Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Obsesi Mesra Dalam Lift # 98


__ADS_3

Pasangan suami istri yang baru bertemu lagi beberapa hari itu berjalan bersisian memasuki perusahaan. Desta mengikuti Leehans dengan status kerja seperti semula, sebagai asisten pribadi Leehans yang baru.


Keduanya disambut hormat oleh security yang bersiaga di pintu gerbang dan pintu masuk ruang gedung. Dengan status mereka yang resmi sebagai pasangan baru menikah, kini tiap pasang yang memandang akan berkata bahwa mereka adalah suami istri yang serasi dan sedap dipandang mata.


***


"Tolong buatkan kopi untukku, Desta." Leehans meminta dengan nada mesra pada Desta yang tengah belajar salah satu file di komputernya. Desta telah mendapat sebuah meja kerja pribadi dari Leehans. Bersebelahan sangat dekat dengan meja milik Leehans.


Desta hanya mengangguk, namun tak juga kunjung berdiri, matanya asik melalap layar komputer canggih di depannya. Desta baru berdiri tergesa setelah merasa tangan Leehans mulai menggerayangi dadanya di balik kerudung.


"Aku buat sekarang juga, otto Hans." Desta berseru sambil melihat keadaan di sekitar. Madam Sharon masih nampak serius dengan pekerjaannya, demikian juga dengan Harry di ruang kacanya. Sangat malu jika sampai kedapatan mata oleh mereka.


"Jangan ulangi lagi di sini.." Desta berseru lirih memandang Leehans yang nampak senyum-senyum padanya. Desta bergegas keluar dari ruang Leehans, wajahnya nampak tersenyum kemudian.


***


"Hei, Nemo... Apakah kamu ikut gembira melihatku kembali?" Desta tersenyum pada Nemo yang memegang kedua tangannya sambil menepuk-nepuk hangat pada Desta. Desta berbicara dengan menggunakan dua bahasa, bahasa miliknya bergabung dengan bahasa milik Nemo semampunya.


"Ya.. aku sangat gembira dengan keselamatanmu, Desta san." Nemo yang lama terdiam, berhasil menerkanya. Desta memahami ucapan nemo dalam bahasanya.


"Nemo, aku pinjam pantrymu..Aku ingin bikin kopi." Mereka saling melepas pegangan tangan dan Desta bergeser mendekati meja mengambil bahan kopi.


"Kopi untuk suamimu?" Nemo tersenyum sambil menyodorkan cangkir dan tatakan pada Desta. Desta menyalakan kompor dan meletak panci yang telah di isinya dengan air di wastafel.


"Nemo, dia memang suamiku..tapi..young mister Leehans masih tetap punya kalian semua." Desta memandang Nemo dengan melukis lingkaran di udara dengan kedua tangannya. Nemo yang mungkin paham terlihat manggut-manggut membenarkan.

__ADS_1


Air di panci akhirnya mendidih, dan air panas telah di tuang dalam gelas, Desta mengaduknya. Kopi pahit dengan sedikit garam telah siap dibawanya.


****


Meja kerja Leehans terlihat sudah rapi, begitupun meja punya Desta. Leehans telah mengemas meja kerjanya dan nampak duduk santai sambil memainkan ponsel terbarunya.


"Otto Hans, kenapa sudah dirapikan, apa ada meeting mendadak?" Desta meletak kopi itu di meja, dan langsung disambar Leehans dengan dua tangannya.


"Tidak Desta. Ada panggilan dari kepala polisi tahanan kota Tokyo. Mereka butuh beberapa keterangan. Kau harus ikut denganku." Leehans meniup-niup kopinya agar dingin lebih cepat, ancaman bahaya dari tiupan itu terpaksa diacuhkannya.


Desta segera mengambil cangkir kopi dari tangan Leehans, dituangkan di tatakan, diambilnya kerta recycle dari meja untuk mengipas kopi Leehans. Desta melakukan terus, sampai kopi pahit asin itu habis bersih seluruhnya.


"Otto Hans, tunggu sebentar." Desta beranjak menuju mejanya, mengambil tas bahu dan kembali menyusul Leehans yang menunggu di pintu.


Mereka beriringan keluar dan berhenti menunggu lift. Leehans nampak mengambil tangan Desta dan erat menggenggamnya. Keduanya saling bergenggaman, bertukar menjadi saling meremas tangan dan semakin lama remasan tangan itu terasa jadi memanas yang menjalar naik menyebar ke seluruh bagian tubuh.


