Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Mulai Bekerja # 55


__ADS_3

Sejak kejadian mendebarkan pagi hari di meja makan kemarin, sudah hampir seminggu Desta tak melihat batang hidung Leehans sama sekali. Lelaki itu selalu pergi kerja begitu pagi dan pulanngnyapun sudah larut.


Namun pagi ini, lelaki itu nampak duduk lagi di kursi makannya. Mereka hanya makan berdua, karena pasangan Lee sedang pergi ke kota Osaka pagi-pagi sekali. Kepergian mereka untuk mengunjungi salah satu sopir pribadi Mr Lee, yang mendapat kecelakaan dua hari lalu di jalan raya kota Osaka.


"Selamat pagi tuan Hans. "


Leehans mengangguk, sedikit senyum di bibirnya sambil melirik Desta sekilas. Sebenarnya gadis itu bimbang untuk duduk berhadapan dengan Leehans, mengingat banyaknya kursi yang kosong kali ini. Tapi karena terbiasa dengan kursinya, kakinya melangkah begitu saja menuju kursi itu.


"Tuan Hans, boleh saya bicara? "


"Ada masalah apa? "


"Berilah saya pekerjaan, saya sangat bosan, please.... "


Desta mencoba merayu Leehans, diam terus begini justeru membuatnya semakin malas tak ada semangat. Dirinya ingin punya kegiatan rutin yang mampu membuatnya kembali sibuk. Leehans nampak berfikir, lelaki itu diam sambil mengunyah makanannya.


"Kerja bagaimana yang kau suka? "


Leehans meletakkan sendoknya di piring, ditatapnya mata gadis itu menunggunya bersuara.


"Saya belum pernah sekalipun bekerja, jadi saya tidak tahu, tapi saya menyukai hal keuangan. "


Leehans kembali memegang sendok dan meneruskan makan, sepertinya tengah berfikir dengan ucapan Desta barusan.

__ADS_1


"Baiklah, karena kau cukup potensial, bantulah pekerjaanku saja di kantor. Kau ikut denganku. "


Leehans nampak berdiri, dan hendak berjalan pergi meraih tas kerjanya warna hitam. Desta segera menahan kepergian lelaki itu.


"Tuan akan mengajak saya hari ini? sekarang? Oh, tolong tunggulah sepuluh menit saja, saya akan berganti baju sebentar. "


"Sepuluh menit, ku tunggu di teras. "


Leehans mendekat kembali ke meja makan, meraih cangkir coklatnya, dibawanya keluar menuju teras. Sedang Desta berlarian menuju kamarnya, sedikit menyesal dengan janji sepuluh menitnya.


***


Sepuluh menit berlalu, tak ada tanda kemunculan Desta di teras. Leehans telah menduga hal ini, tak ada perempuan ganti baju hanya dengan sepuluh menit. Kebanyakan akan memanjang jadi tiga puluh menitan bahkan lebih. Ibunyalah cantoh nyata perempuan itu, kakak perempuannya bahkan bisa sejam... Dan... ya dia, dia juga semacam itu, sangat lama saat berganti pakaian, apalagi profesinya sebagai artis ,ya dialah Shena. Leehans agak malas mengingat nama wanita itu.


Leehans menghela nafasnya tanpa bicara, bergegas menuju mobil yang telah menunggunya sejak pagi. Desta berjalan ragu, tapi terus mengikut saja di belakangnya. Sopir yang menunggu mereka telah siap dengan pintu terbuka di tangannya. Karena Leehans tidak juga masuk, Destalah yang membawa dirinya masuk mobil lebih dulu.


Dalam mobil yang melaju sangat halus dan tenang, hati Desta sedikit dag dig dug. Mengingat dia akan bekerja pada sebuah kantor, yang tentunya akan berbaur dengan beberapa rekan kerja. Mengingat itu hatinya senang sekali, rindunya untuk bergaul dengan orang di luar, sebentar lagi akan terobati. Selama tinggal di Yayasan, membuatnya terbiasa dengan suasan ramai orang.


Diliriknya Leehans di sampingnya, lelaki itu nampak serius dengan iphone di pangkuan. Dahinya berkerut, seperti tengah membaca hal mengejutkan di iphonenya. Desta nengabaikan hal itu, dipalingkan wajahnya ke arah jalanan di sampingnya. Sangat menakjubkan, bunga-bunga sakura di pagi hari begitu indah, gugur betebaran di trotoarnya. Ini terlalu pagi, siang sedikit trotoar itu akan terlihat selalu bersih, ada petugas kebersihan yang stanby tanpa lelah menyapunya.


