Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Bertemu Dokter Daniel # 51


__ADS_3

"Pandangi aku sepuasmu, tidak ku pungut bayaran sepeserpun darimu. "


Bisikan Leehans di telinganya, membuat Desta menanggung rasa malu di hati. Gadis itu hanya bisa membuang pandangan dari tatapan intimidasi Leehans. Tak ada kata-kata apapun yang keluar dari bibirnya, untuk membalas sindiran tajam Leehans kepadanya.


"Aku hanya mengingatkanmu, saat pergi ke tempat pengacara lusa, jangan lupa bawa serta power bank mewah yang telah kau simpan itu. Untuk berjaga-jaga, jika dia lupa pada wajahmu. "


Leehans kembali berkata santai padanya, dengan isi kalimat yang mampu mengejutkan hatinya.


"Bagaimana anda tahu? "


Desta bertanya dengan nada termangu.


"Kalian begitu akrab. Gadis nakal, sepertinya pengacara itu tertarik padamu. "


Leehans bukannya menjawab keingintahuan Desta, tapi justru membuat gadis itu semakin penasaran. Dipandanginya Leehans dengan matanya yang bersinar jernih, berharap lelaki itu mau bercerita padanya. Namun hatinya harus kecewa, Leehans telah memutar badan serta berjalan menjauh dari arah kamarnya. Lelaki itu berjalan tegap lurus tanpa menoleh sedikitpun padanya.


"Hei Tuan Hans! Saya bukan gadis nakal! "


Desta berseru kesal ke arah punggung lebar yang semakin jauh itu. Ada rasa tidak suka, jika lelaki itu menyebutnya sebagai gadis yang nakal. Desta ingat saat di Narita, Leehans tiba-tiba berada di sampingnya dengan menyebut dirinya begitu. Lelaki itu telah melihatnya bersama Tauji Hiroshi dalam cafe, tapi di mana Leehans mengikuti dirinya? Ah, Desta berubah sebal pada lelaki yang tidak mau bicara jujur itu!


***


Ini hari pertama pertemuannya dengan Leehans, semenjak lelaki itu mengingatkannya soal power bank, di depan kamarnya hari itu. Leehans akan membawanya pergi menjumpai Tauji Hiroshi sore ini, selepas lelaki itu pulang dari kerjanya. Dan hari ini, lelaki itu pulang kerja lebih cepat dari hari biasanya.


Mereka berangkat menggunakan mobil mewah pribadi milik Leehans. Leehans membawa sendiri mobil besarnya, setelah menolak saran ayahnya agar membawa serta salah seorang sopir keluarganya. Ayahnya heran, dalam badan anak lelakinya itu, seperti tidak terkandung adanya unsur lelah sama sekali.


Desta duduk di depan bersama Leehans, atas permintaan dari lelaki itu sendiri. Desta duduk dengan nyaman, mobil ini memang dirancang untuk memanjakan setiap penumpangnya. Leehans melirik Desta yang duduk diam di sampingnya, gadis itu terlihat segar dengan lipstik tipisnya yang berwarna orens kemerahan. Nampaknya sangat cocok dengan usianya, serta warna kulit gadis itu yang kini nampak makin putih dan cerah. Entah perawatan model apa yang dilakukan ibunya bersama gadis itu.


Desta yang merasa diperhatikan Leehans, hanya melengos membalas lirikan lelaki itu. Hatinya yang masih sebal pada Leehans, membuatnya berusaha bersikap acuh padanya.


***


Perjalanan telah sampai di kawasan elite Omotesando, Leehans melajukan mobilnya sedikit pelan kali ini. Kawasan ini terkenal dengan kemegahan gedung-gedungnya, serta perumahan yang didiami oleh orang-orang dengan uangnya yang melimpah.


Leehans menghentikan mobilnya di sebuah bangunan besar yang mewah. Kembali memiriksa alamat yang didapatkan dari sekretarisnya, Sharon. Leehans keluar dari pintu mobil, dan berjalan mendekati ruang jaga yang ditunggu seorang security, yang terlihat standby nengawasi kedatangan mobilnya.

__ADS_1


Keduanya nampak bercakap dalam bahasa setempat, Leehans nampak bicara sopan pada penjaga itu. Tak lama, Leehans masuk kembali ke dalam mobil dan membawanya masuk ke dalam bangunan megah itu.


Rupanya sang penjaga tadi telah melapor pada pemilik rumah. Begitu Leehans dan Desta mencapai pintu rumah, pintu itu telah terbuka lebar oleh seorang wanita, yang mungkin berusia beberap tahun di bawah Leehans. Wanita itu mengangguk dingin begitu mengetahui tamunya adalah orang asing, terlebih menatap Desta dengan gamis dan kerudungnya.


Leehans membungkuk hormat di ikuti Desta. Leehans menyampaikan maksud kedatangannya dalam bahasa Jepang. Wanita itu mengangguk dengan sedikit senyuman, dan meminta mereka masuk dalam rumahnya. Leehans bergegas masuk dan duduk di sofa mewah, diikuti Desta di belakangnya.


