
Pagi itu suasan sarapan sedikit bising dari hari sebelumnya. Membahas adanya kabar gembira bahwa Mr. Lee, akan datang dari Jepang siang ini. Mr. Lee akan menemui peserta, untuk beramah tamah sekaligus memberi bonus sebagai beasiswa terakhir.
Karena sehabis ini, baik sebagai pemenang seleksi maupun peserta tersisih, akan disalurkan bekerja di bagian yang sesuai dengan hasil prestasi seleksi kali ini.
Desta nampak duduk bersebelahan dengan Maya.
"Kamu sudah benar-benar sembuh May? " diamatinya wajah di debelahnya dengan seksama, masih sedikit pucat.
"Kurasa jauh lebih baik dari semalam Des, sehabis ini akan kuminum obat itu lagi, pasti akan berangsur membaik. Sudah, kamu harus fokus, mudah-mudahan kamu lulus ya. " Maya berkata-kata perlahan.
"Jangan risau May, aku akan berusaha. " Desta mengangkat lengan dengan tangan mengepal tanda bersemangat.
Schedule interview dilakukan tepat pukul delapan pagi. Orang pertama yang dipanggil adalah ranking 5, yaitu Devina Putri. Gadis tinggi jangkung, berwajah manis dan berotak encer dari Bandung. Dia berjalan menuju aula mengikuti asisten Lucky yang berjalan cepat.
Waktu terasa lama, Desta yang bagian urutan paling akhir mendapati setiap temannya yang habis interview, nampak berseri-seri wajahnya. Teman-temannya mengatakan bahwa, orang yang menyeleksi langsung ini sangat tampan, seperti legenda jelmaan dewa yunani .Namun mereka tidak yakin siapakah orang yang telah menginterview itu. Yang jelas Bukanlah Mr. Lee dan bukan juga direktur Benn.
Karena mereka telah beberapa kali meliat langsung keduanya, saat mengunjungi yayasam tempat mereka.Mungkin hanya Destalah yang belum pernah mengenali siapa-siapa di sini.
Setelah menunggu hampir sejam, kini giliran Desta dipanggil asisten Lucky untuk masuk aula. Dalam aula terdapat sebuah ruangan lagi yang agak tersembunyi, yang pintunya terlindung di balik rak besi besar dipenuhi deretan buku yang tersusun rapi.
Asisten Lucky membukakan pintu, dan mengisyaratkan untuk masuk. Destapun beringsut melangkah kedalam, dan pintupun kembali tertutup rapat. Matanya mendapati seorang lelaki tengah berdiri menghadap jendela sambil menelepon memunggunginya. Desta menungguinya dengan resah. Sesaat panggilan lelaki itu berakhir. Tubuhnya berbalik dan mendapati Desta tengah mematung memandangnya.
"Desta, Desta Galerie Aisha? silahkan mendekat." Suara bariton dan berat itu bergema memenuhi ruangan.
"Iya.. betul pak, itu nama saya." Desta menjawabnya sambil maju mendekat. Ditatapnya wajah lelaki itu dengan gusar. Deg! Alis hitam pekat itu... Matanya, mata tajam berkilat-kilat, hidung itu mancung dan panjang,sangat menawan...
__ADS_1
"Nona Desta! Apakah kamu disuruh masuk ruangan ini hanya untuk menilai wajahku. " Desta gelagapan, wajahnya menunduk sedikit malu, tak kuasa mengangkat wajahnya kembali.
"Maaf, saya tidak sengaja pak. " Desta merasa harus menjawab meskipun salah tingkah.
"Angkatlah mukamu, saya tidak suka diabaikan. Berbicaralah padaku dengan sejujurnya, tentang alasanmu mengikuti seleksi ini. "
Desta dengan cepat mengangkat mukanya, dan kembali mendapati wajah Tampan tapi datar itu sedang merenungnya.
"Awalnya saya hanya ingin mencari kerja di sekitar kota Surabaya sebagai pelayan perbankan. Tapi akhirnya saya ke sini juga."
"Saya ingin menyenangkan hati ibu pengasuh saya. Kemudian membawa nama baik yayasan saya di Surabaya. Terakhir bahwa saya berharap lulus seleksi, dan dapat bekerja untuk pekerjaan yang layak sesuai sekolah saya. Karena saya benar-benar ingin hidup mandiri dengan kemampuan kaki tangan saya sendiri.
"Pekerjaan yang akan diberikan ini sangat berat, dan kamu mesti hidup jauh mengikuti atasanmu di Jepang, bagaimana? Apakah kamu sanggup andai saja terpilih?"
Leehans memicingkan mata menunggu jawaban gadis berkerudung di depannya.
