Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Canggung # 46


__ADS_3

"Tunggu sebentar, saya ingin menyampaikan sesuatu pada Desta dan juga pada anda, tuan Leehans"


Bu Hartini menghentikan langkah Desta yang bersiap menuju pintu keluar.


Karena panggilan dari bu Hartini, Desta kembali menghenyakkan badan di sofa itu semula. Begitupun Leehans, telah bersiap menyimak kembali, apa yang akan disampaikan oleh wanita itu. Leehans sambil melirik Desta yang nampak lelah, dengan ujung hidungnya yang memerah, efek menangisnya barusan.


"Baiklah, Sebelumnya ibu minta maaf padamu Desta, Saat nenekmu datang ke sini dan mengamanahkanmu ke yayasan, beliau ada pesan untukmu saat kamu sudah mandiri, dan sekarang ibu sudah merasa kau mampu berdiri di luar sana, terlebih ada tuan Leehans yang begitu baik untuk membantu menjagamu sebagai wali pengganti."


"Selama ini, ibu menyimpannya , menunggu saat kamu sudah mampu untuk berjalan jauh. "


"Nenek angkatmu itu, berpesan pada ibu agar kamu mencari seseorang yang bernama Isao Hiroshi, ya dia memang seorang warga Jepang, dan berada di Jepang. Dia adalah seorang pengacara ternama di Jepang, pengacara pribadi nenekmu. Itulah, ibu sangat berharap tuan Leehans akan membantumu mencarinya di sana. "


"Tentang kenapa nenekmu memberi pesan itu, ibu tidak paham, nenekmu tidak ingin mengatakannya. Hanya jika kamu telah berjumpa dengan pengacara itu, dia akan memberitahumu sesuatu. "


Bu Hartini berhenti sejenak, nampak mengambil nafasnya dengan dalam, dan mulai bicara kembali.


"Jika kamu ingin tahu, lakukanlah apa yang dipesankan nenek angkatmu itu, ku rasa tuan Leehans bersedia menemanimu. "


"Maaf tuan Leehans, kami selalu merepotkanmu. "


Bu Hartini memandang Leehans dengan segan , namun menyimpan harapan yang besar agar membantu Desta, untuk mencari seorang Isao Hiroshi di Jepang. Leehans nampak mengangkat tangannya ke arah bu Hartini, dia tidak keberatan dengan hal itu.


"Ku rasa ayahku tahu mengenai pengacara ini bu. "


Leehans menduga ayahnya bisa memberi cukup informasi. Bu Hartinipun mengangguk membenarkannya, bukankah Mr. Lee adah pebisnis senior, setidaknya pernah dengar nama pengacara itu.

__ADS_1


Desta yang mendapat pesan dari nenek Benn melalui bu Hartini, nampak tertunduk lesu, seakan tidak tertarik dan tiada semangat sama sekali. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir meronanya. Hanya kedua mata indahnya yang mengikuti perbincangan antara bu Hartini dan Leehans, seolah dirinya tak ada sangkut pautnya dengan isi pembicaraan itu. Namun Leehans dan bu Hartini,seolah paham dan memakhlumi sikap Desta yang membisu itu.


Karena dirasa percakapan sudah cukup, dan malam mulai larut, bu Hartini berpamitan pada Leehans, diajaknya Desta untuk keluar ruangan dan turun bersama. Desta belum sempat keluar, saat dirinya dipanggil kembali oleh Leehans. Gadis itupun kembali ke dalam ruangan, sedangkan bu Hartini meneruskan langkah menuruni anak tangga menuju kantor.


Saat Desta kembali masuk ke dalam ruangan, Leehans terlihat masuk ke dalam kamarnya. Lelaki itu kemudian keluar lagi dengan memegang sebuah kotak kecil di tangannya. Lalu diulurkannya kotak itu pada Desta, kotak itu ternyata adalah kemasan dari sebuah ponsel canggih brand ternama, dengan keluaran terbarunya.


"Pakailah, ini hadiah untukmu, katakan padaku jika kau tak menyukai modelnya. "


Leehans menyerahkan kotak ponsel itu, dan Desta hanya pasrah menerimanya dengan desir rasa haru. Dipandanginya Leehans yang berdiri tegak di depannya dengan kedua bola mata yang berbinar. Mata tajam berkilat dan mata indah bersinar itu saling berpandangan, lalu keduanya saling melempar senyuman.


"Terimakasih atas kebaikanmu tuan Hans. "


Leehans hanya mengangguk kecil pada gadis itu.


"Kembalilah ke kamarmu, jangan banyak berfikir, dan cepat tidur."


Dengan bersandar di bantalan tempat tidurnya, Leehans telah menyelesaikan pembayaran booking online, dua item tiket kursi pesawat melalui aplikasi di ponselnya. Lelaki itu kini meluruskan punggung dan memasrahkan kepalanya di bantal empuk, dengan senyuman samar yang menghiasi wajah tampannya.


