Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Resmi Jadi Asisten # 69


__ADS_3

Gamis yang dipakai Desta berwarna kuning gading dengan kerudung warna hijau pupus. Make up tipis yang disapukan Desta di wajahnya, menempel cantik dengan polesan warna orange kemerahan di bibir. Pagi ini, penampilan Desta sangat cerah dan segar. Jika seseorang sedang mengantuk, maka dengan melihat gadis ini rasa ingin tidur pun akan pergi jauh-jauh.


Desta telah bersiap untuk pergi kerja ke perusahaan milik Leehans. Dari keterangan yang dikatakan madame Sharon, hari ini asisten Leehans akan datang bekerja kembali. Cuti panjang asisten itu akhirnya berakhir juga. Desta tidak tahu, pekerjaan apa lagi yang akan diberikan Leehans padanya. Karena hingga hari ini pun, lelaki itu belum juga memberikan sebuah job pribadi yang jelas untuknya.


***


"Desta san...Ambil lagi nasimu, biar tubuhmu itu semakin berisi. Mommy yakin, kau gemuk sedikit saja, artis tak beradap itu akan kalah jauh darimu."


Nyonya Yuri yang telah pulih dan kembali ceria, pagi ini telah bergabung untuk sarapan pagi bersama di meja makan keluarga. Hal pertama yang membuat bersemangat, tentu penampilan modis Desta yang sangat diidolakannya. Dengan gembira dia berkata pada Desta, bermaksud menyindir anak lelakinya yang duduk di depan mereka.


Mr. Lee memperhatikan Desta sebentar dan mengangguk kecil membenarkan ucapan istrinya. Namun dirasanya, Desta tidak perlu menjadi gemuk untuk mendapat nilai lebih dari artis yang diberitakan sedang bersama Leehans di televisi. Selain berbadan ideal, gadis bergamis itu memiliki inner beauty berlebih yang mampu mempesona pandangan siapapun. Diam-diam Mr. Lee pun juga menyukai gadis muda itu sebagaimana pendapat istrinya.


"Mom, petang nanti Benn dan orang tuanya akan datang."


Leehans bersuara, mengabarkan kedatangan Benn bersama orang tuanya ke rumah.


"Wah..! Benn akan datang?! Lalu bagaimana anak gadisku? Desta, kau akan ikut Benn lagi?"


Nyonya Yuri nampak khawatir akan berpisah dengan Desta kedua kalinya, demi mengikuti Benn kembali ke Indonesia. Dipandanginya Desta dengan mimik nampak sedih.


"Tentu saya tidak akan mengikuti Benn lagi nyonya. Cukup sekali saja saya pernah tertipu olehnya."


Desta seperti menegaskan kembali perlakuan kurang ajar Benn padanya.


"Itulah Hans. Apa kurangnya Desta bagimu hah?! Kau malah asyik jalan dengan artis seksi itu. Jangan-jangan kau sudah ternoda? Kau sudah tidur dengannya? Berapa kali hah?!"


Nyonya Yuri tersulut rasa kesal karena perkataannya sendiri.


Leehans diam menghabiskan isi piring sambil sesekali melihat ibunya yang sibuk bicara sendiri dari tadi. Desta hanya menunduk pada piringnya, menyimak semua perkataan nyonya Yuri pada Leehans.


***


Dengan hati bertanya, Desta menunggu pekerjaan apa yang akan diberikan Leehans padanya. Duduk diam di sofa ruangan itu, hampir sejam lamanya terasa sangat bosan. Sedang Leehans belum juga kembali semenjak keluar kantor dari pagi-pagi awal datang.


Asisten Leehans yang sudah datang kerja menyapanya. Lelaki itu masih muda, dan asli warga jepang, namun sangat fasih berbahasa inggris dengan lancar. Dari name tag yang Desta baca, namanya Harry. Harry sangat ramah dan bersikap sopan pada Desta. Harry menyuruhnya bersabar saat Desta mengeluhkan kebosanannya duduk diam.


Desta pergi ke pantry mengambil kopi untuk Leehans, karena dilihatnya meja itu masih kosong. Sedang Harry terlihat sangat sibuk di ruang kaca. Tidak ada Nemo di pantry, mungkin gadis itu sedang berkeliling dengan tugasnya.


Lelaki gagah dengan jas kerjanya itu telah krmbali dan duduk di kursi kerjanya. Cangkir kopi yang baru diletak Desta di meja, diambilnya dan diseruputnya sedikit.


"Desta, kenapa kopi ini manis? Tukar dengan rasa seperti buatanmu waktu itu."

__ADS_1


Dengan diam, dilakukannya apa yang diinginkan Leehans pada kopinya. Tak lama, Desta kembali membawa cangkir kopi baru buatannya. Tanpa disuruh, gadis itu duduk di depan Leehans, menunggunya selesai menyeruput kopinya.


"Tuan Hans, saya bosan. Apa yang harus saya lakukan?"


