Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Efek Mabuk Pesawat # 48


__ADS_3

Lelaki yang dicari-cari telah berdiri rapat di sampingnya. Rasa terkejut teramat sangat, membuat jantungnya berdegup tak karuan. Masih dengan nafas terengah, digeser sedikit tubuhnya agak menjauhi lelaki itu. Ditatapnya wajah Leehans yang semakin dingin tanpa senyum di wajahnya sedikitpun.


"Anda sengaja bikin saya jantungan! "


Setelah nafasnya mulai kembali normal, Desta memprotes kelakuan Leehans yang konyol itu. Protes Desta hanya ditanggapi dengan renungan tajam dari mata Leehans, lalu dengan santai diambilnya koper gadis itu, dan diseretnya menuju mobil bersama sopir di dalamnya.


Sang sopir yang telah lama menunggu itu, sedang tertidur di kursinya. Leehans membuka pintu mobil penumpang, dan mengisyaratkan Desta yang mengikutinya di belakang, untuk masuk terlebih dahulu. Kemudin lelaki itu juga duduk di kursi yang sama, bersebelahan dengan Desta.


Sopir dengan nama Junichi, yang telah dibangunkan Leehans dari tidur lelahnya itu, mulai membawa Desta dan Leehans menuju pusat kota Tokyo. Kebisuan di antara keduanya terus berlanjut, hingga Leehans menyuruh sopir untuk membelok di sebuah resort jepang yang mewah.


Leehans telah memilih menu favoritnya, namun gadis di depannya itu hanya diam membisu, tidak tertarik memilih menu apapun. Meski dalam buku menu tertulis deretan nama makanan berbau khas Indonesia, gadis itu tetap mengacuhkannya.


"Isilah perutmu. "


Leehans sedikit menegur kebisuan Desta. Gadis itu hanya menggeleng pelan, sambil memandang sayu pada Leehans. Nampak ada sesuatu yang sedang disembunyikan gadis itu.


"Ada apa?kau sedang tidak berselera? "


Leehans nampak teepancing dengan ekspresi Desta yang menolak makan itu. Namun gadis itu kembali menggeleng pelan, kali ini wajahnya telah berubah merah. Tiba-tiba Desta memegang erat lengan Leehans dengan wajah merahnya dan berkata gugup.


"Tuan Hans, tolong tunjukkan toilet, cepat tuan ku mo.. hon. "

__ADS_1


Desta berbicara tergesa, sambil tangannya mencengkeram kuat lengan Leehans yang menatapnya dengan heran. Mendengar kata toilet, seketika Leehans sedikit paham maksud Desta, segera diambilnya tangan halus itu, dan digenggamnya dengan cepat menuju toilet terdekat. Leehans begitu hapal dengan peta restaurant itu, karena sering datang berkunjung dengan banyak relasinya, untuk jamuan makan ataupun sekedar minum saja.


Tidak mampu menunggu masuk dalam toilet, Desta segera menghampiri sebuah wastafel yang menempel di dinding luar toilet. Gadis itu memegangi pinggirannya dan membungkukkan badan, merendahkan kepalanya.


"Huek.. huek.. huek... "


Desta menyemburkan isi perutnya ke lubang wastafel, karena mendadak mual dan pusingnya datang menyerang lagi lebih hebat. Leehans memandang terpaku di tempatnya, menungguinya dengan diam. Leehans nampak bergerak mengambil gulungan tisu toilet, dan diberikannya pada gadis itu.


Meski ada sisa rasa pusingnya, benar-benar lega setelah memuntahkan semua isi perutnya tanpa sisa. Desta kini berjalan di belakang Leehans untuk kembali ke mejanya. Namun karena khawatir menurunkan selera makan Leehans, gadis itu memilih duduk di bangku taman resto, menunggunya menghabiskan makanan yang telah dipesannya tadi. Karena merasa perutnya masih tidak nyaman, paksaan Leehans untuk mengisi perutnya, dengan terpaksa tetap ditolaknya.


***


Ia tidak mau gadis yang sedang tidur di sebelahnya ini terserang flu karena hawa dingin, akibat perut kosongnya.


Sopir sudah membelokkan mobil mewah itu, memasuki gerbang tinggi dari sebuah rumah besar dan mewah. Rumah itu di lengkapi dengan halaman sangat luas, yang semakin menambah kemegahannya.


