
Suasana sore sangat cerah, namun udara di luar rasanya begitu gerah menyengat. Tapi tidak untuk ruang kerja Leehans, air condition di sana membuat ruangan begitu nyaman dan sejuk.
Leehans terlihat serius memegangi ipad canggih di tangannya. File kerja yang mengalir di emailnya, ingin segera diselesaikannya tanpa sisa. Sekretarisnya yang di Jepang itu, kini telah berhenti mengirim email kerja kepadanya, membuat Leehans sangat bersemangat menghabiskannya.
Akhirnya beres dengan cepat seluruhnya. Leehans merapikan meja kerja, lalu menutup seluruh jendela yang pagi tadi dibukanya. Lelaki itu keluar ruangan, menutup rapat pintu dan menguncinya.
Leehans telah berganti pakaian dengan setelan baju renang, dia menuju kolam renang di samping gedung. Jalannya sangat cepat, seolah sudah tak sabar melepas penatnya di sana.
Hari menjelang maghrib, kegiatan berenang ini sangat melelahkan, namun ini olahraga yang efektif dan mandiri. Leehans sangat menyukai berenang, lemak jahat yang merugikan itu, tidak akan lama mengendap di tubuh kekarnya yang berotot.
***
Sebuah mobil sedan hitam, memasuki gedung utama dengan laju yang perlahan. Asisten Lucky nampak keluar dari pintu depan bersamaan dengan sang sopir dan Benn yang terakhir keluar dari mobil.
Hari ini, Benn tidak ingin berlama-lama dengan meettingnya.Hari mulai gelap, Benn bergegas pulang setelah mufakat kerja sama itu tercapai. Leehans telah menunggu dirinya di gedung utama.
Benn dan Leehans duduk berhadapan, aura tegang menyelimuti keduanya.Benn yang masih dengan jas kerjanya, menatap Leehans dengan wajah yang mengeras. Leehans yang mengenakan baju santai, dengan rambut hitam basahnya, nampak berbicara serius kepada Benn.
"Kau mengerti Benn, kali ini ku minta kesadaranmu." Leehans mengakhiri bicaranya, sembari menghirup nafas dalam-dalam.
"Kau pikir mudah, aku tidak akan melakukannya." Benn bersikeras.
"Kau dan Orang tuamu tidak akan merugi. Aku siap mengganti berlipat banyaknya. Kerugian kalian hanya masalah kehilangan waktu saja Benn!" Leehans mulai tidak sabar menghadapi Benn.
"Bagaimana dengan nama baikku, terlebih orang tuaku? Undangan telah disebar, mereka akan kehilangan mukanya!" Benn terus bersikeras.
"Jangan egois Benn! Sadarlah, pemaksaanmu ini akan merampas senyum dari jiwanya, kau menyakitinya!" Leehans terlihat menahan geramnya.
"Aku akan membuatnya bahagia perlahan, tolong hentikan ikut campurmu kali ini Leehans." Benn berkata serius.
__ADS_1
"Tapi gadis itu tidak lagi bersedia, ingatlah itu Benn!" Leehans terus berusaha.
"Kau terlalu naif Hans, buanglah segera perjakamu itu, agar kau mengerti semua perkataanku!"
"Desta saat ini memang menolak, tapi lihatlah nanti, setelah ku bawa melewati malam-malam memabukkan itu, dia pasti berubah pasrah padaku." Benn tertawa sinis memandang Leehans.
"Ada apa denganmu, biasanya kau tidak peduli dengan siapapun wanitaku, apa kau juga menginginkannya?" Benn bertanya menyelidik.
Mendengar perkataan Benn begitu, Leehans mengeraskan rahangnya. Matanya berkilat gusar menatap Benn.
"Desta bukan wanitamu, tapi hanya tawananmu. Dia gadis bermartabat, tidak seperti wanita-wanitamu itu. Jangan pernah lupa Benn, ayahku adalah walinya. Dan aku di sini mewakili ayahku untuk mengawasinya." Leehans berkata tegas pada Benn akan hubungannya dengan gadis itu.
"Akan ku telepon orang tuamu, akan ku jelaskan sendiri pada mereka. Ku harap orang tuamu lebih berperikemanusiaan dari padamu." Leehans memberi ancaman terakhirnya.
"Hei Hans, jangan gila! Kau ingin orang tuaku dapat serangan jantung, lalu mati dengan cepat!?" Benn terpengaruh dengan ancaman Leehans.
"Baiklah, kau pilih saja, selesai dengan caramu, atau ikut dengan caraku." Leehans mulai bicara dengan tenang.
"Oke Hans, aku akan melakukannya. Tunggulah di sini, akan ku kabari dirimu secepatnya." Benn langsung berdiri, meninggalkan Leehans menuju kamarnya.
Leehans hanya memandangi kepergian Benn, wajah kerasnya sedang menebak-nebak, tindakan apa yang akan dilakukan sahabatnya itu dengan ucapannya. Leehans berharap, Benn akan membicarakan masalah mereka dengan orang tuanya malam ini juga.
