Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Orang Itu... # 91


__ADS_3

"Sebenarnya ada apa mas? Apa mas Gilang merahasiakan sesuatu?" Desta tak bisa menahan rasa penasaran, Gilang semakin nampak gelisah dengan sesekali menatap Desta cukup lama. Mereka sedang berada dalam lift untuk menuju lantai tujuh.


Gilang kembali menatap Desta sangat dalam. Lalu menatap lurus ke depan dan menoleh pada gadis rupawan di samping sekali lagi.


"Apa kamu tidak rindu pada suamimu, Desta?" Gilang bertanya sungguh-sungguh pada gadis itu.


"Tolong jangan bertanya begitu mas. Tapi jujur saja mas, aku masih ingin kembali ke sana. Kembali menjalani pernikahanku hingga selesai enam bulan." Desta berkata jujur pada Gilang.


"Enam bulan, kenapa tidak selamanya?" Gilang menatap Desta dengan sorot ingin tahu.Desta hendak menjawabnya, tapi pintu lift telah terbuka di lantai tujuh, tujuan yang telah Gilang pilihkan. Desta bergegas mengikuti langkah Gilang berjalan maju meninggalkan ruang lift.


Kamar-kamar hotel ini didesain dengan menghubungkan empat teras yang menghadap ruang kosong di tengahnya. Ruang kosong itu adalah taman indah di lantai dasar yang bisa dilihat dari atas dengan amat jelas. Jadi dari lantai satu hingga lantai tujuh dapat dipastikan tidak akan ada yang namanya lorong hotel.


Gilang berhenti tegak di depan salah satu pintu hotel yang berada di sudut lantai tujuh. Desta menjadi berdebar saat dilihatnya Gilang tidak membuka sendiri pintu itu, tapi justru menekan sebuah tombol, yang artinya kamar ini bukan miliknya. Dan pemiliknya adalah orang lain lagi yang saat ini bisa dipastikan sedang berada di dalam.


"Mas Gilang ingin menemui siapa? Mas Gilang stay di mana?" Desta bertanya beruntun pada Gilang. Rasa gusar tidak bisa lagi ditahan.


"Aku paham perasaanmu saat ini Desta. Ku harap kamu sedikit tenang. Ada seseorang yang sedang menunggumu di dalam." Gilang berucap mamandang Desta dan kemudian menunduk, menyembunyikan ekspresi yang sedih.


"Siapa mas? Siapa?! Apa mas Gilang telah menjualku pada orang lain?! Aku tidak mau! Aku ikut mas Gilang saja!!!"


Desta kembali gamang dan gundah, pikiran untuk kembali berlari sempat terlintas di benak. Tapi luka pada tumit kaki kembali sedikit meradang. Sudah saatnya membersihkan nanah yang terkadang muncul di bagian luka yang basah. Rasa nyeri dan ngilu akibat luka meradang di kaki, membuat ciut nyali untuk berlari. Desta diam berdiri tegang menghadap pintu bersama Gilang yang juga terlihat gelisah.


Ceklek!


Kecemasan datang menyergap saat pintu terdengar di buka dari dalam. Desta panik dan berbalik menghadap Gilang sambil memegang kedua pergelangan tangan lelaki itu.


"Mas, aku tidak mau! Jangan lempar aku, mas! Bawa aku pulang! Mas Gilang!" Desta merayu pada Gilang, dengan air mata berderai yang mengalir keluar begitu saja.

__ADS_1


Gilang menatapnya serba salah, lelaki itu hanya diam sejuta kata.Tangan Gilang mulai berusaha lepas dari cengkeraman kuat jemarinya, saat kedua bahu Desta terasa dipegang seseorang dari belakang dengan menariknya mundur sedikit kuat melewati pintu hotel. Karena tarikan yang terasa lembut tapi begitu kuat dari belakang, Desta terpaksa melepas cengkeraman jemarinya. Desta masih sadar akan kuku panjangnya yang mungkin akan melukai pergelangan kulit Gilang.


"Jahat kau mas! Tega kau padaku mas!!!" Desta sempat mengumpati Gilang di antara rasa takut dan cemasnya saat di tarik masuk kamar.


Mata Desta yang mengukir wajah Gilang, berganti dengan ukiran kayu pintu hotel yang menutup dari tendangan pelan kaki sesorang, yang terus memegangi kedua bahunya dari belakang. Pintu kamar telah tertutup sempurna, dan mengunci otomatis dengan sendirinya.


Di antara pacu degup jantung dan nafas terengah karena cemas bercampur emosi kecewa, Desta merasa bahunya melonggar. Namun rasa lonnggar itu hanyalah sesaat, dua tangan yang berada di bahunya telah berpindah cepat menjadi memeluk leher dan dadanya sangat lembut cukup erat. Berbarengan dengan merapatnya tubuh orang itu padanya kemudian. Dan wajah itu telah menempel juga di kepala Desta dengan lembut.


Desta yang mulanya merasa putus lemah harapan, kini berubah terkesiap. Perlakuan orang itu mengingatkannya pada seseorang. Satu-satunya orang yang telah memperlakukan dirinya sedemikian untuk pertama kalinya. Orang itu... siapakah orang itu? Benarkah dia?!


"Desta..." Deg! Rasa lunglai di tubuh, berubah tegang karena kejutan hebat dari suara yang menyebut namanya itu. Kini jantungnya telah kembali memompa laju menjadi detak-detak indah mendebarkan.


