Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Batalkan Saja # 31


__ADS_3

Dapur villa milik Benn itu sangat luas dan bersih, paduan desain perabot dan interior ruangan sangat serasi dan nyaman , siapa saja yang beraktifitas di sana bakalan betah. Destapun merasa kerasan berlama-lama berada di dapur, membantu mak Sri ataupun mbak Puji untuk menyiapkan makanan.


Mak Sri adalah orang Jawa Tengah dari daerah Tegal, sangat cekatan dan terampil dalam mengolah masakan, sudah layaknya koki kelas bantaman, hanya kalah nasib sajalah mak Sri nyasar di sini. Kalau mbak Puji tuh jagonya mengurus rumah, bersih-bersih, siram-siram, belanja , pokoknya yang serba gerak banyak saja. Keduanya sangat kompak dan bahu membahu, tapi keseringan mak Sri lah yang sering dapat bantuan dari mbak Puji, soalnya kerjaan mbak Puji cepat banget kelarnya.


Sajian untuk sarapan ini tidak terlalu beragam, hanya dua menu saja, nasi goreng sosis ayam dan sop jamur ayam, tak ketinggalan sambal terasi andalan mak Sri, yang konon kata mbak Puji dahsyat banget nikmatnya. Bos mereka tidaklah rewel, apapun menunya asal pas di lidah, sikat saja masuk perut. Apalagi yang ada di villa sekarang hanya tinggal Benn seorang bersama Desta saja, makin ringan aja pekerjaan mereka berdua.


Benn turun pukul tujuh tepat, lelaki itu terlihat tampan sekali dengan penampilan rapi maskulinnya, pantaslah dia sering diikuti banyak perempuan di luaran. Benn duduk di samping Desta yang telah standby di situ sedari tadi, nampaknya memang tak sabar ingin mengecap sambel terasi buatan mak Sri.


Setelah dirasanya Benn telah duduk dengan nyaman, Desta memulai mengambil menu di piringnya dengan sop jamur ayam berkuah dan setengah sendok kecil sambal terasi. Benn mengambil menu persis seperti yang Desta pilih dipiringnya, tapi tidak untuk sambalnya, Benn hanya mengambil sambalnya seujung kuku saja. Benn sangat menyukai rasa sambel terasi, tapi tidak berani untuk makan lebih dari itu, bisa-bisa dia akan jadi setrikaan lantai ke kamar mandi seharian.


Desta merasa puas dengan isi piring yang habis mutasi ke perutnya, mata bening itu melirik Benn yang duduki samping, lelaki itu sedang meneguk secangkir coklat hangat buatannya.


"Maaf tuan, Saya ingin bicara dengan anda hal yang sangat penting. " Desta mulai menumpahkan laharnya yang sudah tak bisa ditahan lagi.


"Tentang apa? Bicaralah. " Benn berkata lembut padanya.


Benn menunggu gadis pujaan hatinya ini melanjutkan bicaranya. Benn sangat antusias saat gadis berwajah cantik dan manis itu memandangnya tajam dan mulai bersuara.


"Maafkan saya, sudah saya pertimbangkan hal ini semalaman dan bagiku ini adalah keputusan yang tepat untuk kita. " Benn semakin menyimak kelanjutan bicara Desta.


"Saya tidak ingin melanjutkan hubungan ini lagi, batalkan saja persiapan pernikahan kita tuan Benn. " Desta berkata dengan sangat lancar dan tak ada keraguan.


Benn mendengarnya terperanjat, seakan tak percaya dengan ucapan Desta barusan.


"Apa!? Kau bicara apa barusan!? " Benn tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Saya tidak ingin melanjutkan pernikahan ini tuan Benn. " Desta kembali menjawabnya dengan tenang.

__ADS_1


"Kenapa!? Apa masalahnya? " Benn mulai tidak sabar.


"Sebelumnya saya minta maaf tuan Benn, jika perkataan saya ini akan menyinggung perasaan anda. Sebenarnya saya tidak pernah membayangkan akan memilih calon suami yang ternyata seorang pemabuk dan punya banyak wanita, bukan salah anda tuan Benn, tapi salah saya yang gampang saja bersetuju waktu itu, saya tidak menyangka dengan gaya hidup anda yang demikian itu. " Desta menjelaskan semuanya sambil terus menatap mata Benn dengan tenang penuh keyakinan.


"Maafkan saya. " Desta meminta maaf dengan sungguh-sungguh.


Bagaimanapun, Desta tetap punya rasa bersalah, acara pernikahan mereka mungkin telah dipersiapkan, dan menghabiskan banyak pengeluaran. Mengingat Benn bukan pria sembarangan, tentu pesta yang telah mulai dipersiapkan jauh-jauh hari oleh orang tua Benn, akan dilangsungkan dengan mewah dan berkelas.