***


Koper navy mini itu telah kembali standby di depan pintu, Desta telah menyiapkan dengan cepat segala barang, untuk dibawa terbang bersamnya esok pagi. Kali ini tidak begitu repot, karena Desta tidak membongkar isi kopernya semenjak kembali ke yayasan ini.


Ada bunyi klunting dari ponsel barunya, Desta segera meraih dan membukanya. Tertera nama 'Hans san' di pesan masuk pada aplikasi whatsappnya.


"Pasang alarmmu, jadwal terbang pesawat pukul 5 pagi. "

__ADS_1


Desta menyetting alarm ponselnya pukul tiga pagi.


"Sudah. Selamat istirahat. "


Desta membalas pesan itu, dan menyimpan ponselnya di bawah bantal, seperti kebiasaannya. Gadis itu memejamkan mata, dan tidak membukanya kembali hingga benar-benar tertidur.


***


Kedua orang yang akan terbang ke Jepang itu, melaju selepas subuh dengan menyewa sebuah taksi online VIP menuju bandara Juanda, Surabaya. Dua orang beda usia itu telah berada dalam bangunan megah Juanda. Desta berdiri di antrian depan, untuk melakukan cek in bagi mereka berdua di loket petugas, sedang tepat di belakangngnya berdiri Leehans, sedang menerima panggilan penting dari sekretarisnya di Jepang.


Cek in telah sukses dilakukan oleh Desta, namun Leehans belum juga menyudahi bicaranya. Desta memimpin berjalan menuju gate tunggu pesawat dengan kepalanya yang menoleh ke sana ke mari. Dan Leehans hanya mengekor di belakangnya, sambil terus bicara di telepon mengkuti ke manapun Desta berjalan.


Saat berjalan santai, Desta melihat papan bertulis TOILET di depannya, perutnya mendadak latah merasa ingin buang air kecil sàat itu. Desta segera membelok dan memasuki ruang toilet. Tidak sadar jika di belakangnya ada seorang lelaki yang setia mengikutinya.


Desta segera masuk ke dalam salah satu toilet, yang dipilihnya dengan acak. Tanpa berbalik, diraihnya pintu dan didorongnya kasar agar menutup lebih cepat, dirinya sudah tak tahan lagi. Namun pintu itu seperti terpental tertahan sesuatu, Desta cepat berbalik, didapatinya seseorang yang tengah berdiri menahan pintu toilet itu dengan ujung jarinya. Desta merasa shock seketika.


Leehans yang menahan pintu toilet, seketika sadar dengan kekeliruannya. Panggilan telepon itu dia putus begitu saja, Desta yang terbelalak menatapnyapun diabaikan. Segera ditariknya pintu dan dan ditutupnya toilet itu rapat- rapat, dengan Desta di dalamnya. Leehans segera berbalik langkah, meninggalkan ruang toilet yang kebetulan tak ada seorang penggunapun selain dirinya, dan Desta yang sedang dalam toilet.


***


Hingga keduanya telah duduk dalam pesawatpun, aura canggung masih menyelimuti perjalanan mereka. Terlebih lagi Desta, setiap tak sengaja bertabrakan mata dengan Leehans, dirinya terlihat kikuk menghadapi pandangan dingin lelaki itu. Keduanya menikmati penerbangan yang berjam-jam lamanya, dengan saling membisu bersama lamunan panjang mereka masing-masing.


***


Penerbangan panjang yang memakan waktu hingga kurang lebih sepuluh jam lamanya itu, membuat Desta sedikit merasa mual dan linglung saat menuruni pesawat. Rasa tidak nyaman itu, berlanjut hingga dirinya berjalan menuju jalan keluar dari bangunan bandara Narita. Leehans yang tidak menyadari hal itu, berjalan lurus ke depan dengan tergesa, sambil sesekali menoleh Desta yang berjalan di belakangnya, dengan menyeret koper mini navynya.

__ADS_1


Gadis cantik bergamis itu, dengan susah payah menghindar dari setiap orang yang berpapasan jalan dengannya. Dengan berusaha terus menyelip dari kerumunan untuk mengejar Leehans yang berjalan di depannya. Leehans nampak menerima panggilan telepon dari ponselnya, Lelaki itu kembali fokus dengan ponsel di telinganya.


Desta merasa kewalahan mengimbangi langkah Leehans yang jauh dan cepat, sebagaimana kaki panjang lelaki itu. Rasanya sudah tak tahan lagi untuk berjalan cepat mengejar Leehans. Karena rasa mual dan pusing yang dirasakan, membuatnya seakan tak mampu bersuara memanggil Leehans yang mulai hilang dari pandangan. Gadis itu terlihat menyerah, kakinya beehenti melangkah, diseretnya koper mini itu untuk lebih menepi mendekati dinding sebuah cafe bandara.


__ADS_2