Leehans hendak membangunkan Desta dari tidurnya, namun melihat wajah gadis itu begitu pucat, hatinya tidak tega. Ia menyuruh sang sopir, membawakan koper miliknya beserta koper Desta, untuk diantar ke kamarnya di lantai atas. Sedang dirinya nampak termenung sejenak memandang Desta yang tidur sangat lelap itu. Dengan menghirup nafas dalamnya, tangannya terulur mengangkat tubuh Desta dalam dekapannya. Leehans mengeluarkan Desta dari dalam mobil, dan membopong tubuhnya seperti sedang menggendong bayi baru lahir.


Tubuh Desta yang ramping itu ternyata lebih berat dari perkiraan Leehans, dengan langkah yang gesit dicapainya kamar Desta tanpa hambatan apapun. Diletakkannya perlahan tubuh gadis itu di pembaringan yang nampak masih begitu rapi. Leehans melepaskan sepatu Desta dan menyelimutinya sebatas dada. Gadis itu terlihat nyaman dalam tidurnya. Pandangan Leehans terhenti pada kerudung di kepala gadis itu, sejenak bimbang ingin melepasnya, namun dipikirnya itu tidak etis dilakukannya.


Sebelum menutup pintu, diperhatikan sejenak kamar tidur luas itu. Kamar yang begitu rapi, banyak terrdapat hiasan cantik di dinding dan di meja. Mungkin ibunya yang telah menyiapkan kamar ini sebelum hari kedatangannya. Leehans nampak tersenyum samar, mengingat betapa sayang mommynya itu pada Desta.

__ADS_1


***


Desta terbangun menjelang maghrib, saat salah seorang pegawai rumah mengantar bubur dan sup ke dalam kamarnya. Aroma sup itu menggelitik hidungnya, Desta bangun dengan cepat, meraih handuknya menuju kamar mandi. Saat mandi, ingatannya tersadar bahwa kini telah berada di kamar mandi rumah Leehans. Ingatannya kembali dipertajamnya, dia tidak merasa berjalan nemasuki rumah ini, apalagi kamar ini. Dirinya mengantuk dan tertidur saat perjalanan dengan Leehans menuju rumah ini.


Dengan tubuh yang kembali segar, Desta tidak sabar untuk segera menyendok bubur dan sup yang terlihat sangat sedap itu. Segera di kunci pintu kamarnya, khawatir seseorang masuk dalam kamarbya tanpa permisi. Desta sedang tidak berkerudung, dia ingin menikmati makanan itu dengan nyaman, dan hati yang tenang.


***


Setelah kembali ke kamarnya, Leehans segera membersihkan diri dan bertukar pakaian, memakai baju rumahan yang nyaman. Sebuah T-shirt yang pas melekat di badannya serta celana pendek longgar favoritnya. Lelaki itu terlihat atletis dan macho dengan rambut lurusnya yang makin berkilat saat basah.


Leehans turun memberi tahu pada pegawainya, agar segera membuatkan bubur dan sup. Kedua pesanan tuan muda mereka itu, harus diantar ke kamar Desta sebelum adzan maghrib. Seorang pegawai dapur yang dijumpai Leehans, segera bergegas menyiapkan pesanan itu sambil memanggil seorang pegawai dapur lainnya.


Leehans mengendarai mobil pribadinya menuju salah satu resto mewah di kota Tokyo. Ibu dan ayahnya telah berpesan, agar dijemput olehnya jika tidak merasa lelah.


Jarak rumah keluarga Lee dengan resto itu hanya beberapa kilometer saja. Leehans yang masih lajang itu, memang suka merindukan orang tuanya ketika berjauhan. Maka Leehans sangat bersemangat memenuhi permintaan kedua orang tersayang itu


Leehans sampai di pelataran parkir resto dengan cepat. Leehans hendak keluar dari mobilnya, namun gerakan itu terhenti tiba-tiba. Pandangan matanya menangkap seorang wanita tengah berjalan di depannya. Wanita sangat cantik itu mendekati mobil yang terparkir di sebelah mobil Leehans. Leehans nanar mengawasi wanita yang mulai masuk ke dalam mobil, dan mulai menghidupkan mesinnya.


Leehans tidak akan salah mengenali siapa wanita itu. Meski telah berlalu bertahun- tahun, tapi ingatan tentang sosok cantik itu tidak pernah luntur di matanya. Shena, wanita itu dipastikannya adalah Shena, mantan kekasih yang meninggalkannya tujuh tahun lalu.


Tubuhnya yang semula terasa segar, kini mendadak seperti berapi. Ingin Leehans keluar dan menghampirinya. Wanita yang semakin bertambah mempesona itu, adalah wanita yang sama. Wanita yang pernah membuatnya berbunga-bunga sekaligus seakan ingin mati waktu itu. Dan wanita yang begitu ingin dijumpainya tujuh tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2