Benn nampak terdiam mencerna ucapan gadis itu, kini dia paham ke mana maksud arah bicaranya.


"Dengarkan aku, aku belum menikahimu Des, lihatlah setelah aku menikahimu, tak kan ku lihat satu wanitapun selain istriku, dan itu kamu! "


"Kau tidak tahu beratnya aku untuk menghargaimu, aku tidak ada perempuan lagi setelah bertunangan denganmu! " Benn menjelaskan dengan menatap Desta lekat-lekat.


"Apakah tidak tersisa satupun? " Desta bertanya menyelidik.


"Hanya satu, akan ku tinggalkan dia setelah kita menikah, pegang kata-kataku, aku bukan penipu. " Benn berusaha mengubah keinginan Desta.


"Hanya satu? " Desta benar- benar tak habis pikir dengan kejujuran Benn.


"Apakah tuan tidak peduli perasaannya? Apakah perempuan itu menerima jika anda tinggal begitu saja? " Desta kembali menyerang.


"Perempuan itu bukan siapa-siapa, dia hanya pelarian hasratku padamu, aku sangat menginginkanmu Desta. Aku laki-laki dewasa yang sangat normal, apa kau mau melayaniku sebelum aku menikahiku? Tidak bukan? "


Benn mengeluarkan perasaannya sambil menatap Desta penuh damba.


"Apakah anda akan gembira bisa menikahi perempuan yang hatinya telah kering dan patah?"

__ADS_1


"Saya tidak lagi memikirkan wasiat nenek , serta tidak berniat menerima warisan apapun, saya pasrahkan saja pengaturan itu pada yayasan anda dan tuan Lee."


"Saya ingin pergi dari villa ini!" Desta tidak tergoyah.


"Desta dengarlah baik-baik, aku tidak akan pernah membatalkan pernikahan ini, tak ada niatanku melepaskanmu, pernikahan kita sudah dipersiapkan orang tuaku, undangan telah menyebar ke semua kerabat dan kenalan keluarga besarku. Jadi kau tetap di sini dan tidak akan ke manapun srbelum kita menikah! "


"Bukan masalah kerugian materi, tapi aku memang sangat yakin telah memilihmu jadi istriku, masalah perasaan, ku mohon berusahalah untuk menerima dan mencintaiku Desta. "


"Aku yakin kau akan menerimaku seiring berjalannya waktu, jadi bersabarlah, ku harap kau paham Desta. " Benn menekankan ucapannya pada Desta.


"Ku rasa sudah cukup pembicaraan ini, tak perlu dibahas lagi, aku akan berangkat kerja, sampai jumpa. "


Benn meraih tas kerjanya dan hendak beranjank.


"Tapi saya tidak sudi mengorbankan masa depan saya dengan perasaan yang dipaksakan tuan Benn! " Desta masih belum puas berbicara.


Ben seakan tidak mendengar, dia berdiri dengan cepat dan menghentak kursinya kasar. Lelaki itu akan berangkat ke kantornya dengan hati gusar dan mood yang buruk. Dijumpainya mak Sri dan mbak Puji di sudut dapur yang terlihat sibuk entah nengerjakan apa.


"Tolong jaga nona kalian itu, jangan perbolehkan pergi ke manapun! "


Mak Sri dan mbak Puji hanya saling berpandangan mendengar perintah tuan muda mereka yang suasana hatinya sedang buruk itu. Benn melenggang pergi, kemudian dihampirinya pos jaga security dan berbicara sesuatu pada penjaga villanya di sana, kemudian menghilang bersama mobil mewahnyanya.


***


Desta hanya ingin kembali ke Surabaya dan melamar kerja apa saja di kota kesayangannya itu, namun ia harus bersabar dan kembali duduk di karpet lantai kamarnya. Mak Sri, mbak Puji dan pak Nardi, nama satpam itu, benar-benar patuh dengan pesan majikan mereka sebelum pergi tadi. Meski terlihat kasihan dan serba salah, ketiganya kompak tidak membolehkan Desta untuk pergi keluar villa dan setia mengawasinya.


Satu-satunya harapan bagi Desta kini hanyalah Leehans. Kedatangan lelaki itu ditunggunya dengan harapan bisa membantunya lepas dari Benn, pergi dari villa dan mendapatkan tiket ke Surabaya. Atau setidaknya lelaki itu adalah wali sementara untuk dirinya yang sebatang kara, tidakkah ada rasa simpati sedikit saja padanya?

__ADS_1


__ADS_2