"Otto Hans.. Benarkah ini kamu otto Hans?!" Desta tidak menungggu jawaban itu, air matanya kembali berderai mengalir melewati pipi membasahi kerudung dan sebagian jatuh mengenai tangan yang memeluk leher dan dadanya. Desta terus menangis dengan kedua tangan telah bergerak memegangi tangan kekar itu.


Dua tangan yang tengah memeluk itu, kembali melonggar, berpindah memegang bahu dan menariknya lembut agar saling berhadapan. Keduanya berpandangan sesaat lalu saling berpelukan sangat erat. Desta semakin keras menangis, menumpahkan derita hati dan diri selama ini, bersama tangisan di pelukan sang suami yang hangat.


"Desta, maafkan aku, Desta...." Leehans mengelus kepalanya dan tetap memeluk punggungnya.


"Otto Haaaans..." Keduanya berpelukan lagi sangat erat.


Ding....Ding....Ding...Ding....Ding...Ding..


Bell dari pintu terdengar ramah di telinga. Leehans mengendor pelukan, perlahan melepas Desta darinya. Lalu menggenggam tangan lembut itu dan membawanya ikut membuka pintu, seolah khawatir jika Desta hilang lagi.


Seorang pelayan, telah berdiri di depan pintu, membawa banyak menu makanan dan beberapa minuman berbagai warna. Leehans memberi ruang, agar pelayan itu leluasa mendorong kereta makanan ke dalam kamar, dan menurunkannya.


"Apa kau tidak lapar?" Leehans berkata lirih di kepalanya.

__ADS_1


"Aku masih kenyang, mas Gilang memberiku makan sebelum mengantarku ke sini." Desta bersuara lebih lirih, saat pelayan itu berbalik dan meninggalakan mereka dalam kamar. Pintu kembali tertup dan mengunci otomatis dengan aman.


"Desta..Apa kau gembira berjumpa lagi dengan Gilang?" Leehans menanyakan hal yang tidak mudah untuk dijawabnya.


"Otto Hans..Siapakah yang telah membeliku dari mafia itu? Kamu ataukah mas Gilang?" Desta tidak menahan lagi rasa ingin tahunya. Leehans justru terlihat mengabaikan pertanyaannya, dengan menarik lembut tangan Desta agar ikut duduk bersama di sofa.


"Makanlah yang banyak, aku tak tega menyentuhmu, jika kau nampak kurus begitu." Leehans tetap mengisi makanan ke dalam dua piring, meski Desta telah berkata perutnya masih kenyang.


"Otto Hans... Aku tidak lapar." Leehans tetap menyodorkan piring itu.


"Hanya sedikit, makanlah. Aku tidak tenang jika belum melihatmu sedang makan." Leehans memang merasa sangat bersalah, karena tidak berhasil menemukan Desta lebih awal.


Desta akhirnya makan, dan menyisakan sedikit makanan di piring. Karena merasa tidak mungkin sanggup lagi menghabiskan.


"Otto Hans.. Siapa sebenarnya yang telah membeliku, kamu atau mas Gilang? Dan bagaimana aku bisa kalian temukan?" Desta kembali menuntut jawaban.


"Anggap saja keduanya. Gilang yang menemukanmu dan aku yang menebusmu." Leehans memandang Desta dengan rasa tak menentu, seperti mimpi rasanya, melihat wajah itu kembali ada depannya.


"Lalu, kenapa bisa sangat lambat?" Pertanyaan yang memang menjadi penyesalan Leehans seumur hidup. Mengingat kemungkinan betapa menderita Desta dalam penculikan selama berbulan itu.


"Maafkan aku, Desta. Aku bukan lebih mengabaikanmu. Tapi hari di mana kau hilang, ibuku kambuh jantungnya. Ayahku juga kambuh maag kronisnya. Beberapa hari aku mengurusi mereka, segala perusahaanku dan milik ayahku mengalami penurunan inflasi di mana-mana. Aku bukanlah lelaki lemah beberapa tahun lalu. Aku tidak bisa membiarkan keluargaku ikut hancur bersamaku. Tidak ada seorangpun yang bisa membaca perasaanku saat itu. Jadi, untuk sementara aku mengandalkan pencarian dirimu pada pihak berwenang dan berbagai media yang ada. Tapi aku sadar, kenapa semua berakhir nihil. Kau sedang di tangan mafia."


Leehans mengelap mata yang sedikit berair dengan jari tangannya. Merasa sangat lega bisa membicarakan hal itu pada Desta, dengan harapan agar gadis itu memahami dan memaafkan kelambatannya. Leehans kembali meraih bahu Desta dan memeluk tubuh itu sepuas hatinya. Diciumi kepala berkerudung itu dalam-dalam dan berulangkali. Desta membalas pelukan suaminya dengan hati yang berubah iba dan kembali penuh cinta seperti semula.


"Desta, apakah kau tidak ingin lagi membuka kerudungmu padaku? Aku masih suamimu kan?" Leehans menengadahkan wajah cantik itu menatapnya.


"Apakah otto Hans ingin melihatku?" Desta mengamati mata tajam lelaki itu penuh rindu. Seperti sudah berabad lamannya tidak dilihat.

__ADS_1


"Kau rela?" Desta mengangguk dan tersenyum, lalu menjauhkan dirinya dari Leehans. Desta ingin membuka kerudungnya di kamar mandi sambil membersihkan dirinya. Leehans memandang kepergian punggung itu dengan perasaan yang tidak terkata dengan bahasa. Dengan niat tidak akan membiarkan pemilik punggung itu jauh darinya, serta merasakan apapun derita yang telah didapatnya.


__ADS_2