Agak lama menunggu, Leehans merasa bosan. Ekor matanya melirik Desta yang duduk di sofa yang menyamping menghadapnya. Gadis anggun di depannya nampak tegang, menunggu orang yang dicarinya tidak cepat keluar. Leehans menyukai ekspresi tegang gadis itu, pucuk hidungnya semakin nampak runcing meskipun kecil.


Plek ! plek! plek! pkek! pkek! plek! plek!


Bunyi sandal seseorang yang berjalan cepat memecah keheningan, Leehanspun mengalihkan matanya ke arah bunyi kaki tuan rumah yang datang mendekat.


Leehans terperanjat dengan apa yang di lihatnya. Rasa heran dan kaget itu membuatnya lupa untuk bicara.


"Dokter Daniel ? "


Destalah yang bersuara menyapa sahabatnya, yang tiba-tiba muncul di depannya. Daniel tengah fokus mengejar seorang balita, yang berlari dengan sandal bising di kakinya berlarian menuju ruang tamu. Daniel menoleh karena panggilan Desta.


Daniel tak kalah kagetnya dengan ekspresi kaget Leehans. Daniel nampak ternganga melihat keduanya.


Kakinya berjalan cepat menghampiri sofa, tempat Leehans duduk dan menatap heran padanya.


Daniel memukul pelan bahu Leehans begitu dirinya mencapai sahabatnya itu. Leehans tetap diam memandangi Daniel menuntut penjelasan.


"Hai Desta, apa kabar? "


Daniel menoleh ke arah Desta dengan pandangan sopan dan hangatnya.


"Alhamdulillah, dokter Daniel apa kabar juga? "


Desta balik bertanya dengan nada cerianya yang lembut.


"Nanti sajalah kalian saling melepas rindu, jelaskan kanapa kau di sini? "


Leehans menyerobot percakapan ramah tamah antara Desta dan Daniel. Baginya itu sangatlah tidak penting sekarang.

__ADS_1


"Aku ingin bersama putriku, Aku mengajukan pindah tugas, ku ambil cuti panjangku."


Daniel mengatakan alasan keberadaanya pada Leehans, namun matanya terarah pada gadis yang datang bersama Leehans. Ingatannya kembali pada kejadian di mana dia merawat luka Benn. Luka yang tidak fatal, namun cukup mengenai sasaran. Daniel beranggapan, bahwa Desta adalah gadis yang cukup berani untuk melindungi dirinya. Meski Desta nampak sebagai gadis yang berperangai halus, namun taringnya bisa keluar disaat yang tepat.


Leehans terlihat jengah, pandangan Daniel yang lama pada Desta, tak ada putusnya. Sedang gadis itu tidak menyadari, dia tengah asyik duduk memangku putri Daniel. Balita cantik itu terlihat nyaman mendekati Desta sambil bermain game di hpnya. Desta sangat gemas menegangi putri Daniel, badannya empuk, tebal dan lembut, seakan ingin menggigitinya.


"Kapan pengajuan tugasmu di acc? "


Leehans berusaha mengalihkan perhatian Daniel dengan pertanyaannya.


"Kurasa tidak lama, ada orang dalam. "


Leehans memahamai intrik itu, tidak di sini tidak di Indonesia, hal semacam itu selalu ada.


"Tauji Hiroshi, ada hubungan apa denganmu? "


"Bro in law. "


Daniel menjawab sekenanya, ditatapnya Leehans di sampingnya.


"Ada perlu apa dengannya? "


Leehans tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah Desta dengan dagunya, dagu yang mulai ditumbuhi kembali rambut halus.


"Dia terus bekerja di keluargamu? Benn akan mengambilnya. "


Daniel nampak mengamati Desta dengan alis yang bertaut, pantas saja Benn ingin menahannya mati-matian, gadis itu istimewa.


"Aku tahu, Benn akan datang sewaktu-waktu. "


Leehans nampak mengambil nafas berat, Benn berulangkali bilang padanya akan menyusul ke Jepang. Benn ingin mengambil hati Desta bagaimanapun caranya. Keinginan untuk tetap menikahi gadis itu tak pernah ada surutnya.


Jika Benn datang, Leehans tak tahu, dengan cara apalagi untuk melindungi gadis itu. Sedang Benn sudah seperti saudara lelakinya sendiri. Leehans tak ingin ada kekerasan di antara dirinya dengan Benn.


Jadi satu-satunya cara yang dilakukannya selama ini, membebani Benn dengan antrian pekerjaan yang tiada habisnya. Leehans terpaksa melakukan itu dengan bantuan Lucky, asisten Benn, agar lelaki itu terus tertunda kepergiannya ke Jepang.

__ADS_1


"Jika bukan karena Benn, akupun ingin mendekati gadis itu, ku harap kau setuju. "


Daniel mengatakan hal itu dengan sedikit bercanda, namun Leehans menangkap ada kesungguhan tersembunyi di mata Daniel. Tiba-tiba ada gusar di hati Leehans dengan ucapan Daniel barusan. Apakah Desta akan setuju? " Leehans terus memikirkan kemungkinan hal itu.


__ADS_2