Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Hilang Jejak # 47


__ADS_3

Karena fokus dengan pembicaraan di telepon, Leehans tidak lagi mengawasi Desta yang tertinggal di belakang. Lelaki itu sudah berada di luar pintu bandara dan terus berbicara agak lama. Pendengarannya ditajamkan untuk mendengar semua laporan yang disampaikan oleh sekretarisnya, Sharon. Leehans nampak mulai menyudahi bicaranya, saat dari kejauhan sopir pribadi keluarganya sudah datang untuk menjemput.


Leehans baru menyadari tidak adanya Desta bersamanya, kala sopir pribadi itu mengambil alih kopernya, dan menyeret menuju tempat mobil terparkir. Leehans mengedar pandangan ke setiap sisi teras bandara. Namun tidak juga di dapatinya gadis cantik bergamis itu.


Leehans segera memberi tahu pada sang sopir tentang tidak adanya Desta, dan memintanya menunggu sambil mengawasi barangkali gadis itu muncul di hadapannya. Leehans bergegas kembali masuk ke dalam bangunan Narita, untuk menyapu keberadaan Desta dengan rute sama yang dilaluinya barusan.


Sambil terus berjalan mengamati, Leehans mencoba menghubungi nomer whatsapp Desta yang baru, namun ponsel gadis itu nampaknya sedang mati. Leehans berhenti sejenak, berdiri mengmbil nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.


***


Aroma roti bakar dari dalam cafe mungil bandara itu sangat menggoda perutnya. Desta yang berdiri di luar dinding cafe, mengamati sekilas keadaan dalam cafe yang terlihat nyaman dan menarik perhatiannya. Coklat panas dan sepotong roti bakar, barangkali mampu memulihkan dirinya dari mabuk pesawat. Desta tak ingin pingsan di lantai, lalu jadi tontonan orang yang berlalu lalang di sana.


Seorang pria Jepang yang berjalan cepat hampir saja menabrak Desta, saat keduanya bersamaan memasuki pintu cafe yang tidak terlalu lebar. Saat akan memasuki pintu cafe, lelaki itu sedang menatap ponselnya, sedang Desta berjalan pelan sambil menahan berat badannya yang terasa sedikit limbung. Ponsel lelaki itu terjatuh ke lantai cafe, karena tersentuh pada lengan Desta sedikit, namun ponsel itu nampak tetap dalam kondisi yang utuh.


Lelaki itu langsung meraih ponselnya kembali, dan terus meminta maaf pada Desta berulangkali, sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya.


"Sumimasen! Sumimasen.. "


Desta mengerti dengan maksud permintaan maaf yang diucapkan dalam bahasa Jepang itu. Gadis itupun hanya membalasnya dengan anggukan lemah dan senyum yang samar.


"Shitsurei.. "


Pria Jepang itu kembali mengucap maaf dengan lebih sopan lagi, membuat Desta jadi tidak enak hati.


"It's okay sir, no problem ."


Desta terpaksa membalas ucapan lelaki itu dengan suara agak lirih. Desta merasa begitu tak berdaya karena efek mabuk pesawatnya yang dirasa justeru semakin parah.

__ADS_1


Pria Jepang itu langsung paham, bahwa Desta adalah pendatang yang baru tiba. Pria itu segera nenggunakan bahasa inggris, saat menawari Desta untuk duduk bersama di dalam cafe, dan gadis itupun langsung mengangguk setuju.


Begitu pelayan menghampiri, Desta langsung pesan coklat hangat agak panas, dan roti panggang keju yang diinginkannya. Pria Jepang itu hanya memesan cappucino dalam sebuah cangkir kecil.


Pria itu menanyakan siapa nama Desta, dan mengenalkan dirinya dengan nama Tauji Hiroshi. Nama lelaki itu mengingatkan Desta pada nama Isao Hiroshi, nama pengacara yang disebutkan oleh nenek Benn.


Cafe itu dirancang menyerupai model aquarium, model transparant yang nampak dari luar maupun dari dalam. Dinding kacanyapun dihiasi dengan gambar-gambar ikan koi dan ikan koki, salah satu ikan cantik simbolic dari Jepang.


Berada dalam cafe itu, memberikan rasa nyaman tersendiri bagi Desta, perlahan efek mabuk pesawatnya mulai berkurang. Lidahnya juga bernafsu untuk terus menyeruput coklat hangatnya, di selingi kunyahan roti bakar keju dalam mulutnya. Tauji yang duduk di depannya hanya memandanginya diam-diam sambil terus menatap layar ponselnya.


