusnya kalian menuruti permintaan putriku yang paling terluka di sini. Jangan egois kalian!" Imbuh Marlina.
"Maafkan papah Sha, papah ngga bisa mengabulkan permintaan kamu yang satu itu. Itu adalah bentuk permintaan maaf papa terhadap Mily," sergah Gunawan.
Fisha tersenyum miris, "baik kalau begitu keputusan papah. Maka bersiaplah kalian tak akan bertemu dengan Alvian dan Alma!" ancamnya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc