
Telah berlalu dua minggu lamanya berada dalam masa penculikan, rasanya mulai sedikit terbiasa bagi Desta menjadi pelayan di ruang VIP. Para pengunjung berkelas yang memilih ruangan itu untuk mengambil menu, tidak ada satupun yang berani bersikap kurang ajar padanya. Kedatangan mereka terlihat murni sebagai pengunjung wisata di pulau Miyakojima, bagian dari gugusan kepulauan Okinawa yang terkenal sangat indah.
Sebenarnya karena mereka telah paham dengan aturan di rumah makan mewah itu, terutama etika bersikap di beberapa ruang VIP. Dengan beberapa poin aturan yang juga tertulis di plakat sebelum pintu masuk. Namun kebanyakan pengunjung, telah memahami hal ini sebelumnya dari mulut ke mulut. Mereka juga mengetahui, rumah makan ini bekerja sama dan berhubungan dengan banyak mafia secara terselubung.
Untuk urusan sehari-hari, Desta telah menyesuaikan dengan aturan dari lelaki kecil, yang seperti punya dua puluh empat jam waktu untuk mengawasinya. Kesempatan keluar masuk di pintu kamarnya, hanya ada tiga kali waktu saja dalam sehari. Yaitu pagi pukul lima, sehabis tengah hari, dan malam selesai tugas dari ruang VIP. Lelaki kecil selalu siaga menjemput dan mengembalikannya ke ruang kaca VIP itu.
Desta sangat bersyukur dengan kesempatan waktu yang didapat. Sehingga bisa mengerjakan shalat, meski saat ashar dan maghrib di lakukannya dengan jamak. Desta menggunakan kimono dua helai sebagai mukenanya. Lelaki berbadan kecil itu setidaknya cukup baik, saat istirahat tengah hari, Desta juga diberinya kesempatan tidur siang.
Bukan pasrah tidak berniat untuk kabur, tapi sementara Desta masih jera mencobanya. Saat berada satu minggu di sini, Desta menggunakan sebuah kesempatan yang dirasanya adalah peluang cukup bagus.
Hari itu, gadis Jepang tanpa kimono nampak tidak datang. Desta hanya sendirian bertugas menyambut tamu dengan ramah. Sedang dua gadis Jepang berkimono begitu sibuk menjamu tamu yang kebetulan hari itu sangat ramai. Mereka seperti tidak sempat peduli pada Desta sama sekali.
Hingga datanglah lima orang perempuan filipina berpakaian kimono dan bermasker sepertinya. Penampilan mereka serupa dengan perempuan Indonesia saat berkimono. Desta telah bertekad bulat untuk menyisip di antara gadis filipina itu saat keluar, kemudian berlari sekencangnya membawa diri jauh dari rumah makan. Toh dua gadis Jepang berkimono itu tidak pernah menolehnya sekalipun. Mereka sangat sibuk.
Saatnya datang, Desta telah berjalan keluar membaur bersama kelima gadis filipina dengan hati berdegup sangat kencang. Desta memang siap kapan saja untuk kabur, pin dan kalung itu selalu disimpan di balik kimononya.
Namun belum sempat berlari, tangan Desta ditarik paksa dan dibawa masuk dalam kamar. Lelaki itu menjatuhkan dan memegangi kakinya. Desta tidak menyadari saat lelaki itu mengeluarkan pisau lipat dan menyayat tumitnya begitu sadis dan cepat. Desta tahu saat darah mengucur deras dengan rasa sangat pedih setelahnya. Dan sejak itulah, Desta mengerti bahwa lelaki bertubuh kecil itu sebenarnya sangat kejam dan tidak lengah mengawasinya.
***
Desta berjalan ke toilet dengan pelan. Bukan toilet di sebelah kamarnya, tapi toilet besar sebagai fasilitas pengunjung. Pekerja pun diberi kebebasan untuk menggunakannya.
__ADS_1
Toilet sedang sepi, Desta hendak masuk di salah satu kamarnya. Tapi mendadak seseorang menarik tangannya masuk ke dalam salah satu kamar di toilet. Seorang wanita Indonesia dengan rambut dicat warna biru.
"Jangan panik, aku sama denganmu." Wanita Indonesia itu berbisik sangat lirih. Tapi nampaknya sudah beradaptasi sangat baik di sana.
"Toilet tidak ada CCTV, tapi ada mesin penguntit suara. Berbicaralah sangat pelan." Desta melihat kran dalam kamar kecil ini terus dibuka dengan suara aliran air yang keras. Wanita itu bermaksud menyamarkan suaranya.
"Katakan rencanamu, aku akan berusaha membantumu." Wanita itu terus berbicara dan nampak iba pada Desta.