Mereka telah sampai di perusahaan, yang sepertinya bergerak dalam bidang produksi tekstil. Leehans nampak mendekati salah satu lift, jarinya menekan tombol, pintu lift itu langsung terbuka. Desta hanya mengikuti dengan diam. Rupanya itu adalah lift khusus buat para direksi. Sebab di sebelah agak jauh, Desta sempat melihat lift, dengan beberapa pegawai yang masuk sekaligus ke dalam ruang lift ltu.


Hanya berdua dalam lift yang sempit itu, Hati Desta sedikit bergemuruh di luar kendalinya. Leehans yang rapi dengan setelan jas, kemeja, serta dasinya itu terlihat pas memainkan peran seorang CEO. CEO dingin yang tampan, namun baik hati bak dewa bertopeng, seperti di drama korea yang kerap tayang di televisinya.

__ADS_1


***


Desta telah dibawa Leehans dalam ruangang yang begitu segar, luas dan mewah. Ruangan bercat putih itu adalah ruang kerja Leehans. Leehans telah duduk di kursi kerjanya, dengan Desta yang duduk di depannya, terhalang meja kerjanua yang besar.


"Desta, asistenku sedang bercuti seminggu ke depan, kau akan menggantikan sementara tugasnya. Jangan khawatir, kerjanya mudah saja. Kau bisa bertanya pada Sharon, sekretarisku, sebentar lagi sampai. "


Leehans mulai menyalakan laptop di mejanya, sambil menyuruh Desta untuk berpindah duduk di sofa ruangannya. Desta perlahan berpindah di salah satu kursi sofa di pojok ruangan. Dibelakang sofa, terdapat aquarium besar yang didesain masuk dalam dinding, berisi seekor ikan arwana emas sangat besar. Nampak bergerak mendekati arah Desta yang sedang duduk di depannya.


Di dinding atas samping jendela, terdapat sebuah foto besar CEO itu, tergantung bersama lembaran visi misi perusahaan di dalam kaca yang berbingkai kayu. Dalam foto itu, Leehans nampak cool dan berwibawa, ah.. dia adalah Song Seun Hyeon oppa.


Sharon, adalah sekretaris berpengalaman yang tidak muda lagi, jauh dari bayangan Desta sebelumnya. Pakaian dan gaya dandan Sharon sangat sederhana, nampun nampak elegant dan sesuai dengan usianya. Usia sekretaris senior itu telah mendekati angka empat puluhan tahun lebih. Sharon nampak baik dan ramah pada Desta, meski baginya gadis itu masih orang asing.


***


Pekerjaan pertama yang didapatnya dari Sharon adalah pergi ke pantry kantor untuk mengambil kopi Leehans yang telah disiapkan oleh petugas khusus pantry. Desta mencari letak pantry dan berhasil membawa kopi tanpa hambatan apapun.


Sharon nampak puas dengan gerakan Desta yang cekatan itu. Kemudian dibawanya gadis itu ke dalam sebuah ruangan kaca, di balik dinding. Sambil menunggu jam makan siang, di mana Desta harus menemani CEO mereka keluar makan ataupun mendatangkan makanan saja, Desta merapikan setumpuk fail yang di berikan Sharon padanya.


Kesibukan kecil itu mampu menenggelamkan Desta dari rasa bosan dan sepinya, gadis itu dengan ceria dan bersemangat menyelesaik gunungan fail yang bertumpuk secara fisik itu dengan cepat. Begitu kuga dengan Shaton, wanita itu jadi lebih bersemangat lagi mengeluarkan tumpukan fail dan menyerahlan kembali pada Desta untuk diselesaikannya.


Kefokusan Desta terhenti saat sebuah suara deheman berat terdengar di dekatnya. Leehans telah membuka sedikit pintu kaca itu, dan meminta Desta untuk turun menemi makan siangnya di luar. Desta menuruti meski tak ada rasa lapar di perutnya, gadis itu sangat asyik menikmati tugas yang diberikan Sharon padanya.


Di beberapa meja dan ruangan yang mereka lewati, ada banyak pasang mata yang mencuri pandang pada Leehans dan Desta. Sepertinya mereka heran, CEO besar mereka berjalan santai dengan seorang perempuan bergamis serta berhijab. Makhlum, di kantor mereka jarang ada perempuan berhijab, terlebih berjalan bersama CEO.

__ADS_1


Mungkin di bagian produksi, baru banyak dijumpai perempuan operator produksi maupun operator mesin, yang mengenakan hijab. Itupun biasanya mereka berasal dari luar negara, diantaranya TKI dari Indonesia. Mereka bekerja di perusahaan Jepang melalui PJTKI atau perusahaan jasa tenaga kerja indonesia dari cabang daerah masing-masing.


__ADS_2