
Mobil yang membawa Leehans masuk ke garasi khusus, yang menghubungkan dengan lift pribadi menuju kamarnya di lantai tiga. Ruang yang berseberangan dengan milik Bennard, jika saudaranya itu ingin menginap di gedung utama.
Kamar yang lama tak dihuninya itu terasa sedikit pengap. Meski di luar nampak mulai temaram, tetap dibukanya seluruh jendela kamar agar udara terganti dengan yang lebih segar.
Dalam kamar mandi, Leehans bercermin memperhatikan dirinya dalam pantulan kaca. Kumisnya mulai sedikit menyemak dengan jambang tipisnya yang halus, hampir dua minggu dia tidak bercukur.
Semenjak ayahnya sakit, Leehans memang sedikit lebih sibuk dengan mengerjakan pekerjaan yang biasanya dibantu ayahnya. Wajah yang sangat tampan sempurna itu sedikit suram tertutup rasa lelahnya.
***
Di lantai dua, nampak gadis bergamis dengan kerudung warna tosca tengah mengetuk pintu sebuah kamar.
Tok ! Tok ! Tok !
Pintu terbuka, wajah Maya menyembul di balik pintu dan mukanya itu terlihat sangat pucat.
"Kamu sakitkah Maya? " Desta bertanya penuh perhatian. Maya mengangguk lemah dengan tubuh menggigil.
"Kamu pasti belum minum obat kan? tunggu sambil berbaringlah, akan kubelikan obat serta kubawa makanmu ke sini. " Maya kembali mengangguk dan menutup pintu kembali.
Desta yang mulanya ingin mengajak Maya untuk makan bersama segera berbalik ke dalam kamar, mengambil dompet dan kunci kamarnya. Setengah berlari menuruni anak tangga. Kaki Desta tiba-tiba sedikit tersandung, tubuhnya jadi kurang seimbang dan hampir terjatuh. Beruntung tangannya sangat reflek mencengkram bingkai pengaman tangga, jika tidak, sudah pasti tubuhnya akan tersungkur ke bawah.
Desta berhenti sejenak lalu kembali menuruni anak tangga. Dia ingin bertemu pegawai rumah atau mencari apotik terdekat guna mendapat obat untuk Maya.
Tak disadari jika ada sepasang mata tajam berdiri dari lantai tiga, tengah memperhatikan dirinya yang hampir celaka tadi. Mata itu terus mengikuti gerakaanya hingga hilang di balik pintu gedung.
Desta berdiri bingung di teras, gerbang tinggi itu tertutup rapat dan tidak ada penjaga pintu di sana. Saat tubuhnya berbalik, didapatinya pegawai lelaki yang mengantar nasi kotak ke kamarnya kemarin, berjalan ke arahnya.
"Embak kenapa keluar, bukankah ini waktunya makan malam, embak sudah makan? " Pegawai itu heran dengan keberadaan Desta.
"Itulah mas, temanku di kamar sebelah ternyata sedang tidak sehat, aku ingin diantar ke apotik terdekat beli obat bisa ndak mas? " Desta bertanya penuh harap. Pegawai itu diam sejenak.
"Embak kembali ke dalam saja, di lantai tiga ada sebuah ruangan khusus menyimpan obat-obatan, jika ada pintu bertulis P3K masuk aja mbak. "
__ADS_1
"Biasanya disini ada dokter yang jaga saat ada acara seperti ini mbak, tapi kali ini dokter kita tidak datang karena sedang ada acara keluarga. " Pegawai itu menjelaskan dengan ramah.
"Jadi begitu ya? Trims banget informasinya mas. " Desta tersenyum pada pegawai itu, dan membalikkan badan ke dalam. Namun pegawai itu kembali memanggilnya.
"Mbak.. itu teman yang sakit di kamar, sudah ambil makan belum, tak antarkan makan ke atas ya mbak. " pegawai itu bertanya dengan sungguh-sungguh.
"Hah.. boleh.. boleh ! Mas baik banget, trims banget yaa... "
"Sama-sama mbak, itu tugas saya kok. " Pegawai itu menjawab sambil berjalan menuju dapur.
Dengan langkah lebarnya, Desta kembali menaiki anak tangga menuju lantai teratas. Tubuhnya yang langsing ideal tanpa lemak, membuat kakinya terasa mengayun ringan membawanya tanpa beban.
Saat kakinya memasuki lantai tiga, dia sedikit ragu, suasana remang-remang tanpa lampu membuat perasaannya seram. Desta menghempas ragu yang menggelayutinya. Disisirnya seluruh ruangan luas itu mencari daun pintu bertulis P3K.
Banyak sekali daun pintu, mungkin ini adalah kamar-kamar seperti yang ditempatinya di lantai dua. Bedanya jarak antar pintu-pintu ini lebih jauh, maknanya kamar-kamar disini lebih luas.
