Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Shena # 49


__ADS_3

Leehans ingin menghampiri Shena. Wanita cantik, mantan kekasih itu sedang ada di hadapannya. Namun kebimbangan hati Leehans sangat lama, wanita itu keburu berlalu, dengan mobil yang membawanya melaju di jalan raya.


Dengan api yang masih tersisa di hati, Leehans bergegas memasuki resto untuk menemui kedua orang tua. Ternyata acara makan malam yang dihadiri orang tuanya itu belum di mulai. Mr. Lee nampak berbincang di meja pojok resto dengan beberapa orang kenalan, yang Leehans pun juga kenal.


Leehans menyapa para relasi sang ayah dan duduk bersama, pada salah satu kursi kosong yang tersisa. Setelah bersalam kabar serta berbasa basi sebentar, Leehans pamit pada ayah dan pada semua yang duduk di meja.


Leehans menghampiri Mrs. Lee yang juga mengawasi kedatangannya. Leehans memberi salam serta mencium punggung tangan sang ibu, dan mereka telah saling berangkulan sejenak.


"Mana calon menantu mommy? "


Nyonya Yuri nampak bertanya lirih, sambil senyum- senyum pada Leehans.


"Tidak ada. "


Leehans menjawab malas pertanyaan itu. Pertanyaan sama yang akan diluncurkan sang ibu, setiap dia pulang dari bepergian jauh dan berhari-hari lamanya. Ibunya selalu bersemangat menanyakan dengan kalimat yang sama, meski selalu mendapat jawaban yang sama persis juga dari anak lelakinya itu.


Leehans mengangguk sopan pada beberapa teman ibunya, mereka duduk mengobrol sambil menunggu sajian yang belum lengkap.


"Mom, aku di luar saja. "


Leehans meninggalkan Nyonya Yuri di meja jamuan, memilh untuk duduk di meja resto bagian luar. Rasanya begitu gerah duduk bersama wanita seusia ibunya yang tidak berhenti bicara.


Sambil duduk menyandar, pandangan terlempar jauh ke depan, kembali teringat pada sosok Shena yang baru dilihat barusan. Wanita yang dulu sangat dicari, namun akhirnya tidak diharapkan untuk kembali muncul di depannya.


Shena memang sering sekilas, nampak muncul di layar kaca televisi. Namun Leehans selalu acuh, dan tidak mempedulikannya. Bertemu dengan mantan kekasihnya itu tidak lagi pernah terpikir olehnya. Dari berita yang didengarnya sekilas, Shena telah mengikuti suaminya yang tinggal jauh di Paris. Suaminya tidak lagi berkecimpung dalam dunia entertainment. Jadi kehadiran Shena di depannya tadi, Leehans benar-benar ingin tidak peduli.

__ADS_1


***


Renungan Leehans berakhir saat ponselnya berbunyi, segera diraihnya ppnsel dari dalam saku T-shirtnya. Pesan whatsapp dari Desta.


"Bubur dan sup lezat ini sudah saya habiskan."


"Terimakasih."


Leehans merenungi isi pesan yang dibaca berulang-ulang di tangannya, jari besar itu menaik turunkan layar ponsel yang menampakkan ulang percakapan-percakapannya dengan Desta. Dibalasnya pesan Desta yang terakhir.


"Jangan kau muntahkan. "


Setelah mengirim pesan balasan singkat, dikantonginya lagi ponsel itu di bajunya. Kemudian dilambaikan tangannya pada seorang pegawai resto, Leehans ingin menikmati secangkir kopi pahit disertai puding manis, menu favorit barunya.


***


Namun langkahnya terhenti, saat kakinya selesai menghabiskan anak tangga terakhir. Dilihatnya ibunya tengah mengetuk kamar Desta, hmm.. biasalah tuh, mommynya tengah rindu pada gadis itu.


Leehans kembali melanjutkan langkahnya, namun kepalanya sedikit menoleh ke arah kamar yang terbuka itu. Terlihat di matanya kepala Desta yang menyembul keluar itu seperti peri cantik yang sedang menampakkan wajahnya di kegelapan. Iya, gadis itu tidak menutupi kepalanya dengan kerudung, mungkin mendengar suara ibunya yang nengetuk pintu, jadi tidak perlu memakai kerudungnya.


Leehans membatalkan langkahnya demi pemandangan langka di depannya. Perhatiannya terfokus pada gadis jelita yang tengah tersenyum pada ibunya itu. Rambut lurus hitam legam menutupi sebagian dadanya, yang tertutup baju tidur terusan panjang, dengan warna merah tua polos, tanpa motif. Sangat serasi dengan warna kulit wajahnya yang cerah bersinar-sinar.