***
Malam telah senyap, pukul sebelas lewat. Benn nampak rapi menuruni anak tangga. Mengendarai mobil sendirian tanpa sopir. Mobilnya keluar gerbang perlahan memasuki jalan raya. Leehans memperhatikan kepergian Benn itu dari jendela kamanya di lantai tiga.
***
Benn telah minum banyak alkohol di sebuah bar malam Ibukota. Dirinya terlihat hanya sendiri, tanpa kawan atau pasangan di sampingnya. Maka itulah beberapa wanita malam mendekatinya, dan mencoba merayunya. Karena Benn bersikap mengacuhkan, wanita-wanita malam itu menjauhinya kembali. Namun tinggal seorang wanita lagi yang lebih gigih untuk menggodanya.
__ADS_1
Wanita dengan bibir merah menyala dan pakaian sangat seksi itu, seolah tanpa mengenakan baju bawahan jika dilihat sepintas. Wanita malam itu meraba lembut tangan Benn, mengusap perlahan naik ke lengan dan bahunya dengan sangat terlatih.
Benn mulai merespon sentuhannya saat tangan itu menyelusup masuk ke dalam dada di balik bajunya. Benn berdesis samar, tangan halus itu membelainya lembut, berputar dan mengelus langsung di kulit dadanya yang bidang.
Keduanya mulai hanyut terbawa lahar panas. Wanita itu telah menempelkan tubuhnya lebih erat lagi pada pelukan Benn. Bibir dan lidahnya telah menyusuri kulit leher Benn yang putih, dan tangannya membelai kulit punggung dan pada rambutnya yang lebat. Sedang tangan Benn tengah sibuk menarik-narik kuat, bokong padat milik wanita itu.
Keduanya menginginkan yang lebih dari sekedar pemanasan. Wanita itu berbisik pada Benn, untuk melanjutkan permainan ke hotel sebelah.Benn bersetuju, namun tiba-tiba terlintas bayangan wajah Desta di kepalanya.
Benn tersadar kembali, sebelum dirinya benar-benar mabuk, dia menjauh dari wanita itu dan keluar dari bar. Kembali masuk mobil dan mengemudikannya sendiri dengan nekat, meski kepalanya terasa sedikit oleng.
Nampaknya, Benn bersama sedan hitam itu tengah menuju villanya yang berada di area Kemang, daerah Jakarta. Jalan menuju villa itu telah sepi, hal itu justeru memudahkan Benn mengemudikan mobil dengan kepala beratnya.
Mobilnya melaju kencang tanpa hambatan, meski sesekali terlihat oleng dan nampak berjalan ziz- zag. Namun bagi Benn, bertaruh nyawa sebab mabuk begini adalah hal biasa.
***
Hari ini Desta kembali bersemangat menghabiskan sore. Desta bersama mbak Puji menyirami bunga-bunga beraneka warna di taman depan. Makan malampun, Desta mengisi perutnya cukup banyak, masakan mak Sri dirasanya begitu sedap kali ini. Mak Sri dan mbak Puji yang bersimpati padanya, sangat gembira melihat porsi makannya yang banyak malam ini.w
Setelah berhasil bicara dengan Leehans siang tadi, semangatnya kembali datang, seakan dapat suntikan energi besar dari langit. Desta ingin tidur cepat serta sedikit tenang malam ini. Menggantikan waktu tidurnya yang hilang, akibat beberapa malam ini matanya tidak cukup tidur karena galau.
Pukul sebelas malam, Desta telah lelap dalam tidurnya dengan berselimut nyaman. Bahkan karena rasa ngantuk beratnya, Desta tak kuasa melepas kerudung instannya. Gadis itu ambruk bersama selimut begitu saja. Kerudungnya menutupi sebagian wajahnya yang putih bersih dan cerah.
Kedamaian tidurnya mulai terusik, saat telinganya mendengar samar ketukan beruntun di pintu kamarnya. Ketukan itu terdengar lebih nyata setelah matanya benar-benar terbuka. Desta segera bangun dari ranjang untuk mendekati pintu kamar, demi membuka pintunya.
Desta mengira, bahwa ketukan itu berasal dari mbak Puji, yang kemarin malam meminjam sajadahnya, namun belum dikembalikan. Sajadah wanita itu habis dicuci, namun belum kering dan masih ada di jemuran.
Desta melirik jam dinding, yang tergantung indah di atas pintu kamar. Pukul setengah dua malam, mungkin mbak Puji habis mengerjakan sholat tahajudnya.
Tangannya meraih gagang pintu dan memutarnya, lalu menariknya tanpa ada keraguan. Daun pintu terbuka lebar, terlihat sosok Benn di depannya berdiri menjulang, memandang dengan tatapan sayu terhadapnya.
__ADS_1
Belum sempat berlama-lama dengan rasa terkejut, Benn memegang erat bahunya, serta mondorong tubuhnya masuk kembali ke dalam kamar.
***