Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Kembali ke Surabaya # 36


__ADS_3

Desta gundah gulana sejenak, menimbang harus bagaimana dengan kelanjutan kontrak kerjanya dengan Leehans, sedang dirinya sudah sangat ingin kembali ke kota asalnya. Sesekali didongakkan kepalanya memandang lelaki di depannya itu, hanya sebentar lalu menundukkan kepalanya kembali.


"Bagaimana jika saya bercuti sebentar, apakah boleh?"


Desta bertanya dengan segan dan ragu. Leehans nampak mengangkat sebelah alisnya, menatap Desta sambil menahan tawa.


"Coba kau ingat lagi, sudah berapa bulan kau bekerja, apa pekerjaanmu?"


Leehans sengaja menyindir Desta. Sindiran itu berhasil membuat Desta termangu, nyatanya memang selama ini dirinya belum mengerjakan apapun untuk lelaki itu. Desta mengakui, Leehans adalah CEO besar, pasti sangat ptofesional dan totalitas dengan apapun, yang menyangkut masalah etika kerja.


Desta diam membisu, ada rasa malu, seolah dirinya adalah orang yang tidak tahu diri. Padahal Leehans sudah memberikan apapun haknya, hak yang lebih sebagai seorang pekerja kontrak, padahal dirinya belum produktif selama ini.


Tapi yang Desta pahami, ini berlaku bukan mutlak kesalahannya, semua karena kendala masalah wasiat itu. Dan Leehans sendirilah yang membebaskan dirinya dari pekerjaan. Sehingga dirinya mungkin kini jadi salah paham.


"Saya belum bekerja apapun, maafkan saya."


"Tapi itu bukan salah saya sepenuhnya, Tuan Hans sendiri yang memberi saya free job waktu itu bukan?"


Desta berusaha membela dirinya, agar Leehans tidak terus mendakwa kesalahannya. Masih ada setitik harapan, untuk mendapat tambahan cuti dari lelaki itu.


Leehans merenung Desta yang juga sedang memandang padanya, sebenarnya Leehans bukannya lupa perihal itu. Ia sengaja mendikte gadis itu, namun rupanya tidak mudah, gadis itu pantang menyerah.


"Baiklah gadis kecil, ku beri kebebasan untukmu satu minggu dari sekarang."


Akhirnya Leehans mengabulkan harapan Desta.


Mendengar putusan Leehans, tak peduli lelaki itu menyebutnya apa, Desta begitu bersyukur, hatinya gembira tiada tara. Gadis itu tersenyum memandang Leehans, mimiknya berucap terimakasih atas kemurahan hatinya.


"Arigato yang mulia."


Desta membungkuk sedikit, senyum sumringah itu belum menghilang. Gadis itu seakan lupa sejenak, dengan peristiwa besar yang baru menimpanya.


Melihat senyum berbinar dengan pijar mata yang indah itu, Leehans merasa sedikit sesak di dadanya sesaat. Leehans membuang muka sambil kenghirup dalam nafasnya.


"Kapan kau akan berangkat?" Leehans mengingatkan gadis itu.


"Sekarang. Sekarang juga.Ini saya sudah siap."


Desta menjawab dengan riang, sambil menunjuk dirinya bersama koper navynya.

__ADS_1


"Tuan Hans, saya pamit dulu.Terimakasih atas segala bantuan anda selama ini, sampai berjumpa sepuluh hari ke depan."


"Assalamualaikum."


Desta berpamitan dengan mengangguk kecil untuk Leehans, kemudian ditarik kopernya berjalan ke arah pintu keluar villa. Sambil diedarkan pandangannya, dokter Daniel tengah mengikuti dengan ekor matanya.


Dokter ganteng itu tersenyum sambil melambai tangan ke arahnya. Desta membalasnya dengan senyum dan anggukan kecilnya.


Berharap ada kelebat mbak Puji juga mak Sri, namun mereka tidak juga nampak, rupanya keduanya tidur nyenyak malam ini. Jika mendatangi kamar mereka, Desta tak ingin menimbulkan keberisikan.


Desta berhenti sebentar di teras villa, memesan sebuah gocar online, yang akan mengambilnya lima belas menit lagi, untuk membawanya menuju bandara Soekarno-Hatta.


***


Mobil itu siap meluncur meninggalkan halaman villa, namun sebuah mobil warna silver dan mewah berhenti tepat di sampingnya. Leehans keluar dari pintu pengemudi dan berjalan mendekati kaca cendela tempat Desta duduk.


Desta menurunkan kacanya dan melongokkan wajah dengan maksud bertanya.


"Ku antar saja, turunlah!"


Leehans memerintah Desta. Namun dijawab dengan gelengan kepala gadis itu.


"Tidak perlu, jangan khawatir, driver akan mengantar saya dengan baik."


Desta menutup kacanya kembali, sambil melambaikan tangan pada Leehans yang mematung di tempatnya.Mobil itu benar-benar pergi meninggalkan villa dan hilang di kegelapan.