Leehans meraup wajahnya kasar saat Desta tiba- melihat ke arahnya, gadis itu sepertinya terkejut melihat keberadaanya di sana. Desta segera menarik nyonya Yuri memasuki kamar, dan menutup pintunya seketika. Leehans yang kedapatan kepergok mencuri pandang ke kamar itu, segera berlalu dengan gaya acuh, seolah tengah amnesia.


***

__ADS_1


Nyonya Yuri berada di dalam kamar Desta, wanita itu nampak mengelus kepala Desta dengan rambut lebatnya yang lembut. Gadis itu terus tersenyum, nampak bahagia dengan perhatian yang di berikan oleh istri tuan Lee padanya. Selama ini, betapa inginnya gadis itu merasa tulusnya kasih sayang seorang ibu.


Bu Hartini memang penuh kasih sayang, tapi kasih sayangnya harus terbagi untuk ratusan anak, yang bernasib sepertinya di yayasan. Terlebih, sekarang Desta sudah dewasa, perhatian bu Hartini otomatis sudah jarang dan berkurang, meski Desta tetap menempatkannya sebagai ibu yang dikenalnya sedari kecil.


"Kamu tidak jadi menikah dengannya, terus siapa sekarang calon barumu hah? "


Nyonya Yuri senyum-senyum genit saat menanyai Desta tentang hal itu. Desta tidak mengapa dengan pertanyaan itu, justru jadi tertawa cekikikan bersama ibunya Leehans, yang nampaknya punya sifat begitu usil.


"Tidak ada. "


Desta menyahut asal dengan membulatkan kedua bola matanya, yang membuatnya jadi imut dan lucu. Keduanya kembali tertawa cekikikan dalam kamar luas, dengan banyak hiasan di dindingnya.


Sebenarnya Ibunya Leehans tertawa geli dengan jawaban terakhir Desta, jawaban itu sama dengan kata-kata Leehans, jawaban yang amat tidak disukainya. Sekilas wanita itu membayangkan saat Desta seusia Leehans, gadis itu juga akan mengeluarkan jawaban yang sama dengan anaknya, bukankah itu bahaya?


Desta tak boleh jadi perawan tua. Membayangkan hal begitu, ibunya Leehans kembali tertawa panjang sendirian, karena Desta sedang ada di kamar mandi untuk buang air kecil, akibat dari banyak tertawanya. Wanita separuh baya yang asalnya sangat cantik itu, terus tersenyum saat mengingat sosok anak lelakinya yang acuh namun baik hatinya. Kemudian membandingkan dengan pribadi Desta yang ceria dan lembut, nyonya Yuri menepukkan kedua tangannya berulangkali sambil mengangguk-angguk mencurigakan.


***


Leehans berada di balkon dengan soft drink di tangannya, matanya menatap tajam mengawasi kamar Desta, yang pintu balkoninya terbuka. Dirinya heran dengan apa yang tengah dibicarakan ibunya pada Desta, hingga tawa keduanya yang berisik itu mampu menembus area balkon miliknya.


Lelaki itu duduk menerawang, menatap langit cerah karena bulan sedang bersinar penuh dan sempurna. Ingatannya kembali pada pesan nenek Benn yang disampaikan oleh bu Hartini kemarin. Menemukan Isao Hiroshi mungkin tidaklah sulit untuknya, dirinya yakin bahwa ayahnya mengenalnya. Namun tentang sesuatu yang disimpan oleh pengacara itulah yang membuatnya penasaran, meski mungkin tidak ada sangkut paut dengan dirinya.


***


Nyonya Yuri talah berlalu dari kamarnya, Desta kini kembali merasa sepi. Untuk mengusir rasa itu, dia ingin menelepon Ajeng di Indonesia, guna mengabarkan keberadaannya di Jepang. Namun nomer ponsel Ajeng dicarinya tak juga ketemu, seluruh isi koper bahkan telah tumpah menyemak di lantai kamarnya. Desta lelah mencarinya. Ingin menelepon bu Hartini, namun malam sudah larut. Destapun hanya mengirim sebuah kabar pada bu Hartini, melalui pesan whatsappnya.

__ADS_1


Desta terbaring di kasurnya, dengan matanya menatap langi-langit kamar yang berwarna biru cerah. Pikirannya mendadak lari pada sosok Leehans, yang tadi sempat ditangkapnya tengah merenunginya saat tidak menutup kepala. Desta merasa kesal, kesal dengan dirinya, Leehans sepertinya sudah beberapa kali memergokinya dengan rambut yang sedang terbuka tanpa hijab. Sebenarnya perasaannya sangat malu, tapi bagaimana.. hal itu sudah terlanjur untuk dirinya.


__ADS_2