Disela kesibukan menyeruput coklat hangatnya, Desta teringat pada Leehans yang hilang dari jangkauannya. Apakah lelaki itu sedang mencarinya? Desta segera mengeluarkan ponsel dari saku gamisnya, tapi ponsel itu mati kehabisan baterai. Ditatapnya lelaki berkulit sangat putih, yang sedang memainkan ponsel di hadapannya. Tauji mungkin bisa membantunya.


"Apakah anda membawa power bank, bolehkan saya pinjam?"


Desta bertanya dalam bahasa inggrisnya yang fasih dan terdengar sangat jelas, sambil diperlihatkan ponsel matinya pada Tauji.


"Arigato Tauji san... "


Desta menampakkan senyum lebarnya yang cantik pada lelaki yang ramah dan sopan di depannya. Tauji juga tersenyum, lelaki itu terlihat senang saat memperhatikan Desta, yang kini berubah jadi cerah dan ceria dari sebelumnya.


Ponsel canggih dengan kartu selulernya yang canggih, namun sempat kehabisan daya itu kini telah menyala dan siap digunakan. Desta langsung menulis sebuah pesan untuk 'Hans san'.


"Halo tuan Hans, anda di mana? maaf saya tertinggal dan kehilangan jejak anda, sebentar lagi saya keluar, tolong tunggu saya. "


Pesan Desta itu langsung terbaca oleh penerimanya, dan seketika diberi balasan oleh 'Hans san'.


"Apakah aku perlu menyusulmu? "

__ADS_1


Desta berpikir sejenak dengan pertanyaan di pesan itu.


"Tidak perlu tuan Hans, saya akan mencari jalan keluarnya sendiri, harap anda bersabarlah. "


Desta selesai menggunakan ponselnya, kabel power bank itu dilepasnya dan diberikannya kembali pada Tauji. Namun Tauji terlihat menolak.


"It's just for you Desta san, accept and save it please.. "


Tauji bermaksud memberikan power banknya sebagai hadiah untuk perkenalannya dengan Desta. Meski Desta berusaha menolak, namun Tauji bersikeras agar Desta menerimanya. Karena tak ingin jadi pusat perhatian pengunjung cafe lainnya, Desta terpaksa menerima kenangan dari orang yang baru dikenalnya itu.


"Thanks for your prize Tauji san, well to meet you.. "


Desta berucap terimakasih sambil berdiri, lalu berpamitan dengan menganggukkan sedikit kepalanya pada Tauji. Seketika Tauji langsung berdiri dari kursinya, dan membungkukkan badannya pada Desta yang mulai meninggalkan kursinya. Tauji merasa, Desta adalah gadis istimewa yang berdedikasi dengan baik.


Seorang lelaki yang sedari tadi mengawasi interaksi antara Desta dan Tauji yang terlihat akrab itu, juga bergerak keluar mengikuti kepergian Desta. Lelaki itu nampak mengatur jarak agar tidak terlihat, dan selalu berada di belakang langkah gadis itu. Meski sebagai penguntit, namun gerakannya begitu lihai dan tidak mencurigakan sama sekali.


***


Desta telah menacapai pintu keluar ke teras bandara dengan penuh perjuangan.Bagaimanapun, baginya sangat susah menghapal beberapa posisi penting dalam bandara itu, meski dirinya pernah datang sekali bersama Benn waktu itu.


Desta mengeluarkan ponsel dari saku gamisnya, diketiknya sebuah pesan lagi untuk 'Hans san'.


"Saya sudah di luar, posisi anda di mana? "


Desta menunggu jawaban pesan yang dikirimnya itu, namun meski Leehans sudah menbacanya, lelaki itu tidak juga mengirimi balasannya.


"Aku di sampingmu, gadis nakal. "

__ADS_1


Mendengar suara yang begitu dekat di telinganya, Desta begitu terperanjat. Orang yang ditunggu balasan pesannya itu telah berdiri rapat di sampingnya. Dengan jantung yang masih jumpalitan, Desta sedikit menggeser tubuhnya dari Leehans. Dengan nafas terengah, dipandanginya Leehans yang seolah tidak punya salah apapun. Lelaki itu tetap dengan wajahnya yang dingin tanpa senyum sedikitpun.


__ADS_2