Leehans menatap Desta dengan ekspresi aneh, ada senyum yang disimpannya.


"Kau tidak suka duduk diam? Berdirilah di belakangku sini, kau bisa memijat punggungku sebosanmu."


Melihat respon Desta yang melebarkan mata indahnya, Leehans tak mampu menahan senyum.


"Dengar baik-baik Desta. Kau tidak boleh lupa, perusahannku telah menerima modal saham 15% dari nenekmu dan Benn. Meski kau belum menikah, aku tidak akan tamak menguasainya sendiri. Suatu saat kau bisa mengambilnya. Jangan khawatir, makin lama akan bertambah. Kau boleh menghitung, betapa kaya kau sebenarnya."


"Jadi, aku akan menghormati posisimu. Kau akan jadi asistenku saja. Kau puas?"


Leehans memajukan tubuhnya, memandang Desta lebih dekat lagi.


"Baiklah tuan Hans. Jadi asisten anda.. apakah akan susah?"


Desta khawatir tidak mampu mengerjakan tugasnya dengan baik.


"Kau cukup membuatku merasa senang, maka pekerjaanmu akan gampang."


"Tolong tuan Hans, bersikaplah profesional padaku. Jangan main-main."


Desta memang sebal, seperti tidak dihargai oleh Leehans akan kemampuannya.


"Oke... Tugasmu adalah menemaniku ke manapun. Meeting , makan, bertemu relasi atau bahkan pada acara apapun yang ku inginkan."


"Saya seperti tidak punya waktu untuk diriku sendiri, betulkah tuan Hans?"


Desta melayangkan keberatannya.


"Bukankah sebentar lagi aku adalah suamimu? Apa bedanya waktumu dengan waktuku, alangkah mudah kita samakan saja..."


Leehans menjawabnya dengan begitu santai.


"Saya belum menyetujuinya. Anda tidak boleh sesuka hati, tuan Hans. Bagaimana kalau sekarang saya menolaknya?"


Desta mencoba mengancam Leehans dengan jawabannya.


"Desta..jangan begitu. Tidak perlu kau jawab sekarang, pikirkanlah kembali, jangan beri jawaban tidak enak itu lagi."

__ADS_1


Kini Leehans yang terlihat khawatir akan kesungguhan ucapan Desta barusan.


"Tugasmu adalah benar, menemaniku meeting, bertemu relasi, dan makan. Tapi tentu menyesuaikan dengan waktumu. Kau bisa menolaknya sekali waktu."


"Tidak berat bukan?"


Desta memperhatikan bicara Leehans dengan sungguh-sungguh. Lalu mengangguk menyetujui.


"Baiklah. Saya setuju. Terimakasih tuan Hans."


"Sekarang saya izin pada anda untuk bersantai, sembari menunggu panggilan anda. Tugas saya tidak berat sama sekali bukan?"


Desta tersenyum pada Leehans, ada mimik mengejek di wajahnya. Leehans menyadarinya, namun dibiarkannya saja gadis itu pergi berlalu.


Desta sedang mengikuti Nemo menuju gedung bagian produksi perusahaan. Letaknya agak jauh dari kantor Leehans.


Gedung yang terlihat lengang jika terlihat dari luar, ternya berisi ratusan pekerja operator produksi di dalamnya. Desta tertarik mendekati seseorang yang sepertinya tidak asing, sedang membetulkan sebuah mesin produksi yang berhenti beroperasi


Lelaki itu adalah pegawainya Leehans. Seorang teknisi maintenance mesin produksi, yang memperbaiki mesin penghasil prodak yang bermasalah. Dan dia memang berasal dari Indonesia. Mengambil part time ilegal di restaurant terdekat. Hari itu, hari di mana mereka bertemu Shena, Leehans hanya pura-pura tidak mengetahui tentang pekerjanya itu.


"Hai ... Dari Indonesia?"


Desta mencoba mengenalnya.


"Eh .. hai..." Lelaki itu nampak berfikir, seketika wajahnya berubah cerah.


"Kamu yang kemarin ke resto seberang jalan?"


Lelaki itu sangat gembira bertemu lagi dengan Desta, gadis senegaranya. Lelaki itu nampak berbicara lirih pada Desta.


"Kau pergi dengan bos besar. Kau sebenarnya siapa?"


"Hanya asisten saja. Aku beruntung, terpilih melewati sebuah seleksi."


Desta menjawab dengan sama lirihnya, paham maksud lelaki itu. Jika terdengar orang, pasti akan menimbulkan gosip hangat. Sedang di area ini, memang banyak dilihatnya pekerja dengan wajah-wajah Indonesia, baik laki-laki ataupun perempuan. Sepertinya gedung ini akan menjadi tempat favorit dikala senggangnya.


####


πŸ€—πŸ€—πŸ€— Terimakasih telah menyimak novel Desta Leehans.. Maaf masih up date sehari 1 x aja..


πŸ™πŸ™πŸ™ Lagi gencar bikin kue lebaranπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2