Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Hati Separuh Jiwa # 29


__ADS_3

Jemari tangannya yang digenggam oleh Leehans, terasa menghangat. Kali ini Desta tak berdaya untuk menepisnya, bahkan tubuhnya seakan lunglai tak bertulang.


"Bagaimana, apakah aku seperti pangeran bertopeng dalam gelap itu? "


Leehans memandangi Desta, yang terlihat duduk dengan kaku di sebelahnya, hatinya ingin menarik tangan gadis itu dan mendekatinya, Leehans merasa tubuhnya perlahan mulai memanas.


Namun Leehans cepat menyadari, tangan ramping dan halus itu dilepasnya, dan dikembalikan dengan lembut ke pangkuan Desta semula, sambil berkata berat.


"Maafkan aku Ta." Leehans mengambil nafasnya dalam-dalam dan memalingkan wajahnya.


Selang beberapa menit, Benn kembali masuk dalam gate, bersamaan dibukanya pintu penghubung badan pesawat. Benn mengisyaratkan Desta, untuk berdiri dan mengikutinya. Dihampirinya Leehans dan dipeluknya sahabatnya itu sambil berpamitan.


Keduanya berjalan beriringan menuju pintu keluar, masuk pesawat. Desta yang berjalan di belakang Benn, menolehkan kepalanya mencari Leehans, lelaki itu nampak berdiri di tempatnya semula, dan menganggukkan kepala padanya saat menoleh. Anggukan pelan yang cukup menenangkan Desta, meski cuma sekali dari Leehans.


Desta dan Benn telah hilang dalam pandangan mata, masuk dalam perut burung besi raksasa itu. Leehans menatapnya kosong, hingga pesawat itu terbang lepas landas. Ada rasa hampa di jiwanya, perasaan yang asing di luar kendali hatinya, namun dia enggan untuk nenerimanya.


***


Perjalanan pesawat dengan durasi panjang itu, terasa sangat membosankan, namun tidak untuk Benn, dia sangat menikmati perjalanan kali ini karena ada Desta bersamanya. Gadis dengan visual yang sedap dipandang mata itu membuatnya lebih bersemangat, Benn banyak bercerita masa kecilnya pada gadis itu. Saat itu dia masih duduk di bangku sekolah kanak-kanak, dan sangat menginginkan seorang adik bayi. Dia merengek meminta ibunya untuk membawa serta Desta bersama mereka. Tentu saja waktu itu tingkahnya membuat tertawa seluruh anggota keluarganya, terutama nenek Benn yang masa itu masih ada.

__ADS_1


Desta terhibur dengan cerita Benn yang baginya sangat menarik, sesekali ditatapnya lelaki yang duduk di sebelahnya itu. Benn adalah lelaki berharta dengan sifat terbuka dan apa adanya, seharusnya dia bahagia akan berjodoh dengan lelaki tampan seperti itu. Tetapi beberapa kali dekat dengan Benn, hati Desta hanya merasa hambar tanpa hadir getaran apapun yang berarti, perasaannya hanya ibarat separuh jiwa tanpa rasa. Selama ini Desta hanya berusaha pasrah dengan permainan nasibnya bersama lelaki itu.


***


Mereka sampai di Bandara Soekarno-Hatta pukul delapan malam. Dengan dijemput asisten Lucky, Benn membawa Desta ke rumah besar orang tuanya di daerah sekitar puncak. Rumah itu menyerupai villa yang besar dengan halaman sangat luas dilengkapi beberapa kolam ikan , taman dan bangunan gazebo.


Benn mengatakan pada Desta bahwa di villa inilah ia sering berkunjung di waktu luangnya. Benn berharap Desta merasa nyaman untuk tinggal sementara di sini.


Orang tua Benn sedang berada di restoran dan hotel milik ayahnya di daerah Bandung untuk memantau persiapan pesta pernikahan putra mereka di sana.


Mengetahui hanya akan tinggal berdua dengan Benn, hati Desta merasa sedikit takut dan tidak nyaman, bagaimanapun mereka adalah lawan jenis, yang belum ada ikatan sah yang halal, meski mereka sudah bertunangan dan akan menikah beberapa hari lagi. Namun rasa itu berusaha ditepisnya, dia harus mengusir prasangka buruk terhadap Benn, dan ingin mencoba menempatkan Benn di hatinya.


