Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Kelakuan Aneh Rika dan Devina #10


__ADS_3

"Ibu tahu tidak, berapa banyak uang yang aku dapat dari kemenanganku ini? " Desta berusa mengalihkan rasa sedih itu menjadi kegembiraan.


"Apakah kamu menerima hadiah nak? "


Bu Hartini bertanya ingin tahu bercampur senang. Desta meraih cepat ke-dua amplop dan membukanya. Dipegang-pegangnya nota-nota itu. Bernota tiga juta rupiah dan lima belas juta rupiah.Delapan belas juta rupiah.


"Tentu bu, aku berhasil mengumpulkan total hadiah delapan belas juta rupiah."


Sebenarnya Desta terkejut dengan nominal ini, bermakna hadiah untuknya lebih banyak dari yang diterima Rika. Alhamdulillah.. Desta terharu dan bahagia.


"Alhamdulillah nak, ibu ikut bahagia dengan rizki yang kamu peroleh. "


Bu hartini pun terdengar haru.


"Ibu, bolehkah aku menyimpan nomer rekeningmu, kirimkan padaku bu, aku ingin mengirimkan sebagian untuk ibu. "


"Tidak perlu nak, simpan saja. Berhematlah dengan uang itu, bukankah lusa kamu akan berangkat ke Jepang? Kamu harus pergunakan uang itu untuk bekalmu sementara di sana. "


Bu Hartini berpesan tegas dari seberang.Desta berusaha membujuk namun tetap ditolak halus oleh bu Hartini. Mereka kemudian membicarakan topik lainya, tak terasa hingga satu jam lamanya obrolan itu berlangsung.


Desta terpaksa mengakhiri panggilan itu karena waktu mendekati maghrib. Ia juga berjanji untuk lebih sering memberikan kabar.


Sehabis sholat maghrib, Desta berniat makan malam bareng Maya sambil ingin mengajak beberapa temanya makan angin termasuk Maya. Desta ingin membelikan teman-temanya sedikit buah tangan dari sebagian rizkinya hari ini.


Desta sudah bersiap pergi dengan gamis cantik yang mengembang di bagian bawah pinggang hingga kakinya. Kerudung segi empat warna peach, begitu serasi dengan warna kulit wajahnya yang cerah.


Pintu kamarnya tiba-tiba ada yang yang mengetuk. Saat dibuka, nampak Rika sedang berdiri diam di depan kamarnya. Rika memandangi dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Lalu ditatapnya wajah desta dengan tatapan sayu. Tangan Rika tiba-tiba terulur, menyentuh pipi dan mengelusnya lembut. Dengan spontan Desta menjauhkan tubuhnya dari Rika.


"Kamu berdandan sangat cantik Des, Aku hanya ingin mengajakmu makan di luar. "


Rika berkata dengan sedikit kikuk.


Karena terlanjur risih dengan perlakuan Rika barusan, Desta menjawab dengan penolakan.

__ADS_1


"Maaf kak, aku sudah ada janji dengan Maya,aku tiba-tiba ingin main game di kamar saja."


Destapun keluar, segera menutup pintu dan mengunci pintu kamarnya. Lalu mendekati kamar Maya dan mengetuk pintunya dengan keras. Tak ada sahutan, diketuknya lagi lebih keras. Hati Desta sedikit cemas, khawatir Maya sudah keluar duluan. Pintu terbuka dan terlihat wajah maya lebih pucat lagi dari yang hari dia sakit itu.


"Maya, wajahmu pucat,kamu sakit lagi? obat yang kemarin masih ada?" Desta terkejut dengan kondisi Maya. Sempat ekor matanya melirik Rika yang berjalan pergi menuju tangga. Hatinya terasa lega.


"Akan ku cari bantuan ya, diperiksa ke dokter aja sakitnya apa May.. " Maya cepat menggeleng.


"Tapi sakit kamu sudah mau tiga hari lo May, kalo serius sakitnya dan sudah terlambat saat tahu gimana!? " Desta sangat khawatir.


"Tolong hanya malam ini saja Des, besok kami sudah diantar pulang ke yayasan masing-masing, obat yang kamu kasih kemarin masih ada. Jangan bikin yang lain heboh pliss Des. " Maya memohon sambil memegangi tangan Desta.


"Baiklah, pastikan minum obatmu dan besok sakitmu akan sembuh kan? "


Desta masih khawatir, namun Maya meyakinkannya dengan sungguh-sungguh agar Desta akhirnya akur.