***


Dengan mengambil penerbangan pagi pukul enam tepat, kini dia telah mengudara dan menikmati perjalanannya kali ini. Sebelum cek in tadi, gadis itu sempat mengerjakan sholat subuh di Musholla bandara, serta sarapan kecil berupa roti bakar kukus di kafe bandara.


Penerbangan itu menghabiskan waktu sekitar dua jam kurang dua puluh menit. Desta sempat tertidur lama, dan terbangun saat suara pramugari yang indah itu menghimbau untuk merapatkan sea belt, melalui speaker dalam pesawat.


***


Desta telah berdiri di depan gerbang yayasan Bina Utama. Hatinya bahagia telah sampai dengan selamat, dipandanginya gedung kokoh di depannya. Ada rindu dan haru yang siap ditumpahkannya.


Pak Edi, salah seorang security yang sedang berjaga, nampak kaget melihat kedatangannya.


Karena sudah terdengar di semua keluarga yayasan, bahwa Desta telah berada di Jepang untuk bekerja.

__ADS_1


Desta menjelaskan, kedatangannya ini hanyalah cuti, dan akan pergi lagi akhir minggu depan. Begitupun juga dengan anak-anak lain yang ditemuinya, Desta dengan semangat tidak bosan menerangkan rasa keingintahuan mereka semua.


Desta telah berdiri di depan kantor ibu Hartini, hatinya bergemuruh menahan bahagia. Hatinya rindu pada wanita itu, baginya hanya wanita itulah figur sosok ibu di hidupnya.


Desta mengetuk puntu, terdengarlah sahutan bu Hartini dari dalam ruangan. Desta masuk ruangan itu dengan mendorong pintunya perlahan.


Bu Hartini nampak menulis sesuatu dan meliriknya sepintas, kemudian melihatnya lagi dengan pandangan seolah tak percaya.


"Desta! Kamukah itu!?"


Wanita itu bergegas mendekati Desta, seolah tak percaya. Segera diraihnya gadis itu dalam pelukannya. Desta menyambut dengan rangkulan eratnya. Mereka berpelukan beberapa saat lamanya.


"Bu... apa kabar, sehat-sehat saja kan?"


Desta memandangi bu Hartini dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil meneteskan air mata yang tumpah keluar.


"Kenapa tidak berkirim kabar dulu pada ibu, setidaknya ibu tidak terkejut melihatmu."


Bu Hartini memandangi Desta, keduanya kini telah duduk berhadapan. Desta menceritakan yang sesungguhnya pada wanita itu, tentang wasiat dan pernikahannya yang gagal dengan Benn. Namun kelakuan Benn padanya ditutupnya rapat-rapat. Juga hubungan kerjanya yang masih bersambung dengan Leehans.


Bu Hartini nampak terkejut, mendengar fakta bahwa Desta ada hubungan pribadi dengan para pemilik yayasan itu. Ini bermakna Desta bukan anak sembarangan. Wanita itu nampak merenung, ada sebuah hal yang melintas di kepalanya.


Namun diabaikannya sesuatu hal itu dan dipandangmya lagi Desta sambil tersenyum.


"Jadi kamu sepuluh hari saja pulang ke sini?"


"Iya bu, setelah itu saya akan kembali pada tuan Leehans, untuk memulai pekerjaan saya."


Mereka bercakap-cakap agak lama. Bu Hartini memberi tahu bahwa kamar Desta sudah terisi oleh anak yang lain. Namun telah siap sebuah kamar yang kosong, kamar yang bersebelahan dengan kamar Gilang. Terletak di bagian paling belakang dengan model kamar terbuka.


Bu Hartini mengantarnya ke kamar baru, mengatakan bahwa barang-barang Desta dari kamar lamanya, ada di almarinya di kantor. Nanti akan ada pegawai khusus yang akan membawanya kembali untuk Desta di kamar itu.


Kamar itu telah bu Hartini putuskan, untuk diberikannya pada Desta, bisa digunakan bila gadis itu kembali sewaktu-waktu.Desta nampak menyukai kamar barunya, saat ini gadis itu telah menempatinya di dalam.


***


Setelah mendapat tidur siangnya yang cukup, Desta keluar kamarnya sehabis waktu ashar. Gadis itu mengenakan salah satu gamisnya, yang waktu itu dibelikan oleh Leehans sebelum bertunangan. Desta nampak segar berseri dengan gaun warna peachnya itu.


Mas Gilang telah mengiriminya pesan wa, untuk mengajaknya keluar berburu kuliner sore hari.

__ADS_1


Dengan suka cita, diterimanya tawaran itu, sekalian ingin membeli beberapa oleh-oleh untuk anak yayasan dan khususnya buat bu Hartini dan Ajeng.


Dirinya kembali ini hanya dengan tangan kosong, karena tidak sempat berbelanja apapun kemarin. Desta sangat bersyukur, kini dirinya telah mempunyai tabungan yang cukup, setidaknya untuk membeli oleh-oleh yang banyak.


__ADS_2