Tolong Jangan Salahkan Aku

Tolong Jangan Salahkan Aku
Permintaan Fisha


__ADS_3

Di malam pertamanya, Mily malah merasa resah dengan permintaan mantan madunya.


"Kamu kenapa sayang?" ucap Ferdi sambil memeluk sang istri dari belakang.


Mily menoleh, dia masih merasa kikuk dengan kelakuan lelaki yang kini bergelar suaminya.


"Maafkan aku mas, kamu mau minum teh?" tawarnya.


Ferdi mencolek ujung hidung istrinya, wajah Mily yang memerah membuatnya ingin segera melahap sang istri.


"Aku ngga butuh apa pun, aku hanya butuh kamu saat ini," bisiknya yang membuat Mily menegang.


Tak bisa mengelak Mily hanya pasrah saat sang suami mengajaknya ke peraduan mereka.


.


.


Kini pagi harinya Mily memiliki rutinitas baru yaitu mengurusi keperluan sang suami. Semua itu hal baru baginya, meski ia berstatus seorang janda, karena dia tak pernah sekalipun merawat Ridho dahulu, jadi pengalaman ini sangat menyenangkan baginya.


Mily juga masih diperbolehkan bekerja di restoran milik Ferdi, asalkan tak mengganggu kehidupan mereka.


Ferdi seperti tak semangat pagi ini, dia sebenarnya masih ingin cuti, tapi ada pekerjaan penting dari ayahnya.


"Apa masakanku ngga enak mas?" tanya Mily saat melihat sang suami seperti tak semangat mengunyah sarapannya.


Ferdi terenyak, dia merasa bersalah pada sang istri karena perasaannya pagi ini.


"Maafkan mas ya, bukan begitu, aku lagi kesel aja sama papah! Masa iya aku ngga boleh cuti!" gerutunya.


Mily, Saidah dan Bian hanya tersenyum mendengar gerutuan anggota keluarga baru mereka.


"Astaga, pengantin baru ngga boleh cuti, ulu ... ulu," ledek Bian yang di balas tatapan tajam sang kakak ipar.


Meski sang putri tidak normal seperti anak lainnya, Ferdi sangat menyayangi anak sambungnya.


Bahkan sebelum berangkat kerja, dia menggendong dulu bayi mungil itu untuk berpamitan.


"Papah kerja dulu ya sayang, baik-baik di rumah," ujarnya yang hanya di balas senyuman sang putri.


"Kamu beneran mau ke restoran juga? Padahal mamah ngga keberatan loh gantiin kamu dulu," tanya Ferdi menatap Mily, ia takut sang istri kelelahan karena pertempuran mereka semalam.

__ADS_1


"Kamu ngga cape?" lirihnya yang berhasil membuat pipi Mily merah seketika.


"Astaga kalian ini ngomong apa sih! Masih ada orang di sini elah," gerutu Bian yang mendengar ucapan kakak iparnya.


Ferdi hanya mencebik lalu bergegas pergi dari kediaman istrinya.


"Nanti istirahat aku ke restoran ya."


.


.


Mily kini sudah berada di ruangannya, pekerjaan yang sudah biasa ia lakukan. Beruntung mertua dan suaminya ikut membantu pekerjaannya saat dia sibuk mempersiapkan pernikahannya kemarin.


Suara ketukan pintu membuatnya menoleh, "Bu ada yang mau bertemu, namanya Bu Fisha," jelas Dita sekretarisnya.


Mau apa mbak Fisha ke sini? Kenapa dia tau aku masuk kerja?


"Gimana Bu?" ulang Dita.


"Ya sudah suruh beliau masuk Dit," putusnya lalu merapikan beberapa kertas di atas mejanya.


"siang Mil," sapa Fisha setelah di persilakan masuk oleh sekretaris Mily.


Fisha mengikuti Mily ke sofa dan duduk berhadapan dengan mantan madunya itu.


"Baru menikah kamu langsung kerja Mil? Apa ngga bulan madu?" celetuk Fisha.


"Aku ngga enak udah lama libur mbak, lagi pula belum ada niatan untuk pergi ke mana-mana dalam waktu dekat ini. Ada apa mbak Fisha ke sini?" tanya Mily gusar.


"Padahal aku ngga tau loh kamu kerja, kebetulan aja aku mampir, pas tanya karyawan kamu ternyata kamu masuk. Dulu aku sama mas Ridho langsung pergi bulan madu seminggu penuh, makanya Alvian cepat hadir di tengah kita," entah apa maksud Fisha berkata seperti itu pada Mily.