Desta tidak berkata-kata, hanya bahagia telah bertemu dengan seseorang yang bahasa serta berasal dari negara yang sama dengannya. Dan wanita ini peduli akan dirinya. Desta langsung merangkul wanita itu dan menangis terisak-isak tanpa suara sama sekali. Diluahkannya kesedihannya selama ini pada wanita yang bernama Diah itu.
Keduanya saling berbicara dengan suara sangat pelan di antara bunyi berisik aliran kran air. Diah adalah korban pekerja Indonesia ilegal, awalnya merasa tidak betah, tapi sekarang telah terbiasa dan nyaman di sana. Dan bebas pulang pergi ke Indonesia dengan dokumen resmi yang telah dimilikinya atas bantuan para mafia di rumah makan. Gaji besar membuatnya betah tetap bekerja di sana.
Bagian tempat Diah bertugas, ternyata bersebelahan tepat dengan ruang VIP tempat Desta. Namun, meski dalam ruangan kaca juga, tempat Diah lebih luas lagi dan bukan ruang VIP, tapi kelas biasa.
Diah bilang, di ruangannya sering datang orang-orang Indonesia. Diah berjanji akan mencari peluang untuk Desta, agar bisa pergi dari sini secepatnya. Latar belakang Desta serta ancaman akan dibawa ke Maccau, membuat Diah ikut sedih dan akan terus menolongnya.
Ternyata Diah telah melihat dan memperhatikan Desta dari awal tugasnya di ruang VIP. Hingga saat dia menyelip di antara perempuan Filipina dan diseret kembali ke kamar, Diah memperhatikan dan merasa sangat iba.
******
Hampir dua bulan lebih Desta berada dalam penculikan. Peluang emas yang ditunggu belum juga ada penampakan, empat minggu lagi lelaki besar itu akan datang. Desta menjalani hari-harinya dengan tidak ada ketenangan. Khayalan akan Leehans yang datang menyelamatkan, hanyalah mimpi di bunga tidurnya siang malam. Doa yang dipanjatkan saat sujudnya, tidak juga ada tanda-tanda terkabulkan.
__ADS_1
Diah telah mengatakan, rumah makan ini adalah kekuasaan mafia yang sangat steril. Mafia luar serta aparat negara tidak bisa menyentuhnya. Banyak faktor yang membuatnya begitu, yang jelas, rumah makan membayar pajak sangat tinggi setiap bulannya dan telah bekerja sama dengan jaringan mafia sangat kuat.
Cara tepat untuk aman hanyalah akur dengan keadaan selamanya atau berhasil membawa dirinya selamat keluar dari tempat ini. Lalu bagaimana caranya?! Itulah..Diah memintanya untuk terus bersabar sementara.
********
Hawa begitu dingin, angin pantai begitu tidak ramah malam ini. Desta berjalan, dengan diikuti lelaki berbadan kecil itu di belakang, menuju kembali ke kamarnya. Desta berjalan agak lambat. Meski sudah lama, namun luka ditumitnya masih terasa sakit saat berjalan dan kadang juga terasa meradang. Obat yang diberikan lelaki kecil itu sepertinya kurang tepat untuk luka dalamnya. Tapi Desta tidak ingin untuk berbicara apapun pada lelaki itu.
"Jiro!" Sebuah suara kasar yang lirih terdengar. Lelaki kecil di belakang segera mendahului dan mendekati seorang lelaki yang juga sedang berjalan mendekat. Desta begitu terkejut mengenali sosok yang datang itu. Dia adalah lelaki besar yang mengantarnya ke sini sekaligus datang akan mengambilnya dari sini. Rasa cemasnya semakin kuat dan berubah menjadi ketakutan yang sangat.
"Hai boss, cepat datang?" Jiro, lelaki kecil nampak heran.
"Aku dapat orderan luar biasa. Aku akan membawanya ke maccau tiga hari lagi. Menunggu data palsunya selesai." Lelaki besar itu memandang Desta dengan sorot mata bengisnya. Raga Desta mendadak lunglai mendengar ucapan itu. Harapan hidup seperti lenyap di jiwanya.
"Aku dapat lagi tidak boss?" Jiro nampak
berharap dapat tambah bayarannya.
"Kali ini aku dapat harga yang fantastis. Tidak ku sangka, harga gadis itu sangat bagus. Sudah, simpanlah di kamar. Jaga terus baik-baik. Aku mau istirahat." Lelaki besar itu berlalu.
Desta yang telah masuk kembali dalam kamar, telah menangis dengan tersedu dan putus asa. Seperti tidak ada lagi harapannya esok hari. Orang itu sudah datang, tidak ada lagi kesempatan untuk menyelamatkan dirinya. Waktu tiga hari itu, apakah mungkin dirinya akan selamat. Siapa yang akan ditemui untuk membantunya? Apa sang penciptaNya tetap dengan putusan takdir duka untuknya? Hhiik..hik. .hik.... Desta terus menangis hingga merasa kelelahan.
__ADS_1