"Baiklah, tunggu aku, akan kuambilkan makanan ya. " Desta mendorong pelan tubuh Maya agar masuk kembali kedalam kamar. Pintu ditutupnya, lalu bergegas menuruni tangga menuju ruang makan. Tapi ruang makan itu sepi, hanya nampak Devina dan Linda, lainnya entah ke mana.


"Hai Dev, Linda... sepi ya, teman yang lain ke mana? "


"Pada cuci mata ke mall sebelah, kamu tidak tahu? " Devina menjawab dengan nada agak acuh.


"Oh iya, tadi aku sempat diajak kak Rika. " Desta menjawab dengan nada ramah seperti sebelumnya. Tangannya dengan cekatan mengambil makanan ke piringnya.


"Kenapa tidak pergi? "


Kali ini Linda yang bertanya dengan nada lebih normal daripada Devina.


"Aku kurang tertarik, lebih baik aku istirahat saja. "


Desta menjawab hangat sambil menyuapi mulutnya dengan buru-buru.


"Kamu kenapa sih Des, makanmu buru-buru banget ntar kesedak loh. " Linda heran dengan cara makan Desta.


"Iya , Maya sedang tidak sehat, jadi aku ingin cepat membawakan makan malam ke kamarnya Lin. "

__ADS_1


"Maya sakit? Pantas belakangan kuperhatikan wajahnya selalu pucat dan sedikit pendiam." Linda lebih terlihat seperti bicara pada dirinya sendiri. Sedang Desta hanya mengangguk.


"Des, kamu makan pelan-pelan aja, aku siapin makan buat Maya ya, nanti kamu bawa ke kamarnya. " Linda berbicara pada Desta sambil berdiri dari kursi untuk menyiapkan isi piring buat Maya.


"Oke Lin. " Desta mengamati Linda yang baik hati itu sambil mengunyah makanannya. Sedang Devina terus mengamati gerakan Linda tetap dengan gaya acuhnya.


Setelah menyelesaikan makan malamnya dengan cepat, Desta pamit pada Devina dan Linda.


"Dev,Lin..Aku duluan ke atas ya, Linda trims banget ininya. " Linda mengangguk dengan senyum, Sedang Devina hanya memandangnya datar.


Setelah makanan itu dihabiskan oleh Maya di kamarnya, Desta kembali ke dapur untuk mencuci piring di wastafel. Ternyata Devina masih duduk di meja makan sambil main game di hpnya. Sedang Linda mungkin sudah kembali ke kamar.


"Kenapa kamu tidak ikut Rika jalan ke mall? " Devina tiba-tiba bertanya padanya.


" Aku merasa tubuhku capek, jadi aku tidak ikut. " Desta beralasan.


"Apakah kamu menghindarinya? " Desta bingung, Devina kembali memberinya pertanyaan yang aneh.


"Tidak, aku biasa saja dengan siapapun. "


Desta mulai malas dengan pertanyaan Devina. Dia segera bergegas keluar ruang makan untuk menghindari Devina. Namun Devina dengan kaki panjangnya berhasil menyusulnya. Tangan Desta dicekalnya tiba-tiba, mendekatkan wajahnya di telinga Desta sambil berbisik dingin.


"Tapi dia lebih memilih mengajakmu daripada aku. "


Devina mendorong bahu Desta kasar, lalu berjalan ke arah pintu menuju taman belakang.


Desta menghela nafas, tidak habis pikir dengan maksud perkataan Devina. Apa salah dirinya jika Rika mengajaknya keluar tadi. Ada apa antara Rika dan Devina? Desta bergidik , terlintas bagaimana tadi Rika berlaku aneh padanya. Apakah ada hubungan spesial di antara mereka? Hubungan sesama jenis semacam itu?


Desta menuju kamarnya dengan perasaan tidak tenang. Bagaimanapun dia paham adanya hubungan abnormal seperti itu.


Dia ingat dulu saat masih kuliah, ada beberapa teman perempuanya punya hubungan menyimpang, saling menyukai sesama jenis. Istilah yang paling tepat untuk perempuan adalah lesbian. Apakah Rika dan Devina juga lesbian. Terus kenapa Rika berlaku aneh belakangan ini?


Sampai di lantai atas, Desta setengah berlari menuju kamarnya, dan buru-buru masuk ke dalam dan menguncinya. Mengingat perlakuan Rika padanya akhir-akhir ini membuat dirinya waspada. Dia tidak suka disentuh lagi tangan Rika.


****

__ADS_1


πŸ€—πŸ€—πŸ€— Terimakasih udah mampir di karya author. Harap dukunganya dengan ninggalin author like.komen/saran dan favorite ya..πŸ˜πŸ˜πŸ€—πŸ€—


__ADS_2