Mily hanya bisa mendesah dengan ucapan mantan madunya, tanpa ingin menanggapi lebih lanjut.


"Maaf mbak, saya lagi banyak kerjaan, kalau mbak hanya sekedar ingin menyapaku, terima kasih, aku mohon maaf—" Mily berusaha menjelaskan keadaannya, tapi sepertinya Fisha merasa tersinggung dengan ucapannya


"Sombong sekali kamu Mil! Mentang-mentang kamu udah kerja dan jadi seorang istri, kamu lupa kalau kamu udah menghancurkan kehidupan aku hah!" sentak Fisha tak terima.


Mily berusaha meredam kekesalannya menghadapi Fisha, jika dulu dia akan diam dan menangis merasa bersalah, kali ini dia akan menghadapi cacian Fisha yang sepertinya masih saja menyalahkannya.


"Bukannya mbak sendiri tau semua ini terjadi karena ulah kalian di masa lampau? Masih mau menyalahkan aku? Memang apa yang aku rebut darimu mbak?" tantangnya.

__ADS_1


Fisha membuang napasnya kasar, mendengar pembelaan diri Mily.


"Kamu bercerai dari Bang Ridho atas kehendakmu sendiri, itu keputusanmu, jadi jangan menyalahkan aku terus menerus, aku sudah menerima nasibku sendiri, maka Mbak juga harus menerima nasib mbak sendiri dan jangan selalu menyalahkan orang lain," hardik Mily dengan suara tajam.


Hati Fisha merasa panas mendengar hardikan mantan madunya yang dulu pernah ia tolong, tapi ia merasa jika Mily benar-benar lupa akan jasanya.


"Kamu yang udah aku angkat dari kehidupan yang sangat menyedihkan kini berani menghardikku?" sindirnya.


"Aku selalu berterima kasih padamu mbak, meski kamu selalu memojokkanku, aku selalu tau diri, tapi itu dulu, sekarang tak perlu lagi aku merasa bersalah padamu, karena keadaanku juga karena dosa masa lalumu!" tegas Mily membalik ucapan Fisha


"Sudahlah! Aku ke sini memang ada perlu denganmu, tentang pembicaraan kita kemarin," Fisha memilih mengalihkan pembicaraannya.


Dia memang sengaja menunggu Mily untuk membicarakan mengenai permintaannya saat di cara pernikahan wanita itu.


Ada rasa iri pada kehidupan Mily yang terlihat beruntung di bandingkan dengannya. Memiliki suami yang tampan yang juga memiliki usaha lain selain pekerjaannya.


Fisha akan semakin iri jika tau siapa Ferdi sebenarnya suatu saat.


Penampilan Mily juga tampak berubah, tubuhnya sudah kembali berisi seperti dulu, wajahnya sudah tidak pucat, Mily kini sudah kembali memoles wajahnya dengan riasan natural yang membuatnya semakin bersinar.


Bahkan setelah melahirkan, tubuh Mily tak besar sepertinya dulu. Fisha dulu setengah mati mengembalikan bentuk tubuhnya setelah melahirkan, karena dia tak ingin sang suami berpaling karena ia tak merawat diri.


Namun takdir berkata lain, bukan karena harta atau penampilannya yang membuat pernikahannya kandas, melainkan karena kehadiran orang ketiga yang sengaja di hadirkan untuk mengacaukan pernikahannya.


"Tentang apa?" tanya Mily yang sudah kembali tenang.


"Bantu aku kembali pada mas Ridho, ini demi anak-anak Mil," bujuknya.


Mily tak habis pikir dengan permintaan mantan madunya itu, dulu dia yang bersikeras bercerai, tapi kini berharap bisa kembali pada suami yang telah di buangnya.


"Maaf mbak, bukan aku ngga mau menolong, urusanku dengan Bang Ridho hanya sebatas pada Bintang anak kami, kalau urusan pribadi beliau, aku ngga bisa ikut campur," jelas Mily menolak permintaan Fisha.


"Setidaknya pikirkan nasib anak-anakku Mil, aku ingin menebus kesalahanku padanya," Fisha masih berusha meminta bantuan Mily.


"Sebaiknya mbak bicara sendiri saja sama Bang Ridho, sungguh itu di luar kapasitasku mbak," elak Mily yang mulai jengah dengan permintaan Fisha.


"Setidaknya kamu bilang pada Selomita untuk mengalah padaku Mil, dia kan temanmu, aku yakin dia mau mendengarkan permintaanmu," kekehnya membuat Mily tak habis pikir.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2