
Perjalanan menuju salah satu tahanan di kota metropilis Tokyo memakan waktu kurang lebih tiga puluh lima menit lamanya.
Sang sopir membelok mobil menuju sebuah mega gedung tahanan dan berhenti di luar gerbang. Dua orang aparat negara, lengkap dengan atribut dan pistolnya, bergegas keluar memeriksa mobil dan isinya.
Leehans dan Desta telah berada di luar dan memberi keterangan untuk alasan kunjungannya. Para penjaga di gerbang itu telah mendapat kecocokan dan kesesuaian data serta alasan dari Leehans. Mereka mengijinkan keduanya serta sopir dan mobilnya untuk memasuki area gedung tahanan super luas.
***
Sang kepala kepolisian dan kepala tahananlah yang menjumpai Leehans sendiri di sebuah ruan kantor pribadinya.
"Tuan Hans. Akhirnya, tokoh penculik istri anda telah kami tangkap. Dan hebatnya, Istri anda sendirilah yang mengungkapnya."
Kepala polisi berbicara dengan bahasa Inggris, dan nampak memandangi wanita bergamis di samping Leehans dengan pandangan salut. Kepala polisi itu bernama Andrew Asaki.
"Tuan Hans dan Nona Desta.., kami mohon maaf yang sangat, atas kegagalan kami menemukan anda. Mohon makhlum dari anda, nona Desta!"
Kepala polisi itu sedikit membungkukkan badan pada Desta dan Leehans.
"Semua sudah terjadi sir Andrew, malang tidak bisa ditolak. Dan sekarang istri saya sudah kembali dengan selamat. Saya tetap berterimakasih atas segala upaya yang anda lakukan untuk membantuku waktu itu."
Leehans yang menyahut perkataan kepala polisi itu dengan jawabannya yang tulus.
"Baiklah, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada istri anda untuk melengkapi semua data-data saya guna melanjutkan kasus ini ke persidangan secepatnya."
lAndrew mempersilahkan Leehans dan Desta untuk duduk di kursi yang telah disediakan untuk mereka.
Desta menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Andrew untuknya begitu lancar dan tenang. Tidak satupun yang berbelit, karena Desta menjawabnya dengan jujur, detail dan apa adanya.
Leehans juga ikut menyimak semua pertanyaan sekaligus detail jawaban yang disampaikan istrinya. Justru dari pertanyaan Andrew inilah, Leehans dapat mengetahui perjalanan penculikan Desta hingga akhirnya bertemu, dengan sedetailnya.
__ADS_1
Moment tegang di helikopter, saat Desta memilih menyerahkan diri pada mafia kembali, dan memberikan pin berlian dari Erik sebagai kenangan untuk para pemuda Indonesia itu. Bahkan foto-foto Desta yang dikirim gilang, yang didapat dari penadah di Macau itu, diambil diam-diam saat Desta bertukar baju dan didandani wanita tua itu. Leehans baru paham, bagaiman foto-foto Desta itu diambil dan diedit.
*****
Seorang wanita sangat cantik berjalan pelan dan setengah terseret oleh kepala penjara, menuju ruang tunggu tahanan. Desta dan Leehans menatap wanita itu dengan perasaan berlainan. Jika tak ingat akan kesalahan besar yang telah dilakukan wanita itu, mungkin Desta sudah sangat iba. Tapi mengingat derita karena perbuatan wanita itu, hati Desta mengeras.
"Hans, cabut kasus ini! Keluarkan aku dari sini, Hans!" Shena memohon histeris begitu sampai di hadapan keduanya.
"Shena! Aku berulangkali sudah memperingatkanmu untuk tidak lagi mengusik hidupku! Apapun yang sudah kau lakukan padaku dulu, aku tak ingin mengingatnya! Tapi, kau nekat mrndekatiku!" Leehans berkata sangat dingin, wajahnya mengeras menatap Shena yang telah berbaju tahanan.
"Ampuni aku, Hans. Aku menyesal, aku janji, begitu keluar, aku akan pergi ke luar negara!" Shena akan memegang lengan Leehans, namun dengan sigap, kepala tahanan memborgolnya kembali.
"Kau pikir aku bodoh?! Setelah puas kau kacaukan kehidupanku, kau bebas plesiran ke luar negri?!" Kali ini suara Leehans sangat keras. Desta bahkan memegangi lengan Leehans dan menepuk-nepuk pelan punggungnya.
"Tidak Hans. Ampuni aku, maafkan aku Hans!" Shena mulai bersimpuh, menghadap kaki Leehans. Leehans mundur, khawatir jika Shena memegang kakinya.