"Apakah kamu berharap mendapat gaji yang fantastis? "
"Tentu saja, karena saya manusia normal. Tapi saya merasa malu jika berharap berlebihan, itu akan membuat saya seperti tidak tahu balas budi. " Suara Desta tegas, namun kali in terdengar sedikit pelan.
Mendengar jawaban itu, sepertinya Leehans ingin tertawa. Gadis cantik di depannya ini terlihat jujur, cerdas dan beretika. Namun mukanya kembali masam saat ingat sesuatu.
"Sepertinya kamu cukup bagus, tapi pekerjaan ini tidak menyukai gadis penakut sepertimu. " Leehans berkata sedikit sinis.
Gadis itu memperhatikan wajah lelaki di hadapannya. Lelaki itu sedang meraih gelasnya yang berisi air mineral, dan meminumnya hingga habis. Bibir menawan itu nampak basah karena air. Desta tersentak, bibir basah dan merah itu.. bukan merah darah..
__ADS_1
"Andakah hantu di lantai atas, yang telah mengganggu saya semalam? "
Desta bertanya penasaran sambil menahan sedikit kesalnya. Namun dia merasa lega, jika sosok hantu semalam itu ternyata adalah lelaki super tampan, yang sekarang nyata sedang duduk di depannya.
Lelaki itu berdiri mendekati Desta, gadis itu nampak gugup dan sedikit waspada. Berpikiran jika lelaki ini adalah manusia jadi-jadian. Bisa saja bukan?
Wajah datar Leehans berusaha sembunyi dari keinginannya untuk tertawa. Tubuhnya yang tinggi membuat wajahnya sedikit menunduk, menatap mata indah Desta yang dipenuhi bulu mata lentik alami tanpa buatan. Gadis polos tanpa polesan, mungkinkah ayahku akan menyukainya?
"Jangan terlalu gemar menonton film horor, kamu bisa jadi paranoid yang tidak bisa membedakan antara mengganggu dan ingin tahu. Dibagian mana kamu merasa terganggu? " Leehans mamajukan tubuhnya, seakan hendak menghempas tubuh mungil di hadapannya.
Bisa saja Desta mendorong lelaki yang menjulang di depannya ini. Tapi demi menjaga etikanya, dia mengalah dan mundur dua langkah. Sekarang dirinya yakin, bahwa hantu semalam benar-benar orang yang menginterviewnya sekarang. Jadi siapakah sebenarnya lelaki ini?
"Nona Desta, tahukah anda siapa saya? " Pertanyaan Leehans membuyarkan lamunan Desta, pertanyaan yang mewakili isi di benaknya. Namun belum sempat mencoba menebak, pintu terbuka disertai assisten Lucky menampakkan diri, dan menyuruh Desta mengikutinya keluar ruangan.
Leehans kembali duduk di kursinya, meneliti semua coretan yang dibuatnya,saat sesi tanya jawab dengan kelima calon barusan. Semua calon ada kelebihan serta kekurangannya, tidak ada yang sempurna. Tapi dua orang yang diinginkan ayahnya, sudah dia putuskan dan yakin itulah yang terbaik.
Desta dan empat temannya kembali berkumpul di ruang aula. Di sana telah menunggu asisten Lucky, dia nampak memegang sesuatu. Ternyata amplop pengumuman hasil akhir dari seleksi tahun ini. Amplop diberikan pada mereka, sesuai nama yang tertulis di sampul masing-masing.
Desta membuka sampul amplop yang bertulis namanya, lalu teliti membaca. Hatinya berdegup sedikit kencang setelah memahami isinya. Dia terpilih untuk berangkat ke Jepang, sebagai pegawai yang langsung bekerja untuk Mr. Lee dan akan menetap di sana sementara. Alhamdulillah, Desta mengucap syukur gembira dalam hatinya.Dan seorang lagi teman yang seberuntung dirinya adalah Rika Sidempuan. Gadis berbadan besar dari Jakarta.
Asisten Lucky menerangkan, bahwa dua orang yang terpilih berangkat ke Jepang bersama Mr. Lee, yakni Desta dan Rika, akan berangkat lusa, dua hari lagi. Sementara ini, dokumen keberangkatan ke luar negeri keduanya, masih akan mulai diurus olehnya di kantor Imigrasi negara.
Teman Desta bergilir mengucapkan selamat padanya. Setelah puas berbincang berlima di aula. Mereka pergi ke kamar masing-masing, untuk bersiap lagi dalam acara bagi-bagi bonus oleh Mr. Lee. Waktu makan siang terasa tiba begitu lama.
*****
__ADS_1
🤗🤗🤗Terimakasih udah mampir..
Harap dukungannya, tinggalin like, komen dan favorite yaa... 🙏💪💪💪😍