Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Genggaman Tangan Leehans # 28


__ADS_3

Tangisan itu terhenti, saat Mr. Lee mengambil tangan istrinya, lalu dibawanya menuju kamar mereka agar beristirahat. Mr. Lee khawatir kesedihan ini akan berpengaruh pada kondisi kesehatan istrinya.


Desta memandangi kepergian pasangan Lee dengan hati tak menentu, dipandanginya Benn yang duduk di hadapan.


"Tuan Benn, anda telah mengambil keputusan tanpa bertanya dulu padaku, egois! " Desta menumpahkan rasa kecewa hatinya pada Benn.


"Aku hanya tak ingin melihatmu ragu-ragu. " Jawaban Benn tepat mengenai hatinya, keraguan yang berusaha disembunyikannya telah terbaca oleh lelaki ini.


"Apakah tidak boleh saya punya rasa ragu? Kita tidak saling mengenal sebelumnya, wajar bukan? " Desta berkata dengan menatap mata Benn lekat-lekat.


"Maka itulah, aku ingin cepat menikahimu agar kau lebih terikat padaku, ikatan pertunangan itu tak ada gunanya buatku. " Benn berkata dengan penuh penekanan.


"Benn, pernikahan itu bukan hanya ikatan dari permainan sebuah wasiat,bukan juga untuk pelampiasan nafsumu padanya, tapi keikhlasan dari keduanya."


Leehans yang semula hanya diam dan menyimak, berusaha mengingatkan Benn untuk mengerti perasaan Desta.


"Bukankan kesepakatan antara aku dan dia memang berawal dari sebuah wasiat ? " Benn menatap kesal pada Leehans.


"Baiklah, kuharap wasiat ini tidak membuat salah satu dari kalian dalam keterpaksaan. " Leehans berkata sedikit menyindir sambil menatap Benn.


"Baiklah tuan Benn, saya akan ikut rencana anda, saya akan berusaha ikhlas dengan kesepakatan yang sudah kita buat. " Desta dengan cepat mengambil keputusan, dia tidak ingin kedua lelaki itu terus adu mulut.


"Apakah kau tidak berusaha akan mencintaiku juga Desta? " Benn bertanya sambil menatap kedua mata Desta dalam-dalam.


"Saya menerima pernikahan ini, bermakna sayapun sedang berusaha mengumpulkan cinta untuk anda tuan Benn. " Desta berkata sambil mengangkat pantatnya dari kursi.


"Permisi, saya akan kembali ke kamar. " Desta berpamitan dan pergi menaiki tangga.


Benn menatap kepergian gadis itu, hingga bayangannya pun menghilang, tangannya meraup wajahnya kasar.


"Aku bisa saja menidurinya sekarang, tapi kau pasti akan menghajarku bukan? " Benn berkata sambil melirik sinis pada Leehans.


"Jangan pernah melakukan itu, kau akan ditinggalkan olehnya." Leehans menjawab santai perkataan Benn.

__ADS_1


**


Sebenarnya Desta sedang tidak baik-baik saja, perasaannya sangat galau, pernikahan yang mendadak akan menghampirinya dalam beberapa hari lagi, seakan membuatnya demam. Apakah Benn lelaki yang tepat untuk masa depannya?


Saat ini entah mengapa, warisan yang katanya bernilai puluhan milyar itu tiba-tiba tidak diminatinya. Ada ganjalan besar menyumpal di hatinya, menerima persetujuan Benn untuk menikah sepertinya keputusan yang berat saat ini.


Hari merangkak malam, Desta merebahkan diri di kasurnya, ingin segera tidur meski belum merasakan kantuk. Diantara risau hatinya, terlintas sosok Leehans yang muncul di kepalanya. Ingatannya kembali pada momen pertunangannya beberapa hari lalu. Tangan yang menggenggamnya disaat lampu padam, dan menariknya berjalan dalam gelap. Kejadian dan wangi pakaian itu, sama dengan aroma bahu Leehans, yang tadi siang ditubruknya. Hatinya bergemuruh, mengetahui kemungkinan lelaki dalam gelap itu adalah Leehans.


Desta meraih ponsel, dibukanya aplikasi whatsapp, ingin hati menanyakan langsung kebenaran dugaannya itu pada Leehans. Namun diurungkannya, ragu jika Leehans tidak akan mengiyakan dugaannya, justeru dirinya hanya akan mendapat malu. Kemudian dimainkan hpanya pada aplikasi berita online Indonesia, yang telah diunduh ke ponselnya. Asyik berselancar berita serta gosip dari negaranya , bunyi klunting teedengar dari ponselnya.


"Kau belum tidur, sedang apa? " Pesan wa dari Leehans.


Desta seperti sesak nafas tiba-tiba, ah! lelaki itu semoga akan panjang umur, jari tangannya segera mengetik dalam balasan.


"Sedang banyak pikiran tuan. " balas Desta.


Nampak Leehans mengetik..


"Masalah macam apa yang kau pikirkan? "


"Kegiatan saya hanya makan dan tidur, tidak ada masalah. Tapi saya sedang berfikir tentang anda. " Desta tersadar dengan bunyi pesan miliknya, panik dan merasa malu sendiri.