***


Setelah makan malam bersama mak Sri dan mbak Puji, nama asisten rumah, Desta pamit untuk istirahat di kamarnya, sebuah kamar tamu yang besar. Desta mengambil wudhu untuk sholat isya'nya sebelum merebahkan diri di tempat tidur.


***


Benn berada di sebuah klab malam, lanjutan dari acara jamuan makan malam oleh koleganya. Benn tidak bisa menolak, itu sudah menjadi acara wajib di hampir semua meeting bisnisnya. Lagipula sudah lama dia absen dari acara seperti ini selama di Jepang, jadi ada rasa rindu mendatangi tempat ini bagi Benn.

__ADS_1


Dalam klub yang remang dan minim cahaya, Benn mulai menghabiskan setiap gelas alkoholnya, yang dituangkan bartender berpenampilan seksi dengan baju kurang bahannya, begitu juga dengan rekan bisnisnya yang juga masih berusia muda sepertinya. Hanya asisten Lucky yang minum sedikit saja, dia harus menjaga atasannya, serta membawanya pulang saat sudah mabuk.


***


Hampir tengah malam Desta belum tidur, hatinya bertanya, apakah Benn tidak pulang ke villa ini, apa saja yang dilakukannya? Bukankah idealnya pertemuan bisnis hanya berlangsung satu atau dua jam saja? Saat dia lelah memikirkan Benn, tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari luar kamarnya. Desta segera bangun dan membuka sedikit pintu kamarnya, dicarinya apa penyebab bunyi berisik tadi.


Didapatinya Benn berjalan tak tentu arah sambil membuang semua baju atasannya, lelaki itu nampak bertelanjang dada diikuti asisten Lucky sambil membawa tas kerjanya. Desta tahu lelaki itu telah mabuk, hatinya sedikit kecewa dengan apa yang dilihat oleh matanya.


Desta merasa sedih dan terkulai di tempat tidur, apakah Benn sering begitu dan akan selalu seperti itu? Desta menyadari dirinya bukan bidadari berhati malaikat, apakah aku akan kuat? Pikirannya berkecamuk memikirkan nasib rumah tangganya bersama Benn kelak.


***


Setelah enam hari berdiam dalam villa, sore ini Desta berkesempatan jalan-jalan di sebuah mall besar, tidak terlalu jauh dari komplek villa Benn. Dia menemani mbak Puji naik taksi online untuk berbelanja kebutuhan dapur yang telah hampir habis.


Keduanya hendak pulang setelah semua belanjaan dapur dirasa sudah terbeli. Saat melewati butik yang nampak memajang gaun dan gamis menarik, Desta ingin masuk untuk mencuci mata, barangkali ada gamis yang membuatnya jatuh hati dan membelinya. Mbak Puji ikut bersamanya memasuki butik dengan semangat.


Desta mulai hanyut dalam pilihan puluhan gamis yang ditata sangat rapi dan menarik. Konsentrasinya terganggu saat mbak Puji menowelnya dan menunjuk ke suatu arah. Desta mengikuti arah telunjuk mbak Puji, Deg! Desta seakan tak percaya saat matanya melihat sosok Benn tengah digelayut manja seorang wanita yang begitu cantik, mempesona dan modis.


Gadis cantik itu sesekali menempelkan pipinya dibahu Benn sambil memegangi gaun-gaun pilihan di depannya. Hati Desta seakan terkoyak, meski dia merasa belum ada hati terhadap Benn, tapi lelaki itu adalah calon suaminya dan bahkan akan menikahinya dalam hitungan hari.

__ADS_1


Desta menarik mbak Puji agar sedikit bersembunyi di antara deretan gamis bersamanya, dikeluarkannya ponsel dan dengan cepat membuat video rekaman Benn bersama gadis manja itu. Setelah dirasa durasi mencukupi, mereka perlahan pergi dan keluar dari butik. Desta yakin keberadaannya tidak disadari oleh Benn yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Mbak Puji sudah mendapat sebuah taksi via online, sambil menunggu kedatangannya, Desta pergi ke sebuah box mesin banking yang tidak jauh dari tempat mbak Puji menunggu taksi. Desta ingin mengambil beberapa cash uangnya untuk berjaga-jaga. Desta terkejut dengan jumlah saldo di rekeningnya, dua ratus enam puluh juta! Uang dari mana!?


__ADS_2