Ting!


"Desta, merapatlah.." Begitu selesai menekan tombol, Leehans langsung menarik Desta memeluk erat di depannnya.


"Otto Hans, jangan di sini." Desta berusaha merenggangkan pelukan dari tempelan erat tubuh Leehans.


"Aku ingin, Desta. Aku punya obsesi untuk menciummu di sini. Hanya ciuman. Tolong berilah untukku." Leehans semakin mendekatkan wajahnya. Desta jadi ingat kejadian lalu, saat Leehans sedang bergairah dan akan menciumnya di ruang lift ini.


"Jika ada orang membuka lift, kita akan malu otto Hans." Namun Desta justru mengalungkan kedua tangannya di leher Leehans dan menjinjit kakinya.

__ADS_1


"Sudah ku lock tombolnya." Leehans tersenyum menanggapi kekhawatiran Desta, namun bertolakan dengan respon yang keluar.


Cup!


Leehans tak ingin banyak membuang waktu, cepat di lakukan apa yang diam-diam menjadi obsesinya selama ini. Yakni berciuman dengan sang istri di ruang besi kotak ini. Leehans terobsesi setelah pertama kali merasa mendapat hasrat pada Desta di dalam ruang besi kotak ini waktu itu.


Mereka berciuman cukup lama, karena meski lift sudah berhenti dan menyalakan tombol berwarna hijau, Leehans tidak peduli. Ciuman panas itu terus berlanjut tidak hanya sekedar ciuman. Tapi tangan Leehans telah merayapi Desta hingga ke mana-mana. Menyelusup masuk ke balik baju dan bermain di dadanya sangat lama.


"Ot..to.. Hans..cukup. Orang-orang pasti sedang menunggu di balik pintu." Desta perlahan melepaskan dirinya. Meskipun rasa lunglai tanpa daya, namun kesadarannya masih ada.


"Aah...Desta.." Leehans merelakan Desta terlepas darinya dengan keluhan lirih dari bibirnya.


"Otto, cepatlah buka locknya. Mereka akan berfikir macam-macam, kan malu." Desta telah selesai merapikan gamis dan kerudungnya.


"Oran-orang itu tak banyak, istrikuuu.. Ini lift khusus, jangan terlalu berfikir." Leehans menyentil pelan ujung hidung Desta yang runcing.


Leehans mulai menekan tombol-tombol yang menempel di pintu lift dengan cepat. Cepat dan tenang, seperti tidak pernah ada apapun yang dilakukannya bersama sang istri barusan di sana.


Ting!


Pintu lift terbuka lebar, kenyataan yang ada tak sesuai dengan apa yang dipikirnya. Tak ada karamaian orang sama sekali. Hanya ada satu pekerja yang sedang menunggu di batas garis pintu dengan tersenyum menyelidik.


"Nemo!" Desta menyerunya. Ya, gadis pantry yang bernama nemo itulah satu-satunya pekerja yang menunggu lift terbuka dengan nampak sangat sabar.


Nemo hanya mengangguk dan tersenyum sedikit pada Desta, yang menyapa namanya. Lalu masuk dalam lift tanpa bicara apapun pada Desta. Mereka saling menyelip berpapasan. Desta dan Leehans berjalan keluar sedang Nemo berjalan masuk ke dalam.

__ADS_1


"Otto Hans, kenapa Nemo boleh menggunakan lift khusus ini? Apakah dia mutasi ke direksi?" Desta siap menyimak apapun jawaban dari suami.


" Sudah lama,Desta.Bukankah dia itu kasihan? Aku sudah lama memberinya kebebasan menggunakan lift ini. Pekerjaannya... Coba bayangkan, saat dia membawa baki besar berisi penuh gelas minuman, lalu harus berdesakan di sana. Merasa iba bukan? " Leehans menunjuk lift satu lagi di sebelah sana agak jauh. Desta mengerti maksud suaminya. Ditatapnya wajah Leehans yang menawan dengan segenap rasa sayang dan cintanya. Desta siap mencintai suami jiwa raga selamanya. Sifat Leehans yang bijak dan murah hati itu sungguh sangat membanggakan dan akan terus didukungnya.


__ADS_2