"Apa!? Apa saja yang kau fikir tentangku?" Sepertinya Leehans sangat ingin tahu.


"Ah tidak ada tuan, lupakan. " Desta langsung menutup aplikasi dan mematikan hpnya.


Kemudian menutup matanya erat-erat, berusaha terhanyut dalam tidur. Namun sosok Leehans kembali memenuhi kepalanya, entah belakangan ini perasaannya jadi tidak karuan, jika nama Leehans dan bayangannya melintas di kepala. Leehans seperti teror yang menyerang hatinya, hal itu membuatnya merasa bersalah pada Benn.


**


Selepas dzuhur, Benn dan Desta telah bersiap untuk berangkat ke bandara Narita. Pesawat yang akan membawa mereka terbang menuju Indonesia, akan berlepas sekitar pukul 2 siang ini. Benn telah salah mengerti kemarin, ternyata waktu cek in jauh lebih maju dari yang dikatakan Benn.


Mobil yang mengantar mereka mulai berangkat, setelah melewati drama sedih antara Desta dan Mrs. Lee, keduanya mengulang kembali adegan saling menangisi seperti malam tadi. Tangisan itu reda, saat Leehans berjanji pada ibunya, untuk menyusul Desta ke Indonasia sepuluh hari lagi.

__ADS_1


Leehans ikut mengantar ke Narita setelah mempercepat urusan kerja, dia duduk di kursi depan bersama seorang sopir yang dibawanya. Benn dan Desta duduk bersebelahan di kursi belakang dan agak berjauhan. Tak ada percakapan di sepanjang perjalanan, mereka terbawa lamunan masing-masing, hanya Leehans yang sesekali berbincang dengan sang sopir seputar otomotif.


Dua puluh lima menit di perjalanan, mereka sampai di Narita.Benn dan Desta segera beratur, melakukan penyelesaian pengurusan tiket, dan dokumen perjalanan luar negeri di meja petugas. Leehans menunggu mereka hingga selesai.


Menuju bagian gate, ruang tunggu sebelum memasuki pesawat, Leehans nampak bicara dengan seorang petugas, untuk mendapat izin agar dirinya boleh masuk dalam gate. Petugas itu menganguk, karena Leehans sudah sangat tidak asing baginya, lelaki itu adalah pelanggan tetap gate VIP ini.


Dalam ruang gate VIP yang luas itu, hanya ada beberapa orang saja yang juga sedang menunggu. Mereka bertiga duduk persebelahan, di sofa empuk yang memanjang, Desta, Benn dan paling ujung adalah Leehans. Namun beberapa saat duduk, nama Bennard Joyko Irawan mendapat panggilan petugas, untuk keterangan dokumentasi di ruangan yang berbeda.


Kini sofa panjang itu hanya ada Desta dan Leehans, yang masing-masing diliputi kebisuan, keduanya menatap siaran televisi dengan pandangan kosong. Leehans tidak tahan lagi, ditolehnya Desta yang duduk di sebelah kirinya, dan terpergok sedang menolehnya juga, sesaat tatapan mata mereka teekunci beberapa detik, Desta mengakhirinya dengan membuang muka ke arah televisi. Leehans terlihat mendesah membenarkan posisi duduknya.


"Semalam kau pukul berapa tidur?" Leehans memecah keheningan, dilihatnya mata Desta agak sembab kurang tidur, bukan karena drama air mata bersama ibunya itu.


Desta berfikir sebentar dengan pertanyaan Leehans


"Saya baru tidur hampir dini hari. " Dijawabnya pertanyaan itu dengan jujur.


"Apa yang kau pikirkan, kau juga tak sabar ingin cepat menikah? " Leehans berusaha bercanda.


"Tuanlah yang saya pikir. " Desta tak bisa menahan lebih lama.


"Benarkah aku yang kau pikir semalaman? Tentang apa itu? " Leehans sedikit heran dan bertanya dengan antusias, dirinya jadi begitu ingin tahu.


Desta memandangi wajah tampan berkharisma dengan garis muka tegas di sebelahnya itu.


"Apakah anda akan menjawab dengan jujur tuan Hans? " Leehans memandang Desta, lalu mengiyakan pertanyaannya dengan mengangguk.


"Saat diacara pertunangan kami, pada waktu listrik padam, andakah seseorang yang mengambil tanganku diwaktu gelap itu? "


Desta benar-benar menatap mata tajam yang senantiasa berkilat itu dengan rasa ingin tahu yang besar. Tapi lelaki itu hanya membalas tatapan matanya dengan sangat dalam, membuat jantungnya perlahan memompa lebih cepat.


"Menurutmu apakah itu aku?"


Dengan gerakan cepat, Leehans mengambil tangan kiri Desta dan menggenggamnya dengan hangat. Desta terperanjat, kali ini darahnya justru serasa berhenti mengalir, jantungnya seakan berhenti memompa.

__ADS_1


***


""""' Hayuk doong.. author dikasih jempol, komen atau kritik sekalipun.. biar ada masukan buatku untuk bahan koreksi.. trus ada semangatku.. tapi trims udah mampir ya.. love-love dari author yeeer""""


__ADS_2