"Dengar Shena! Meskipun aku sangat geram dengan kelakuanmu, tapi aku tetap membiarkanmu. Meski kau menyeretku ke dalam masalah dengan para wartawan itu, aku juga tetap melepasmu. Bahkan terakhir aku memperingatkanmu, saat kau fitnah aku di Brunei Darussalam waktu itu, aku juga tidak menuntutmu!" Leehans nampak mengatur nafasnya, tidak ingin tenggelam dalam emosinya sendiri.
"Hans.. Ampuni aku, Hans!" Shena tak tahu lagi bagaimana harus memohon. Leehans sudah membatu, sepertinya tak mungkin lagi dirayu.
Shena tidak kehilangan akal, digeser duduknya ke samping mendekati kaki Desta. Saat kaki yang tertutup gamis itu akan dirangkulnya, Desta sigap memundurkan dirinya. Shena hanya memegang hawa kosong belaka.
"Istrinya Hans, Desta, ampuni aku!" Shena telah berdiri kembali dan berusaha mendekati Desta.
"Berdiri di tempatmu! Jangan kau sentuh Istriku!" Leehans menghardik Shena dengan nyaring.
"Desta, maafkan aku, cabutlah laporan kalian. Kasihani aku Desta.." Shena mengarahkan bicaranya pada Desta. Istri Leehans itu terlihat gelisah ingin menanggapi bicara Shena.
"Shena, aku ingin bicara padamu sekali saja. Jadi setelah ini, kau tak usah memohon lagi padaku." Desta berbicara tegas dan datar sambil menatap wajah cantik Shena.
__ADS_1
"Dengar, Aku ingin kau mendapat balasan yang setimpal atas kejahatan yang kau lakukan padaju tempo hari. Pengadilan yang akan menentukan lama hukumanmu. Jadi, belajarlah berjiwa besar. Jalanilah prosedur hukum di negaramu ini. Kelak, jika prestasimu di penjara bagus, kau pasti menerima remisi. Entah itu dariku, atau dari negara ini." Ada sebuah janji untuk Shena di balik ucapan Desta yang dingin.
Shena serasa putus asa. Berbicara dengan keduanya sudah tak ada guna lagi. Hanya tangis sedih serta tangis sesal yang mampu menemaninya. Shena terus diam dan menurut saat para kepala penjara kembali menarik tangannya untuk kembali ke dalam salah satu sel tahanan miliknya di dalam.
Leehans dan Desta memandangi punggung Shena yang hilang menjauh, di bawa kepala tahanan masuk kedalam salah satu sel penjara. Berbaur dengan para tahanan lain, menunggu proses pengadilan mereka esok hari.
Leehans memandangi sang Istri dengan rasa sayang dan bangganya. Keduanya tersenyum lega dan berjalan keluar sambil berpegangan tangan menuju halaman parkir, menghampiri mobil Leehans dan sopirnya.
Rasa terik siang hari di jalanan metropolis Tokyo, seakan tak berarti saat keduanya beserta sopir merasa hawa dingin luar biasa dari mobil mewah yang besar milik Leehans.
"Desta.." Leehans memanggil dengan suara berat empuknya.
"Yaaa.. otto Hans... Ada apa?" Desta menengadah. Desta sedang menyandar manja di dada Leehans yang keras.
"Ayo ku antar ke rumahmu, di Omotesando.." Leehans meremas tangan Desta di genggamannya.
"Aku..aku tinggal di sana?" Desta terlihat agak bingung.
"Iya, keadaan sudah aman, kau boleh tinggal di sana." Leehans nampak sabar menjelaskan.
"Aku tinggal sendirian di sana?" Desta bertanya tidak yakin.
"Iya...!" Leehans meyakinkannya. Tapi Desta diam saja, membisu. Ada rasa kecewa dan sedih, Leehans akan meninggalkannya di sana dan tinggal sendirian.
"Kau tinggal sendiri di Omotesando. Jika.." Leehans menggantung bicaranya.
"Jika apa....?" Desta bertanya dengan malas.
"Jika kau keberatan menampungku untuk menumpang tinggal di rumahmu!" Leehans seperti akan tertawa, tapi sedikit ditahannya.
__ADS_1
"Hah..kau, otto Hans..yaaa...., membuatku tidak semangat saja!" Desta memukuli bahu Leehans tanpa tenaga. Rasanya sebal bercampur rasa senang. Ingin digigiti saja bahu suaminya itu. Desta merasa begitu bahagia, berdua dengan Leehans di manapun, ke manapun dan kapanpun, membuat jiwa dan raganya senantiasa penuh rasa!