Samar-samar matanya menangkap sebuah pintu paling ujung dengan tulisan yang dicarinya.
"Aduh, semakin kesini makin gelap, kalau tiba-tiba ada kuntilanak keluar dan menangkapku , aku bisa apa? "
"Kenapalaah..ruang sepenting ini mesti ditaruh di lantai tiga, paling jauh lagi posisinya. " Desta protes dengan tata letak kamar obat yang baginya tidak setrategis.
Gadis itu mengeluarkan hp dari saku gamis, dan diaktifkannya lampu senter dari menu hpnya. Lumayan buat penerangan di dalam. Benar dugaanya, ruangan ini benar-benar gelap.
Senter HP diarahkan ke dinding mencari saklar lampu, setelah ketemu dengan cepat ditekannya, byarrr..!! lampu menyala terang benderang.
Desta tak ingin berlama-lama, matanya segera mencari-cari, terdapat sebuah alamari kaca dan dibukanya.
Bermacam obat ada di situ, dibacanya dan menemukam Asamefenamat beserta Amoxilin yang juga sering diminumnya saat tubuhnya demam.
Desta mengambil masing-masing satu strip. Ditutupnya lagi almari kaca dengan rapat. Kemudian dimatikannya tombol lampu sambil menahas nafas. Gelap gulita... cepat diraihnya gagang pintu dan menggeser tubuhnya keluar.Brraakk!!!Karena buru-buru, pintu tertutup dengan keras membuat dirinya juga terkejut sendiri.
Jantung Desta serasa meloncat keluar, dadanya berdegup keras.Nafasnya seakan makin berhenti, ketika ujung matanya menangkap sosok hitam tinggi dan besar, diam mematung di sampingnya.
__ADS_1
Tubuhnya bergeser pelan, menghadap tepat sosok hitam besar itu. Seakan terhipnotis, wajah Desta terangkat menatap muka sosok itu dengan gemetar. Lampu yang temaram terpantul di bagian mukanya. Sosok itu memiliki alis begitu hitam dan sedikit tebal, hidungnya semakin tinggi karena pantulan lampu. Matanya berkilat kilat melotot padanya, bibirnya merah sekali seperti darah...
"Ha.. ha.. han-tuu.. aku telah bertemu han-tuuuuu!!!
Desta ingin berlari secepat mungkin. Tapi rasa takutnya justru membuat langkahnya jadi berat, seperti ada berton-ton batu menumpuk di kakinya.
Dengan perjuangan berat, Desta mencapai anak tangga. Diberanikan kepalanya menoleh memastikan adanya hantu itu, dan sosok hitam itu masih diam di tempat tadi dan terus menatapnya.
Dengan susah payah, kakinya telah sampai di lantai kamarnya. Masih nekat didongkkan lagi kepalanya ke ujung atas tangga, hatinya lega bahwa hantu itu tidak menyusulnya.
Desta kembali berdiri dipintu kamar Maya. Berusaha mengatur nafas agar normal kembali,menepuk-nepuk dada agar jantungnya bekerja sedia kala.
Tok..Tok..Tok..Diketuk pintu kamar Maya dengan pelan, khawatir hantu diatas mendengarnya. Pintu segera terbuka dengan munculnya wajah Maya yang tetap dengan kulit pucatnya.
"Maya, makan malam untukmu sudah diantar kan?" Tanya Desta lembut, Maya mengangguk sambil tersenyum.
"Habiskan dulu makananmu ya, ini obat pereda demam dan nyeri, minumlah masing-masing sebutir untuk malam ini. " Maya menerima obat yang diberikan Desta.
"Terimakasih Desta, kamu beli dimana? "
"Aku tidak membelinya, tapi di sini memang sudah disediakan, minumlah obat ini, mudah-mudahan pilihanku cocok untukmu." Bujuk Desta dengan lembut.
"Iya Des , sekali lagi terimakasih, aku masuk ke dalam dulu ya."
Maya sepertinya benar-benar sakit kepala karena demam.
"Oke Maya cepatlah istirahat, semoga lekas sehat ya " Desta tersenyum memahami sambil membantu menarik pintu kamar Maya agar menutup.
Sampai di kamarnya, Desta baru sadar bahwa dirinya lapar sekali. Tapi tidak mungkin bergerilya sendirian didapur. Desta seakan trauma.
Diraihnya tas jinjingnya, masih ada roti yang bisa dimakan untuk mengganjal perutnya malam ini. Lumayan, dikunyahnya terus roti itu dengan sesekali didorong minuman dari botol air mineralnya. Mulutnya baru menutup diam saat roti utuh selonjor tadi sukses pindah keperutnya.
****
__ADS_1
๐ค๐ค๐คTerimakasih udah mampir di karyaku..
Harap dukungannya... Tinggalin like. favorite dan komennya...๐๐๐๐